Kisah dan Pemikiran Br. Aristides FIC


Br. Aristides Huytjens FIC

I.     FIC-FIC-FIC

Ada apa dengan FIC? SOS (Save Our Soul, tanda bahaya)-kah FIC? Bukan SOS! Bila sebuah kapal mogok di tengah laut, dapat berbahaya. Perlu diperiksa ada apanya, agar tidak dibawa arus semaunya sendiri. Saya sebagai penumpang kapal FIC merasa ikut bertanggung jawab, karena ada berita surat edaran berbahasa Belanda yang ditulis oleh Br. Kees: “Seminari-seminari tetap penuh, tetapi jumlah calon FIC ke Postulat menurun.”

A.  NAMA FIC

Sebenarnya nama FIC cukup tersohor. Namun kita tidak mencari nama. Karena gerak saya beberapa tahun akhir ini selalu di luar FIC, maka bagi saya kenyataan itu nampak sekali. Contoh beberapa peristiwa kecil: Pernah saya masuk ke pastoran Metro. Pastor yang sewarna kulit saya bertanya, ”Lho, siapa ini?” Maklumlah, orang Belanda dan SCY, biasanya blak-blakan. “Saya dari FIC, Br. Aris.” Kontan. dia berkata, ”Kalau dari FIC boleh masuk.” Mungkin dia menduga saya dari SY atau apa. Mungkin juga dia menerima tamu selalu cara demikian, agar tamunya senang.

Di Pontianak, Sanggau atau Sintang, saya berjumpa banyak pastor, bruder, suster, uskup … Dalam macam-macam pembicaraan atau obrolan, saya sering terpaksa mendengar pujian yang berterus terang pada alamat FIC. Kiranya bukan taktik rayuan agar FIC mau datang membantu mereka. Uskup Pontianak mengharap agar saya jatuh cinta pada Nyarungkop, ”Muntilannya” Kalimantan. Di Sintang: “Besok kapan FIC datang ke sini?” Pujian terutama datang dari para suster, juga di Sumatera akan biang keladi Roncalli: Br. Carlo, Yoakhim dan William. Para pastor muda ingat akan Br. Nolasco dan Savio, yang ternyata meninggalkan kesan khusus yang baik. Guru-guru Pangudi Luhur juga dinilai bagus. Di mana saja di Sumatra dan Kalimantan, mereka banyak yang menjadi tokoh masyarakat dan pendekar umat. Di Belitang, pamor FIC masih setinggi langit, karena Br. Benny (Br. Benediktus Marsoyo) yang pernah berkarya di situ dengan melibatkan diri secara khas FIC. Bahkan dari “Komunikasi”, romo-romo SCY mencium adanya cinta kasih persaudaraan di FIC. Ternyata cinta kasih sedari dulu sanpai sekarang tetap menjadi “RATU KONGREGASI” kita. Tentu semua itu enak untuk dialami, tetapi saya berpikir, mengapa jumlah bruder sudah bertahun-tahun tetap saja? Sejak dua tiga tahun yang lalu, agak tiba-tiba jumlah calon yang minta masuk tidak berjubel?

B.  MENGAPA DAYA TARIK FIC BERKURANG?

Walaupun kita punya empat SPG dan tiga di antaranya berasrama, namun daya tarik FIC bagi kaum muda berkurang. Mengapa? Janganlah kita lekas menyalahkan kalangan luar dan situasi perkembangan masyarakat. Tak dapat disangkal bahwa bentuk materialisme dan konsumerisme tertentu dari kota nenjalar juga ke desa. Kemiskinan bukan halangan. Sejak dulu, masyarakat desa sudah konsumtif dan materialistis juga. Pengaruh kota dalam hal gengsi tidak begitu mengubah suasana masyarakat desa, yang sudah lama mengenal gengsi.

Jadi soal gengsi kurang memengaruhi jumlah panggilan. Itulah perkiraan saya, yang mungkin juga tidak benar. Mungkin terdapat sebab di bidang lain sekali, yaitu:

1.  Pandangan atau penilaian umat Katolik mengalami pergeseran. Dulu usaha pendidikan paling top di samping usaha di bidang kesehatan. Kini di mana. saja ada sekolah. SD Inpres menggantikan SD Swasta, Persekolahan makin tertarik ke dalam alam pencarian duit. Mungkin pandangan umum itu melemahkan citra persekolahan sebagai karya kerasulan.

2.  Dunia sekolah di banyak daerah seperti pulau yang relatif aman di tengah amukan hidup di masyarakat. Bagi pemuda yang sudah mengidap bibit panggilan di hati meski masih kabur, jenis kerasulan yang berkaitan dengan panggilan ikut menentukan dalam memilih lenbaga, tempat ia ingin merasul. Gerak bruder guru kurang nampak bagi dia. Gerak imam yang sungguh gembala, nampak jelas.

Mungkin kita harus lebih lagi mencari ke dalam: FIC sampai sekarang terutama beranggotakan guru. Empat SPG merupakan sumber utama bagi panggilan ke FIC, terutama yang berasrama. SPG berasrama (kini semakin dituntut oleh P & K sebagai syarat izin mengelola SPG) adalah kesempatan yang paling cocok untuk menemukan bibit panggilan, dan mengembangkan serta mengarahkannya. Bila kita memandang cara pengelolaan asrama SPG, maka kita pasti akan berhadapan dengan pribadi Kristus, karena asal panggilan yang kita bicarakan di sini: Kristus. Yang memanggil: Kristus, bukan kita. Saya yakin, Kristus mengharapkan dari kita, agar kita memeras otak, daya cipta dan keringat, untuk menciptakan asrama, agar di situ dapat berkembang suasana yang memungkinkan Kristus mencari dan memanggil pemuda yang kiranya menjadi bibit unggul untuk menjadi rasul, baik sebagai imam, bruder, suster maupun rasul awam biasa.

Apa sarananya? Sarana yang saya maksudkan: ASRAMA SPG = TRAINING CENTRE KERASULAN (TCK). Banyak bruder takut untuk bertugas di asrama. Entah karena tidak mampu atau karena asrama yang baik, menyita segala waktu baik siang maupun malam. Waktu bebas sirna. Banyak juga bruder yang menilai asrama itu ketinggalan zaman. Pihak Islam tidak! Lihatlah dengan pesantren-pesantrennya! Pandangan terakhir benar, bila asrama hanya merupakan kesempatan murah untuk belajar. Asrama macam itu tidak perlu, juga tidak untuk SPG, kecuali untuk memenuhi syarat P & K yang menyangkut izin berdirinya SPG. Sangat sayanglah, bila asrama SPG tidak dijadikan TCK. Soal panggilan bukan soal yang otomatis di zaman ini. Siswa terbaik di SPG sebetulnya sudah mengikuti panggilan, biarpun karena tekanan ekonomis dan karena mendapat harapan kerja setelah 3 tahun. Jika asrama sungguh menjadi TCK yang padat acara yang mengundang tantangan, maka ganjil bila bruder yang mencurahkan tenaga demi kepentingan pemuda-pemuda itu, tidak dapat menemukan beberapa di antara mereka yang menaruh perhatian kepada Kristus.

Hadapkanlah mereka pada Kristus sebagai Pemimpin. Tetapi usaha bruder untuk mempertemukan mereka kepada Kristus, ingin pula mereka saksikan pada hubungan bruder dengan Kristus secara meyakinkan, ya juga dalam gaya hidup yang sederhana, lugas, konsekuen. Bukankah Yesus juga demikian? Beliau dalam kata-kata, komentar bruder terhadap obrolan dan tindak-tanduk siswa, dalam pelajaran agama kita, yang berpusat pada Yesus, dalam cara berdoa kita.

Saya masih, ingat ketika saya sendiri masih belajar di SMP, asrama calon bruder, l80 orang anak. Saya sendiri berumur 12 tahun. Sebelum makan, Br. Avellino memimpin doa. Kami anak-anak sambil omong-omong, bersenda gurau. Sebetulnya kami semua menunggu teguran, tetapi bruder berdoa tanpa menghiraukan kenakalan kami. Dari sikap bruder, nampak ia sungguh berdoa, meski mengamati kami. Waktu yang berikutnya masih riuh dalam waktu doa, tetapi sudah berkurang. Sesudah beberapa kali, l80 anak itu tanpa teguran apapun, ikut berdoa dengan sikap yang sopan. Ini hanya karena bruder berdoa dengan sungguh-sungguh.

Saya yakin jika di asrama ada BRUDER YANG BERIMAN, ya dalam doanya, ya dalam karyanya maupun dalam sikapnya yang menghargai muridnya, bahwa di situ Kristus sempat bergerak di antara kaum muda itu, yang rata-rata berumur jauh di atas 12 tahun. Dalam sikap, perkataan, perhatian, perbuatan bruder yang memikirkan kepentingan muridnya, mereka menghayati kebaikan Yesus. Mereka mengamati brudernya dengan makin sadar dan … mereka menilai … Tak dapat tidak di asrama TCK seperti itu, Kristus akan berhasil.

Bulan berikut saya akan menggambarkan siapa orang-orangnya yang dipanggil Kristus, serta sikap kita dalam membantu Kristus memupuk panggilan-Nya. Sebulan lagi disusul pengalaman mengenai asrama SPG sebagai TCK calon rasul Kristus. (Komunikasi, No. 1, TH. XVI, hlm. 3-7, Br. Aris) bersambung…

SIAPA MEMANGGIL DULU, SIAPA SEKARANG?

Suatu paralel antara Yesus 2000-an tahun yang lanpau memanggil dan cara yang kini dipakai Yesus dengan bantuan kita. Dengan melihat itu kita akan dapat membantu selaras dengan usaha Yesus, dan agar kita jangan mengacau dan memanipulasikan panggilan demi “kepentingan” FIC. Menyerahkan sepenuhnya kepada Tuhan tanpa partisipasi kita dan menunggu saja, itu tidak benar. Hanya mendoakan untuk panggilan saja pun tidaklah cukup.

Kita tentu mencintai FIC. Tiap ordo. atau kongregasi berusaha tumbuh lewat mencari anggota baru. Dalam tahun 1964 di SPG Van Lith dipentaskan. ‘Drama Cinta Kasih’ Bahan dari Injil Yohanes. Adegan-adegan dalam dialog dihubungkan dengan kutipan Injil itu juga. Diiringi gending Jawa, bahasa Jawa. Pelaku utama: Yesus dengan kedua belas murid-Nya. Ketika adegan sabda perpisahan Yesus sesudah perjamuan Paska, Rektor Seminari menghubungi saya dan bertanya, “Pelaku Yesus itu calon seminari ya Bruder?” Saya jawab, “Maaf Romo, ia sudah memutuskan ikut panggilan di dunia. Bukankah Gereja membutuhkan rasul-rasul awam?”

Cita-cita pelaku Yesus itu menyelesaikan revolusi Indonesia Bung Karno. Kabur memang, namun sejak lulus SPG sampai sekarang, ia menerapkannya dalam zaman Orde Baru sebagai penggerak pembangunan masyarakat yang tangguh, berdasarkan ide ‘Revolusi Kristus’ yaitu cinta kasih. Ia bertahan menghadapi sederetan hantaman, kekecewaan, tantangan berat. Ketika ia membicarakan panggilan itu dengan saya, saya tidak berani mengajaknya denjadi bruder. Saya yakin, dan dia sendiri juga menyadari bahwa cita-citanya yang cukup nyentrik ketika itu, pasti tidak dapat diwujudkan dalam tubuh FIC masa itu, maklumlah, Konsili Vatikan II baru saja dibuka. Yang memanggil bukan saya, bukan Bruder, melainkan Kristus, yang mengenal hati tiap manusia. Tetapi pantas diakui, FIC membantunya pada masa Br. Humbertus dan Br. Andreo. Kita harus mengenal baik Yesus maupun para calon pengikut Yesus, terutama kita yang merasa berkesempatan menumbuhkan panggilan religius, ya imam, ya rasul awam.

1.  Yesus

Kita harus mencoba membayangkan Yesus itu siapa. Bukan sebagai Putra Allah atau Raja semesta alam, atau Penebus, melainkan secara kongkret dalam wujud manusia yang melibatkan kita dan mengundang, bahkan ‘memaksa’ kita untuk hidup seperti Dia. Misalnya: Bagaimana sikap Yesus ketika Ia menjumpai seorang anak yang sakit ayan yang berat, Yesus bertanya: ”Pak, berapa lama anak ini menderita penyakit ini?” Bayangkan Yesus sedang berbicara dengan ayah anak itu. Mungkin sambil mengusap keringat di dahi atau mengatur rambut yang menutup wajah-Nya. Kiranya pakaian Yesus berdebu dan berbau keringat. Bagainana Yesus penuh iba berjongkok atau membungkuk untuk mendekai anak itu. Orang yang polos dan jujur merasa diri aman di dekat Yesus. Yesus tidak bergengsi, tidak bergagah-gagahan atau dramatis, melainkan biasa saja. Ia bebas, penuh wibawa, sesuai dengan kebenaran, apa pun konsekuensinya. Sebab itu Yesus sungguh Raja. Bebas.

2.  Yesus memanggil sambil menghormati kebebasan manusia

Setelah Yesus kembali dari padang gurun, Ia memilih tempat yang berseberangan dengan tenpat Yohanes Pembaptis berada bersama muridnya. Yesus membuat pondok dari dedaunan. Dengan demikian, Ia menciptakan kesempatan untuk pertemuan dan menunggu saat-Nya. Yesus tidak terlanbat. Yesus berjalan-jalan di tepi Yordan atau mungkin sedang pergi ke sungai mengambil air untuk memasak. Kepada para murid Yohanes Pembaptis menunjukkan Yesus. Dua orang muridnya, Andreas dan Yohanes menyeberang Yordan. dan mendekati Yesus dari belakang. Yesus menoleh sambil bertanya: “Apakah yang kamu cari?” dan bukan “Siapakah yang kaucari?” Kata APA, lebih NETRAL, Yesus belum melibatkan diri. Yesus halus terhadap manusia, tidak merebut. Kalimat yang digunakan Yesus pasti dapat bermelodi menakutkan. Misalnya: Dalam situasi seseorang masuk ke kebun jeruk, pemiliknya dapat bertanya dengan kalimat yang sama, tetapi dengan lagu yang mengandung arti: “Jangan! Itu milikku.”

Nada-lagu kata-kata Yesus mengundang, sehingga dua orang murid Yohanes berani balik bertanya: “Rabi (artinya: Guru), di manakah Engkau tinggal?” Netral pula. Yesus menjawab: “Mari, lihatlah!” Mirip cara Jawa.

3.  Kita melayani panggilan Yesus, tampa menekan

Saya kira Br. Landoald tidak berkeberatan. Nanti jika saya berjunpa, saya meminta maaf kepada Br. Landoald.

Setiap tahun ada sejumlah lulusan SMP Boro yang ke SPG Muntilan, Yogya dan Semarang. Tiap kali mereka membawa surat pengantar yang berisi informasi tentang para siswa itu. Sampai sekarang saya masih dapat membayangkan tulisan itu. Dari isinya nampak hahwa Br. Landoald benar-benar mengenal murid-nuridnya dan memperhatikan kepentingan mereka. Maksud informasi itu tentu agar mereka dapat perhatian yang pantas, tepat, di tempat mereka yang baru. Dari tiga orang murid Br. Landoald yang bersama saya ke Sumatra sebagai Penegak Bina Tani Pancasila, saya nendengar berbagai peristiwa lucu dan serius, yang nenunjukkan betapa besar perhatian Br. Landoald terhadap mereka semasa masih di SMP Boro. Saya yakin bahwa Br. Landoald mengharapkan pula, agar dalam diri beberapa bekas muridnya yang dilepaskan dari SPG akan tumbuh panggilan ke FIC. Namun dalam hal panggilan, Bruder sangat hati-hati, agar jangan ada paksaan morel. Kiranya bruder alumni SGB/SGA Muntilan dulu mengalami sikap demikian.

Bila kita FIC membuat promosi khusus, maka kita harus sangat, hati-hati, karena usaha seperti itu mudah dinilai orang sebagai cetusan egoisme kelompok. Dengan demikian tidak simpatik dan bersifat sebaliknya (kontraproduktif). (Ketika saya sedang mengetik tulisan ini, saya menerima berita tentang usaha Br. Edelwaldus mencari panggilan. Mungkinkah ada berita lebih lanjut terutama mengenai tanggapan para peserta? Pasti berguna bagi kita semua. Terima kasih). Menurut rabaan saya, wilayah promosi kita cukup luas dengan 4 SPG kita dan 1 SPG Xaverius Belitang, asal kesempatan yang ada kita gunakan dengan penuh perhatian secara bijaksana. Kiranya kedua STM kita berpotensi juga. Demikian SPSA (Sekolah Pekerja Sosial Atas); kemudian menjadi SMPS (Sekolah Menengah Pekerja Sosial) Tarakanita Yogyakarta Sr. Theresella, siswa lulusan sekolah itu cukup matang pribadinya. Alumni SPSA benar-benar bermutu, tidak kalah dengan alumni SPG. Hanya bidang mereka lain. Kongregasi kita pernah pula menerima siswa tamatan dari sekolah itu (yang kemudian menjadi Br. Redemptus Lastiya?). Tinggal mengatasi kesulitan bahwa ‘kcmampuan lebih’ alumni bukan SPG dikenal dan disalurkan sesuai dengan cita-cita alumni itu, selama mereka berada di postulat, novisiat, dan sebagai bruder muda. Mereka tidak boleh sampai merasa asing di tengah guru-guru yang kadang-kadang bersikap serba tahu sendiri.

Hal itu merupakan akibat kurikulum SPG, bukan kesalahan pribadi.

(Komunikasi, No. 1, XVI, Januari 1984, 3-7,20-24, Br. Aristides) Bersambung…

SIAPA YANG DIPANGGIL DULU, SIAPA SEKARANG?

4.  Yesus Dahulu Sama Dengan Yesus Sekarang

Kita dapat belajar dari cara Yesus memperoleh murid di Galilea. Yesus dahulu sama dengan Yesus sekarang. Wujud manusia dahulu sama juga dengan sekarang. Maka kita tidak perlu ragu-ragu belajar dari Guru kita.

5.  YANG DIPANGGIL

a.  Filipus … Natanael

Dari beberapa tempat dalam Injil Yohanes, kita dapat mengenal Filipus sebagai orang yang ramah dan spontan. Filipus begitu saja dipanggil Yesus tanpa prosedur. Tanpa komentar, dia langsung menjadi murid Yesus. Natanael, temannya sekampung diajaknya menemui Yesus, tetapi Natanael berkeberatan. “Nasaret…!?” Namun akhirnya Natanael mau. Sikap kritis dan skeptis Natanael, dalam sekejap lenyap oleh pernyataan Yesus, “Inilah orang Israel sejati.” (polos, benar). Praduga Natanael lenyap. Natanael tahu, dirinya sudah dikenal, maka ia tidak perlu memperkenalkan diri lagi. Natanael takjub, Yesus langsung digelari Raja Orang Israel. Sebetulnya ia tidak dipanggil, namun pribadi dan cara penampilan Yesus mengundangnya. Ia merasa Yesus mempercayai dia. Maka jadilah!

b.  Simon Petrus

Panggilan Simon Petrus mirip, Andreas memperkenalkan Simon kepada Yesus. Simon yang berani, spontan dan percaya diri secara berlebihan, berhadapan dengan Yesus. Mereka saling menilai. Juga di sini Yesus mendahului Simon, kontan mengubahnya menjadi Petrus. Nama baru itu sesuai dengan perangai Simon, sejauh ia mengenal dirinya. Simon merasa tergugah, tertantang. Yesus mengambil hak mengubah namanya. Simon pemberani itu menerima tantangan Yesus. Perkenalan lebih lanjut, bdk. Postulat mulai… Lama sesudah itu “yang dua belas” dipanggil dengan nama mereka, bdk. mulailah Novisiat… Bahan latihan: iman akan Yesus dan cinta kasih, tentu kepada sesama kawan pula.

c.  Ujian di Sinagoga Kaparnaum

Bahan ujian yang sama di Kaparnaum? Yesus menjanjikan Ekaristi. Di situ Yesus mengajar, berulang-ulang dan semakin gencar Yesus diganggu oleh orang-orang yang “menggerutu”… sambil bergerombol pergi. Situasi makin sepi, diliputi kegagalan besar. Gawat! Akhirnya yang tinggal, yang keduabelasan… “Apakah kamu tidak mau pergi juga?” Suasana tak terlukiskan, sedih, kecewa, mendapat tantangan berat.

d.  Ujian Akhir di Yerusalem

Ujian terakhir pada malam penuh haru dan emosi menjelang sengsara. Yesus sampai dengan Minggu Paska. Bahannya lagi: iman dan kasih. Petrus dan Tomas mendapat ujian susulan. Bagi Tomas yang kritis. Sesudah mengalami kegagalan dan musibah besar di kayu salib, yang tak masuk akal, tidak mungkin ada kelanjutan. Yesus yang dicintai dan dikaguminya, membiarkan diri-Nya dilikwidasi sangat hina. Tomas tidak mampu mengatasi kekecewaannya. “Ke mana aku harus pergi?”

e.  Ujian Susulan bagi Petrus dan Tomas

Pada hari ketujuh sesudah kebangkitan, Tomas ditolong secara khusus oleh Cinta Yesus. Petrus yang sampai berani masuk ke kompleks Mahkamah Agung karena cintanya akan Yesus diuji lagi dalam kehadiran kawannya Intim, namun tidak eksklusif. Tempatnya di tepi danau Tiberias setelah penangkapan ikan yang di luar perhitungan kemungkinan nelayan profesional.

Setelah selesai makan hasil tangkapan tadi, Petrus disapa Yesus: “Simon anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?” Tak terduga… Yesus bertanya begitu… Dua kali lagi, pertanyaan diulang. Petrus mengerti, jumlah 3 itu, ia mengerti pula sapaan Yesus kepada dirinya dengan ‘Simon’ bukan ‘Petrus’. Hatinya menangis. Begitulah cara Yesus. Yang lain bingung, hatinya sepi… Yesus berdiri, mengajak Petrus meninggalkan tempat sarapan itu, untuk berpesan khusus secara pribadi… sesudah itu benar-benar mereka menjadi murid Yesus, apapun konsekuensinya terserah kepada Yesus. Panggilan Yesus memang sangat serius. Panggilan memang bukan hal coba-coba atau bahan permainan, ataupun senda gurauan. Bila Yesus memanggil orang pilihan-Nya, Beliau yakin bahwa orang itu mampu mengikuti-Nya, dalam hari-hari, bulan-bulan gelap, maupun hari-hari cerah.

6.  WUJUD ORANG YANG DIPANGGIL DAHULU SAMA DENGAN ORANG SEKARANG

Orang-orang macam apa yang sekarang ini dipanggil Yesus untuk FIC? Rata-rata anak desa yang polos tanpa banyak tuntutan, tanpa perhitungan. Anak yang di rumahnya dituntut oleh orang tuanya. Yang sudah telanjur manja tidak mungkin dipanggil, paling tidak… berat sekali. Ukuran dan pola apa yang harus kita pakai, untuk mengetahui (menurut intuisi) siapa yang merasa terpanggil?

a.  Anak yang nampak seperti ‘bocah altar’ dalam waktu dinasnya, tidak perlu disingkirkan dari perhitungan.

b.  Anak brandal dalam arti aslinya, boleh saja; mungkin macam itu malah anak kreatif. Bukankah cinta kasih itu juga kreatif, tak tahu aturan.

c.  Anak yang sifatnya penurut tanpa reserve, boleh disangsikan, tetapi jangan diafkir (disisihkan), dan harus ditantang sebagai bentuk binaan, untuk mengenal pribadinya.

7.  SYARAT-SYARAT POKOK YANG PERLU BAGI CALON

a.  Bisa bergaul dengan kawan, bertangan ringan terhadap kawan

b.  Cukup terbuka, misalnya dalam arti: bila minta nasihat dalam kesulitan sungguh meminta nasihat, dan bukan sekedar mencari pembenaran keputusannya sendiri yang sudah dibuatnya sebelum meminta nasihat. Dengan kata lain: jujur dan tidak berpolitik (bersiasat, manipulasi).

c.  Terbuka baik ke luar maupun ke dalam. Tradisi kesopanan Jawa perlu diperhitungkan.

d.  Punya perhatian sesuai umurnya terhadap hal-hal spiritual dan mampu berdoa

e.  Spontanitas menguntungkan

f.  Meski mudah tersinggung tidak apa-apa. Itu dapat dibina. Mereka belum dewasa.

g.  Punya kegemaran membaca. Ini merupakan sumber perkembangan pribadi.

8.  SIKAP KITA SIKAP PERSAUDARAAN

Di asrama, mereka jauh dari keluarga. Mereka membutuhkan perhatian bagi dirinya, bagi desa mereka, bagi orang tua dan adik kakak, bagi situasi ekonominya. Perhatian bruder terhadap mereka mutlak perlu, agar mereka sempat membuka diri. Kesempatan berhubungan dengan mereka harus diciptakan. Sikap kebapakan bruder sebaiknya beralih ke sikap persaudaraan dengan siswa, walaupun sikap ini menyipang dari tradisi Jawa pedesaan. Agar hubungan itu tidak kaku dan formal, sebaiknya mereka dihubungi, disapa dalam waktu bebas. Misalnya ketika mereka/dia menonton sport kawan-kawan, mencuci pakaian, di kamar dandan, di rekreasi, dll. Bentuknya “sambil lalu” saja. Suatu contoh dari masa ketika saya di SPG di Maastricht. Di asrama itu ada sistem surveillance bergilir (seperti di SGB Muntilan dulu): bruder tak bertugas pokok pada asrama tapi pada waktu-waktu tertentu membantu/menggantikan bruder asrama memerhatikan kegiatan siswa… Bruder Stefan punya corak tersendiri. Dalam ‘tugas’ untuk asrma, ia selalu seolah-olah ‘dolan’, menghabiskan waktunya menunggui siswa. Tidak pernah sambil membaca. Pernah, saya sedang menggambar sebuah rumah desa di pinggiran kota. Rumah kolot, miskin. Lukisan di alam dibawa pulang sebagai contoh membuat lukisan cat yang sesungguhnya,… Bruder Stefan berhenti, mengamati kerja saya cukup lama. Ia hanya berkata, “Pasti, rumah ini di sebelah dalam tidak sebagus di luar.” Ia tidak menunggu tanggapan saya, langsung menerukan berjalan ke siswa lain. Ia meninggalkan bahan pikiran bagi saya. Pada kesempatan lain, ketika saya sedang membuat kap lampu dari tripleks, ia berkata, “Saya yakin kamu tak dapat menyelesaikan kap lampu ini dengan baik.” Lalu ia terus pergi. Ia meninggalkan suatu tantangan, dengan menghindari protes saya. Terpaksa protes itu tersimpan di hati. Ini seni mendidik. Dengan dua contoh itu, mungkin yang berikut ini jelas maksudnya.

Omongan bruder asrama yang berbentuk komentar atas obrolan dan tentang perbuatan siswa, dapat berfungsi sebagai binaan. Tetapi komentar bruder harus bersungguh-sungguh, bukan berbentuk sindiran, biarpun dimaksud sebagai humor. Sebab belum tentu siswa mengenal humor, apa lagi bila bruder belum mereka kenal sungguh-sungguh. Bagi siswa Jawa, sebaiknya mereka diberi kesempatan mengeluarkan tanggapannya, perasaan hatinya, yang mungkin ditimbulkan oleh komentar bruder. Sekaligus bruder belajar mengenal siswa, dan mungkin terjadi suatu relasi yang mengembangkan pribadi siswa. Binaan seperti itu membekas sungguh. Tetapi syaratnya: Cara berkata dan logat bruder harus membuat mereka yakin bahwa bruder menghargainya, seolah-olah mereka itu sudah dewasa. Kalau begitu, komentar bruder yang kritis atau tajam sekali pun, mereka terima pula, dan mereka simpan sebagai bahan pemikiran ke mudian. Ingatlah, pemuda menjelang dewasa senang dengan tantangan.

9.  KONSEKUENSI BAGI BRUDER ASRAMA

Binaan seperti itu membutuhkan perhatian bruder secara terus menerus. Itu berarti bahwa bruder tidak boleh hitung ‘waktu dinas’. Kehadiran bruder di asrama jangan bersifat menunggui, apa lagi mengawasi anak asrama, yang sebenarnya sudah bukan anak. Mereka sudah menjelang dewasa, maka panggillah mereka “SAUDARA!”, jangan disapa dengan Anda. Sebab ‘Anda’ merupakan bahasa iklan belaka. Dalam kehadiran itu, bruder harus aktif, kreatif dan peka terhadap apa saja yang terjadi di asrama, dan seolah-olah bruder tidak punya urusan lain.

Acara ‘waktu bebas’ di asrama tidak dapat dipandang sebagai waktu bebas bagi bruder sen diri. Janganlah waktu itu dihabiskan di bruderan dengan obrolan hiburan. Memang tugas bruder asrama bukanlah tugas ringan, jika asrama akan dijadikan Pusat Latihan Kerasulan (CTK).

Dalam pelajaran agama di sekolah: arahkanlah perhatian siswa kepada Kristus, kepada pribadi Yesus dari Nasaret, seperti dilukiskan dalam peristiwa anak sakit ayah tsb. Bila mereka tertarik oleh pribadi Kristus, maka bereslah. Lalu Kristus, membantu pada saat-saat yang tepat. Maka kita harus peka yang bersumber pada cinta kasih. (Komunikasi, No. 2, XVI, Pebruari 1984, 7-12, Br. Aristides) Bersambung…

INTI PANGGILAN, INTI USAHA, YANG DAPAT DILAKUKAN SEMUA BRUDER, GUNA MENDUKUNG PANGGILAN YESUS KE FIC

Inti usaha kita mencari calon FIC yakni identitas kita sebagai BRUDER FIC YANG BAHAGIA. Partisipasi kita dalam hal ini menyangkut hidup kita semua sebagai religius; itu bukan tugas para bruder yang berkarya di Sekolah saja. Kita semua terlibat dalam promosi dengan corak hidup dan mutu pribadi kita yang dewasa. Kita bersama dan kita masing-masing membentuk citra FIC, bukan Roncalli saja, bukan sekolah-sekolah favorit saja. Profesi kita: menampakan Kristus yang konkret, yang sehari-hari kepada orang lain. Kita harus membawakan Yesus dalam hidup kita. Biarlah orang-orang mengakuinya sebagai Kristus. Profesi itu hanya dapat kita penuhi, bila kita berusaha mengenal Yesus. Bukah ajaran-Nya saja melainkan pribadi-Nya. Kita harus juga membuka diri untuk mendengarkan ajakan-Nya. Usul-usul-Nya. Mendengarkan itulah syarat untuk membuat kita mampu membina murid-murid kita, dan untuk dapat menemukan dalam salah seorang murid apakah dia mungkin terpanggil masuk FIC. Murid kita hanya tertarik ke FIC, bila ia berjumpa dengan bruder yang benar-benar melaksanakan profesinya. Bagaimana murid dapat tahu, bukankah mereka tidak mengenal pedoman hidup kita? Jika murid berjumpa bruder yang berbahagia, pasti dia menilai: “Itulah bruder FIC yang benar.” Penghayatan semacam itu pernah saya alami sebagai murid kelas VI SD.

Penampilan sebagai bruder yang berbahagia tak dapat dibuat-buat. Pemuda peka terhadap yang benar. Wajah kebahagiaan yang nampak ke luar adalah KERIANGAN HATI yang sederhana dan seimbang serta konsisten, tidak musiman. Sumber keriangan itu mendalam, mendarah daging dalam diri kita, bukan di luar kita. Keriangan hati kita haruslah menjadi tanda dan sekaligus alat penebusan bagi yang yang menjumpai kita. Yang terakhir ini mungkin membutuhkan penjelasan.

Keriangan hati tidak begitu saja ada pada kita, melainkan hasil penderitaan dalam pergulatan (pergumulan) bersama Kristus untuk menjadi murid-Nya tanpa henti. Sebab apa penderitaan? Karena: dasar keriangan hati adalah hasil penghayatan dan keyakinan bahwa kita dicintai Tuhan. Aneh, namun benar, kesediaan kita untuk menerima bahwa kita dicintai Tuhan, entah Bapa atau Putra-Nya, Yesus Kristus, menuntut kurban. Kita takut – saya mengalaminya, mungkin bruder lain juga demikian – dicintai Tuhan karena konsekuensinya: kita harus mencintai. Karena cinta Tuhan menuntut seluruh pribadi kita, apa adanya, beserta segala embel-embelnya dan tanpa henti. Membuat diri kita bersedia dicintai Yesus, pasti diiringi penderitaan penebusan. Itu memurnikan keriangan hati, hasil cinta, menjadi hening, sederhana, simpatik, jadi menarik. Hening: manusia lain dapat menembusnya, menemukan sumbernya. Sederhana: tidak membutuhkan hiasan hidup atau kesenangan yang sumbernya di luar Allah, misalnya: alat-alat elektronik kebanggan zaman ini, perlengkapan super, alat pengangkutan yang menggiurkan. Adanya barang-barang seperti itu mestinya tidak memengaruhi sikap kita dan tidak kita gunakan untuk mencari gengsi, gagah-gagahan, seolah-olah kita ini anak tanggung (remaja ABG) dari keluarga kaya. Cara menggunakan barang-barang seperti itu mudah ditembus oleh murid kita yang menilai brudernya. Bruder borjuis tidak menarik murid.

Yesus membawa kabar gembira dengan hidup-Nya, namun hidup-Nya ditandai Salib. Hidup kita para pengikut Kristus harus juga menunjukkan kabar gembira itu. Meski konsekuensinya salib demi penebusan, pembebasan sesama, namun akan disusul oleh kebangkitan. Tanpa kebangkitan, tiada Injil. Salib profesi kita, meski sedarhana, merupakan peringatan akan hal itu.

Demi orang lain, kita berjanji hidup sederhana, tidak kawin demi cinta tunggal abadi dan menyerahkan kebebasan kepada Kristus, agar Kristuslah yang menentukan jalan hidup kita menurut kehendak-Nya. Hasilnya yaitu suatu kontradiksi: KEBEBASAN bercirikan KERIANGAN HATI, seperti yang dimaksud oleh Yesus dalam khobah-Nya di bukit.

RANGKUMAN: Inti Injil yaitu damai, meskipun penuh risiko. Damai di hati pasti menarik. Itulah yang sekaligus merupakan promosi, seperti yang digunakan oleh Yesus sendiri. (Komunikasi, No. 2, XVI, Pebruari 1984, 20-22, Br. Aristides) Bersambung…

II.  ASRAMA TRAINING CENTRE KERASULAN (TCK)

Lama-kelamaan saya sangsikan benarkah bila sajian di bawah ini dihidangkan di meja umum FIC di komunikasi. Sebab hanya beberapa bruder langsung terlibat dalam asrama SPG. Tetapi saudara saya dari “Gubug”, Br. Anton Marsudi telah mengajak saya untuk membuka “gudang pengalaman”, tulisanya dalam surat bulan Januari. Hayalah yang saya minta agar bruder yang mau mencicipi hidangan ini, jangan menilainya sebagai penyadaran provokatif yang ingin menyingkirkan hasil jerih payah bruder yang menangani asrama SPG sebagai usaha yang kurang tepat.

A.  TUJUAN TULISAN INI

Menampilkan sederetan peristiwa sejarah SPG Van Lith guna dipakai sebagai sumber untuk menimba dari dalamnya, beberapa unsur pendidikan kepribadian bruder yang esensial dalam arti, lepas dari zamannya.

Agar unsur-unsur esensial itu bagi pembaca tidak begitu saja jatuh dari langit, maka peristiwa-peristiwa konkret dari riwayat hidup SPG Van Lith dilukiskan senyata kejadiannya.

Tulisan ini akan saya kaitkan juga dengan usaha pencarian calon FIC. Tetapi usaha untuk FIC itu tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi onderdil organis dalam segenap usaha menggembleng rasul Kristus, ya bagi FIC, ya bagi seminari, maupun bagi kelompok rasul awam sesudah Konsili Vatikan II.

1.  SEKELOMPOK INFORMASI

Hari jadi SPG Van Lith sebagai TCK tak bertanggal. Jadinya memakan waktu beptahun-tahun mulai 1962. TCK itu tidak direncanakan masak-masak dulu. Embrionya suatu ide, yang kini pun masih laku. Pertumbuhan dan perkembangannya terjadi dari dan di tengah-tengah sederetan peristiwa yang tak terulang dan sudah disimpan baik-baik dalam buku pelajaran sejarah Indonesia merdeka.

Peristiwa-peristiwa itu adalah luapan gelora politik masa konsep “Revolusi Indonesia” Bung Karno. Sejajar dengan konsep itu Gereja menelurkan ide “Revolusi Kristus” dengan cinta kasih dan Pancasila sebagai momentum pusat dan taruhan perjuangan kesatuan Indonesia. Memang itulah masa perjuangan hidup matinya Pancasila, yang sedang dimanipulasi oleh PKI dengan kelihaian yang menyesatkan banyak orang. Sesudah bencana salah hitung Bung Karno dalam masa front  Nasional, front Marhaen dan front Katolik dan sebagainya, yang kemudian bermuara dalam peristiwa Gestapu PKI, muncullah massa KAMI, KAPI. Dalam masa sesudah Gestapu itu perjuangan politik menentukan apakah Indonesia berwarna merah naga Cina atau hijau Islamiah, yang pada masa itu menciptakan alat ampuhnya P3A. Itupun disusul konsep Pak Harto, Orde yang dengan tegas mengembalikan merah putihnya kejayaan Majapahit bagi segenap bangsa. Serta Pancasila sebagai kepribadian bangsa. Dengan program raksasa Repelita I (pernah menjadi impian Bung Karno pula) mulai fase perbaikan ekonomi dan situasi sosial rakyat banyak. Revolusi dicopot dari kedudukannya. Gerakan angkatan ‘66 dengan dukungan ABRI mulai nampak hasilnya.

Arah proses jadinya TCK ditentukan oleh tantangan peristiwa-peristiwa politik itu, yang disusul oleh awal perkembangan ekonomi serta oleh derap langkah-langkah P3A yang merisaukan.

Laju proses jadinya TC itu ditentukan oleh daya serap para siswa SPG dalam acara mingguan diskusi sosial. Diskusi-diskusi itu melahirkan semua unsur yang menjadikan asrama SPG itu sebuah TCK. Diskusi itu adalah unsur esensial dalam metode pengembangan kepribadian siswa karena keputusan-keputusan tiap diskusi dilaksanakan. Yang terakhir adalah kunci keberhasilannya.

2.  IDE POKOK TCK SERTA DASARNYA

a.  GURU KATOLIK desa wajib menjadi SAKA GURU GEREJA dan MASYASAKAT (APP ’84 di tahun ’63) yang antara kurung saya sisipkan bagi pembaca yang mungkin menilai riwayat dari th. 1965 sebagai ketinggalan zaman.

b.  SAKA GURU GEREJA: Guru Katolik terpanggil jadi rasul Kristus sebagai konsekuensi baptisannya. Usaha dakwah Islam direncanakan terperinci dan mendetail secara operational di IAIN-IAIN, khususnya di DIY, guna proyek-proyek transmigrasi dan di Palembang khususnya bagi proyek transmigrasi di Sumatera Selatan. Memang hak mereka. Gereja berhak sama dan berkewajiban.

3.  SAKA GURU MASYARAKAT DESA: Guru desa benar-benar berstatus di desa. Ganjil sekali bila status tidak digunakan sebagai titik tolak kerasulan awam Sesudah Vatikan II. Di tahun 1963 benar, sekarang dan besok tetap benar. Guru desa yang hanya menggurui anak-anak kecil SD-nya serta ladangnya, bukan dinilai sebagai warga desa dewasa.

3.  TUJUAN TCK

Pelaksanaan ide di atas akan mencapai pembentukan guru yang sekaligus katekis/guru agama serta pengembang daya manusiawi di desa tugasnya. Pembentukan pribadinya ke arah MANUSIA DEWASA/PEMIMPIN adalah unsur pendidikan yang mutlak perlu untuk membuatnya mampu menggunakan bekal yang diterimanya di asrama TCK dan sekolahnya dalam TRITUGAS: Guru – Katekis – Pengembang Masyarakat. Pendewasaan pribadi bagi kebanyakan siswa SPG tidak terjadi otomatis. Mereka harus dikarbit oleh tantangan tantangan dalam kesempatan untuk bertanggung jawab. Mereka tidak digarap oleh pendidik-pendidik mereka melainkan pendidik harus menciptakan kesempatan-kesempatan bagi siswa untuk menggarap diri di asrama SPG. Itulah sesuai dengan jiwa pemuda. Mereka senang bertanggung jawab dalam tugas-tugas yang mengandung tantangan. Jadi, berisiko. Siapa yang memperjungkan kemerdekaan Indonesia? Pelopor pemuda. Taruhan jiwanya sendiri. Proses pengembangan anak desa menjadi guru dewasa dalam waktu tiga tahun perlu dijadwalkan sebelumnya.

 

RIWAYAT HIDUP

SPG VAN LITH

DENGAN ASRAMANYA SEBAGAI TRAINING CENTRE KERASULAN (TCK)

Tahun 1961/1962 Menteri P dan K mengeluarkan saran untuk memasyarakatkan SR dan SGA (selanjutnya disebut SD & SPG). Penjadwalan dan metodenya diuraikan dalam edaran menteri. Dua minggu dalam satu tahun boleh dipakai untuk “menerjunkan” siswa dan guru SPG ke masyarakat. SPG Don Bosko melaksanakannya dengan hasil bagus, tetapi laporannya yang lengkap dengan satu album foto seperti tak dihiraukan Inspeksi [bdk. DepDikPenNas?]. Mungkin Bon Bosko satu-satunya SPG yang melaksanakannya. SPG Xaverius (kemudian bernama SPG Van Lith) tidak berbuat apa-apa, kecuali menyiapkan siswa klas 3 untuk ujian akhir yang pertama kali di SPG Negeri Magelang. Guru-guru dan buku-buku saja belum lengkap. Buku-buku SGB dulu yang berlimpah masih dipakai di SPG oleh para guru. Dari 36 siswa yang lulus hanyalah 28. Itulah tahun 1962. Tahun 1963 Rapat SPG Katolik se-Jawa selama 15 hari untuk meninjau pemasyarakatan SPG. Pada rapat itu Bp. Sukarno bersama saya memperoleh ide, bahwa saran P dan K 1962 dapat berhasil hanyalah bila usaha itu dilakukan secara kontinyu selama 3 tahun dari klas 1, 2 dan 3. Kontinuitas adalah kuncinya. Situasi SPG Van Lith dengan sendirinya mengarahkan usaha itu ke pengembangan desa. Siswa dari desa kembali ke desa sebagai guru.

A.  CONTOH PERTAMA MENGARAHKAN USAHA KE PENGEMBANGAN DESA: KERJA BAKTI, PBH, KERAWITAN

1.  Survai

Kerja bakti bersama rakyat desa (masyarakat desa) sebagai sarana pertemuan siswa dengan rakyat. Waktu dan tempat disepakati pemerintah 2 desa. Pukul 08.00 kami berangkat. Sampai di dua tempat, rakyat tidak ada. Di satu tempat karena sengketa antara lurah dengan carik (sekretaris desa). Di tempat lain ada instruksi… ke seluruh rakyat menangkap tikus pada waktu itu. Maka kerja bakti batal. Jadi kenbali ke kampus. Kami bukan kuli rakyat. Pengusutan lebih lanjut menunjukkan bahwa camat menjadi biang keladi kegagalan pertama ini. Camat berwarna merah (PKI), SPG Merah Putih. Agar kegagalan itu tidak mematikan semangat siswa, maka langsung mereka dibagi atas kelompok-kelonpok masing-masing 3 orang terdiri dari kelas X, XI, XII. Terus berangkat tanpa izin Pemda (Pemerintah Daerah). Seolah-olah dolan-dolan untuk mendahului tangan jahil Si Camat. Tiap kelonpok ke desa tertentu mencari informasi tentang persoalan desa sasaran. Hasil akan dilaporkan oleh tiap kelompok. Hasil dolan-dolan itu menjadi bahan diskusi sebagai titik tolak survai lebih lanjut. Adanya jumlah besar rakyat buta huruf (tak dapat baca-tulis) menjadi sasaran survai yang paling banyak. Beberapa hari kemudian kunjungan lagi ke desa yang sama; mencari yang lebih terarah. Hasilnya: daftar desa-desa dengan nama-nama orang buta aksara, umur dsb. Keesokan harinya saya ke Penmas (Pendidikan Masyarakat) minta bahan kursus Pemberantasan Buta Huruf (PBH, istilah zaman itu). Gembira sekali dia. Seluruh paket buku dalam jumlah menurut daftar tersedia. Sorenya dijemput oleh beberapa siswa. Esoknya saya ke Camat, lengkap dengan jubah dan tasbih. Feeling dulu. Nah, cukup hangat, bukan karena rasa akrab! Ia membentak-bentak: “Apa Bruder tidak tahu, bahwa 17 Agustus mendatang Bung Karno akan memaklumkan Indonesia bebas buta huruf?” “Saya tahu, tetapi masih ada yang kelupaan, ” sambil mengeluarkan daftar 40 desa dari belakang skapulir. Dengan marahnya ia hampir merampas daftar itu dari tangan saya, seperti saya pegang “top secret” negara. Saya lepaskan saja, jangan sampai tersobek. Camat boleh tahu… Sambil omong-omong, marahnya mereda dan setuju dia, jika besok surat izin (susunan kantor SPG) dicap di kantor Camat. Pastilah dia sudah punya akal main serong berdasarkan daftar rahasia negara tadi, sehingga kenaikan darahnya mudah turun lagi. Survai dimulai secepat-cepatnya sesudah diskusi mengenai cara pelaksanaan PBH, metode mendekati pejabat setempat, memotivasi peserta dan metode mengajar.

2.  Pelaksanaan Konkret Pertama

Tiga siswa ke dukuh belakang Pepe dekat asrama. Pak Kebayan setuju, gembira. Waktu, tempat ditentukan. Malam pertama: belum ada kursis (peserta PBH). “Maaf, kelupaan.” Jadwal baru ditentukan. Pulang. Kali berikut: yang hadir beberapa kakek dengan cucu-cucunya. Kursus mulai dengan motivasi yang pasti tidak kena, sebab orang-orang itu sebentar lagi akan “pulang ke Rahmatullah.” Di surga tak ada buku. Pak Kebayan dihubungi: ”Kali berikut lebih banyak,” janjinya, “tetapi mohon pinjam papan tulis dan penerangan.” Pulang, laporan. Papan diizinkan, tetapi tiap kali harus dibawa pulang. Kali berikut papan dibawa sekaligus sebagai payung, karena hujan. Jumlah peserta lebih banyak dari segala lapisan masyarakat! Motivasi lagi entah untuk yang berumur berapa… Sesudah tiga minggu dinyatakan gagal.

Di tempat lain, yang datang anak-anak SD ke atas. Mengapa tidak sekolah? Tak ada pakaian pantas.

Tempat lain lagi, di SD Negeri. Jumlah orang cukup sesuai dengan daftar dukuh itu. Sudut-menyudut di ruang kelas itu ada selokan guna mengalirkan air hujan. Bila hujan, kursis angkat kaki.

Dari 30 tempat kursus pengaksaraan itu hanyalah sekitar 10 kursus berhasil mencapai “tingkat lanjutan”, itulah resmi kursus PBH.

Di sekitar 10 desa lain usaha survai meliputi kebersihan dan sport muda-mudi. Di lima tempat penggalakan penggunaan gamelan yang nganggur, karena pelatih pergi atau kericuhan antar anggota kelompok kerawitan. Sesudah satu tahun survai perorangan, dua orang petugas dihentikan, karena kerawanan tempat-tempat tertentu padahal usahanya sore-malam.

Dalam tahun 1963-1964 itu suasna di sekolah dan asrama sangat berubah. Kenakalan remaja yang secara tradisi melekat pada tiap asrama klasik kebaratan – Misal listrik tiba-tiba dimatikan. Kawan di kamar mandi sedang mengenakan pakaian disiram oleh kawan di sebelah – berakhir. Dalam waktu yang sama itu self goverment sudah dimulai semampu para siswa sendiri. Penopang utama yakni diskusi kemasyarakatan mingguan, tiap malam minggu bagi kelas II dan XII.

 

CONTOH KEDUA MENGARAHKAN USAHA KE PENGEMBANGAN DESA: JALAN BENDUNGAN GONDOSULI-SEDAYU, TAHUN 1964/1965

1.  Survai…

Di batas antara Gondosuli-Sedayu (Muntilan) ada jalan lintas dari wilayah Sawangan ke jalan Talun. Tapi di musim hujan pasti putus untuk mobil. Dalam zaman Belanda, kata lurah Gondosuli, telah ada rencana membuat bandungan, sekaligus jalan juga bila hujan. Jalan bendungan itu akan dijadikan proyek kerja bakti bersama siswa SPG sebagai sarana perkenalan antara rakyat dengan siswa. Bila berhasil, selanjutnya siswa-siswa kelas III selama seminggu mau dititipkan di keluarga-keluarga dua kelurahan itu. Jadi proyek bendungan hanya sebagai persiapan saja.

2.  Pelaksanaan Proyek

Dua panitia siswa dibentuk untuk masing-masing kedua lurah desa tadi. Hasil pertama yang sampingan: sengketa antara dua lurah yang sudah lama, menjadi kerja sama dan danai. Panitia kerja antar dua desa dibentuk. Ketuanya pengurus Muhamadiyah yang sangat aktif, karena wibawa. Dua siswa SPG ikut panitia kerja itu. Rencana kerja sama: Bahan pokok bendungan dan jalan tersedia di lokasi proyek yaitu teras. Tinggal digali. Alat angkut selengkapnya disiapkan oleh desa. Tenaga: Tiap ormas dan orpol akan mengirimkan 5 orang tiap hari. PNI, Muhamadiyah, NU. PKI tidak ikut. SPG tiap hari mengirimkan satu kelas dari pukul 10.00–12.00. Mereka akan membawa semua pacul yang ada di asrama. Keuntungan riel, bila selesai: Wilayah utara bendungan antara lain Gondosuli terlepas dari isolasi di musim hujan. Pemilik sawah di Sedayu senang, karena dapat mengatur pengairan sawahnya dan menghindarkan sawahnya dari banjir. Minggu pertama sesudah rapat kerja terakhir, start. Segalanya berjalan menurut rencana. Minggu ke-3 PNI tidak hadir, karena diintimidasi (diancam) oleh seorang algojo PKI. Beberapa korban dari rakyat di situ sudah jatuh, hilang tanpa urusan. Sebelah menyebelah jalan setapak yang dipakai siswa menuju lokasi terdapat batu-batu besar muntahan Merapi tahun 1930. Minggu kedua batu di tengah-tengah sawah itu dihiasi suratan yang rapi besar yang dialamatkan ke SPG Pangudi Luhur. Nada tulisan mengancam keselamatan siswa. Ditandatangani Palu Arit. Minggu ke-4 dan ke-5 NU dan Muhamadiyah makin berkurang jumlahnya. Ketua Muhamadiyah yang selalu berpakaian hitam termasuk serban di kepalanya dan bersenjatakan cemeti mengajak saya pada hari terakhir, ikut makan di warung sambil menawarkan tembakaunya sendiri yang jauh lebih baik katanya, daripada yang saya bakar di pipa saya. Memang benar, lebih cocok. Dia sempat menceritakan segala yang dilakukan oleh oknum-oknum PKI dan Pemuda Rakyatnya. Orang-orang tertentu seperti lurah Gondosuli tiap malam tidur di tempat lain. Algojo tadi berbuat semaunya dengan bayaran lumayan untuk tiap korban. Algojo tidak berani pada si hitam Muhamadiyah, yang selalu punya regu kawal di waktu malam. Proyek sebetulnya mendekati penyelesaiannya, tetapi ia menyarankan berhenti demi keamanan siswa. Proyek itu oleh PKI dianggap provokasi, katanya.

Beberapa minggu sesudah Gestapu; sudah zaman Kojarsena, saya dolan-dolan ke Gondosuli mencari lurahnya. Tiada orang tahu. Ia sudah lama kabur, tanpa bekas. Menang ia fanatik anti PKI. Wilayahnya seperti lumpuh, ngeri dalam kesepiannya, tanpa lalu lintas, tanpa bunyi gamelan. Ayam saja jarang. Calon bendungan persis sama seperti dalam keadaan ketika dihentikan. Saya mencari ketua Muhamadiyah di rumahnya. Sebelum saya sampai, ia sudah mendahului mendekati: “Banyak pembunuhan liar oleh PKI yang sesudah Gestapu disusul cidukan sewenang-wenang sebagai balasan,” katanya. Kemudian “ditertibkan” oleh alat negara yang sah. Ada sebuah pedukuhan kosong belaka, ditinggalkan penduduknya, yang masih sisa, sesudah balasan terakhir. Dan itulah paling banter jaraknya 5 km dari Jln. Pemuda Muntilan.

B.  BANTING SETIR

Pengalaman Gestapu itu memengaruhi jenis aktivitas keluar asrama SPG. Terpaksa banting setir dulu, sesuai dengan perubahan situasi politik. Sebelum Gestapu: ancaman PKI. Sesudah Gestapu: P3A dan ancaman berkali-kali dari Kauman di seberang Jln. Kartini. Strategi Partai Katolik Kedu Selatan meresapi hidup asrama. Sekaligus persiapan perayaan setengah abad Gereja Muntilan.

Pengaruh dari dua aliran politik berbendera merah dan hijau untuk bulan berikut. (Komunikasi, No. 5-6, XVI, Mei-Juni 1984, 19-27, Br. Aristides) Bersambung… Komunikasi, No. 7, XVI, Juli 1984,?????????xx

 

SARANA-SARANA PENGGEMBLENGAN KUALITAS SISWA ASRAMA UTUSAN KRISTUS

Orang dipanggil Kristus untuk diutus. Dua belas Rasul di panggil bukannya agar mereka aman. Mereka digembleng dalam tantangan iman dan cinta. Sesudah tiga tahun mereka diutus ke segala bangsa.

Di bawah ini saya menyajikan dua wadah di asrama, dalam mana tersedia sarana-sarana gemblengan kepribadian yang dapat dipakai oleh siswa sesuai kemampuan dan keberaniannya. Uraian sesungguhnya saya selingi peristiwa kecil untuk meringankan bahan itu. Dengan demikian para bruder muda yang pada masa gestapu masih anak, mungkin dapat membayangkan suasana dan lebih mudah dapat menimba unsur-unsur pendidikan mental dari dalamnya untuk diterapkan di dasawarsa delapan puluhan ini.

Gerakan PKI mulai gencar pada waktu tegaknya front Nasional, Organisasi yang menamakan diri yang paling progresip menjadi katalisator penyadaran parpol dan ormas yang lain-lain. Di Kedu Selatan umat Katolik seperti bangkit dari pembiusan agitasi dan provokasi Palu Arit, sampai-sampai dengan pementasan “Matinya Tuhan” ciptaan ketoprak Lekra (Lembaga Kesenian Rakyat) Sawangan. Asrama SPG pernah langsung diancam oleh cabang PKI Magelang sebagai racun rakyat (brosur-brosur Lembaga Kader Katolik serta lembaran “gelap” sebuah stensilan yang ditujukan kepada orang-orang tertentu “Pemuda Katolik”. Edaran itu disusun klub diskusi siswa atas dasar terbitan PKI: “Tertib Organisasi” dan “Konstitusi PKI” Seorang anggota DPRD fraksi Katolik memberikan kepada kami salinan sebuah surat kepada Bung Karno yang mensinyalir adanya sebuah pusat penyebaran racun rakyat kecil di sekolahan Katolik Muntilan. Tembusannya dikirimkan lebih dari 30 jenis instansi di seluruh wilayah RI! Polisi akan menggebrak Asrama penyebar racun itu.

A.  ISKI (Ikatan Siswa Katolik Indonesia)

Pada saat yang tepat lahirlah Ikatan Siswa Katolik Indonesia. Asrama Muntilan menjadi salah satu cabang. Segala aktivitasnya ditangani oleh Pengurus Umum Self Government di Asrama. YSS menjual guni bulgur ke ISKI. Cetakan Imperialis itu dicuci bersih lalu diwenter kuning. Baju kuning di atas putihnya celana seragam sekolah menjadi warna Vatikan. Topi merah cuplikan baret (topi) RPKAD. Bendera ISKI merah wenteran. Emblemnya di bendera tempelan kertas crep. Emblem ISKI juga menghias topi dan baju kuning. Lengkaplah bentuk lahir ISKI. Segalanya hasil jahitan tangan terampil siswa SPG lulusan Sekolah Teknik Menjahit Boro. Mars ISKI, mars Pemuda Katolik dan mars Pancasila sebagai lombok rawitnya pada waktu pawai atau pertemuan. Kalau ada lagu Nasakom maka ISKI bungkem.

Regu inti yakni Resimen Pengawal Kristus (RPK) beranggota sukarelawan, dengan syarat masuk yang berat. Tugas-tugasnya berat, tidak enak. Misal ambil pupuk belakang pasar dengan gerobag sewaan DPU melalui jalan protokol (utama) Muntilan. Korban perasaan, jadi tontonan bagi anak-anak SD Latihan. “Guru jadi kuli”. Kewajiban rutin harian: membaca Injil untuk mengenal Siapa yang dikawal. Latihan beladiri dari guru AKABRI Magelang dan mengajar di stasi tiap Minggu.

Aktivitas-aktivitas dilatarbelakangi perjuangan tegaknya Gereja dan Negara Pancasila. Pamer dan Show dihindari. Show merusak mental rasul. Rasul yang cari pamor bukan utusan Kristus. Romantika muda diarahkan ke idealisme yang dalam perjuangan riel diuji dan dimurnikan. Ancaman konkret dari pihak Pemuda Rakyat memberi kesempatan untuk ujian itu.

1.  Pawai Pancasila,1 Juni 1965

Sumbangan ISKI ciptaan Pak Suyono, guru prakarya SPG. Indah benar dan sangat mengesan.

2.  Lomba Drumband, 17 Agustus 1965

SPG tak punya drumband. Never mind, kita harus tampil di depan publik. Gamelan didandani dan diarak keluar. Tiap onderdil diusung empat orang, berpakaian buatan sendiri saja tetapi ditata bercorak Melayu, lengkap dengan peci pinjaman. Penabuhnya serupa. Di depan dan di belakang terang-terangan dikawal regu ISKI. Bendera ISKI berwarna merah, bendera RPK berwarna hijau dengan emblem Kristus dan bendera sekolah, masing-masing dibarengi bendera nasional.

Regu Pemuda Rakyat dengan drumband pinjaman Semarang (supaya menang lomba) berwajah merah padam, ketika gamelan masuk ke alun-alun dengan alon-alon (pelan) dan luwes sesuai irama lagu gamelan. Berlawanan benar dengan sikap tampilan Pemuda Rakyat, yang matanya jelalatan (mencari-cari); mungkin pula sebab ada seorang peserta berjubah putih. Pasti mereka menilai rombongan kami berprovokasi. Orisinalitas memang monopoli Palu Arit.

Pawai keliling kota melalui jalan Pemuda dan bypass-nya. Orang-orang keluar rumah, ingin tahu manten apa di hari Kemerdekaan. Bagi ISKI klimaks pawainya di depan panggung yang diisi Bupati, stafnya dan alat negara serta panitia lomba. Regu ISKI distop. Bupati yang angkat bicara: “Kami tidak mengerti bagaimana regu ini masuk pawai lomba drumband. Namun demikian grup ini paling sesuai dengan ekonomi rakyat (miskin), paling sesuai dengan kebudayaan asli dan paling disiplin menurut penilaian kami. Tetapi maaf adik-adik, gamelan bukan drumband, maka tidak berhadiah.” Toh banggalah para siswa!

B.  RPK: Resimen Pengawal Kristus xx

Lahirnya sebagai regu inti ISKI di masa pra-Gestapu dari semangat juang untuk mempertahankan eksistensi Gereja dan Pancasila. Kata juang mudah dan sering dipakai, tetapi mereka itu bukan angan-angan hati dalam pahlawan khayalan saja, melainkan benar-benar berkonsekuensi riel, termasuk risiko. Sesudah gestapu ditumpas, sifat RPK bergeser ke bidang penggemblengan diri sambil menghadapi usaha-usaha P3A, yang taktiknya sama dengan PKI. Sejak itu RPK menjadi sarana pendidikan bagi semua siswa klas XII.

1.  TUJUAN: Menjadi Kader Gereja, yang dapat diandalkan kelak bukan sebagai pemasang lilin, Api Kristus.

2.  ORGANISASI DAN KERJA RPK

Badan pengurus, 10 orang yang sama dengan pengurus dalam rangka ISKI dan Self goverment. Sepuluh orang itu mengetuai 10 kelompok diskusi @ 6-7 anggota (di luar diskusi umum).

a.  Bahan diskusi: buku-buku brosur LKK seperti, “Metode Tiga Tahap”, “Iritegritas”, “Suara-hati, Daya Gerak Pemimpin Sejati”, “Sel, Kekuatan Organisasi”. Tiap Minggu sebagian isi buku dibicarakan antara bruder dengan 10 pengurus itu, agar: mereka mendapat pandangan lebih luas. Dengan demikian: 10 ketua kelompok benar-benar dapat berfungsi sebagai pengatur bicara dan perumus keputusan.

b.  Waktu dan tempat diskusi: Terserah, asal bukan waktu acara rutin yang resmi.

c.  Tiap diskusi harus menelurkan dua tugas.

1).  Pertama: tugas mingguan kelompok yang nampak lahiriah bagi tiap orang.

2).  Kedua: tugas pribadi, semua kebutuhan pribadi peserta sendiri. Tugas itu rahasia. sifatnya, hanya diketahui kelompoknya. Misal: sopan terhadap guru dan kawan, peningkatan tugas stasi, perbaikan study, mengefisienkan penggunaan waktu, mengatur nafsu makan (jajan dan di asrama), peningkatan doa, sportivitas dalam sport.

d.  Rapat tertutup RPK: 10 ketua dengan bruder. Isi rapat:

1).  Menilai keputusan-keputusan mengenai tugas-tugas pribadi. Ini diketahui oleh semua anggota RPK; 10 ketua termasuk dinilai pula.

2).  Mengevaluasi hasil tugas mingguan lahiriah yang sudah lalu; mengevaluasi keputusan mengenai tugas lahiriah minggu berikutnya. Tetapi keputusan tugas lahiriah tidak diubah oleh 10 ketua rapat tertutup itu.

e.  Rapat pleno RPK: keesokan harinya, ketuanya dari penulis-penulis bergilir. Isi Rapat:

1).  Laporan hasil tugas lahiriah dan rencana tugas yang akan datang oleh ketua masing-masing kelompok. Sifat terbuka rapat ini menjamin sosial kontrol dan kejujuran dan mencegah overlapping (tumpang tindhih) Tugas-tugas pribadi kedua tidak masuk acara rapat pleno.

2).  Selesai laporan 10 kelompok, evaluasi oleh ketua kelompok. Yang mengajukan usul perubahan rencana minggu berikutnya, dengan disetujui kelompok bersangkutan (belajar kompromi tanpa mengorbankan prinsip). Melatih kemampuan memberi dan menerima kritik. Hasil evaluasi mengenai laporan tugas minggu yang lalu ikut diperhitungkan dalam pengesahan rencana tugas minggu berikutnya.

3).  Tinjauan Injil: bruder yang jadi ketua, setengah jam teakhir dari rapat 1 jam ini. Bahan tinjauan: Agar dapat konkret, hanyalah salah satu segi pribadi Yesus, seperti nanpak dalam Injil. Sekaligus siswa belajar menggunakan buku Injil. Segi-segi pribadi Yesus yang disoroti, misal: kebebasan-Nya, kejujuran-Nya, kesederhaaaan-Nya, pilihan-Nya untuk orang-orang lemah.

4).  Hasil pandangan diterapkan dalam hidup konkret para siswa yang sehari-hari. Tiap peserta dengan bebas boleh menyumbang. Terutama peristiwa-peristiwa mengenai relasi dengan kawan-kawan dan dengan guru-guru (termasuk yang di SD-SD latihan). Diarahkan kepada pengisian wujud nyata pada slogan sebuah pameran mengenai “Gereja di Dunia ini”: AKU KATOLIK = AKU RASUL.

Keterbukaan terhadap sesama dan bagi sesama dalam relasi sehari-hari yang dilatih sepanjang tahun terakhir di SPG memengaruhi perkerabangan pribadi ke kedewasaan yang seimbang dan konsisten serta konsekuen.

Pernah seorang dari pengurus RPK bertanya kepada saya apakah saya mengharapkan bahwa semua anggota RPK menjadi biarawan atau imam? Jawab saya: “Yesus Kristus” bukan monopoli biarawan.

Yesus saudara semua orang, sehingga kita juga saudara. Nah, dia sendiri masuk seminari. Pada waktu sudah di seminari ia bertanya kepada saya, apa sebaiknya masuk SY atau Projo. Tanpa ragu saya memberikan nasihat untuk jadi projo. Alasan-alasan saya dia terima pula. Ketika masih di Van Lith ia sudah nampak dewasa. Maka motivasi yang saya pakai untuk menyarankannya ke Projo, dapat dinilainya. Dan kini ia sudah beberapa tahun ditahbiskan. Tetapi pertanyaannya yang pertama menjadi tanda bagi saya, untuk berhati-hati dalam binaan tumbuhnya panggilan, agar jangan terjadi semacam paksaan morel. Bukan saya yang memanggil. Apalagi membatasinya sampai FIC saja.

KESIMPULAN saya: Mungkin dalam usaha penampilan Pribadi Yesus dalam rapat pleno RPK dan penekanan membaca Injil setiap hari, saya teralu ekstrem “mempromosikan Yesus. Sampai sekarang saya berpendapat, boleh saja, asal omongan dan sikap hidup saling mendukung. (Catatan: Yang terakhir ini saya tambahkan untuk melayani permintaan seorang Bruder, agar dalam karangan-karangan FIC-FIC-FIC saya memberikan contoh dari usaha saya sendiri “mencari” calon FIC. Memang maksud saya demikian sebagai kesimpulan khusus, bila seri tentang panggilan dan pengalaman di SPG Van Lith selesai).

Kali berikut “Diskusi” sebagai “dapur” organis bagi segala apa yang hidup dalam TCK. (Komunikasi, No. 8-9, XVI, Agustus-September 1984, 4-10, Br. Aristides)

C.  DISKUSI – Dapur Segala Kegiatan TCK

Yang di bawah ini adalah rangkaian pengalaman siswa SPG Van Lith. Ditulis bagi bruder-bruder yang juga berkecimpung dalam diskusi pelajar SLA/SLP klas ke-3. Hubungan Diskusi dengan Panggilan terletak dalam penyadaran sebagai hasil diskusi.

Silahkan pembaca mencari hubungan itu.

Rahasia sukses diskusi sehingga tidak pernah menjemukan yakni pelaksanaan keputusannya. Bila diskusi tidak berfollow up dalam pelaksanaan konkret, maka diskusi menjadi steril dan permainan kata-kata saja.

Kami mulai dengan cara diskusi yang dipakai di pakai Van Lith, diselingi dengan sejumlah peristiwa, diantaranya pelaksanaan keputusannya. Penutupannya semacam konklusi yang menunjuk manfaat bagi pendidikan.

1.  Pelaksanaan Diskusi Umum Mingguan

a.  Sifatnya wajib untuk tiap siswa klas III

Waktu diskusi umum: Malam Minggu, dua jam. Mengapa waktu itu? Toh suasana bebas? Pada hari Minggu tak ada pelajaran, maka perhatian dapat terpusat pada bahan diskusi. Untuk menjamin sifat wajib mutlak, maka izin pulang sebulan sekali, ditetapkan pada hari Sabtu dan Minggu [berikutnya] yang tertentu untuk semua siswa, dan klas I s.d. XII. Soal kebiasaan dan peraturan ketat. (Jika para siswa sebulan sekali dibolehkan pada waktu pilihan mereka sendiri, maka tidak pernah ada kesempatan untuk berkumpul semua. Asrama direndahkan menjadi losmen murah untuk dapat bersekolah. Asrama demikian tak mungkin bersifat Training Centre. Disiplin asrama hilang, kekompakan hilang dan self goverment kabur.

b.  Bahan Diskusi:

(1)  Persoalan kemasyarakatan di segala bidangnya

(2)  Persoalan intern seperti: Peningkatan kelancaran dan mutu Self Government (SG), antara lain wewenang Pengurus Umum Self Government (PUSG) dan ketua-ketua seksi. (Katakan Job-diskripsi petugas-petugas SG)

(3)  Karya Stasi

(4)  Kepemimpinan (Pendewasaan)

(5)  Perbaikan Study

(6)  Penggunaan waktu bebas

(7)  Dan lain-lain sesuai kebutuhan

c.  Kelompok Inti. Diskusi dipimpin secara bergilir oleh yang disebut “Klub Inti” (KI) steering komite 5 orang (sebuah kelompok kecil). Pembagian tugas anggota-anggota klub inti:

(1)  Ketua & dua pembantu: pengatur bicara.

(2)  Penulis pada papan waktu diskusi antar kelompok.

(3)  Penulis pada buku rapat pleno: Apa yang ditulis pada papan juga ditulis di buku.

Tugas-tugas di dalam klub inti tiap minggu bergilir pula. Sesudah tiga minggu klub inti diganti dengan kelompok kecil berikut. Dengan demikian tiap siswa pernah tampil ke depan kawan-kawannya.

Persiapan klub inti: Dua jam sebelum diskusi “mulai para anggota berkumpul dengan bruder yang memberikan “pengetahuan lebih” tentang bahan yang akan didiskusikan, agar mereka punya latar belakang sebagai pangkalan untuk tahu mengarahkan diskusi ke tujuan yang mau dicapai. Dalam diskusi, bruder hanya campur tangan melengkapi pengarahan klub inti, bila macet total. Itupun jarang terjadi. Bila ketua menemui jalan buntu, maka salah seorang pembantu mengambil pimpinan. Lebih baik laju diskusi lamban dengan tenaga mereka sendiri, daripada cepat dengan campur tangan dari luar. Sifat tanggung jawab dan merdeka hilang. Pernah saya anggap terjadi kemacetan dan mau tampil, tetapi ketua minta agar kami tidak mencampuri. Langsung saya mundur kembali sebagai peninjau. Dalam hati saya bangga atas keberanian ketua untuk mengambil risiko malu besar di hadapan kawan-kawan.

Diskusi sesungguhnya yakni diskusi kelompok-kelompok kecil, masing-masing 5 orang, ± 10 menit, tergantung bahan; kemudian diskusi pleno antar ± 15 kelompok.???

d.  Diskusi pleno terdiri atas:

(1)  Penampungan pendapat 15 butir dari 15 kelompok. Tugas ketua: menilai pendapat agar tidak menyeleweng dari bahan diskusi. Bila ragu-ragu, pendapat ditampung pada papan tulis dulu. Tugas penulis: mengambil inti pendapat agar rumusan pendek. Tidak mudah, dan kelompok bersangkutan harus waspada apakah yang ditulis benar. Bila semua pendapat sudah nampak pada papan maka ketua mulai kerja lagi dalam:

(2)  Penyatuan pendapat-pendapat: Pendapat-pendapat yang sama isinya, meski rumusan berbeda, dijadikan satu rumusan dengan persetujuan semua kelompok. Itulah soal bahasa. Janganlah kata-kata menjadi bahan diskusi. Macam itu mudah terjadi pada siswa SPG. Kelompok yang pendapatnya sedang digarap di bawah binaan klub inti, pasti mau mempertahankan pendapatnya sendiri. Jika pengubahan rumusan yang diusulkan oleh klub inti untuk mencapai penyatuan tidak disetujui kelompok bersangkutan, maka klub inti minta bantuan kelompok yang bersedia membantu. Tiap usul perubahan harus beralasan. Tidak boleh terjadi diskusi antara kelompok kecil dengan klub inti, hanya antar kelompok-kelompok kecil, yang diatur oleh ketua. Tak boleh ada rebutan bicara. Dan klub inti tidak boleh memihak.

Ketua pleno harus selalu berjaga agar diskusi antar kelompok jangan bertele-tele dan menyeleweng dari bahan. Ketua harus siaga terus-menerus. Sering terjadi bahwa sebuah kelompok yang punya pendapat harus berkompromi tetapi hanya boleh mengenai rumusan dulu, belum sampai isi pendapat. Kompromi berbentuk: menerima tambahan, pengurangan, atau perubahan rumusan. Selalu harus ada alasan. Janganlah mau silat kata-kata, debat atau polemik. Emosi perlu dijaga. Di sini nampak betapa sulit, tetapi penting kemampuan mendengarkan pendapat orang lain. Baru sesudah rumusan-rumusan selesai mulai penyatuan isi pendapat. Penyatuan isi tidak mutlak perlu untuk dapat mengatakan bahwa diskusi berhasil.

Di bawah ini ada contohnya, bersabar sebentar. Penyatuan pendapat tugas berat bagi klub inti.

Tugas ketua yang utama yakni mencapai tujuan diskusi yang berupa keputusan. Maka kerjanya mengarahkan pembicaraan tentang penyatuan isi ke keputusan akhir yang dapat dilaksanakan. Tanpa pelaksanaan, diskusi mati; diskusi tanpa konsekwensi pelaksanaan, menjemukan dan steril.

Cara pelaksanaan keputusan – siapa pelaksana, kapan, di mana dan sebagainya biasanya diserahkan kepada Seksi dalam SG yang bersangkutan. Seksi-seksi yang menyusun rencana kerja, dan disahkan oleh ketua umum SG dengan dua pembantunya plus petugas koordinasi. (No. 10 dari anggota “pengurus umum”) (Komunikasi, No. 1, XVII, Januari 1985, 20-24, Br. Aristides) Bersambung…

 

Beberapa Contoh Konkret Diskusi

Sederet diskusi peningkatan kerja stasi. Yang jadi ketua khusus, bukan klub inti, melainkan petugas-petugas seksi stasi, sebab mereka paling tahu penyebab kemerosotan kerja stasi-stasi. Karena penyebab kemerosotan tentu orang-orang, maka ketua seksi yang sekaligus ketua personalia kerja stasi dijadikan ketua diskusi. Ia dapat menyebut nama penyeleweng (bila perlu), karena ia juga mengontrol ke ketua-ketua stasi yang sekitar 30 jumlannya.

 

a.  Penjualan brosur LKK 4000 biji di masa pra-Gestapu. Ketika pembicaraan sampai penentuan tempat penjualan dalam tahap rencana kerja untuk dilaksanakan maka penyatuan pendapat untuk memperoleh suatu keputusan macet. Ada 4 usul mengenai tempat: Di depan Gereja, di depan Bioskop, di Stanplat bus (depan pasar) dan di Pameran “Gereja Di Dunia Ini” yang keesokan harinya akan dibuka untuk 7 hari di aula. Mengenai waktu depan bioskop tidak dibolehkan waktu film malam. Terlalu rawan pada masa menjelang Gestapu. Usul dari sebuah kelompok kecil mendobrak kemacetan: “Yang berani menjual brosur di stanplat bus supaya tunjuk jari, langsung didaftarkan.” didaftar. “Yang berani di depan bioskop, ayo tunjuk jari,” juga dicatat. “Di pameran di aula, bukan sejam tetapi lebih lama.” Jumlahnya terpaksa dikurangi agar cukup untuk depan Gereja pada hari Minggu.

b.  Seksi sport menilai kekuatan fisik siswa-siswa yang mendaftarkan untuk dua tempat yang rawan. Seksi itu juga membentuk kelompak-kelompok, masing-masing 3 orang, dan harus sudah lulus kursus bela diri.

c.  Kontrol penjualan (uang masuk dan jumlah brosur yang sisa) diserahkan kepada seksi sport pula.

d.  Sederet diskusi hal PENINGKATAN EKONOMI DESA, AGAR TIDAK DIPERAS PEDAGANG KOTA. Masa itu koperasi anjuran Bung Hatta.??? dalam situasi diskredit UB, KUD belum ada pada waktu itu (sekitar th.1967). Pengumpulan keputusan kelompok-kelompok kecil di pleno hanya menghasilkan dua kelompok yang menyebut KOPERASI sebagai pendapat. Sesudah sedikit manipulasi semua kelompok setuju dengan wujud koperasi. Diskusi terakhir: Pelaksanaan koperasi di asrama. Sebelumnya ditentukan: haruslah koperasi produktif. Jenisnya: hewan kecil seperti kambing, mentok, bebek.

Pilih salah satu, dan tentukan cara memperoleh duitnya dan seterusnya untuk dapat mulai, dan cara pelaksanaannya. Jumlah kelompok kecil 17. Sebetulnya 18, tapi yang ke 18 sudah menjadi klub inti. Ketua diskusi orang keras dan pandai, ia mengharapkan pilihan jatuh pada mentok. Untungnya: mentok mau mengeram telurnya. Ruginya: jumlah telur kalah dengan bebek. Hasil pungutan pendapat: 8 kelompok pilih mentok, 9 kelompok bebek. Ketua mencoba untuk menarik 1 kelompok yang pilih bebek agar pilihannya diubah menjadi mentok. Motivasinya didasari alasan-alasan yang meyakinkan dan bicaranya berapi-api.Tapi hasilnya nol. Tak ada perubahan. Lalu ia mencoba menggarap sebuah kelompok yang dianggapnya lemah. Kata terakhir dari usaha yang memanaskan suasana: “Mengapa saudara-saudara tetap ngotot saja?” Ada kelompok yang tunjuk jari sambil berdiri. Harapan ketua naik lagi. “Saudara ketua, yang ngotot di sini siapa, kelompok atau ketua? Apa lagi ketua tidak boleh meminak.” Sebentar ribut benar. Ada kelompok lagi yang juru bicaranya berdiri dan minta bicara. Ketua: “Silahkan.” “Kelompok kami ikut mendukung bebek. Harap dicatat dalam papan. Terima kasih.” Duduk, sembrono benar… Ketua: “Goblog semua!”cetusan emosinya. Sidang menang. Ketua yang mau memperkosa diskusi kalah. Demokrasi pelaksanaan ditentukan oleh seksi ternak, yang sudah mengurusi kandang ayam ras, binaan Br. Albertus serta kelinci.

2.  Bahan Diskusi Dari Mana?

Tergantung situasi luar (ingat penjualan brosur LKK). Juga situasi dalam ikut menentukan (ingat diskusi stasi). Tapi juga kepentingan pengembangan pribadi mereka sesudah lulus, sehubungan tugas tengah masyarakat. Seorang guru yang hanya tahu rumahnya, sekolahnya dan trayek antar dua titik itu tidak akan berkembang, jadi tidak akan bahagia, kecuali bila guru itu malas atau penakut. Dalam bidang itu blasanya bruder menentukan bahan.

Sebuah contoh konkret: Sederet diskusi mengenal “Pemimpin itu orang apa?”

Pada diskusi kedua dari seri itu juru bicara sebuah kelompok kecil bertanya: “Apa saudara ketua mengira bahwa kita semua harus menjadi pemimpin (non-formal)?” (Pertanyaan itu menunjukkan bahwa penanya merasa terancan, tetapi sekaligus menunjukkan bahwa penanya orang jujur). Bagi saya petunjuk bahwa peserta benar-benar terlibat. Ketua belum sempat menjawab, seorang pesarta secara pribadi langsung berdiri dan dengan kontan tanpa izin membuka mulut: “Untuk apa saudara mengira datang di Van Lith lain daripada untuk jadi pemimpin?” Jawaban tidak ditunggu. Itu reflektif. Dalam waktu itu soal kepemimpinan memang hangat.

Diskusi berikut, dalam mana rumusan terakhir ditentukan kebetulan Bpk. Mikael Slamet dengan dua kawan dari kantor PSE Mawi (KWI) hadir. Ia ingin tatiu potensi kaum muda. Ketika rumusan akhir sudah ditulis di papan, ia minta izin untuk memberikan kata-kata penutup. “Silakan Pak Slamet”

Perkenalan singkat, lalu Pak Michael Slamet berkata: Apa yang telah dirumuskan oleh para Adik tentang wujud pribadi pemimpin non-formal adalah persis sama dengan apa yang telah ditulis oleh Paus Yohanes XXIII mengenai guru Katolik di masyarakat. Silakan adik-adik nanti mencarinya di Ensiklik Mater et Magistra. Saya angkat topi, bila saudara-saudara nanti melaksanakannya.” Dan memang bahan diskusi berikut bertema: Apa dapat kita berbuat di asrama untuk menjadi pemimpin macam itu.

Bagi para bruder pembaca yang sampai bertahan membaca yang di atas ini, saya ajak untuk meneruskan ketahanan itu beberapa menit lagi, dengan membaca yang berikut ini pula. Yang di atas saya tulis punya alasan menyampaikan penutup, yakni: Diskusi sebagai senjata ampuh menggembleng diri menjadi pribadi yang berarti.

3.  WUJUD DISKUSI

a.  Diskusi adalah kerja berpikir selektip yang disusul ungkapan pikiran dan hati dalam bahasa wajar dan jelas secara progresif ke arah tujuan.

b.  Diskusi lebih-lebih adalah kerja mendengarkan, sehingga terjadi relasi antara peserta diskusi. (Hanyalah dalam relasi dengan orang lain manusia dapat berkembang)

c.  Karena diskusi juga ungkapan isi hati dan keyakinan maka pastilah emosi ikut bicara, lebih-lebih bila peseta sungguh melibatkan diri.

1)  Tanpa emosi diskusi mati, kering.

2)  Dengan emosi yang kita kuasai demi penghargaan keyakinan orang lain, diskusi akan hidup dalam memajukan perkembangan pandangan ke keyakinan.

3)  Dengan emosi yang tidak dibatasi (diolah) diskusi berubah menjadi debat atau polemik antara dua keyakinan yang masing-masing mau menang.

d.  Diskusi adalah gotong royong berpikir dengan sumbangan tiap peserta dalam alam keterbukaan saling menerima dan memberi, agar relasi tidak putus.

4.  UNSUR-UNSUR KEPEMIMPINAN DISKUSI YANG DILATIH DALAM DISKUSI

a.  Keterbukaan = kesadaran = tahu tempat dalam relasi dengan orang lain dan situasi.

b.  Melihat suatu persoalan dalam relasi,dilatarbelakangi harapan penyelesaian problem = melihat ke depan (tujuan, visi).

c.  Menilai prob1em sambil mencari sebab-sebabnya.

d.  Mendengarkan pendapat kawan dengan hati terbuka, menilainya dengan jujur serta menghargai pendapat orang lain guna saling pengertian sehingga pemecahan problem bersama menghasilkan pendapat yang lebih save.

e.  Mempertimbangkan bersama-sama pendapat yang sudah disepakati guna mengetahui untung dan ruginya. Dengan sendirinya muncullah konse kuensi bersama, risiko jika pendapat tadi diwujudkan dalam tindakan. Pilihan antara beberapa alternatif menjadi lebih riel, dalam hal menelurkan tindakan bersama, bahwa tindakan dapat berhasil.

f.  Pengambilan keputusan tertentu berkonsekuensi menyusun rencana kerja bersama. Dengan jalan ini,

g.  Pelaksanaan keputusan bersama pasti akan dijalankan oleh para pengambil keputusan dengan cara yang meyakinkan, asal rencana kerja diikuti konsekuen dan konsisten. Pasti sampai tujuan.

Coba bayangkan bila daskusi seperti itu dilaksanakan setahun penuh yakni dari saat pergantian Pengurus Umum dari klas 3 ke klas 2, satu setengah bulan sebelum ujian.

Sekitar 40 kali, setlap minggu sekali. Itulah meninggalkan bekas. Jemukah para siswa? Jemukah kita sendiri? Tidak. Saya sudah membina diskusi itu mulai tahun 1962 sampai 1976. Belum pernah saya jenuh, biarpun tiap tahun sejumlah bahan diskusi kembali untuk didiskusikan lagi. Malah menarik. Dan saya belajar dari mereka, bukan saja mengenai cara mengatur diskusi, tetapi juga dari apa yang mereka masukkan dari pengalaman mereka sebagai anak desa. Dalam diskusi demikian mereka menjadi terbuka. sampai siswa yang paling tertutup pribadinya sekalipun. (Komunikasi, No. 2, XVII, Pebruari 1985, 12-17, Br. Aristides)

 

 

ASRAMA SPG: TRAINING CENTRE KERASULAN (TCK) XX

Isi tulisan ini: Self Goverment (SG)

1. Organisasi Self Goverment

2a. Latihan sebagai guru agama di SD

2b. Seksi Stasi sebagai contoh dari seksi-seksi dalam Self Goverment

3. Latihan kemasyarakatan selama 3 tahun dalam bentuk tugas-tugas liburan

4. Konklusi (2b dan 3 di luar Self Goverment)

1.  ORGANISASI SELF GOVERMENT (SG)

SG terdiri dari 10 anggota pengurus umum. Pemimpin Umum (PU) menunjuk ketua-ketua seksi serta sekretaris dan bendahara (bila perlu). Misal:

Seksi sport terdiri atas sub-seksi: sepak bola, volley, ping-pong, badminton, renang.

Seksi stasi: ketua, sekaligus sub-seksi: personalia katekis/jadwal kunjungan stasi, sub-seksi sepeda, sub-seksi: gambar, buku, mantol hujan.

Seksi ketertiban umum dengan sub-seksi: kamar makan, kamar tidur, kamar dandan, kamar mandi, WC, kebersihan.

Seksi-seksi lain: kesehatan, pertanian, perayaman, air (bak mandi, kolam renang), keamanan intern & ektern, perpustakaan/bacaan-bacaan/majalah, kesenian Jawa: ketoprak, jathilan (kuda lumping), panggung; hubungan ke luar, koordinasi, kesopanan, liturgi, koperasi, majalah dinding, kritik.

a.  Penjiwa SG adalah Resimen Pengawal Kristus (RPK)

Sepuluh pengurus RPK, orangnya sama dengan pengurus umum. Hanya di RPK Bruder asrama membina langsung mengetuai rapat-rapat.

b.  Pemilinan Umum

Sepuluh (10) anggota PU/RPK baru dipilih langsung 20 calon. Dua puluh calon ditentukan oleh pengurus SG yang sebulan lagi berhenti sebagai PU. Dua puluh (20) calon itu disahkan oleh Dewan guru (boleh diubah oleh guru). Guru wali kelas mengatur pilihan ketua kelas yang bukan anggota PU.

c.  Mengapa SG?

SG dimaksudkan sebagai alat melatih keberanian para siswa untuk bertanggung jawab dan untuk membuka mata mereka terhadap kepentingan kawan. Kawan tidak boleh merasa diurus apalagi dimanipulasi. Maka dalam penentuan calon pengurus perlu diperhatikan sifat keterbukaan terhadap kawan dan relasi calon dengan kawan dan dengan pendidik/guru. Sebab pengurus harus mau terbuka bagi kritik dari kawan. Tanpa keterbukaan, SG menjadi diktatur dan orang-orangnya tidak melatih diri menjadi pemimpin. Jumlah seksi dan sub-seksi cukup banyak agar tiap siswa satu angkatan (± 80) sempat menjadi penanggung jawab dan sempat belajar kerja sama.

d.  Fungsi PU

PU terutama mengkoordinasi usaha seksi-seksi guna mencegah overlapping dan tubrukan waktu dengan saksi-seksi lain dan juga mencegah overacting salah seorang ketua seksi, serta sewaktu-waktu (1 bulan) mengevasi jalannya SG. Sengaja tidak dicampuri oleh pemimpin asrama. Rapat Pemmpin Umum selalu tertutup, juga bagi bruder. Binaan Bruder terhadap terhadap orang-orang Pemmpin Umum dilakukan dalam RPK yang pengurusnya sama dengan PU. Kontrol Bruder dilakukan dengan adanya buku notulen rapat bulanan PU. Seksi-seksi dapat berapat sendiri, ya atau tidak dibantu orang dari PU, terserah ketua seksi.

e.  Suatu Contoh Konkret

i.  Perpisahan

Untuk menolong bayangan pembaca tulisan di atas, peristiwanya: Perpisahan menjelang pengumuman ujian akhir klas III. Perpisahan itu ditangani Pemimpin Umum yang masih kelas II yang baru 4 bulan berpengalaman. Dua bulan sebelumnya mereka sudah mulai mempersiapkan macam-macam atraksi. Menurut rabaan saya rencana acara-acara tidak berbobot dan mirip pesta perpisahan SD. Tanpa tema dan kesatuan. Untuk mencegah malu besar maka saya panggil ketua umum.

Ketua umum menanggapi: “Kami mohon, Bruder tidak mencampuri urusan kami. Toh Self Goverment?”

Saya: “Silankan, benar pula pendapat saudara Mitro.”

Pestanya memalukan, bukan jenis acara saja, tapi juga kelancaran urutan acara. Penerangan panggung tidak beres. Sambutan-sambutan berlebihan. Tak ada apa saja yang dapat jadi kenangan baik bagi mereka yang hampir-hampir menyebar ke tempat-tempat tugas. Menjemukan dan tanpa koordinasi, suasana riuh, kampungan. Selesai pesta, Br. Overste marah dan ada alasannya. Citra SPG terhadap undangan dari luar rusak.

Sesudah libur, saya (+) panggila ketua umum (-):

+ “Apa perpisahan berhasil?”

- “Tidak bruder, gagal.”

+ “Apa ini dapat dianggap lewat begitu saja?”

- “Tidak Bruder”

+ “Lalu mau diapakan?”

- “Saya akan membicarakan dengan kawan-kawan.”

+ “Siapa-siapa?”

- Sepuluh pengurus umum.”

+ Andaikata ketua-ketua seksi yang bersangkutan juga ikut?”

- “Yang mana?”

+”Cari sendiri yang bersangkutan dengan pesta seperti itu. Seksi sport dan kesehatan toh tidak?”

-”Ya, Bruder.”

+ “Carilah penyebab pokok kegagalan!” …

Hasil rapat dilaporkan:

- “Segala sesuatu saya urus sendiri, tanpa minta pendapat kawan dan ketua-ketua seksi.”…

+ “Jadi salahnya satu orang, Mitro sendiri?”

- “Ya bruder. Kami semua minta izin melaksanakan malam kesenian. Apa boleh?”

+ “Boleh!”

- “Kapan bruder?”

+ “Yang ketua bukan saya, tetapi Mitro. bila segala persiapan dianggap selesai, beritahukan untuk dapat menentukan tanggal yang cocok. Tetapi bukan malam diskusi dan tanpa undangan dari, luar dulu.

Malam kesenian jadi sukses! Katua: “Bruder, terima kasih, bahwa dulu Bruder tidak mencampuri urusan saya. Dari kegagalan ini kami sudah belajar sedikit.”

Selanjutnya ketua ini, yang hanya pandai bicara dan menanipulasikan diri, mengajak kawan PU yang lebih intelek untuk bicara juga. Tindak jalannya PU, menjadi tanda bahwa serah terima antara PU  lama dan yang baru tidak beres. Serah terima sangat penting! Syukurlah ada lampu merah kegagalan itu. PU bukan alat untuk menjaga citra ke luar saja, tetapi sarana menggembleng diri menjadi dewasa.

MEMIMPIN adalah memberikan kesempatan pada orang-orang untuk menemukan kemampuan dan kelemahan diri, serta kesempatan menempa diri dalam tugas bersama orang lain biarpun ada risiko. Dengan kata lain memberikan kepercayaan. Tidak ada penggantian Pemimpin Umum. Ketua tetap ketua. Eisenhower, panglima tertinggi kaum sekutu di Perang Dunia Kedua: “Memimpin adalah Seni Menemukan Jalan ke Hari Orang Lain!”

Itulah sekaligus jadi persiapan untuk stasi dalam rangka SG.

(Komunikasi, No. 3, XVII, Maret 1985, 21-24, Br. Aristides) Bersambung…

2.  LATIHAN

a.  Binaan Teknis Siswa Kelas III Sebagai Agama SD

Latihan sudah mulai di kelas II, yakni pada kuartal ke-3. Jalan mengajar agama di SD menurut “metode AKKI” (IPAKK) Yogya yang dimulai pada masa Romo Heselaars.

Sederhana, tetapi cocok dengan perkembangan jiwa anak SD. Metode ini dicabut, ketika AKKI makin mendaki menara gading ilmunya. Di SPG metode tadi dipertahankan, sampai ada peraturan dari atas.

PELAKSANAAN:

Tiap siswa kelas II tiap minggu diberi suatu kutipan/adegan dari Injil, yang harus dijadikan pelajaran. Tiap siswa punya buku Perjajian Baru. Kutipan dari Injil ditentukan secara selektif dan sesuai dengan jalannya “Tahun Gereja”. Hanya untuk kelas I dan II SD buku karanga Br. Vitus yang dipakai (Allah Bapa Kita). Mengapa demikian? Bila alumni berkarya di luar Jawa dan di SD pelosok di Jawa kadang-kadang buku-buku itu tidak ada, kurang lengkap. Bila mereka selagi di SPG hanya memakai buku yang memuat teks pelajaran jadi selengkapnya, mereka tak mampu mengajar tanpa buku itu. Akan macet, mereka tidak berani.

JALAN PELAJARAN – Pak Sudiyantoro – Guru Van Lith masih Ingat. Saya ingat beberapa pokok langkah (demi mudahnya di kenal sebagai metode 9 langkah):

{Pendahuluan}

Langkah 1 Kontrol: Biasanya guru mengontrol pelajaran yang lalu dengan beberapa pertanyaan dijawab murid-murid.

Langkah 2 Doa pembukaan: Doa yang susuai, dapat susunan guru/calon, menciptakan suasana kontak dengan Tuhan dalam seluruh pelajaran (suasana sakral).

{Pewartaan}

Langkah 3 Percakapan kelas tentang pengalaman yang dikenal murid untuk masuk ke arah/searah pokok bahasan.

Langkah 4 Cerita Pokok: Adegan Injil harus dibawakan sehidup-hidupnya dengan pakai gambar dinding dan teks papan yang menunjukkan tema pelajaran dengan huruf hias.

Langkah 5 Uraian: Pembahasan isi dan pesan dari cerita pokok.

{Balasan}

Langkah 6 Doa Inti: Anak-anak berdoa sendiri, penyerahan batin/diri kepada panggilan Tuhan sebagaimana terkandung dalam isi/pesan pewartaan, tanpa suara setengah menit.

Langkah 7 Aktivitas Murid: permulaan menjelmakan sikap iman-batin (misal: lagu yang cocok, yang sudah siap ditulis pada papan atau dramatisasi, atau aktivitas lain) yang ditindaklanjuti dalam praktik hidup keseharian … ketika dirasa perlu, sebelum aktivitas murid guru dapat menyemangatinya dengan cerita dengan bahan dari hidup dan lingkungan murid, selaras tema pewartaan.

Langkah 8 Pengetahuan:

o  Hafalan berdasarkan pewartaan (tanya jawab guru-murid)

o  Pikiran mengarah ke sikap/praktik hidup (tanya jawab guru-murid)

{Penutup}

Langkah 9 Doa Penutup, sesuai tujuan

xxWaktu persiapan selama satu minggu, mulai dengan 15 menit dengan guru pembimbing praktik pelajaran agama. Seluruh teks pelajaran ditulis dalam buku khusus. Dikritik oleh guru praktik agama. Dapat saja harus ditulis lagi (revisi). Tulisan harus rapi. Tiap siswa sepanjang setahun memberikan ± 25 pelajaran. Pasti meninggalkan bekas dan bekal.

Pernah Suster kelas VI SD bertanya apa ia boleh memberikan nilai 10.

+ Boleh saja. Di mana buku penilaian, Suster?

- Tidak diisi!

+ Lho mengapa tidak diisi?

- Lupa, pelajaran guru sangat menarik sehingga lupa mencatat.

Sang guru itu kini Br. Martinus Dariya. Saya sendiri menyaksikannya sambil lalu beberapa kali ketika ia mengajar. Semua mata, termasuk Suster terpikat. Tema ‘iri hati’. Cerita dari lingkungan anak (putri). Si A iri terhadap si B. Si B di gereja pernah berdoa. Si A duduk di depannya di gereja. Doanya kepada Yesus, minta akal untuk dapat memaafkan Si A. Dan berhasil, iri hilang. Pada waktu doa inti, saya kebetulan menyaksikan benar-benar berdoa. Ada beberapa anak dengan menggerakkan bibir. Dapat demikian!? Heran dan kagum saya. Sepuluh nilainya. Siapa akan memperbaikinya?

b.  Pelajaran Agama Di Stasi-Stasi (32 Buah)

Tiap dua minggu sekali sisuai katolik kelas III ditemani oleh kelas II atau seseorang magang yang ingin mengajarkan agama di stasi.

Pada awal mula (1963) (masih seorang-seorang, kemudian (1966) sekali berangkat 2 orang. Naik sepeda, membawa jas hujan, gambar dinding dalam bambu. Mereka benar-benar merasa merasul, tapi juga ada kesempatan keluar asrama, bergaul dengan orang dewasa di masyarakat dengan ketua stasi, ketua kring, pastor, murid. Enak juga sebagai variasi.

Tahun 1963 makin dekat dengan Gestapu, tantangan yang sudah ada seperti lumpur, hujan, kegelapan kemacetan lampu sepeda, ditambah lagi dengan kerawanan lingkungan Muntilan: Sawangan, Ngluwar, Jeruk Agung. Seorang diri, sepeda waktu itu masih barang langka. Siswa memakai sepedanya sendiri, sepeda kawan, sepeda Susteran, Pastoran. Sepeda bruderan tidak diizinkan; FIC harap dimaafkan. Memang fakta.

Masa menjelang Gestapu, Pemuda Rakyat melakukan uji coba di beberapa tempat tertentu terhadap katekis SPG. Jadwal mengajar, mereka tahu. Di tepi jalan yang sering setapak berjongkoklah pemuda rakyat dengan jarak 5-10 meter. Mereka menunggu kedatangan katekis. Hanya dipandang tajam dengan mata melotot tanpa menyapa, juga tidak di sapa. Seorang katekis pernah mengaku: keringat dingin keluar, tetapi emoh mengalah. Pulang sesudah pelajaran dalam kegelapan, katekis dikawal beberapa pemuda setempat sampai jalan besar.

Di masa sesudah Gestapu, taktik pemuda Ansor sama. Di tempat arah ke Ngawen pernah katekis disambut oleh anak-anak yang janji. Tiba-tiba jalan turun di situ dipenuhi oleh anak-anak. Kali lain katekis yang sama di tempat itu pula, tiba-tiba gerobag penuh bata melintang di jalan untuk mengajak menabrak.

Baik di masa sebelum Gestapu maupun di masa P3A, karya stasi tidak dikurangi, malah ditingkatkan dengan sarana 26 sepeda, jas hujan sungguh – bukan buatan sendiri lagi dengan plastik bening (tembus pandang) dan tambahan gambar dinding.

Pada tahun 1965, yang sarat dengan aktivitas keluar, sejumlah guru SPG menggerutu: “Tahun ini ujian akhir pastilah gagal besar!”. Pendapat mereka tidak dibenarkan oleh kenyataan. Tahun itu lulus l00 %, walaupun pada masa itu SPG masih ‘dijajah’ sepanuhnya oleh SPG Negeri Magelang. Malah yang terakhir SPG Van Lith mengalah (beberapa mata uji dilaksanakan di SPG Negeri Magelang). Penjabat kepala SPG Negeri pada tahun itu membuka pekerjaan ujian siswa SPG Negeri juga bagi kami. Alias jujur. Kepala sesungguhnya bukan katolik. Dia Islam, bukan akuan saja.

3.  LATIHAN KEMASYARAKATAN xxx

Latihan Kemasyarakatan terutama dilakukan dalam waktu liburan.

Tugas-tugas liburan itu dimulai pada libur kuartalan pertama di kalas I. Tugas pertama berbentuk observasi sederhana, menurut bahan yang dititipkan pada siswa setelah dijelaskan oleh Bp. Sukarna, Bp. Dharyana, sekali-sekali oleh Bp. Sunaryo dan saya sendiri. Sesudah liburan laporan dalam buku khusus harus diserahkan dalam bentuk menurut skema yang ditentukan sebelum liburan.

Tugas-tugas liburan berikut adalah kelanjutan dari tugas-tugas sebelumnya secara konsentris dan progresif.

Begitulah selama 3 tahun sampai dengan liburan terakhir sebelum ujian akhir. Tugas terakhir yakni pelaksanaan suatu gerakan (proyek) kecil yang sederhana. Di dalamnya siswa harus memraktikkan metode pendekatan orang-orang sesuai dengan isi “proyek”. Persiapan pendekatan itu sudah mereka latih sejak dalam minggu pertama tiap tahun pengajaran, dengan binaan beberapa guru, seperti sudah diuraikan dalam karangan terdahulu dari seri ini. Juga laporan itu harus disusun menurut yang ditentukan menurut skema yang ditentukan.

CONTOH PELAKSANAAN/BUAH ASRAMA SEBAGAI TCK:XX

a.  Tahun 1970-an, tiap desa menerima subsidi pembangunan dari pemerintah pusat. Penggunaan dana itu diketahui oleh Sudarwa siswa kelas III, direncanakan Lurah, untuk pemagaran yang seragam di jalan poras melalui desa, agar desanya “kelihatan” maju bagi turis domestik yang lewat. Sudarwa menghubungi beberapa tokoh desa untuk mengusulkan agar subsidi itu dipakai untuk WC di belakang rumah-rumah penduduk dekat jalan poros itu. Alasan yang dipakainya: bila para turis itu ingin ke WC, penduduk malu karena tak ada WC satupun. Pada musim kemarau, baunya di belakang rumah, ya seperti WC umum. Mereka setuju dengan taktik berikut:

Sudarwa akan minta izin ikut rapat LKMD untuk belajar hal pemerintahan desa. Ia akan minta izin bicara dengan Lurah. Pasti boleh, menurut perkiraan Darwa, orang polos dan lugu itu. Lalu ia hendak mengusulkan agar proyek pagar diganti dengan proyek WC, dengan alasan tadi. Kemudian tokoh-tokoh akan serentak mengatakan setuju… Jadinya rapat persis seperti yang disiapkan Darwa, dan goal! Pak Lurah terpaksa setuju. Malah bentuk WC deserahkan kepada Darwa, dan untuk menjelaskannya kepada hadirin. Dan WC-WC jadi dibuat. Ia sendiri juga berkeliling waktu pembuatannya.

b.  Pernah ada beberapa siswa yang mbandel, tidak menyerahkan laporan dan beberapa yang “mengarang” saja. Tetapi konsekuensinya mereka tidak menerima ijazah guru agama, yang memberi hak mengajarkan agama di SD dengan menerima honor. Terpaksa cari kerja sendiri. Dua dari mereka kemudian mengajar sebagai guru SD di Riau, tanpa rekomendasi dari Dewan Guru SPG. Datanglah surat pada saya dari pastor setempat, menanyakan, apakah mereka tak dapat menerima ijazah guru agama. Pastor menyatakan bahwa mereka bekerja dengan rajin dan memuaskan. Kenakalan masa muda tak boleh menjadi halangan untuk merasul – Panitia Keuskupan Agung Semarang membolehkannya, maka ijazah dikirimkan.

c.  Tiap tahun ada sejumlah lulusan SPG Van Lith yang tak dapat diberi introduksi oleh Kepala SPG, untuk berkarya pada suatu Yayasan, dengan alasan; pribadi belum masak. Romo Van Oay di Lampung pernah berkata kepada saya: “Nah Bruder, dengan macam itu kami (Romo) membangun gereja di Lampung.” Memang kebanyakan dari mereka tanpa introduksi merantau sendiri ke Lampung sambil mencari karja sebagai guru. Ada yang sebelum diterima sebagai guru di Yayasan mencari kerja sebagai buruh pabrik gaplek (tapioka) atau apa saja, sambil menunggu. Akhirnya mendapat tugas sebagai guru. Dan lucunya, bila berjumpa dengan saya dalam tugas keliling ke bekas kursis Bina Tani Pancasila di Lampung, mereka menyambut saya tanpa benci. Mereka di tempat konsentrasi bekas Van Lith malah membentuk suatu serikat bekas Putra Van Lith.

(Komunikasi, No. 5, XVII, Mei 1985, 20-25, Br. Aristides)

4.  KONKLUSI/RANGKUMANv

Seri yang dimuat dalam “Komunikasi” Januari sampai dengan April 1985 ditutup dengan rangkuman ini.

Pernah saya diminta menuliskan pengalaman saya dalam hal mencari panggilan untuk FIC. Lebih-lebih di asrama-asrama SPG kita sendiri, usaha mencari calon FIC secara khusus sangat pelik menurut pendapat saya. Usaha itu mudah dinilai oleh siswa sebagai egoisme kelampok FIC, sehingga dapat menjadi bumerang. Saya sendiri belum pernah berani membujuk siswa ke FIC. Paling banter sambil lalu saya mengatakan kepada seorang siswa, misalnya Sunarto namanya: “Menurut pendapat saya sifat-sifat Sdr. Narto cocok untuk menjadi bruder.” atau “Saya tidak akan heran andaikata Sdr. Narto mengatakan kepada saya bahwa Saudara ingin menjadi bruder.” Lalu tinggal menunggu reaksinya. Mengapa saya hanya berani sampai begitu saja? Keyakinan saya yakni bahwa yang memanggil adalah Yesus sendiri, walaupun kiranya Yesus menggunakan seorang dua orang bruder FIC untuk membuat si calon tertarik ke FIC.

Prosedur pendekatan Yesus terhadap seorang calon rasul-Nya sangat halus dan tidak diketanui bagaimana dan arah ke mana.

a.  Lalu apa yang saya lakukan dalam hal panggilan di Asrama SPG?xxx

1).  Menciptakan suasana kerasulan dan iklim kebebasan dalam hal mengamalkan iman siswa, dalam hal di mana suara Yesus dapat terdengar aleh yang bersangkutan.

2).  Memperkenalkan Pribadi Yesus kepada Siswa. Bila siswa sudah merasa “senang” atau tertarik oleh Pribadi Yesus, bereslah. Yesus akan memanggil calon FIC, bila kita pantas memperoleh calon-calon baru. Yesus tahu isi hati para bruder. Kemudian untuk mengamalkan rasa “senang” dengan Yesus, maka disediakan sarana bagi siswa untuk memperkenalkan Yesus kepada orang lain. Setiap orang yang merasa diri saudara Yesus ingin memperkenalkan Yesus seluas mungkin dengan cara yang cocok bagi dirinya. Kasih itu inklusif. Karena itu di asrama Van Lith ada seksi stasi dan latihan mengajarkan agama di SD.

b.  Mungkin pembaca serius bertanya: “Apa guna latihan kemasyarakatan bagi panggilan?”

1).  Ada kerasulan lewat mengajarkan agama. Ada juga kerasulan-kerasulan lain yang terutama mulai disadari/muncul sesudah Konsisli Vatikan Kedua: Macam-macam kerasulan awam, seperti yang diceritakan oleh Br. Kees dalam Komunikasi, April 1985, hlm. 3-5, 23-32), atau yang dilakukan Br. Kees di Muntilan: ‘Perhatian kepada saudara-saudara yang cacat, misal: Bernardus, Bu Cokro, mBak Karti); Br. Vitus di Ambarawa (misal: mengunjungi keluarga-keluarga desa sekitar Bandungan, tawanan di penjara); Br. Otto dulu di Semarang (kunjungan dan pelayanan kesehatan bagi yang miskin, gelandangan a.l. lewat Poliklinik), dan pasti bruder lain, yang tidak saya ketahui.

2).  Lain lagi yang dilaksanakan oleh Br. Berchmans dan Br. Assis. Cobalah bertanya kepada Br. Servas, jenis-jenis kerasulan kemanusiaan apa yang dilaksanakan oleh YSS, oleh BTP dan dua bruder di Belitang. Tetapi ketahuilah bahwa kerasulan apa saja baru berhasil bila sang rasul mencintai manusia yang membutuhkan cinta itu. Hanya itulah bukti bahwa rasul mencintai Yesus. Semua sarana yang disediakan di asrama Van Lith berguna untuk membentuk rasul segala jenis, ya imam, bruder, rasul awam, katekis.

Guna mempermudah para bruder yang tertarik untuk mencari kembali sarana-sarana termaksud, saya berikan ringkasan-ringkasan di bawah ini:

Komunikasi 1984,

o  No. 1 dan 2: Siapa memanggil dulu, siapa sekarang?; Siapa yang dipanggil dulu, siapa sekarang?; Inti panggilan; Usaha yang dapat dilakukan semua bruder guna mendukung panggilan Yesus ke FIC

o  No. 5/6: Riwayat Hidup SPG Van Lith dengan Asramanya

o  No. 7/8/9: Sarana-Sarana Penggemblengan Kualitas Siswa Asrama Utusan Kristus

Komunikasi 1985,

o  No. 1,2,3: Unsur-unsur pendidikan terurai konkret guna menciptakan iklim kebebasan dan saling percaya, yang cocok bagi pemuda untuk berkembang sesuai dengan ambisinya

Di bawah ini suatu rangkuman bagi bruder yang belum membaca nomor-nomor Komunikasi terdahulu.

c.  Sarana Dengan Tujuannya Masing-Masing:

Tujuan umum semua sarana yang tersedia yakni: Pengembangan seimbang jiwa puber yang cenderung menutup diri terhadap pendidiknya untuk masuk ke tingkat adolesen yang sifatnya ingin mengenal dunia luarnya dan yang punya cita-cita untuk diwujudkan di hari depan.

1).  Latihan-latihan kemasyarakatan, di antaranya yang sangat penting, tugas-tugas liburan adalah untuk menumbuhkan puber seimbang ke adolesen. Membuka hati, mata, tangan mereka bagi kepentingan orang-orang di lingkungannya, yakni masyarakat desa. Desalah untuk kebanyakan siswa akan menjadi situasi hidup dan kekaryaannya sebagai guru.

2).  Self Goverment bertjuan khusus: Melatih tanggung jawab terhadap sesama dan mengisi keinginan pemuda untuk manusia merdeka.

3).  ISKI (Ikatan Siswa Katolik Indonesia) bertujuan mengisi keinginan kaum muda untuk:

i.  berjuang guna mewujudkan cita-cita muda mengatasi tantangan-tantangan

ii.  mengenal diri pribadi termasuk kekuatan dan kelemahannya serta mengembangkan diri bersama kawan (di dalamnya timbul/muncul segi kompetisi)

iii.  mengenal pribadi Kristus lewat pribadi nyata Yesus dari Nazaret sebagai saudara, Pemimpin dan sumber kekuatan

4).  Kerja stasi dan tugas-tugas liburan, bertujuan; Mengisi keinginan siswa dan menguji daya juang bagi Kristus secara konkret. Iman yang hidup tidak dapat lain daripada mencetuskan diri dalam letusan cinta kasih konkret yang berkonsekuensi kurban. Semua ini sangat didukung oleh diskusi-diskusi.

5).  Keterampilan-keterampilan khusus: bertani, bertukang kayu, Pramuka, ketoprak, kerawitan, drama Injil tiga judul: Iman, Cinta Kasih, Panggilan Paulus (Kisah Para Rasul).

6).  Beberapa pameran besar; judul-judulnya:

i.  Dunia Kini dan Gereja di dalamnya

ii.  Karya FIC Sedunia

iii.  Jagad Raya Menunggu Penebusan

iv.  Karya FIC di Indonesia

v.  SPG Van Lith – Identitasnya

7).  Sport: lebih-lebih yang mengandung unsur team-work seperti sepak bola, bola basket, voli

4.  Hasil Usaha Binaan Panggilan di Asrama SPG Van Lith

Pendek kata ada yang jadi

1).  IMAM jauh lebih banyak daripada bruder: 3 SY, 3 OFM, 2 Kapusin, 4 MSF, 1 Salib Suci, 3 CM (Lazaris Surabaya), 3 MSC (Manado), 1 Pasionis (Italia), 3 Praja; mereka tersebar di Jawa, Riau, Kalimantan, Sumatera Utara, Sulawesi, Irian (Papua).

2).  RASUL AWAM PROFESIONAL (Pengembangan Masyarakat) lewat sekolah Tinggi Pengembangan Masyarakat, ALMA, IPI Malang, AKKI Yogya, AKKI Madiun. Empat dari kelompok ini di Proyek Kaderisasi BTP (Bina Tani Pancasila) Baturaja; dua orang jadi pendiri semacam BTP di Kalimantan Tengah; satu orang masuk MSF; satu orang pendiri SPG Sekadau; satu orang pendiri Sekolah Perawat Pasang Surut di Palembang… kebanyakan jadi guru SD dan SMP di Sumatera, Kalimantan, Bali, Flores, Papua.

3).  BRUDER FIC tidak seberapa banyak: tamatan SGB dulu lebih banyak daripada tamatan SPG Van Lith. Beda ini masuk akal bila kenal beda situasi. Apakah jumlah panggilan untuk FIC (misal, alumni pada masa asrama dipimpin Br. Aristides: Br. Savio, Br. Aloysius Sutiarta, Br. Anton Sumardi, Br. Martinus Dariyo; dan yang pernah mencoba: Albertus Magnus Sugiyat Susilohadi, Dawami, Parjan, Tarsisius Sugeng Siswanto) yang amat sedikit kesalahan saya? Entah. Terserah Yesus yang memanggil. Apakah saya kurang kerja sama dengan Yesus? Entah. Begitulah kenyataan yang tak dapat dibantah atau diubah lagi.

Dengan demikian seri FIC-FIC-FIC ditutup, sekaligus suatu pertangungjawaban terhadap FIC kita bersama. (Komunikasi, No. 6, XVII, Juni 1985, 15-19, Br. Aristides)

 

I.  propaganda PROSOMOSI FIC

xxx

Tradisi FIC di seantero dunia, lebih-lebih di Indonesia tidak menonjolkan diri. Penampilan para bruder sederhana pula. Dalam policy (kebijakan) FIC merasa cocok dengan konsolidasi dari apa yang sudah ada.

I.  CALON-CALON BARU

Sedari dulu-dulu calon baru di Indonesia ada secukupnya tiap-tiap tahun. Baru ketika dua tahun terakhir berturut-turut calon baru sangat sedikit jumlahnya, kita mulal memikirkan perlunya promosi. Br. Edelualdus mulai dengan “Hari-hari panggilan” khusus untuk FIC; dan nampaknya berhasil. Karangan Br. Kees di Komunikasi menjadi alasan bagi saya untuk mulai dengan serial FIC-FIC-FIC. Dalam seri itu saya mencoba menunjukkan pentingnya asrama-asrama SPG kita. Asrama-asrana itu adalah KESEMPATAN EMAS.

Di antara beberapa ratus siswa asrama mungkin mereka ada yang berpotensi sebagai calon bruder. Mereka terkumpul begitu saja. Tak perlu dicari dari jauh dan dikumpulkan dengan sengaja. Mereka ada dekat dengan kita selama tiga tahun pada umur krusial (krisis, panaroba mencari identitas dirinya)

II.  BAHAN PROMOSI

Bahan promosi biasanya berpola pada karya kerasulan, bukan pada tujuan kerasulan, apalagi pada inti panggilan atau pun identitas bruder FIC. Pokoknya kita pilih segi-segi dari karya kita yang menurut pandangan kita sebagai guru menarik kaum muda.

Ciri khas karya kita “memihak pada yang lemah” mungkin tidak begitu nampak di lingkungan hidup persekolahan. Apa persekolahan berbentuk institut yang terbatas tempat, waktu dan usaha dapat dijadikan promosi, yang membakar semangat kaum muda? Menurut pengalaman saya mereka yang bermutu, cenderung mencari perwujudan cita-cita yang tinggi dan bercampur romantika. Sekolah adalh barang yang sangat konkret yang hanya dipakai untuk mengejar status sebuah gelar, bagi sendiri dan bukan sebagai kancah perjuangan.

Siapa dari kaum muda yang dapat membayangkan mengenal karya kerasulan YSS, Penuangan Huruf Pangudi Luhur dan Bina Tani Pancasila! Roncalli sama sekali di luar pandangannya. Maka yang tinggal sebagai bahan promosi, “jika karya kerasulan mau dijadikan bahan”, hanyalah sekolah.

Pandangan terhadap SPG oleh khalayak ramai ditentukan oleh bayangan orang tua bahwa sesudah tiga tahun di SPG anaknya mendapat kemungkinan untuk bekerja. Pandangan itu cocok bagi keluarga yang ekanominya minim. Bahwa status guru menurut kalangan tertentu merosot bukanlah persoalan. Bahwa SD rata-rata sebuah pulau di tengah masyarakat kaum miskin bukanlah bahan pemikiran untuk tidak masuk ke SPG. Penelitian terhadap pengaruh SD dalam peningkatan hidup desa adalah nihil menurut hasil penelitian itu.

Pandangan orang desa terhadap Sekolah Umum Tingkat Atas tidak sampai menilai sekolah tingkat atas sebagai pompa yang menghisap intelek desa ke kota.

III.  CONTOH PROMOSI SY

Pramosi SY tidak memakai karya kerasulannya sebagi bahan melainkan identitas sejumlah tokoh ordo itu, dan secara umum identitas Romo Yesuit masa kini dan penampilan diri mereka. Ordonya bersejah, anngotanya banyak. Perjuangan mereka di segala bidang hidup sepanjang beberapa abad mempesona. “Join us to fight for Justice”, adalah slogan yang pernah dipakai dalam sebuah folder. Baik “fight maupun justice” dapat diisikan macam-macam oleh pemuda yang bermental berjuang untuk orang lain. Sekaligus slogan itu membuat seleksi di antara pemuda yang membacanya. Yang paling mutu tertarik. Sekolah dalam mata pelajar adalah senang, teratur, bukan kancah fight. Sekolah tak punya romantika muda.

IV.  SABUAH CANTOH

Mungkin Br. Savio dan Br. Sutiarta masih teringat kawan di SPG yang bernama Ribut asal Sumber lereng Merapi. Ribut mau menjadi bruder, tetapi tiap kali dia pulang ditertawakan orang tuanya. Mereka sudah menyiapkan seorang jodoh yang Islam. Tinggal menentukan tanggal jadi. Lain-lainnya sudah beres menurut adat desa masa itu. (1965) Maka Ribut mau menyelamatkan diri. Menghadap saya untuk minta bertugas guru yang jauh.

Saya: “Permintaan tenaga guru dari luar Jawa sudah habis dibagi. Yang tinggal mungkin di Irian Barat (Papua). Tetapi di situ belum FIC. Mau?”

Ribut: Pokoknya, saya harus lepas dulu dari orang tua. Hal jadi bruder, lalu menjadi mudah.

Dua minggu kemudian Ribut berangkat ke Merauke, wilayah MSC. Hubungan selanjutnya dengan saya terdiri atas surat menyurat, pengiriman majalah bekas dan beberapa buku yang mutu. Dari pihak dia sekali-sekali ada pengiriman poswesel untuk orangtuanya lewat saya, dikurangi-harga buku tadi. Delapan tahun kemudian ia pulang ke Jawa dan berjumpa dengan saya: “Bruder saya mau ke seminari. Saya sudah medaftarkan dan diterima.” Saya: “Mengapa panggilan Ribut berubah?” Ribut:”Kalau jadi bruder, yang saya lihat di Muntilan hanya itu-itu saja, sekalahan, kurang ke masyarakat.”

Tentulan saya kecewa. Sayang macam itu tidak jadi FIC. Tetapi hati saya membenarkan dia. Ia berani, merdeka dan sangat kreatif penuh alternatif. Saya tahu dari diskusi-diskusi dulu. Kini ia sudah Imam dan akan bertugas kembali di Irian, kata ayahnya, ketika berjumpa dengan saya di Tegal Arum. Ia sudah katolik dan bangga atas anaknya itu.

V.  Kembali soal promosi FIC

Bagaimana? Bahan apa? Bentuk apa? Isi dari usaha Br. Edelwaldus tahu. Sayang tidak pernah diisikan ke “Kamunikasi.” Baiklah diketahui apakah

Calon-calon baru dua tahun terakhir dengan jumlah yang cukup baik adalah hasil dari hari panggilan itu.

VI.  Angket panggilan.

Alangkah baiknya menurut pandangan saya bila komisi vocatian tim dalam DP menyusun sebuah angket di antara para bruder muda kita untuk mengetahui secara garis besar riwayat terjadinya proses panggilan mereka, sampai masuk ke novisiat. Menurut pandangan saya seorang pemuda menjadi bruder lewat seorang, dua orang bruder yang dikaguminya bukan karena ilmu bruder melainkan karena personnya sebagai bruder dan sebagai pendidik. dapat saja pada umur tertentu pemuda berpikir dalam hati: ”Saya mau menjadi seperti bruder itu!”

Kesempatan berpromosi yang ada bagi tiap bruder FIC dari SD sampai SLA, tetapi lebih-lebih bagi “bruder asrama” di SPG-SPG kita yakni menjadi bruder FIC yang berimutu sebagai pendidik, sebagai pengajar, sebagai religius dekat dengan Kristus, yang hatinya terbuka bagai murid-Nya dan lingkungan asal murid itu. Jumlah murid kita ribuan. Sejumlah murid mengikuti kita selama 12 tahun. Di antaranya ada beberapa ratus yang selama 3 tahun dekat dengan kita di asrama. Perlu disadari bahwa umur antara 16-20 tahun adalah umur krusial (sangat menentukan) bagi pembentukan kepribadian mereka. Tetapi janganlah mengira bahwa pembentukan kedewasaan mereka terjadi tanpa binaan. Dan binaan terhadap mereka janganlah sebagai anak didik tetapi sebagai saudara agar terjadi dialog dewasa dalam hal penentuan jalan ke kedewasaan dan lewat tanggung jawab menuju ke hari depan dengan Kristus. Tidakkah mungkin dari sekian banyak murid ada sejumlah kecil yang dapat tertarik ke FIC? (Komunikasi, XVII, 7-8, 1985, HLM 17-21, Br. Aristides)

 

KADER MASYARAKAT BINA TANI PANCASILA (BTP)

Redaksi Komunikasi mengharapkan karangan tentang BTP membuat kader masyarakat. Saya harap diizinkan lebih dulu bercerita tentang cara terbentuknya staf BTP.

BTP bukan tanah berisi tanaman dan hewan, melainkan lima orang muda dengan satu orang tua. Uraian di bawah ini belumlah merupakan training para kursis di BTP Sumatara, baru proses terjadinya Staf. Tempatnya di Wates Salatiga, milik KPTT. Training Centre (TC) di Wates Salatiga bernama TC Transmigrasi Perintis (TCPT).

Bagaimana klub itu selama 11 tahun bersatu padu dalam suka dan duka, lahir batin? Mereka berasal dari SPG Van Lith. Di situ mereka membentuk diri seperti yang diuraikan dalam serial FIC-FIC-FIC di Komunikasi. Di asrama itu mereka mendapat dasar agar mampu membuat kader lagi sebagai kaki tangan BTP dari pemuda transmigran di desanya sendiri. Metodenya seperti di SPG Van Lith.

A.  DASARNYA

Gemblengan pemuda dan gerakannya hanyalah benar bila tujuan gerakan adalah perwujudan cita-cita yang “an sich” tak ada hubungan langsung dengan kaum muda.

Sebagai contoh: Wakil saya di BTP lulusan th. 1965 bercita-cita melangsungkan “Revolusi Indonesia” Bung Karno. Isi cita-cita itu tentulah masih kabur berupa angan-angan, namun mulai bulan Februari tahun 1974 ia melaksanakannya secara konkret sampai sekarang. Secara umum dapat dikatakan: Perjuangan suatu lembaga dan lembaganya sendiri akan mati bila tujuannya kepentingan lembaga itu sendiri, tanpa perjuangan kelur.

Organisasi politik yang semacam itu nasibnya tidak meyakinkan. Sama dengan gereja yang tak tahu kerasulan. Maka kaum muda yang mau dijadikan kader, perlu punya kesempatan berjuang ke luar. Di dalam SPG Van Lith dan BTP di Baturaja perjuangan keluarnya adalah penciptaan dunia yang lebih manusiawi di lingkungannya. Sasaran konkret yang dekat dengan calon kader adalah gemblengan diri, untuk menyiapkan pribadinya. Latihan-latihan, baik di SPG maupun di BTP mengandung resiko. dapat berhasil, dapat gagal. Bila gagal, maka masih harus ada kesempatan membetulkan yang keliru dan gagal, agar akhirnya berhasil.

Bila binaan terhadap pelajar terlalu mendetail, agar usaha latinan pasti berhasil tanpa risiko, maka latihan itu tidak membentuk apa-apa dalam diri pelajar. ekspresi dirinya tak mungkin. Sebaliknya pelajar harus dibuat terpaksa melihat situasi sekitarnya, terpaksa berpikir sendiri dengan mempertimbangkan risiko dan konsekuensi dari keputusan yang diambilnya dan ia harus melaksanakan rencana kerjanya yang konkret dan mendetail. Pendek kata, harus ada tantangan sampai yang berat sekalipun. Untuk itu pendidik harus menyiapkan fasilitas, ruang gerak, kesempatan bertanggung jawab. Kalau begitu timbullah daya cipta bersama cita-cita dalam hati pelajar/kursis. Pemuda tanpa cita-cita sudah tua. Tantangan, risiko, kesempatan memakai inteligensinya menurut pandangan sendiri, tanggung jawab yang ditentukannya pula membentuk pribadi seimbang.

Hubungan pendidik dengan anak didik diharuskan dalam ‘sistem’ ini sebagai antara saudara dengan saudara. Penentuan kebijakan pengembangan secara umum dilakukan dalam bentuk evaluasi, berupa diskusi sehingga terjadi dialog. Dari evaluasi mungkin muncul kebutuhan dalam hati peserta untuk minta binaan pribadi kepada pihak saudara yang lebih tua, yang dapat menjelma menjadi bapak. Dasar: saling menghargai, dan saling percaya, keterbukaan dan kejujuran. Itulah latar belakang dari lima orang staf BTP.

Bahan training, yakni usaha peningkatan taraf hidup masyarakat.

Tempat training: desa-desa sekitar Muntilan dan desa asal mereka sendiri (tugas-tugas liburan).

Kesadaran muncul lewat diskusi-diskusi mengenai hasil tugas liburan dan dari survai di desa-desa sekitar Muntilan.

Kesadaran sebagai manusia secara umum tiada lain kecuali tahu diri, tahu tempat dan tahu persoalan dalam usaha perbaikan masyarakat.

Itulah bekal para anggata staf Training Centre Transmigrasi Perintis, ketika lembaga itu dimulai di Waes Salatiga 1974. Kawan dengan kaus dari awal mula.

B.  PELAKSANAAN TCTP

Dalam liburan panjang, Desember 1973, bertujuh berkali-kali berkumpul untuk membicakan program, metode dan kurikulum kursus pengembangan masyarakat desa transmigrasi 1,5 tahun.

Fasilitas-fasilitas: komponen-komponen

1.  Uang belum ada, gaji atau honor nanti, entah dari mana, entah berapa. Hal itu belum dipersoalkan dulu. nates.

2.  Tanah Latihan untuk kursis 3.500 m2 di sewa di Wates, milik KPTT.

3.  Rumah-rumah kediaman staf dan kursis dipinjam dari KPTT. Mesin tik tua-tua kami pinjam dari KPTT, alamat yang sama. Setahun kemudian kami mendapat yang baru dari dana AKSI PUASA.

4.  Biaya rutin, 75%, seperti nafkah pelatih dan krusis berasal dari subsidi Yayasan Purba Danarta. Romo Melchers.

5.  Kursis: Dua kali ada kursus, masing-masing 15 orang selama 1,5 tahun.

6.  Asal kursis terutama dari SPG Van Lith dan SPSA Tarakanita Sr. Theressella.

7.  Tujuan kursus: menjadikan alumni SLA: petani, transmigran, pembina transmigran di tempat baru, tanpa gaji.

8.  Program training merombak secara total mentalitas alumni yang dapat bertahan. Cita-cita orang tua, agar anaknya menjadi pegawai gajian, diganti dengan kenyataan menjadi petani, transmigran dan pembina transmigran dengan status transmigran bujangan. Amat berat, maka hanya separoh dari alumni jadi berangkat bersama transmigran umum pemerintah. Nafkah pembimbing transmigran bujangan itu yakni usaha taninya sendiri. Mereka harus hidup terintegrasi ke dalam masyarakat transmigran, sambil membentuk kelompok-kelompok usaha kecil, saka guru masyarakat baru.

B.  PELAKSANA KURSUS TC TRANSMIGRASI PETINTIS DI WATES

Pendiri TCTP dan pelaksana kursus adalah 6 orang tadi. Umur mereka yang lebih tua daripada umur kursis hanyalah satu, empat dan delapan tahun. Pengalaman belum ada. Yang ada pada mereka: Pengalaman dari SPG Van Lith dan asrama, serta studi lanjut sebagai berikut: Seorang Akademi Koperasi, dua arang IKIP Jurusan Ekonomi Desa, seorang Sekolah Tinggi Pengembangan Sosial, dua orang KPTT, Kursus Mixed Farming, Hame Industri.

Saya sendiri dari 1976 masih terikat pada SPG Van Lith. Paling banter sebulan beberapa hari ke Wates. Itu berarti bahwa kerja sesungguhnya dilakukan oleh tim muda itu. Ada dukungan kuat dari Romo Utomo Pr; sekretaris MAWI bagian ekonomi sosial dan Br. Provinsial Andreo. Kerja saya sebagai pemimpin umum dan menulis/mengetik rencana kerja, cita-cita untuk memberikan kepada orang berduit, keyakinan bahwa proyek ini akan berhasil.

C.  MENGAPA STAF TCTP ITU MAU TETAP BERSATU?

Idealisme mereka dan keterbukaan dalam keberanian untuk mengevaluasi apa yang sudah dilakukan dan merencanakan apa yang dihadapi sesuai dengan kejadian, situasi yang sering berubah, dan kemungkinan untuk mengembangkan program kursus serta metode binaan. Itulah bekal mereka dari Muntilan. Keterbukaan diperkuat lagi dalam rapat-rapat evaluasi dan perencanaan. Tiap anggota tahu isi pembukuan keuangan, asal uang dari mana, dan harapan finansial di kemudian hari. Semua putusan yang ada sangkut pautnya dengan pelaksanaan kursus diambil oleh staf. Kesulitan-kesulitan yang berhubungan dengan lembaga kami, dibicarakan bersama. Gaji anggota staf berkiar dari Rp.8000,00 sampai Rp.11.500,00 ditambah uang makan. Ketika saya kena tabrakan sepeda motor, staf berkunjung sesudah saya sadar kembali. Mereka berkata, “Bruder tak perlu khawatir, kami setia pada proyek, biarpun proyek pindah tempat.”

D.  REKAPITULASI:

Mengapa tim TC bersatu dan setia disebabkan aleh:

1.  Kesadaran mereka sebagai anggota masyarakat

2.  Motivasi mendorong mereka mengembangkan masyarakat.

3.  Mengembangkan masyarakat mengandung romantika dan membutuhkan daya cipta. Tiga nomor itu adalah bekal dari SPG Van Lith

4.  Keyakinan bahwa karya kemasyarakatan hasil

5.  Pelaksanaan awal TGTP, biarpun berat tak terduga, hampir seluruhnya dipegang oleh mereka sendiri dengan berhasil, cukup baik. Hal itu meyakinkan mereka lebin kuat lagi

6.  Keadaan bahwa saya masih di SPG memaksa mereka untuk bertanggung jawab dengan memperhitungkan segala konsekuensi dan risiko dalam pengambilan suatu keputusan bersama (memimpin membutuhkan melihat ke depan)

7.  Pengalaman terutama berasal dari Self Government dulu di SPG vart Lith

(Komunikasi, No. 9, XVII, September 1985, 26-31 Br. Aristides)

 

DOA KESAYANGAN IBU KITA

Desember 1984 “Kamunikasi” kita sudah memuat artikel tentang doa rosaria, maka sangat mungkin ada bruder dengan melihat judul ini, lansaung berkata, “Sudah tahu.” lalu membalik halaman. Toh saya menulisnya. Silakan kalau ingin mengetahui pengalaman seorang bruder kakek dari hutan.

Apa doa ini ketinggalan zaman bagi orang modern? Apakah kita madern dengan alat-alat modern? Apa arti modern? Tuhan toh tidak kolot karena abadi? Tuhan tetap kreatif, menyesuaikan diri dengan segala zaman. Karya Keselamatan Tuhan, yang kita renungkan dalam doa rosario akan berjalan sampai kiamat. Kemarin urgen, kini lebih urgen karena menyangkut kita di masa kini.

Doa iItu sukar, tetapi doa mana yang mudah? Karya Keselamatan yang dilakukan Jesus sulit, malah teramat berat. Renungkan saja sebantar fase terakhir di kayu salib yang ngeri.

Bagi saya doa ini menjadi lebih roudah sejak saya mengubah bahan renungan dengan mencabut, menambah dan menggeser bahan-bahan itu sbb.:

Doa Pendahuluan tetap, karena indahnya dengan kita.

LIMA MISTERI GEMBIRA tetap… Mengapa namanya gembira? Entah, tetapi lima mis-

Teri ini pun penuh tantangan iman bagi Maria.

1.  Sesudah berita malaikat, mulai kesepian dalam hidup Maria. Rahasia penjelmaan menyepikan Maria dari wanita Nasaret yang lain, bahkan dari Yusuf. Amat beratlah konsekuensinya. Kegembiraan bagi Maria terletak dalam harapan akan masa depan yang masih gelap gulita. Wujud iman memang begitu. Harapan.

2.  Kunjungan kepada Elisabet kiranya menghibur kedua manita itu saja. Mereka saling mendukung iman mereka. Tetapi bagi Yusuf yang belum tahu apa-apa menjadi tanda tanya besar. “Terjadi apa pada isteri saya yang bungkam saja?” kiranya pikiran hati Yusuf. Dan itulah tentu mengurangi kegembiraan Maria.

3.  KelahiranYesus. Perintah kekaisaran Roma mengikuti sensus di tempat asli keluargga yakni Betlehem, tentu dimengerti Maria sebagai kehendak Allah Yahwe. Tabir kegelapan terangkat sedikit. Mesias toh harus lahir di Betlehem menurut Kitab Suci. Biarpun segala persiapan di rumah Nasaret tersia-siakan, biarpun perjalanan dalam keadaan hamil tua sangat berat melalui jalan-jalan yang bukan mulus, Maria berangkat. Dan harapan terwujud: Jesus lahir di kota Daud dalam situasi primitif, dingin, gelap, basah.

4.  Apakah persembahan Jesus di Bait Allah menggembirakan Maria? Saya kira tidak. Mengingat kata-kata Simeon, jelas bagi Maria; konsekuensinya adalah penderitaan. Jiwa Maria akan ditusuk pedang. Anaknya akan menjadi penyebab perpecahan bangsa Israel antara yang jatuh dan yang bangkit. Perwujudan kata-kata Simeon kapan dan bagaimana? Dan apa nasib anaknya di tengah pertentangan antara yang bangkit dan jatuh? Jadi anaknya sebagai Mesias akan menantang bangsanya. Mengingat Kitab para Nabi, maka Maria yakin, bahwa anaknya Mesias.

5.  Jesus ditemukan di Bait Allah. Gembirakah Maria? Hanya saat itu saja. Bayangkanlah saja penderitaan Yusuf dan Maria dalam malam pencarian Yesus dan hari berikutnya di Yerusalem, ketika menyadari bahwa wujud cinta kasih berakibat penderitaan. Anak mereka toh baik, toh tidak mbolos untuk main-main, yang mungkin diejekkan oleh kawan-kawannya dari Nasaret?… Nah, Yesus ditemukan kembali! Bergenibiralah Maria walaupun hatinya kesal. Yesus yang berbuat demikian, belum dikenal, “Maaf, Bu” saja tidak keluar dari melut Yesus. Maria menegur, “Anakku, tidakkah Kau tahu, bahwa kami mencari engkau dengan hati cemas!” Yesus malah balik menegur Ibunya, “Mengapa Ibu tidak mengerti, bahwa Aku harus berada di rumah Bapa-Ku?” Di hati Maria, “Bapak siapa. Yesus toh anakku?” Maria sebagai wanita Israel tulen belum mengenal “Trinitas” yang bagi kita sudah amat biasa. Seolah-olah Yesus tidak mengakui ibu-Nya lagi. Tantangan lagi! Tanda tanya lagi bagi imannya! Dan Lukas tanpa emasi apa pun menulis: ”Dan Maria menyimpan segala itu dalam hatinya.”

LIMA PERISTIWA DUKA

Dalam misteri sengsara Yesus, saya tidak mampu memandang Yesus didera dan dimahkotai duri selama 20 kali “Salam Maria”. Apa lagi, menurut dugaan saya penderitaan Yesus yang paling berat terletak di bidang kejiwaan: Yesus merasa tidak dimengerti oleh muridnya dan pada saat yang gawat. Ia malah ditinggalkan. Di taman Zaitun dan di salib seperti ditinggalkan oleh Bapa-Nya. Sejak penahanannya dipakai sebagai barang permainan nafsu bermacam-macam. Maka lima peristima duka yang “resmi” saya ganti sebagai herikut:

1.  Perjamuan makan malam terakhir mengecewakan Yasus. Itu nampak dari kata-kata Yasus kepada Petrus, Filipus dan Tomas, yang benar-benar mengharukan. Lihat saja dalam Yoh 13 dan 14, “Sudah sekian lama Aku bersama dengan kamu, tetapi engkau belum mengenal Aku dan Bapa,” kata-kata penuh cinta dan emosi.

2.  Di Zaitun. Dalam kejadian-kejadian di taman lebih jelas lagi, bahwa kata-kata Yesus tadi sia-sia. Tiga murid yang diajak Yesus ikut masuk ke diharapkan mampu meringankan penderitaan yang dhadapi Yesus; tetapi tiga yang paling dekat ini seperti tidak menghiraukan apa pun. Mereka belum merasa bahwa malam ini sungguh-sungguh malam terakhir bersama Yesus. Permintaan dan keluhan Yasus agar mau berjaga dan berdoa lewat telinga seperti angin. Terpaksalah Yesus menghadapi saat maut seorang diri. Bapa pun seperti tidak mendengarkan doa, jeritan Yesus.

3.  Di depan para hakim-Nya. Anas bertanya tentang murid-Nya. Yasus menngetahui, bahwa pada saat itu Petrus mengaku tidak mengenal “orang itu”. Teririslah hati Yesus. Menuju ke Kaifas, Yesus masih sempat menoleh kepada Petrus yang sedang berdiang, menunggu keputusan Mahkamah Agung. Pandangan mata Yesus, “Itukah Petrus-Ku, harapan-Ku?” Petrus tidak tahan… Di depan Kaifas: sandiwara palsu. Imam Agung gagal menjadikan Yesus pelaku utama. Yesus tidak gentar dan dengan tenang mengaku Diri Putra Allah, sehingga sang Imam Agung dapat menyudahi permainannya lebih cepat daripada dugaannya. Dengan hati senang ia main duka, menyobek pakaian imamatnya. Yesus pasti mati. Tinggal satu pion dalam permainan, yakni Pilatus. Di depan Pilatus. Uluran tangan Yesus untuk mengenal kabenaran tidak dapat diterima Pilatus, Ia terjepit permainan kasar tawar-menawar jual beli sapi para imam. Pilatus kalah besar, ketika ia cuci tangan.

4.  Jalan Salib penuh peristiwa, ditambah dengan rasa mendalam di hati Yesus, bahwa kemarin Yesus masih berjalan di sini dengan bebas; kini dibatasi salib-Nya sambil digiring oleh massa yang berbuat seenaknya. Yesus sudah dibuang ke luar, sudah terhitung orang mati. Massa boleh mempermainkan tanpa hormat orang hukuman mati. Likuidasi total tak lain daripada soal waktu.

5.  Terpaku di salib. Untuk mencegah renungan ngawur, saya menggunakan tujuh sabda Yesus di salib, yang menunjuk pada penderitaan hati Yesus makin menuju puncak dalam sabda, “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku?” Yesus tak mampu memakai kata “Bapa”, apalagi sebutan kesayangan-Nya “Abba”.

LIMA PERISTIUA MULIA

ZZJuga dalam lima misteri ini dua peristiua tradisional yang terakhir saya batalkan dengan alasan tak dapat saya bayangkan. Maria tak akan merasa digeser. Maria pasti melatarbelakangi memua peristiwa itu. Maria pasti berkali-kali ditengok aleh Yesus, yang kini sudah Kristus. Siapa berani, memikirkan percakapan intim antara Maria dengan Anak-Nya? Peristiwa pertama yang saya pakai bukan kebangkitan itu sendiri, yang tak ada saksi mata melainkan:

1.  Pertemuan pada waktu pagi-pagi hening antara Maria Magdalena dengan Kristus. Kristus baru dikenal sebagai Yesus dulu, ketika ia memanggil dengan “Maria”. Maria ditugasi membawa berita kebangkitan kepada para murid-Nya, yang langsung lari ke makam.

2.  Pertemuan Yesus dengan dua murid dari Emaus. Pada hari ke tiga, setelah Yesus wafat mereka belum mendengar apa-apa yang pasti. Penuh rasa kecewa. Tak ada harapan tentang kelanjutan karya Yesus. Mereka pulang saja. meneruskan hidup semula. “Dua murid ini tidak boleh hilang”, kiranya pikiran hati Yesus. Maka Yesus menemani mereka di jalan menuju Emaus kembali. Dalam Injil Lkas bab 24 seluruh peristiwa ini diceritakan…

3.  Berlarilan mereka kembali ke Yerusalem, menceritakan segala yang mereka alami. Cerita mereka belum selesai, masuklah Yesus sendiri untuk meyakinkan sepuluh rasul yang tinggal di situ, bahwa Ia benar-benar hangkit. Tomas tidak hadir.

4.  Minggu berikutnya Yesus berkunjung lagi. Nampaknya khusus untuk menolong Tomas, guna mengatasi kejengkelannya. Mengapa Yesus menampakkan diri persis pada waktu ia tidak ada bersama kawan-kawannya? Mengapa Yesus tidak dapat atau tidak mau menunggu sebentar saja sampai dia pulang?… Sesudah Yesus memberi salam damai semua, langsung menyapa Tomas sambil membuka mantol-Nya, “Silakan Tomas, taruhlah tanganmu di sini …” (Yoh 20). Juga Tomas tertolong. Kekuatan imannya selanjutnya membawa Tomas ke tempat yang paling jauh yakni ke pulau Sokotra dan India Selatan, Kerela manurut Fransiskus Xaverius.

5.  Yesus naik ke surga sampai dengan turunnya Roh Kudus (Kis 2). Sebelum Yesus naik ke surga, para rasul diutus pergi ke ujung bumi untuk mengabarkan Injil guna menegakkan Kerajaan Allah, impian Yesus. Persiapan sembilan hari akan kedatangan Rah Kudus, saya bayangkan, bahwa Maria membantu para murid untuk mengerti apa yang terjadi pada masa sebelum dan sesudah kebangkitan Kristus. Maria kiranya telah mengerti maksud segala apa yang hingga saat kebangkitan menjadi tanda tanya bagi dia dalam pergumulan dengan tantangan imannya.

Doa rasario demikian tidak menjemukan saya lagi. Kabar gembira Injil sudah bertahan 2.000 tahun dan masih tetap ada hari depannya karena harapan yang termaktub di dalamnya. Lima puluh kali ucapan Salam Maria memang berjalan secara rutin sebagai penyambung segala misteri.

Sekian pengalatnan saya. Terima kasih. (Komunikasi, No. 5, XVII, Mei 1985, 9-14, Br. Aristides)

 

 

 

 

Br. Aristides FIC

Di Jawa

 

001 SUDAH BAGUSKAN INDONESIA?

 

Bagus apanya? Tanahnya? Luasnya? Kalau digali minyaknya? Kalau tanah luas digunduli hutannya? Ataukah desa-desanya?

 

Bangsa Perancis sejak Revolusi, besarnya melambangkan kebanggaan nasionalnya dengan seorang perawan ‘Marianne’ namanya. Nederland berbuat yang sama dengan menciptakan seorang perawan pula, namanya ‘Nederlandse Maagd’ atau ‘Perawan Belanda’. Entah apa dia masih hidup. Demikian pula Indonesia punya. Tetapi bukan perawan, melainkan seorang wanita yang penuh kedewasaan dan penuh misteri. Namanya ‘Ibu Pertiwi’. Pilihan ‘Ibu’ itu menunjukkan rasa kekeluargaan. Bukankah orang Indonesia saling mengaku saudara? Tetapi ‘Ibu’ itu di mana? Ibu yang baik harus baik bagi semua putranya, dan tidak cukup hanya memberikan cinta kepada pahlawan-panhlawan matinya saja.

 

Jakarta mengaku diri ‘Ibu’: Ibukota seluruh Republik Indonesia, ibu politiknya. Ia sudah mulai didandani [dipacak, dihiasi?]. Berdandan menurut selera siapakah? Seorah-olah didandani menurut selera Hang Tuah dan Hang Debat: Berdandankan ‘berlian, ratna, manikam’. Mulai masa kejayaan Bung Karno Jakarta dihias, sebab dibandingkan dengan ibukota negara tetangga saja, tidak begitu jelas kalau dilihat dari jauh. Apa ia ‘Sri Gunung’ [kelihatan indah ketika dilihat dari jauh], atau ‘Sri Pantai’. Menurut orang-orang tertentu warna wajahnya yang sowo matang lebih baik didiganti dengan kuning langsat. Lebih modern dan lebih bertingkat internasional, jika biberi tahi lalat di tempat pilihan tertentu. Memang Jakarta sudah mempunyai tahi lalat buatan yang beraneka bentuk dan mahal. Saya masih ingat berita-berita di surat kabar, ketika Kebayoran Baru akan dibangun. Diberitakan, bahwa perkampungan baru itu nanti tidak akan kalah dengan perkampungan demikian di liar negeri.

 

Sempat saya dolan-dolan di Kebayoran di belakang bruderan di Jalan Pela. Saya masuk ke lorong pertama anak Jalan Pela, masih beraspal. Anak lorong kedua tidak beraspal, hanya bekasnya tinggal. Anak lorong kedua tadi tidak jelas permukaan jalannya apa. Cucu lorong lebih jujur mengaku: permukaannya dari pecahan bekas gedung. Rumah-rumah sebelah-menyebelah jalan aspal, yang asli cukup lumayan bangunannya. Kiranya menurut rencana semula. Antara rumah-rumah asli ini ada bangunan sisipan, yang hanya cukup dibangun dinding depan dan dinding belakangnya. Dinding-dinding samping pinjam dari tetangga tertekat. Di atas rumah-rumah tadi masih diciptakan dengan penuh kreasi bangunan lagi, yang kelihatan juga dihuni oleh manusia. Hanya pintu masuknya tidak jelas tempatnya. Dan untuk menunjukkan, bahwa kampung itu memang padat, maka anak-anak segala umur, mulai dari yang sudah lepas dari selendang, menurut perkataan pilihan Br. Linus ’krioelen’ atau kalau lebih asli ‘pating sliwer’ [lalu-lalang?]  Cucu lorong terakhir berhenti di sela rawa yang belum diatur. Mungkin calon jalan, sebab di seberangnya nampak tiang milik PLN.

 

Bali-Room di Hotel Indonesia kiranya sudah dipandang ketinggalan zaman, sejak Convention-Hall menjadi favorit bagi pembesar-pembesar kita dan tamu-tamunya dari luar negeri. Tetapi memang tidak baik kalau mereka diterima di gubug. Hampir tiap hari KOMPAS menampilkan kekayaan Jakarta itu. Kemiskinannya baru muncul dalam bentuk gambar, kalau ada ‘bangunan-bangunan’ liar yang diratakan demi ‘development’ katanya. Orang-orang di Conventional-Hall tadi ikut difoto, dengan nama-namanya disebut lengkap dengan pangkatnya dan fungsi dinasnya. Seolah-olah untuk membenarkan kehadiran mereka di tempat sebagus itu. Orang-orang yang tempat hidupnya diratakan, kiranya tidak bernama, pokoknya tidak pernah disebut-sebut. Mereka diaku liar. Dan memang sesudah pembersihan itu dilakasanakan, pastilah mereka berkeliaran. Tidak pernah disebut akan pindah ke mana…. Apakah feodalisme di zaman modern ini sudah diaku ketinggalan zaman?

 

Saya lebih senang dengan berita-berita wartawan tetap KOMUNIKASI kita, Condro Kusuma. Kecuali leluconnya, yang tetap mengandung penghargaan terhadap orang-orang yang menjadi ‘beban’ omongannya, tetapi terutama sebab dibelakangnya selalu ada suatu happy end, ialah pemberesan nasibnya.

 

Dengan menyebut nama Condro, maka kita sampai ke gelanggang orang-orang yang bermacam-macam tuna. Mereka menjadi bertuna sebab apa? Asal mereka …: desa. Kalau mereka sekarang di kota masih beratap, paling banter dari daun-daunan pohon hias, atau dari plastik. Hawa yang diisapnya tentu penuh debu dan barang-barang lain dari aspal dan dari selokan cucian mobil. Mengapa desa terpaksa melepaskan mereka? Mereka toh tidak pindah ke kota mencari keindahan untuk dinikamati? Mereka hanyalah ke kota, karena di desa sudah tidak dapat hidup, dalam arti kata yang seasli-aslinya. Ada apa di desa … sampai membiarkan warga-warganya pergi? Toh ada cerita indah dalam buku berilmu tinggi mengenai gotong-royong murni kedesaan. Orang mati kelaparan di desa tidak mungkin. Kalau mati kelaparan, mati bersama. Nyatanya tidak demikian. Kalau begitu kejamkah orang-orang desa? Bukan. Hanya tidak mampulah desa melaksanakan gotong-royong, kalau sudah tidak ada barang untuk digotong. Tingkat hidup desa demikian sudah di bawah taraf kemungkinan hidup.

 

Ceritanya belum selesai, tetapi saya berhenti dulu, bunyinya sudah terlalu mineur. Saya mencari napas dulu di sudut berita Condro.

[KOMUNIKASI, Tahun ke-8, nr 6, Juni 1976, hlm. 8-10]

 

Pertanyaan yang kiranya layak dibicarakan:

1.  Apa saja yang dilihat oleh Br. Aris? Apa fokus utamanya? Bagaimana?

2.  Dengan maksud apa Br. Aris menuliskannya?

3.  Apa yang Saudara lihat dalam masyarakat dewasa ini? Konkretnya?

4.  Dan tanggapan tanggung jawab suara hati nurani Saudara?

 

002 APAKAH INDONESIA SUDAH MAJU? APA KEMAJUAN? [Lanjutan...]

 

Perkenankanlah saya bertanya lagi: Apakah Indonesia Sudah Maju? Apa Kemajuan?

 

Antara Desember 1949 dan Agustus 1950 di Indonesia mendiskusikan: Apakah Indonesia harus berbentuk Serikat atau Kesatuan.

 

Pimpinan diskusi di pusat begitu ketat, sehingga tidak terjadi debat. Maka pada 17 Agustus 1950 RIS [Republik Indonesia Serikat] menjadi RI [Republik Indonesia].

 

Keputusan itu bukan soal politik belaka, bukan pula kemauan keras Bung Karno untuk menciptakan suatu negara Jaya, lanjutan Majapahit, akan tetapi soal hidup-mati Tanah Jawa. Hanya persoalan itu tidak dapat diutarakan secara resmi. Tanah Jawa, betapapun suburnya, tidak dapat mensupply 70 juta penduduknya. Pukulrata areal pertanian per keluarga belum mencapai 1/5 ha. Di tanah Jawa satuan tanah, yang menjadi perhitungan petani kecil adalah 1/12 ha atau ‘kesuk’ namanya. Maklumlah tanah-tanah kering seperti di Kulon Progo dan Gunung Kidul [daerah minus/tandus] dengan areal-areal yang lebih dari 1 ha termasuk perhitungan kasar pula.

 

Mengapa pertanian tidak dipermodernisir? Toh ada Modes [Modernisasi Desa]? Secara teoritis, produksi dapat ditingkatkan dengan 100%. Tetapi praktis petani-petani tidak dapat menginvestir dalam usaha yang begitu minus. Labih-lebih anaknya bertambah terus.

 

Apakah industri, yang muncul di mana-mana tidak dapat membantu? Industri biasanya didirikan dekat jalan-jalan yang beraspal, yang dilewati bus. Maka bagi kita kelihatan seolah-olah ada pertumbuhan hebat. Tetapi jalan-jalan aspal tidak seberapa pula. Lagi dengan industri-industri modern itu berapa usaha-usaha kecil yang terpaksa gulung tikar? Dapat saja satu pabrik baru memberikan manfaat kepada 100 orang. Tetapi akibatnya sejumlah usaha kecil terpaksa bersama-sama menghentikan 200 pekerja. Kemajuankah itu?

 

Industri belum memadai untuk menampung penganggur-penganggur. Industri baru dapat maju, bila mampu mengekspor produk-produknya. Tetapi produk-produk kita belum laku di luar negeri. Itu antara lain disebabkan kesimpang-siuran departemen yang mengurusi sekolah-sekolah. Lulusan-lulusannya tidak terampil untuk menjadi tenaga rendahan. STM tidak menghasilkan tenaga menengah yang dapat melatih tenaga-tenaga rendahan untuk menjadi terampil. Departemen-departemen punya akademi untuk membentuk kader-kadernya. Industri swasta tidak mampu demikian. Maka barisan penganggur muda bertambah terus.

 

Di Malioboro Yogya

Sore hari saya berjumpa dengan wanita di pinggir jalan, di jalur tak resmi pedagang kaki lima dan di warung lesehan [duduk pada lantai]. Ia nampak sebagai calon gelandangan. Ia membeli minuman tak bermutu dan es.

Saya [A] bertanya: “Apa sudah makan?”

Wanita [W]: “Ya, tadi pagi.”

A: “Rumahmu di mana?”

W: “Di pasar, di situ saya juga punya kerja, membersihkan sayur-sayur pedagang-pedagang. Sisa-sisanya bagi saya, apalagi mendapat uang saya sedikit.”

A: “Anak-anakmu di mana?”

W: “Pernah ada dua, satu di Semarang, yang lain pergi dibawa suami saya.”

A: “Rumahmu dahulu bagaimana?”

W: ”Sudah habis dijual. Dahulu menumpang di halaman orang lain, orang yang baik. Suami saya memburuh tani pada orang itu. Tetapi sebagian tanahnya dijual oleh suami saya, untuk bekal anaknya yang sekolah di Yogya, lalu suami saya terpaksa dipecat. Suami saya menjual rumah dan tidak mau dengan saya lagi … ia pergi. Saya? Pergi dengan membawa kuali [belanga], piring dan mangkok … ke Yogya.”

 

Di Muntilan pagi hari

Saya berjumpa dengan wanita tua yang memanggul kayu besar. Kelihatannya bekas tiang rumah.

Saya [A] tanya: “Ibu mau ke mana?”

W: “Ke pasar papan, jual ini [saka]”

A: “Dari mana Bu?”

W: “Dari rumahku; genting, dinding, amben sudah habis, laku; reng dan usuk tidak laku, tinggal ini”.

Sorenya berjumpa lagi dengan dia dekat [Kali] Blongkeng.

A: “Belum laku ya Bu? “

W: “Belum, besuk pagi, hari pasar, mungkin laku. Tapi saya tidur dulu di sana.”

A: “Apa Ibu sudah makan hari ini?”

W: “Belum. Kalau besok pagi, hari pasar kayu ini laku, uangnya saya bawa ke desa untuk jemput anakku, lalu ke Yogya ….”

Saya tidak berani bertanya lagi, sebab YSS terlalu jauh dan uang serupiah pun tidak saya bawa.

 

Dan peristiwa-peristiwa itu memberikan ilustrasi dari persoalan, yang tak teratasi.

 

Keadaan di desa bagaimana? Kalau macam ini dapat terjadi. Ada orang yang maju, mampu beli tanah tetangga, membuat rumah gedung, yang kemudian atau sudah sebelumnya diberi pagar dengan di atasnya gulungan kawat duri dengan pintunya digembok dengan kunci yang termahal. Orang itu sudah tidak membutuhkan hubungan dengan orang-orang desanya. Kalau ia dibenci yang berasal dari iri, ia tidak peduli. Ia sekali-sekali menyumbang ini-itu sebagai ganti gotong royong pada waktu ‘bersih desa’ dan lain-lain kesempatan. Sumbangan itu pasti kembali dari usaha dagangnya di desa itu.

 

Ada orang yang hidupnya memang pantas, cukup. Orang-orang itu masih ada dalam pandangan kita. Tetapi orang-orang yang hidup di bawah taraf kemanusiaan, biasanya tidak nampak bagi kita sebagai bruder. Tidak ada waktu!

 

Bertransmigrasi saja! Tanah subur dan luas! Jalan-jalan aspal ada! Tanah-tanah menunggu kedatangan saudara! Dst. Demikian panggilan yang gaungkan negara untuk bertransmigrasi.

 

Pernah di KOMPAS dimuat berita tentang kematian 60 orang dalam waktu singkat di wilayah Bengkulu. Menurut berita-beritanya tidak ada apa-apa, kecuali bahwa daerah itu memang penuh malaria! Kemudian ada perintah agar peristiwa seperti itu tidak dimuat lagi di surat kabar, kalau-kalau nanti orang-orang takut bertransmigrasi. Lebih kemudian lagi saya berjumpa dengan sekelompok transmigran ± 80 kk. Dalam waktu tiga bulan 60 orang mati, lain dari daerah di atas tadi. Orang-orang masih mondok pada transmigran yang sudah lebih lama di situ. Rumah-rumahnya belum ada. Kata pusat: ‘Uang sudah dikirimkan.’ Jaminan-jaminan makan sangat terlambat, tanah belum diukur! Yang mengurusnya siapa? Pusat sudah melepaskan tanggung jawab, diserahkan kepada daerah. Tetapi uangnya kabur. Kejadian ini tidak pernah dimuat dalam surat kabar.

 

Empat bulan yang lampau seorang alumnus Training Cerntre [TC] diberangkatkan bersama dengan sekelompok 50 kk ke Sumatera Selatan oleh Dinas Transmigrasi Jawa Tengah. Berita dari daerah: segalanya beres, mari datang. Sampai di tempat hanya 16 rumah sudah jadi. Dua bulan yang lampau saya mendapat berita, bahwa rumah-rumah tadi belum pula ada. Belum nampak persiapan apapun untuk membuat rumah bagi 34 kk yang masih mondok dalam rumah-rumah 16 kk yang sudah memperoleh bagian. Bayangkan 3 keluarga dalam satu rumah berukuran 6 X 6 meter.

 

Maka apa arti keputusan Direktorat Transmigrasi Jateng untuk tidak mengirimkan transmigrasi lagi kalau segala persiapan belum beres? Hanya memalukan Direktur yang mau bertindak bijaksana. Gap pertanggungjawaban di mana? Macam ini sudah di luar administrasi negara.

 

 

Pada umumnya transmigrasi-transmigrasi menjadi dublikat desa-desa di Jawa.

 

Ada orang yang berhasil untuk dirinya saking pinternya. Mereka menguasai modal yang sedang beredar. Mereka yang mengusai pasar. Harga barang, mereka yang menentukan. Petani kecil tak dapat lain kecuali menerima apa yang mau dilepaskan oleh pedagang. Orang-orang yang sudah meninggalkan tanah hak miliknya cukup banyak. Mereka memburuh pada orang yang berhasil atau mencari kerja gajian di apa yang dinamakan kota di sana. Mereka yang masih bertahan di tanahnya dalam segala kekurangan, juga ada. Harapannya ialah anak-anaknya yang banyak. Tetapi mereka belum mantap. Pohon kelapa belum ada. Bambu belum. Bibitnya hanya dapat diambil di Lampung. Itu terlalu jauh. Hewan mereka belum ada. Mengapa mereka ini tetap miskin? Ya, sebabnya yang sama dengan penyebab kemiskinan di Jawa. Mereka tak mampu.

 

Apakah kita boleh mendiamkan keadaan begitu? Atau menutup mata seolah-olah kita tidak tahu?

[KOMUNIKASI, Tahun ke-8, nr 7, Juli 1976, hlm. 10-14]

 

Pertanyaan yang kiranya layak dibicarakan:

1.  Apa saja yang dilihat oleh Br. Aris? Apa fokus utamanya? Bagaimana?

2.  Dengan maksud apa Br. Aris menuliskannya?

3.  Apa yang Saudara lihat dalam masyarakat dewasa ini? Konkretnya?

4.  Dan tanggapan tanggung jawab suara hati nurani Saudara?

 

 

003 KERUKUNAN DESA [?]

 

Ada desa rukun, murni, dengan gotong royong yang utuh. Kerukunan adalah sarana kemajuan.

 

Kerukunan tradisional yang juga termasuk Pancasila, berasal dari zaman purba. Kerukunan itu suatu paksaan dari situasi. Desa purba, yang bertahan sampai Aturan Tanam Paksa [ATP], bersifat autarkis, mencukupi diri. Lima desa merupakan kesatuan ekonomis. Dalam satu pekan, tiap dari satu desa bergilir mengadakan pasar. Tiap desa menghasilkan produk kebutuhan tertentu. Hasil pertaniannya tetap, produk industri rumah tangga tetap. Lima tempat pasar itu bersama-sama menawarkan segala kebutuhan lima desa itu. Petani-petani hanya mengenal tiga jenis tanaman. Perubahan dalam sistem ekonomi tertutup itu pasti mengacau penghidupan.

 

Maka tradisi oleh pamong desa dipertahankan, sampai datangnya ATP, yang disusul perkebunan swasta Belanda. Rakyat mulai mengenal tanaman-tanaman baru tetapi dipaksakan. Ekonomi kacau. Desa kemasukan uang. Gubermen [Pemerintahan Belanda] menciptakan suatu sistem ekonomi yang rumit untuk menjaga ketenangan di desa. Perubahan-perubahan dalam tatapikir orang desa ditakuti oleh Gubermen. Maka tradisi dipertahankan, juga dalam cara menanam. Warisan nenek moyang yang menanam menurut 12 musim, berdasarkan kebintangan, tetap berlaku. Ilmu modern menemukan banyak benarnya dalam sistem itu, tetapi petani-petani tidak mengerti sebab apa benar.

 

‘Perkembangan’ desa atau dengan kata yang lebih halus: Pengembangan Desa sejak beberapa tahun hanya boleh dipegang oleh kementerian dalam negeri dengan pamong-pamongnya. Usaha swasta diikuti, sebab usaha-usaha itu mulai dengan pengembangan orang-orangnya [bdk. SDM]. Maka pembangunan resmi [formal] lahir, fisik sifatnya.

 

Pembangunan no. 1: masjid! No. 2: pelebaran jalan. Itulah yang merisaukan hati petani. Dari seorang Kodim, pernah saya dengar, bahwa petani dengan senang hati mengorbankan beberapa meter tanahnya demi kemajuan, katanya. Pernah saya tanya kepada seorang petani di desa Sumber [Dukun, Magelang], yang sedang menggali 1,5 m di pinggir tanahnya demi pelebaran jalan. Katanya: “Guna apa pelebaran itu? Situ ada jembatan yang lebarnya 4 m. Dan 5 km ke selatan ada gapura besi, bergigi besar, yang menghalangi kendaraan kendaraan besar masuk ke desa. Saya kehilangan 15 pohon kelapa, yang untuk menyekolahkan anak saya.”

 

Pembangunan no. 3: Bimas [Bimbingan Masyarakat], KUUD [Koperasi Usaha Unit Desa], BUD [Badan Unit Desa] dan adik-adiknya lagi, yang sering dirasa sebagai paksaan berutang dan memaksakan jenis tanaman. Pernah terjadi: sebuah desa berladang sekian ha, diperhitungkan sebagai sawah, yang harus menghasilkan sekian beras menurut target yang ditentukan. Petani-petani itu menanam kubis, kacang tanah, lombok, tembakau. Terpaksalah mereka membeli beras di kota untuk dijual kepada pengurus KUUD desanya. Ganjil tetapi nyata. Huller [penggilingan] beras, ‘Sumber Maju’, katanya yang empunya. Tetapi ibu-ibu desa mengeluh kehilangan pekerjaan menumbuk padi, sebagai tambahan nafkah!

 

Segala kemajuan ini tidak menyentuh orang-orang, tidak membangkitkan gairah kerja petani-petani kacil, maka tidak mengubah hidup desa yang statis ke hidup dinamis. Malah sering-sering mengurangi kepercayaan orang-orang desa pada pamongnya.

 

Siaran-siaran desa yang dilaksanakan oleh kementerian pertanian memang baik dan praktis, tetapi semua itu ditujukan kepada perbaikan produksi. Kelemahan orang-orang desa untuk memasarkan produksi itu tidak dihiraukan dalam siaran itu, sehingga yang maju hanyalah tengkulak-tengkulak. Pelebaran jalan yang sering disusul dengan perbaikan pagar-pagar di tepi jalan hanyalah membebani rakyat kecil. Di belakang pagar itu tidak berubah apa-apa. Petani-petani makin abstain dalam pembangunan, yang mereka tidak akui sebagai kemajuan.

 

Penyebaran Credit Union [CU] ke daerah juga mengalami kesulitan dari atas [pemerintah]. Padahal CU yang baik mengubah manusianya berpikir, berpikir ke arah kemajuan. [KOMUNIKASI, Tahun ke-8, nr 9, September 1976, hlm. 15-17] xx

 

Pertanyaan yang kiranya layak dibicarakan:

1.  Apa saja yang dilihat oleh Br. Aris? Apa fokus utamanya? Bagaimana?

2.  Dengan maksud apa Br. Aris menuliskannya?

3.  Apa yang Saudara lihat dalam masyarakat dewasa ini? Konkretnya?

4.  Dan tanggapan tanggung jawab suara hati nurani Saudara?

 

004 TRADISI ADALAH KEKUATAN DAN KELEMAHAN DESA

 

Mudah kita menilai sesuatu: “Waduh, kolot benar!” Orang, yang obyeknya dinilai tidak baik, kontan dapat bertanya: “Apa gantinya, Saudara?” Penilai tadi pasti bungkam. Tradisi umumnya dinilai kolot, ketinggalan zaman. Tetapi tradisi membuat kita seperti kita ada sekarang. Tanpa tradisi identitas kita lenyap. Sengketa sekitar tradisi memecah-belah kita, sebab sangatlah sensitif. Hati-hatilah dengan tradisi!

 

Dalam kami memberikan rentetan gambaran mengenai pedesaan, tradisi pastilah harus mendapat sorotan. Tetapi segera muncul suatu kontradiksi: Tradisi adalah Kekuatan dan Kelemahan Desa

 

Tradisi adalah ‘harta benda’ yang dikembangkan selama berabad-abad, maka pastilah bernilai tinggi, dan berlingkup luas.

 

Tradisi di desa mengatur hidup. Ingatlah saja akan  deret ‘slametan’ atau ‘kendhuren’ yang mengiringi peristiwa-peristiwa hidup [di Jawa sekitar Gunung Merbabu dan Merapi]. Mulai dari bayi dalam kandungan tujuh bulan, ‘mitoni’, lalu  ‘babaran’ [kelahiran], tentulah disusul dengan ‘sepasaran’, 5 hari sesudahnya, yang kemudian disusul lagi dengan ‘selapanan’, hari ke-35 sesudahnya. Deret selamatan itu religius, melindungi bayi yang lemah itu terhadap ancaman dari pihak roh-roh jahat.

 

Deret berikut mengiringi peristiwa-peristiwa pendewasaan resmi: ‘sunatan’, ‘tukar cincin’, dan tak ada halangan dari para kerabat, maka perkawinan diresmikan dengan ‘kepanggihan’. Beres!

 

Hidup ditutup dengan ‘layatan’. Dan orang baru mantap, bila arwah tadi dilayani dengan doa-doa selama tiga tahun [Jawa]. Pada saat itu ‘nyewu’ [HARI KE-1000] menutup cyclus itu.

 

Kecuali selamatan-selamatan itu berfungsi religius, arti sosialnya besar pula. Selamatan-selamatan itu memberikan rasa aman terhadap kekuatan-kekuatan di luar alam, yang harus didamaikan dengan manusia, tetapi juga memberikan kesan keamanan, ketenteraman di tengah ‘umat’ yang bersatu dalam selamatan-selamatan. Manusia yang menjadi obyek selamatan-selamatan itu, tetapi juga para kerabatnya, mendapatkan dukungan materiel dan morel dari umat.

 

Kepercayaan akan roh-roh yang baik dan yang membahayakan masih berpengaruh dalam kalangan luas. Pernah ada seri surat-menyurat di ‘Majalah Praba’, yang diasuh oleh Romo Reynders [Kalasangka] SJ. Dalam waktu singkat menjadi debat hangat dan berlarut-larut, sehingga akhirnya redaksi menutupnya saja. Kami menyebut saja: Dua jenis ‘memedi’: ‘gendruwo’ dan ‘wewe’, yang sungguh-sungguh dapat ‘medeni’ [menakutkan] bukan anak kecil saja. Lagi ‘lelembut-lelembut’ yang begitu halus, sehingga tidak dapat ditangkap oleh manusia. Akibat-akibat dari lelembut-lelembut itu tak dapat dihilangkan oleh ilmu kedokteran. Terlalu kasar ilmu itu. Hanyalah dukun asli berdaya untuk menolong. Para ‘thuyul’ dan ‘menthek’, penghuni sawah janganlah dibuat marah dengan misalnya menggali batu besar dari sawah, namun sangat mengganggu pekerjaan di sawah. Apalagi ‘dhemit’ penghuni tempat keramat. Janganlah membabi buta ditempat itu dengan moderenisasi desa. Menebang pohon tertentu, hati-hatilah, sedikit demi sedikit, agar penghuninya jangan sampai kaget atau merasa dianggap remeh.

 

Tradisi juga berfungsi di dunia kerja di sawah, ladang, tegalan. Perhitungan windu dengan deret 8 tahun, yang bernama sendiri-sendiri: Alip, Ehe, Ye, Dal, Be, Wawu, Jemawal, dan Jemakir, masih berpengaruh. Misalnya petani cengkeh dan buah-buahan menganggap tiap 4 atau 8 tahun panen besar. Anggapan petani pula, bahwa tiap 4 atau 8 tahun ada musim kemarau yang ngeri.

 

Tata pertanaman petani desa di’tata’ oleh suatu deret musim atau ‘mangsa’ yang namanya ‘pranata mangsa’. Pembagian itu ada hubungan dengan ‘zodiak’, maka memperhitungkan ‘tahun matahari’ dan bukan berdasar ‘tahun Islam’. Memang petani-petani memperhitungkan musim-musim itu untuk mengatur kerjanya dengan ‘aman’, untuk menghindari risiko-risiko. Ahli-ahli pertanian dari FAO menemukan kebenaran dalam tata-tanam itu. Tetapi para petani tidak pernah perlu memikirkan benar/tidaknya itu. Mereka yakin itu baik. Tradisi itu sudah berjalan berabad-abad dan ternyata mempertahankan kesuburan tanah dan manusia. Membajak tanah sawahnya harus 4 kali, meskipun 2 kali cukup. Mungkin dahulu dengan alat yang ‘sederhana’ dan murah, maka perlulah 4 kali. Sekarang dengan bajak bermata besi cukuplah 2 kali. Tetapi petani tidak merasa mantap, maka 4 kali dipertahankan. Dalam proses kerja, faktor waktu belum dihitung.

 

Tetapi zaman berubah: Radio, TV membuka desa, mau tidak mau! Tiap orang tertarik dengan kemajuan fisik itu, yang belum menuntut aktivitas orang, malah sering memalaskan – enak saja! Orang-orang tua mempertahankan tradisi sebagai jaminan terhadap risiko, maka tradisi harus diteruskan kepada anak-cucunya secara murni. Tradisi suci adalah suci. Anak muda belum mengalami akibat-akibat risiko dalam kehidupannya yang terlalu getir, maka mereka berani berubah, katanya. Tetapi tradisi tetap menguasai mereka, hidup dan pikirannya, tanpa menyadarinya.

 

Dengan berpakaian ciptaan mencari duwit, dengan ber-Honda atau ber-Yamaha dan bertransistor mereka pun belum berubah menjadi modern. Itulah sakit mengubah diri.

Apa sebabnya?

 

Orang muda yang sudah sadar bahwa dalam tradisi ada hambatan-hambatan, mereka harus memandang tradisi dengan kritis. Tetapi mereka dari kecil belum dibiasakan berpikir. Hanyalah perasaan yang menjadi alasan untuk berbuat sesuatu. Anak kecil umur 3-4 tahun menurut nalurinya mulai bertanya: “Apa itu, mengapa, kapan, berapa, siapa, bagaimana?” Tetapi anak kiranya tidak mendapat jawaban yang lain daripada: “Wis lumrah. Meneng bae!” [Sudah biasa. Diam!]. Di sekolah mereka juga tidak diberi kesempatan berpikir. Atau guru sendiri tidak dapat berpikir secara ‘causal’, atau ia tidak tahu cara-cara untuk memberikan kesempatan berpikir kepada muridnya. Bahan pelajaran, tuntutan ujian begitu banyak, sehingga waktu habis dengan mencatat, sehingga pendalaman bahan tidak mungkin. Sebab/akibat tidak dapat dibedakan. Tidak sampai berpikir logis, paling banter secara analog. Maka berpikir sebagai sarana yang perlu untuk dapat menilai: tradisi mana yang baik, tradisi mana yang sudah tidak sesuai untuk masa sekarang, tidak disiapkan. Maka anak muda pula yang dikelilingi oleh alat modern, yang dapat dipakainya pula, tetapi jiwa sesungguhnya tidak sampai terkena moderinisasi. Mereka sendiri tetap, seperti tradisi menentukan mereka adanya.

 

Jelaslah, bahwa desa belum modern, tradisi memberikan rasa aman. Karena tradisi maka individu-individu mendapat tempat dalam kehidupan bersama, yang komunal, bergotong-royong, sambatan, layatan… ‘Koperasi… belum tradisi!’

 

Makin peristiwa-peristiwa hidup di desa dipengaruhi oleh unsur-unsur modernisasi, biarpun fisik saja, makin tradisi tidak mampu lagi. Ganti tradisi belum ada. Sebab orang belum berpikir sadar, maka orang makin merasa diperalat, dan tidak puas serta bingung. Menghadapi kota sebagai pusat dagang, sebagai pasar bagi hasil keringatnya tidak mampu mereka. Bukan saja karena dunia berubah, karena zaman berganti, tetapi terutama karena situasi di Tanah Jawa, terpaksalah kita untuk berubah. Realitas di Tanah Jawa ialah kelebihan penduduk, kekurangan tanah, maka kekurangan makanan, alias kelaparan, itulah memaksa untuk mengubah secara radikal tata pertanaman. Ada dua alternatif: diktatur keras hal penanaman bahan makan, atau perencanaan penyadaran manusia-petani dalam hal tata bertanam serta berpasar. Tetapi payahnya: mengubah tradisi itu tidak dapat kalau orang-orangnya sendiri tidak dapat diubah, karena memang tidak mau diubah. Orang yang mengubah diri merasa menyakiti diri. Itulah ditakuti. Pandangan hidup tradisional, sikap komunal, sikap konsumtif harus ikut diubah. Sarananya? Daya pikir rasional!!! Caranya? Community Development, lewat perorangan/pribadi pula.

 

Cara pelaksanaannya??? Pelaksanaannya??? Anak-anak muda, yang diharapkan lebih mudah melepaskan tradisi, yang cukup berinteligensi untuk dapat menilai kembali tradisi!

[KOMUNIKASI, Tahun ke-8, nr 11, Nopember 1976, hlm. 3-7]

 

Pertanyaan yang kiranya layak dibicarakan:

1.  Apa saja yang dilihat oleh Br. Aris? Apa fokus utamanya? Bagaimana?

2.  Dengan maksud apa Br. Aris menuliskannya?

3.  Apa yang Saudara lihat dalam masyarakat dewasa ini? Konkretnya?

4.  Dan tanggapan tanggung jawab suara hati nurani Saudara?

 

 

Br. Aristides

Mulai di Sumatera

 

 

01 BERTEMU SEMAR DI ALAS SUMATERA SELATAN

 

Br. Assis dan Br. Aris akan menemui Semar di Sumatera Selatan. Mungkin ada bruder yang heran, bahwa Semar yang sebetulnya orang Jawa yang seasli-aslinya berada di luar Jawa. Benar! Semar sudah terkena transmigrasi, mungkin tergusur oleh manusia dari rumahnya, mungkin tergusur oleh tanahnya, pokoknya ia tidak ada di luar Jawa, karena kemakmuran sudah merata.

 

Dan sampai di Sumatera Semar belum kerasan. “Isih mikir omah” katanya, namun dua putranya dibawanya serta. Petruk mencoba mengimbangi kekeringan hari Gareng, tetapi lebih-lebih mencoba menghibur ayahnya, tetapi Semar tetap susah. Buktinya? Baru saja kami menerima – lantaran Br. Yulianus dan Tarsis – sebuah portret yang up to date. Menggambarkan Semar seutuhnya dan yang bisa menggelengkan kepalanya. Wajahnya benar-benar nampak susah.

 

Kongregasi FIC tergugah hati terhadap orang-orang kecil yang dalam kesusahan, maka dua bruder tadi mau disumbangkan untuk mencoba menghibur Semar di situ. Sehubungan kedatangan dua bruder itu Semar sudah timbul harapannya lagi. Ia lebih agi ditolong oleh Pastor Abdi, Delsos [Delegatus Sosial] Palembang untuk mendapat status badan hukum. Romo Abdi sudah lama mengenal daerah itu dengan segala kesulitan hidupnya. Ia berjumpa dengan Semar, merasa kasihan dan mau memberi kembali kepada Semar rasa harga diri. Belum pernah dalam pengasingan di dunia ini, Semar diperlakukan demikian baik dengan mendapat badan hukum. Semar mau menjadi badan resmi. Kalau tidak demikian pastilah Semar akan dilemparkan ke sana, sini, situ seperti yang lazim pada orang kecil, yang masih bersifat ‘nrimo’!

Nama resminya sejak itu: Yayasan Pansos ‘Bodronoyo’ resmi dan sah. Walaupun Semar sebagai orang desa tidak suka kota, tetapi ketika ia mendengar bahwa Palembang pernah Ibukota Sriwijaya, ia merasa mantap. Sudah berabad-abad Semar melayani raja-raja. Namun raja Sriwijaya telah bergelar almarhum, bagi Semar bukan soal. Untuk meninggikan gengsinya di mata pejabat-pejabat bekas kerajaan itu, maka diberikan alamat di Jln. Kolonel Atmo no. 52.

 

Mungkin para bruder mengenal satu sifat Semar, ialah bahwa ia berani juga dengan raja-raja. Dahulu ia sering-sering demikian, mengapa sekarang tidak lagi? Sifat itu kiranya abadi pada dia. Bila berguna kiranya…!

 

Orang ‘kosong’ akan menjadi bangga, kalau mereka mendapat rumah yang baik, apalahi di kota besar, dengan badan hukum yang baik, biarpun tidak ber-uang. Semar tidak demikian. Batinnya masih menderita. Ia baru akan bisa mesem [senyum], kalau rakyatnya, sebangsa dia, yang miskin dan tersebar di tengah-tengah padang alang-alang dan belukar keras, di tengah rawa-rawa dan di bukit-bukit lumpur, tanpa jalan, jembatan, irigasi atau sumur dekat gubugnya, telah menjadi sejahtera.

 

Semar sudah tahu dari kertas-kertas banyak, yang penuh rencana-rencana bagus yang disimpan di kantor-kantor sampai di departemen pusat [Jakarta] mengenai ‘Transmigrasi Pola Baru’, atau ‘Transmigrasi Sebagai Faktor Positip Dalam Strategi Pembangunan Nasional’. Tetapi Semar juga tahu, bahwa pelaksana-pelaksana yang sudah mengetahui bahwa pembangunan yang sesungguhnya adalah yang memberikan kepada manusia-manusia rasa percaya kepada kemampuan dirinya serta harga diri, bahwa pelaksana-pelaksana seperti itu di lapangan jarang terdapat. Di sana-sini ada seseorang, tetapi mereka tidak bisa gerak, sebab pegawai menjadi onderdil sistem administrasi yang kaku dan k…. Semar tak berani menyebut kata itu, nanti amaranya tak tertahan. Kami sudah berjumpa dengan seorang macam itu di kantor wilayah Baturaja, tetapi ia bekas Sanata Dharma!

 

Maka Semar sebagai orang yang bebas, merdeka, yang tahu akan hak-hak asasi manusia, mau mulai bertindak secara swasta saja, semoga dengan bantuan, paling tidak dengan izin instansi-instansi. Konkretnya bagaimana?

 

Dekat Baturaja, 18 km ke selatan ada proyek Bina Tani, yang pada 1969 dimulai oleh Rama Abdi dengan cara pramuka berkemah. Pastor-pastor di wilayah-wilayah bencana alam Jawa Tengah mengirimkan transmigran dengan status pindah tempat, luar urusan departemen trans. Biaya entah dari mana. Pokoknya kk itu mendapat rumah cukup baik, kuat, 2 ha tanah dekat rumahnya, sambil mereka dibina agar secepat mungkin bisa hidup dari usaha tangannya sendiri. Dalam tiga-empat gelombang terjadilah sebuah desa 80 kk. Namanya Tegal Arum, namun tanahnya jelek, padat, liat. Tetapi sering-sering didatangi instansi-instansi, yang mengaku: “Pemerintah tidak bisa demikian.” Alasan tidak disebut. Bina Tani dan Tegal Arum berdampingan, bertetangga. Staf yang masih ada di Bina Tani dan staf TC yang berumur tiga tahun, tahun-tahun terakhir berstatus non-aktif, tetaoi digaji terus oleh AMA dari Nederland dalam mana FIC ikut – dua staf itu akan menjadi staf-gabungan ‘Training Centre Transmigrasi Perintis’.

 

Kerja staf gabungan itu nanti apa? Secara singkat, menyeluruh, yang berikut:

1.  Pembunaan langsung bagi transmigran-transmigran yang mulai masuk ke proyek pemerintah sebanyak 50.000 kk dalam waktu 10 tahun. Angkatan pertama menurut KOMPAS, akhir Januari 1977. Pryek pemerintah ini mengelilingi TC dari tiga belah. Terjepitkah TC? Tidak. Malah bisa menjadi pusat pengembangan yang strategis.

2.  Pembinaan pemuda-pemuda trans dari proyek itu di TC selama ½ tahun untuk menjadi petani yang mampu maju serta mampu pula mengembangkan masyarakat sejajar mereka sendiri, tanpa minta upah.

3.  Pembinaan trainee’s tadi dalam ‘kerja nyata’ di tengah masyarakatnya sendiri selama 1 tahun, atas dasar-dasar Community Development. Sesudah 1 tahun, mereka yang cukup berhasil, ditarik ke TC lagi untuk 2 bulan sekedar evaluasi dan koordinasi serta upgrading-upgrading yang dianggap perlu dalam hal teknisnya pertanian dan pengembangan masyarakat menurut rencana TC. Dalam pada itu pasti dijalinlah kerja sama dengan Dinas Transmigrasi Baturaja. Kepalanya sudah menanggapi rencana kami sangat baik.

4.  Pembentukan masyarakat sebagai tujuan jangka jauh lewat Usaha-Usaha Bersama – Pra Koperasi – ke Koperasi yang benar. Semoga tidak kecepatan [didahului] BUUD, KUD atau apa namanya mau dimasukkan oleh pemerintah. Tidak sedikitCredit Union yang telah dimatikan oleh raksasa-raksasa itu. Kalau ‘Pola Sitiung’ sungguh jadi dilaksanakan, maka TC akan bisa mendapat angin baik, asal instansi-instansi dapat menerima kehormatan bagi berhasilnya usaha-usaha TC di lapangan.

 

Tanpa KOPERASI yang benar-benar koperasi, ialah yang tumbuh dari keyakinan peserta, jadi dari bawah, tak mungkinlah terjalin sautu kerja sama antara kk yang dari bermacam-macam desa. TANPA koperasi demikian yang sungguh-sungguh diberi waktu untuk tumbuh dari bawah, dan tidak kecepatan mau diambil alih oleh BUUD dkk., maka mereka menjadi kuat, sadar akan kemampuannya sendiri bersama dengan pasti disertai rasa kebanggaan dan harga diri. Kalau begitu, Semar akan mulai mesem.

 

Uraian ini belum berdetai-detail. Dalam karangan-karangan berikut dalam KOMUNIKASI mengenai kehidupan desa akan diberikan detail-detail yang bersangkutan dengan materi apa yang diuraikan.

 

Untuk apa dua bruder FIC menangani Proyek Kaderisasi ini? Kiranya lebih baik pertanyaan itu dijawab dalam KOMUNIKASI Pebruari, agar Semar jangan timbul amarahnya, karena ia tidak suka dengan tulisan yang panjang, lagi serius. Katanya: ”Tuliasan-tulisan macam itu sudah ketinggalan zaman.” “Apalagi,” kata Semar, “dalam zaman modern ini waktu adalah faktor ekonomis. Janganlah waktu dihamburkan dengan omong-omong saja. Lebih baik kerja, seperti Br. Assis, yang sedang mengejar waktu dengan membuat rumah untuk staf TC.” Demikianlah pendapat Semar.

 

Atas nama Semar alias Bodronoyo, saya sampaikan terima kasih atas perhatian para pembaca.

 

P.S. Kali berikut bulan Pebruari: Wawancara dengan Semar. [KOMUNIKASI, Tahun ke-9, nr 1, Januari 1977, hlm. 29-33]

 

 

Pertanyaan yang kiranya layak dibicarakan:

1.  Apa saja yang dilihat oleh Br. Aris? Apa fokus utamanya? Bagaimana?

2.  Dengan maksud apa Br. Aris menuliskannya?

3.  Apa yang Anda lihat dalam masyarakat dewasa ini? Konkretnya?

 

 

02 KUTIPAN SURAT BR. ASSISIUS DARI BATURAJA

 

Para bruder yth.

 

Atas doa restu para bruder, saya sudah sampai di RUMAH Yusup Baturaja. Tanggal 20 Desember 1976 jam 16.00 saya meninggalkan Semarang dan sampai di Jakarta jam 3.00 pagi. Kami terus diantar ke terminal DAMRI, dan kira-kira jam 06.00 kami diberangkatkan ke Merak. Sampai Merak terus masuk ferry jam 9.00. ferry segera berangkat ke Panjang. Di kapal saya duduk di geladak sambil mengawasi barang-barang dan melihat-lihat pemandangan yang begitu indah.

 

Jam 13.30 siang itu, saya sudah sampai di Panjang dan langsung menuju stasiun kereta api. Tanya punya tanya, orang bilang bahwa kereta api jurusan Baturaja akan berangkan jam 19.00. terpaksalah saya tunggu di stasiun, dengan mata ngantuk sekali dan perut lapar berjaga-jaga atas barang-barang pembawaan saya. Memang berat juga mengadakan perjalanan seorang diri dengan 3 tas besar dan berat. Saya tidak berani jajan meninggalkan barang-barang. Untunglah pada jam 17.00 kantor DKA dibuka sehingga saya dapat menitipkan barang-barang, lalu ke warung membeli makan untuk siang dan malam.

 

Pada jam 19.00 para penumpang sudah tidak sabar lagi menunggu datangnya kereta api, namun yang ditunggu-tunggu tidak kunjung datang. Baru jam 20.30 malam, kereta api muncul dan setengah jam kemudian berangkatlah. Malam itu di kereta api saya tidak dapat tidur sebab macam-macam perasaan memenuhi hati saya: jam berapakan kereta api akan sampai di Baturaja? Lalu di manakah Rumah Yusup saya tuju itu? Untunglah semuanya dapat lancar dan saya sampai di Baturaja dengan selamat.

 

…[Berita selanjutnya]

 

Sudah dua bulan saya di Baturaja dan hampir setiap hari kehujanan. Maklumlah kini hujan terus menerus di Sumatera. Tiap hari saya ke Proyek yang letaknya kira-kira 18 km dari Baturaja. Di sana sedang dibangun rumah sederhana untuk staf TC Transmigrasi. Semula direncanakan rumah selesai pada bulan Pebruari, tetapi karena kesukaran-kesukaran pengangkutan bahan-bahan bangunan, maka mungkin akhir Maret baru dapat selesai. Kalau rumah sudah siap, maka Br. Aristides, saya dan Bapak Auparja serta seorang lagi akan mendiami rumah tersebut.

 

Br. Assis [KOMUNIKASI, Tahun ke-9, nr 1, Januari 1977, hlm. 25-26]

 

 

 

 

03 SEMAR MULAI MENGENAL FIC

 

 

AA =  Assis dan Aris;  SM = Semar

 

Di kereta api ‘Senja’ antara Brebes dan Cirebon, jam 00.00 WIB, tanggal 0 Maret 1977. Ada orang pendek, njembluk di depan, sugih ing buri, berlangkah-langkah agak ber-‘langat-langak’ [memandang ke atas], seperti raja purba atau pun seperti jendral luar negeri zaman atom.

 

A kepada A: Nampaknya Semar.

A kembali kepada A: Tanya saja, aku ngantuk!

A : Maaf, Pak, tetapi Bapak mirip Semar.

Sm: Benar, aku Semar.

A : Kebetulah sekali kita berjumpa.

Sm: Ya? Ada apa? Dengan nada sepeti merasa terganggu dalam ngantuknya.

AA: Kami berdua, bersama lima orang situ dengan istrinya dua orang ini dan anak satu itu, mau ke Baturaja.

Sm: Saya pula. Di Jawa Tengah saya berumah banyak, hampir semuanya. Tetapi baru saja saya bertekat bertransmigrasi ke Sumatera Selatan, ke Ibukotanya. Saya dengar ada bluder mau ke situ pula, kata orang untuk menemani saya. Apa saudara-saudara dua bluder itu?

AA: Ya Pak Semar! Tetapi maaf, kami bruder, bukan bluder.

Sm: Nah itu apa, bruder? Bagi saya kata asing, saya tak senang impor; sumber korupsi! Pastor, saya tahu artinya. Sama dengan Rama. Misalnya Rama Abdi, teman seperjuangan saya, sehingga saya atas usaha dia telah ber-‘badan’ yang diakui oleh Negara Republik Indonesia. Badan saya itu oleh Rama dinamakan ‘badan hukum’. Janganlah saudara-saudara salah tangkap, saya bukan orang hukuman atau buangan ke wilayah trans, tetapi supaya saya punya hak. Nama badan hukum itu tentu nama saya sendiri: Bodronoyo.

AA: Terima kas Pak Semar, selamat berkenalan, kami ini dua bruder FIC.

Sm: Tak usah Pak, Pak. Itulah gelar feodal, sudah tak senang saya dengan feodal. Sudah banyak aku menderita atas nama atau di bawah nama feodal. Tetapi nama dua bruder siapa?

AA: Teriama kasih Semar….

Sm: Tak perlu tiap kali terima kasih. Waktu bagi saya berharga. Waktu adalah faktor ekonomis dalam masa pembangunan fisik maupun mental ini. Saya mau berbuat, bekerja!

AA: Apa Semar bisa macul [mencangkul]? Pertanian toh mendapat prioritas dalam Pelita II ini?

Sm: Rakyat saya banyak yang bisa macul, hanyalah repotnya, tidak punya tempat macul. Saya sendiri sudah terlalu tua, gendut, mungkin HO, lagi saya sudah menjadi orang Ibukota. Tetapi saudara-saudara belum menjawab pertanyaan saya. Seperti ada rahasianya.

AA: Bruder berarti saudara …

Sm: Mengapa tidak mengaku saudara saja? Terus terang aja dhong!

AA: Maaf Semar. Dari tradisi, yang pantas dihormati, kami bernama bruder dan berarti: mau bersaudara dengan manusia-manusia lain.

Sm: Nah baik, bolehlah, kalau arti begitu muluk, asal nyata nanti. Tetapi nama masing-masing siapa? Yang biasa warna kulitnya dan yang putih.

AA: Assis dan Aris.

Sm: Nama Aris saya kenal. Saya berkawan di Ibukota yang bernama Arismunandar. Dan Assis?

AA: Nama-nama itu untuk saling membedakan bruder yang satu dengan bruder yang lain, sebab mereka sudah banyak.

Sm: Ya, ngerti aku, tetapi arti?

AA: Assis berasal dari nama orang Italia yang baik, yang seumur Semar sendiri. Orang itu mau menolong orang-orang kecil, miskin dan yang diperas. Ia semacam gelandangan. Orang itu bermorel tinggi, selalu berbuat baik, riang gembira, namun ia kepanasan, kehujanan atau apa. Ia mau persis seperti Gusti Yesus, yang juga tidak berumah atau beramben, apalagi kasur segala.

Sm: Jadi Assis dulu itu, semacam orang Kristen Sekarang?

AA: Ya, betul.

Sm: Senang aku, kaya Petruk, putraku. Dia juga ringan tangan, cepat kaki, optimis di hati dan mulut. Dan Aris?

AA: Itulah nama orang Yunani, suci pula, selengkapnya Aristides, tetapi untuk Jawa Tengah lebih cocok Aris saja. Nampaknya lebih asli.

Sm: Nampaknya itu ngapusi, tidak jujur. Apalagi warna kulit saudara putih, tidak asli.

AA: Jangan buat marah kami, Semar. Semar sendiri sering putih warna kulit.

Sm: Maaf saudara, sering-sering hitam pula.

AA: Seperti bunglon, tidak konsekuen.

Sm: Guna menyesuaikan dengan suasana hati saya. Kalau saya marah, saya berterus terang, tidak menyembunyikan marah saya, terus saya ubah warna kulit saya.

AA: Kuncung Semar selalu putih.

Sm: Barang mati, gondrongmu juga memutih, kelabu.

AA: Semar hitam atau putih, tetap Semar. Maka warna tak perlu dijadikan persoalan, coklat atau sawo matang, padha bae. Yang pokok, apa yang ada di belakang kulit, manusianya. Yang penting manusia Indonesia yang menjunjung tinggi kemauniaan dan keadilan sosial. Terutama wong-wong cilik seperti kita, yang harus memperhatikannya, wong gedhe sudah diakui sebagai manusia.

Sm: Nah, baiklah, asal saudara-saudara berbuat seperti manusia, tidak hanya mengaku di mulut, tetapi setiakawan sungguh.

AA: Adapun maksud kami berdua berbuat baik. Kami akan bertempat tinggal bersama rakyat Semar, yang kecil-kecil di alas gung liwang-liwung.

Sm: Tempat tinggal saudara-saudara toh di rumah orang? Saya berumah gedung, sebab saya berbadan hukum. Kalau begitu instansi-instansi lebih menghiraukan saya. Kalau ada urusan dengan mereka, maka saya tidak dilempar seenaknya kian-kemari. Mungkin itu berbau duit. Mungkin saya dianggap VIP. Anggapan itu akan saya dukung demi kepentingan rakyatku.

AA: Kami berumah, Semar, bukan gelandangan, tak usah kuatir. Dan rumah kami masih lebih baik daripada rakyat Semar di perkampungan gubg-gubug transmigran, berukuran 4 X 6 m. Kami menang dengan 7 X 9 m.

Sm: Menang apa?? Jadi saudara-saudara bukan anak-anak Servaas.

AA: Lho, kenal Sevaas?

Sm: Tentulan kalau sering pergi-pergi, dengan sendirinya berjumpa dengan dia. Jadi, kalau saya mengerti dengan tepat, saudara-saudara mau solider dengan rakyat saya?

AA: Sejauh kami mampu. Inggih sendika!

A kepada A: Tidak perlu kata-kata halus dengan Semar. Ia sekarang juga manusia biasa saja.

Sm: Ana apa kok gerundelan sing siji karo liyane. Sing seru wae, nek bener!

AA: Semar, … masih ada keterangan sedikit lagi, tetapi agak spiritual.

Sm: Boleh saja, apa yang ada di hati boleh dikatakan di Indonesia. Mashuri sendiri berkata kepada saya: Harus ada dialog, dari atas dari bawah, apa lagi kalau sama tingkat.

AA: Tetapi, Semar, agak spiritual.

Sm: Saya tahan denganspiritual, memupuk semangat baik. Ayo berikan saja, tak usah malu.

AA: Kami berdua Katolik. Yang muda-muda situ pula. Yang dkat jendela simpatisan.

Sm: Macam itu toh tak perlu dirahasiakan. Saya juga merasa sedikit sipati dengan Katolik, tetapi saya lebih senang dengan Kristen-Protestan. Tidak karena saya senang dengan protes, tetapi mereka lebih, ya lebih apa? Apa namanya?? Lebih biasa saja, mereka lebih kerakyatan. Katolik lebih resmi-resmian.

AA: Semar jangan mengadu-dombakan agama. Berbau politik. Tak boleh dipolitikkan kata menteri agama.

Sm: Saya hanya mau mengatakan kenyataan, yang saya alami. Tak punya maksud apa-apa. Tetapi, saudara-saudara, saya punya usul. Sedah jauh tengah malam. Hari yang akan datang ini akan panjang. Saya baru sampai ke alamat saya 24 jam lagi, lebih.

AA: Baik Semar, sampai besok, selamat tidur.

Sm: Nanti, kalau saudara-saudara sudah sampai ke alamat saya ingin berjumpa lagi di tempatmu.alamat yang jelas apa?

AA: Di Tegal Arum, tetapi mudahnya ke Rumah Yusup dulu. Dari stasiun kereta api Baturaja pakai becak, dua ratus rutiah. Dari rumah Yusup Semar pasti akan diantar oleh Rama situ.

Sm: Oke, so long! Bulan depan. [KOMUNIKASI, Tahun ke-9, nr 2, Pebruari 1977, hlm. 20-24]

 

Pertanyaan yang kiranya layak dibicarakan:

1.  Bagaimana dinamika/perkembangan percakapan Br. Assis dan Br. Aris dengan Semar?

2.  Apa yang berharga/bernilai dari percakapan itu?

 

 

 

04 SEMAR MENEPATI JANJI

[Tegal Arum, Baturaja, Ogan Komering Ulu, Sumsel, Maret 1977]

 

A dan A berada di depan poliklinik, milik Susteran Baturaja di ‘Bina Tani’. Yang terakhir adalah bekas tempatlatihan bagi rakyat Tegal Arum. Orang-orang itu sekitar tahun 70-an digayang oleh kemurkaan yang maha tinggi Merapai, di lerengnya yang menghadap Muntilan.

 

Suster belu datang, tetapi sudah ditungu-tunggu oleh pasien-pasien Tegal Arum dan terlebih dari Proyek Transmigrsi Umum Pemerintah, yang berdampingan denganTegal Arum. Proyek itu baru-baru saja riuh-ramai dikunjungi mahasiswa-mahasiswa yang melakukan ‘Perkemahan Kerja Nyata’. Peralatannya lengkap. Yang dibawanyauntuk rakyat itu dari pil-pil kesehatan harian sampai benih tanaman dan pacul-mesin. Pokoknya pemuda-pemuda universitas bisa berbuat sesuatu yang baik, sebab tangannya tidak kosong, otaknya berisi, hatinya penuh gairah karena variasi ‘kerja nyata’ itu. Semoga mata mereka terbuka lebar bagi penderitaan rakyat trans itu dan kelak mau kembali dengan hati setia yang jujur. Semoga apa yang mereka saksikan di Proyek Trans itu tidak hanya menjadi bahan diskusi dikampus saja, tetapi menjadi daya gerak muda yang nyata pula untuk meng-gayang’ ketidakmampuan rakyat kecil itu dengan cara tepat. Kesempatan mencari duit dngan gelar tinggi ekslusip adalah godaan kuat juga bagi anak muda yang bercita-cita.

 

Demikianlah renungan AA sambil menantikan suster. Tetapi yang tidak dinantikan, malah datang:

A kepada pasien, mBok Sinem: “Punika Sinten?”

mBok Sinem, “Kados Semar!”

AA menghampiri orang gendut, pendek, berkuncung putih yang mencoba mengarungi jalan becek menuju Bina Tani. Pakaiannya pun masih persis seperti di KA Senja.

A kepad A: “Wong setya mantep, Semar iki!”

Sm: Waduh, … lempe-lempe aku!

 

AA: Kula sami bingah sanget Semar, sugeng rawuh. Wilujeng? Selamat datang!

Sm: Aja kebangeten! Sopan ya boleh, tetapi jangan keterlaluan!

AA: Semar naik apa, datang ke sini?

Sm: Atas kaki saya sendiri.

AA: Lho, tidak lewat Rumah Yusup di Baturaja?

Sm: Apa kowe wong pinter? Saya dari Palembang naik bis, yang seperti wedhus gaya loncat-loncatannya di jalan beraspal. Martapura, … bis berhenti, berhenti untuk kembali ke Palembang. Ke utara tak ada gerobak lagi, mengingat jalan aspal gadungan, yang secara remi dinyatakan ‘rusak parah’. Maka kemarin sore saya naik kaki saja, dari pada menghamburkan waktu dengan bermalam di Martapura.

AA: Jadi Semar semalam berjalan kaki 120 km?

Sm: Ya! … apa anehnya? Saya biasaaaa demikian.

AA: Mangga, pinarak rumiyin, Semar. Ing griya punika.

Sm: Kiranya rumah Bruder?

AA: Ya, untuk kami berdua dengan tiga orang bujang, anggota staf Training Centre.

Sm: Belum sesak, kalau begitu?

AA: Belum, apalagi, untuk tidur toh tidak dapat menempati lebih bayak tempat daripada sebuah petak 2 X ¾ m.

Sm: Ya, benar, … Apa ada minuman? Aku hauuuus!

AA: Maaf Semar, saking kebingahan, kesupen. Semar senang apa?

Sm: Kiranya tak ada pilihan daripada air teh. Pokoknya asal cair, dan banyak! Garing aku!

A mengambil ceret berisi air teh, sisa sarapan, tiga gelas dan sekaligus tempat gula yang masih ada isi dansatu waskom ketela repus putih, prakarya at hoe sendiri. Memang handig [cekatan] A itu.

Sm: Matur nuwun. Saya berhenti omong, kalau boleh. Teringat saya juga lapae.

AA ikut menikmati nyamikan … Tak ada bunyi … kecuali, … di kejauhan kedengaran kendaraan suster, yang menurut bunyi mencoba melintasi jalan masuk proyek dengan selamat. Pandai benar sopir suster!

Sm: Sekarang saya ingin tahu, mengapa saudara-saudara mau pindah ke sini?

AA:  Maaf Semar, rumah kami bukan gedung seperti rumah Semar.

Sm: Apa meri [iri]? Tiap kali ngutik-utik rumahku?

AA: Bukan Semar, dan kami juga tidak mau menghina. Kami mengaku, bahwa Semar butuh rumah sesuai dengan suasana bekas ibukota kerajaan, untuk bisa berpolitik dengan orang-orang gede, guna memperjuangkan nasib rakyat jembel di gubug-gubug trans-umu di sana.

Sm: Apa rumah mereka gubug? Dari jalan nampaknya bungalo Kopeng-kopengan.

AA: Semar, percayalah, gubug? Di KOMPAS bulan lalu ada foto rumah situ dengan komentar pedas. Bulan Maret 1976 sudah dilever. Waktu itu saya memasuki beberapa rumah. Dari luar segar putih, belum kemerahan tanah seperti sekarang. Tapi dari dekat … Pintu tak berkunci, … jendela berengsel di atas, tak perlu berkunci, sebab dengan sendirinya tertutup, kalau papan daun jendela dilepaskan. Rangka… kayu bulat berkulit, reng-reng dan usuk-usuk item, sambungan tiang dengan balok atap tidak berskor di sudut, tentu bengkok.

Sm: Mana bisa? Pemerintah RI tidak berbuat demikian.

AA: Pemborng berbuat begitu. Siasanya masuk saku, … toh tak ada kontrol.

Sm: Hem, hem … hal pemborong akan saya selidiki, tentu di Palembang, kalau omongan saudara benar. Terima aksih. … Jadi saudara-saudara mau solider?

AA: Begitu Semar. Dengan kata-kata spiritual kami menjelaskan.

Sm: Jangan putar-putar terus, saya tahan dengan bahasa tinggi zaman dulu di tempat dewa-dewa.

AA: Pendek kata, kami mau membentuk ‘gereja kaum miskin’ – antara tanda kutip – post-konsili, dan berkarya dengan berpegang teguh pada konstitusi 13. itulah keputusan konsili mengenai kaum awam sebagai rasul modern.

Sm: Konstitusi apa??? Yang tigabelas itu? Saya hanya mengenal konsitusi 45. nomor 13 tidak baik, pasti malang, gagal. Dan kata-kata lain juga tidak masuk akal saya. Katamu: datang di sini untuk menjadikan para trans mau maju. Dan di samping itu mau membuat gereja orang miskin. Kontradiksi saudara! Seperti PKI dulu juga senang kontradiksi. Awas!

AA tinggal diam, tak ada kelanjutan …

Sm: Nah … apa katamu? … Kalau sudah tidak ada, saya punya usul. Lakukan saja apa yang sudah saudara katakan di kereta api. Pakailah kata-kata biasa saja, yang dapat dimengerti orang normal. Dan saya mengingatkan saudara, hati-hati dengan gereja orang miskin antara tanda kutip, agar jangan menimbulkan prasangka akan pengristenan Indonesia. Nanti repot.

AA: Semar, ingat akan dilog Pak Mashuri dari atas ke bawah pp. Dari kanan ke kiri pp juga, dan harap mendengarkan.

Sm: Baiklah, terus.

AA: Dengan kata-kata biasa saja: petani-petani kecil hendak kami solider-kan. Kamu mau mencoba agar mereka di samping kebun singkong yang untuk isi perut, – termasuk perut Semar tadi -, juga mau menanam tanaman keras yang lebih berharga, yang bisa disimpan hasilnya, sambil menunggu harga pasar yang baik. Dalam usaha menanam dan menjual hasil, maka mereka harus solider betul-betul, menjual bersama dengan harga sama, agar harga pasar jangan dirusak oleh orang yang tak sabar, yang ingin lekas punya duit.

Sm: Saya setuju, tetapi apa yang mereka tahan terhadap sindikat-sindikat kota besar yang dari cukong-cukong kuat?

AA: Nah, untuk itulah mereka harus solider dulu.

Sm: Perut mereka isi dulu! Itu nomor satu bagi mereka, tidak peduli barang apa. Cengkeh tidak dapat dimakan, harus tunggu lima, enam tahun. Kelapa sawit sama saja.

AA: Memang sulit Semar. Tetapi solidaritas tetap harus jalan, dengan perut lapar atau penuh. Malah orang-orang berkekurangan sering lebih mudah solider daripada yang serba punya.

Sm: Benar, setuju! … Saudara-saudara, saya akan membantu pada instansi-instansi untuk menciptakan sarana-sarana a’ la ‘pola Sitiung’, kecuai pola diskriminasi mengenai agama di situ. Tetapi itulah bukan kehendak pusat. Urusan daerah. … Sekarang saya mau terus menengok ke gubug-gubug trans situ.

AA: Baik, Semar. Kami antar!

Sm: Tak perlu, saya sudah dewasa. Saya bisa melihat dan mempertimbangkan apa yang perlu ditindak dan saiap yang perlu ditindak. Saudara-saudara boleh tahu, saya bekerja dengan SEE, JUDGE, ACT, metode universal!

AA: Silakan Semar! Terima kasih banyak. Sampai berjumpa.

Sm: Sugeng! [lanjutan edisi lalu KOMUNIKASI, Tahun ke-9, nr 3, Maret 1977, hlm. 29-33]

 

Semar berorientasi  Setelah kunjungan Semar terakhir, kami harapkan ia segera datang kembali dari kunjungan ke pemukiman trans Umum, tetapi ia tak kunjung datang. Ia memang cukup bijak untuk tidak segera memberikan pendapat, tetapi ia cepat mengerti suatu keadaan.

 

Tetapi, tetapnya pada Kamis Putih tiba-tiba ia muncul  dan betitu saja masuk rumah kami lewat pintu belakang. AA tidak menghiraukan wajah Semar dengan dua dua matanya yang bernyala-nyala kemarahan sampai menakuti.

 

Mereka biasa saja menyapa Semar.

 

AA: Sugeng rawuh, Semar, tetapi mengapa sore, hampir malam?

Sm: Jangan heran. Pada Semar segala apa mungkin, juga yang tidak diharapkan. Saya toh bisa bermalam di rumah ini? … cukup besar ketimbang Trans punya. Apa lagi tertarik bau dapur. Dan kalau hidung saya masih betul dan jujur, ada bau daging babi yang sudah siap dinikmati manusia.

AA: Sm:Apa Semar tidak pantang daging abi?

Sm: Kiranya apa? Saya tidak memihak agama ini itu. Bebas saya. Agama saya, kemanusiaan, dan konsekuensinya juga berlaku terhadap diri saya sendiri. Manusia Semar ini boleh makan segala. Manusia tak saya bedakan, binatangpun tidak. Semua dari kebaikan Tuhan adanya. tidak

Pak Cilik: Amin.

AA: Mangga Semar, pinarak rumiyin. Apa kabar?

Sm: Kabar jelek!

AA: Kami sudah merasa ada sesuatu, Semar sudah ganti warna lagi. Toh tidak marah kepada kami?

Sm: Setelah marah atas kamu sekalian dan setengah marah atas keadaan yang saya jumpai di proyek pemerintah. Sebulan saya bersatu dedngan rakyat jembelku yang hanya berbau keringat saja. Tetapi kamu tak kunjung tiba di situ. Solidermu hanya kata saja!

AA: Semar, jangan gegabah menyimpulkan di hati.

Sm: Nah, cukup alasan untuk ambil kesimpulan, bahwa kamu tidak jujur. Katamu lain daripada amalmu! Kamu menghias rumah saja di bawah naungan bau daging babi goreng. Kemarin emper belum ada, sekarang sudah ada dengan 4 tiang kayu empat persegi gergajian dengan beratap seng berkilauan perak. Tergolong mewah di daerah trans ini. Di sana serambi dibuat dengan mengambil sebagian dari rumah. Di sini dengan nenambah rumah.

AA: Semar, kami bukan berstatus transmigran …

Sm: Status-statusmu, masih berjiwa pegawai, belum berjiwa manusia. Katamu dulu, sampaikan menjemu-jemukan pendengaran orang: mau solider. Buktinya mana? Rumah Trans berkayu bulat, berkulit, kalau lurus syukurlah, kebetulan; kalau bengkok, malah untung  untuk pemborong. Sebetulnya kayu bakar yang ditebang dekat situ dengan mematikan mata air kecil-kecil bagi para trans. Kalau kayu itu saya pakai untukkandang, malu aku dengan kerbau saya sendiri. Atap tiris, orang-orang mau pindah tempat tidur tak bisa, sebab amben mereka tertambat pada dinding rumah di sudut, menghemat tika bagi pemborong. Maja, leamri tak ada. Sumru … asal ada lubang berair, entah dari hujan atau apa, dan kalau longsor, soal belakang, kalau pemborong sudah jauh. Memang rumah polos! Tetapi tidak jujur …

AA: Hati-hati Semar, nanti meletus, repot di sini.

Sm: Kalau saya tidak menggerutu macam ini, malah … meletus … biar saja … berkata …

AA: Semar!

Sm: … Ya?

AA: Baru saja kami berjumpa pemborong.

Sm: Yaaa? Mau apa dia? Tidak kau tahan dia?

AA: Kami bukan alat negara. Ia mau mengontrak rumah kosong di Tegal Arum untuk ‘karyawannya’. Katanya mereka lebih senang dekat kerjanya. Tentuk kontrak dibuat lebih murah dan tak perlu biaya angkut tiap hari dua kali. Tentulah untung bagi pelamis itu. Pokoknya menambah dendutnya.

Sm: Ayo, jangan menyindir saya.

AA: Tidak Semar. Gendut Semar tidak berasal dari kemakmuran berlebihan, tentulah pembawaan dari Kahyangan dulu.

Sm: Ya benar, celathu [kata]-mu benar. Petruk juga punya, apalagi keponakanmu Bagong.

AA: Semar, mari makan. Masih tetap berdiri saja.

Sm: Saking nesu [rarah]-ku, saking pegele atiku, aku durung lungguh.

AA: Semar toh makan nasi, atau mau solider makan gaplek para trans?

Sm: Saya makan apa adanya. Para trans masih makan nasi, jatah pemerintah, … kalau datang …

AA: … dan kalau tidak dijual. Nah Semar, siaplah! Kita biasa berdoa sebelu makan.

Pak Cilik, nama sapaan Pak Parmient, pembimbing TC yang kecil badan, hari ini giliran mbawa [memimpin doa].

Pak Cilik: Ya Tuhan, atas kemurahan hati-Mu kami diberi rezeki pada malam ini bersama Semar. Kami minta agar hidangan ini dengan kedatangan Semar di rumah ini memperkuat raga dan jiwa kami, agar kami bisa melaksanakan tugas kami dengan baik.

Semua: Anin.

Pak Cilik: Bapa kami yang ada di surga, dimuliakanlah nama-Mu, datanglah kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di ats bumi seperti di dalam surga …

Semua: Amin

Sm: Simpatik, namaku disebut pula dalam doa ini. Tetapi apa kerajaan itu di bumi atau di surgamu, sebab saya mau ikut? Selain itu doa ini jelas, padat, jujur. Manarik aku.

AA: Memang doa baik, banyak orang yang memakainya.

Sm: Masakan? Benarkah itu? Baru kali ini saya mendengarnya. Apa juga dipakai oleh orang-orang underdog?

AA: Pasti ada yang memaki, misal: kita sendiri.

Sm: Asal juga diamalkan. Tetapi saya tidak setuju kalau underdog-underdog kita manfaatkan; upperdog-upperdog menindas mereka, seperti pemborng-pemborong tadi. Apalagi syaratnya, hanyalah kalau begitu Tumanmu mau memanfaatkan kesalahan mereka. Tak tak mungkin demikian maksudnya.

AA: Memang itu yang paling sulit. Misal: tidak boleh marah-marah seperti Semar tadi, ketika masuk rumah kami. Itu menghabiskan enerji, padalah enerji di dunia ini harus dihemat, kata KOMPAS. Apalagi marah-marah membakar hati sampai habis percuma [sia-sia].

Sm: Mudah saja untuk tidak marah-marah, kalau kebutuhan perut terpenuhi, padahal banyak orang Indonesia perutnya kempis. Seolah-olah bangsa Indonesia digolongkan oleh orang-orang berpolitik atas dasar isi perutnya saja. Nomor 1 ABRI, kemudian Golkar masih cukup berisi, lalu PDI, underdog yang masih harapkan isi perut, kemudian Partai Persatuan, yang sudah lepaskan Pembangunan dalam promosi partai mereka. Mungkin tak punya perut untuk diisi. Hanya memilikirkan rohani-fisik, yang cukup mahal pula. Saya tak setuju pengotakan demikian. Toh semua bangsa indonesia ini manusia, semua saudara menurut Pancasila.

AA: Benar Semar, tetapi mari kita makan. Hati panas dengan makanan dingin tidak laras. Lebih-lebih tidak cocok untuk daging babi goreng, bekas babi Rumah Yusup yang kena genangan air banjir. Harus tetap hangat. Setelah habis makan, kita masih ada waktu omong. Semua peserta diam: AA, Semar, Pak Cilik, Pak Tanta, Simu, Bu Paryata koki dengan suami, Pak Paryata … Nyaman … Sedaaap … nikmat.

Sm: Heeemmm!

P.S. Selamat Paskah juga dari Semar.  [KOMUNIKASI, Tahun ke-9, nr 5, Maret 1977, hlm. 29-33]

Pertanyaan yang kiranya layak dibicarakan:

1.  Bagaimana dinamika/perkembangan percakapan Br. Assis dan Br. Aris dengan Semar?

2.  Apa yang berharga/bernilai dari percakapan itu?

 

 

 

 

05 BUMI TEGAL ARUM

 

Namamu harum semerbak merata

Ladangmu luas terbentang nyata

Namun kau belum kenal banyak manusia

Karena dikiranya kaulah si tua bangka.

 

Memang aku lihat kelemahanmu

Penuh ilalang dan duri ujudmu kini

Jalanmu becek, licin tak terperi

Jatuh bangun aku memelukmu

 

Tapi janganlah kamu cemas

Biar seribu satu orang mencercamu

Dan berkali-kali aku jatuh atasmu

Janganlah kau putus asa dan lemas

 

Sabarkanlah sejenak, aku membantumu

Dengan kedua belah tangan anugerah Tuhan

Aku akan memberikan kesaksian

Bahwa dirimu subur dan hasilmu bermutu

 

[KOMUNIKASI, Tahun ke-9, nr 1, Juni 1977, Assis Winny H.S., RS Antonio Baturaja, 23 ’77, hlm. 42]

Pertanyaan yang kiranya layak dibicarakan:

1.  Bagaimana Br. Assis mengambarkan Tegal Arum?

2.  Bagaimana sikap Br. Assis terhadapnya?

 

 

 

 

 

 

06 SEKILAS PINTAS KUNJUNGAN BR. PROPINSIAL BESERTA DEWAN

TEGAL ARUM – BATURAJA [Br. Assisius]

 

Lama sudah kami mendengar dan mendapat kabar akan kungjungan Br. Propinsial bersama Br. Hugo ke Tegal Arum pada khususnya dan kota Baturaja pada umumnya.

 

Aneh tetapi nyata, bahwa sebelum kunjungan itu terjadi, kami dari tanggal 18 Juli sore sampai dengan tanggal 20 Juli terpaksa dirawat kembali di RS Antonio, Baturaja, karena penyakitbatuk yang menggila. Sehinga ada kesan-kesan dari luar, kalau penyakit kami itu disebabkan akan adanya kunjungan dari Br. Propinsialcs. Untuk kebenarannya, kami serahkan kepada anda masing-masing. Oleh karena hal tersebut, kami tidak dapat menjemput kedatangan tamu-tamu ke Palembang atau ke Rumah Yusup, malah dari Br. Propinsial cs mengunjungi kami ke susteran Kalam.

 

Tanggal 21 Juli Br. Propinsial, Br. Hugo, dan kami diantar dengan mobil Rumah Yusup menuju ke Tegal Arum, meski kesehatan kami belum pulih.

 

Pada kunjungan yang singkat itu para tamu sempat pula meluangkan waktu untuk berkunjung pada keluarga-keluarga di Tegal Arum, antara lain ke tempat Bapak Lurah, Bp. Sumarno dan kebetulan juga mengunjungi saudarai dari Br. Hilarius, karena keluargaa itu bertempat tinggal serumah dengan Bapak Lurah.kemudian juga mengunjungi SD di Tegal Arum.

 

Selesai kunjungan di bebarapa tempat, maka diteruskan dengan pembicaraan dengan kami peri kehidupan kami sendiri [rohani dan jasmani0 dan sempat pula dibicarakan hari depan Proyek Tegal Arum.

 

Pada sore harinya, tepat pada pk. 18.00 waktu setempat, kami bertiga telah dijemput mobil dari susteran Kalam guna bermalam di susteran.

 

Bukan saja penjemputan dengan mobil dan bermalam, malahan segala sesuatunya yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari [makanan] telah ditanggung seluruhnya oleh para suster.

Atas terselenggaranya segala sesuatu dengan sangat memuaskan itu, kami atas nama para bruder FIC menghaturkan banyak terima kasih kepada para suster. Semoga segala jasa baik para suster yang telah kami nikmati bersama, selalu mendapat balasan dari Tuhan Yang Mahaesa.

 

Tanggal 23 Juli pada pk. 8.30 bus malam ala Sumatra Selatang yang akan membawa para tamu telah siap di muka gereja Kalam. Akhirnya kami ditinggalkan lagi, sendirian seperti anak piatu.

 

Untuk kesemuanya itu kami haturkan: selamat jalan, semoga dengan selamat sampai ke tempat tujuan. Terima kasih banyak kami haturkan kepada Br. Propinsial dan Br. Hugo atas kunjungan, atas saran-saran yang berguna bagi kehidupan kami di hari mendatang pada khususnya dan bagi Proyek Tegal Arum pada umumnya.

 

Kunjungan Br. Provinsial cs adalah kunjungan yang sangat singkat namun padat dan mengesankan.  [KOMUNIKASI, Tahun ke-9, nr 1, Agust-Sept 1977, hlm. 16-17]

Pertanyaan yang kiranya layak dibicarakan:

1.  Bagaimana dinamika/perkembangan percakapan Br. Assis dan Br. Aris dengan Semar?

2.  Apa yang berharga/bernilai dari percakapan itu?

 

 

 

 

 

07 SURVEY DI TEGAL ARUM

[Br. Andreo, Propinsial]

 

Pada tanggal 19 Juli Hugo dan saya naik plane dari Jakarta ke kota Palembang, dan disambut di sana secara hangat oleh Mgr. Soedant dan Pastor Abdi. Hari berikutnya Bapak Uskup sendiri mengantar kami ke Baturaja, sauatu perjalanan dari pk. 8.00 pagi sampai pk. 4.00 sore, dengan makan dan istirahat sedikit di pastoran Belitang. Jalan-jalan selalu beraspal, tetapi kurang haluss, sempit dan sana-sini betul rusak. Lain sekali dengan jalan-jalan besar di Jawa!

 

Di Baturaja kami menjadi tamu di pastotan Rumah Yusup, yang merupakan suatu bagian di tengah-tengah rumah piatu. Segalany serba sederhana!

 

Malam hari kami diantar ke rumah sakit para suster, tempat Br. Assisius sedang dirawat selama beberapa hari. Syukur tidak sakit parah.Kata pastor Koziel, seorang Polandia, bahwa Assius jatuh sakit, ketika dapat berita, bahwa propinsial kan datang ! Kata suster yang merawatnya, bahwa Assisius merasa diri sembuh, ketika dengar propinsial telah tiba di Baturaja! Bagaimana juga Assisius diizinkan hari berikutnya untuk ikut serta ke proyek transmigrasi Tegal Arum.

 

Kira-kira 15 km sebelah selatan jalan raya Baturaja ke Martapura, Kotabumi dan Tanjungkarang terletak Tegal Arum. Luas proyek transmigrasi ini 200ha dengan 80 kk. Yang bertanggung jawab tentang proyek ini ialah PANSOS Keuskupan Palembang. 20 ha dari areal ini disediakan dengan apa adanya untuk Training Centre, tempat Aristides dengan staf trainer akan menggembleng calon-calon pioner transmigran. Tanahnya berbukit-bukit, agak tandus, tanah merah yang agak kering. Namun yang punya gaya tarik juga, karena bukit-bukitnya dan adanya beberapa danau kecil. Malahan ada rencana untuk menjadikannya suatu tempat rekreasi bagi penduduk kota Baturaja!

 

Di tempat TC itu sudah daripastoran dan rumah biasa; ada kebun jeruk, kelapa dan cengkih. Teapi hasilnya tipis saja. Ada kandang babi yang luas, tetapi kosong! Ada pembibitan cengkeh dll. Semua ini disediakan oleh Delsos pastor Abdi untuk dipakai oleh TC. Lagipula terdapat pada tempat itu sebuah gereja, yang dipakai hari Minggu saja, sauatu poliklinik yang dibuka oleh suster dua kali seminggu dan ada gedung SD dengan cukup banyak murid dan staf guru.

 

Sejak akhir tahun lalu, Assisius mulai di sini bersama 6 trainer membangun perumahan-perumahan untuk para trainer dan bruder-bruder. Setiap trainer mendapat juga sebidang tanah untuk digarap sendiri. Begitu juga tempat pembibitan cengkih dipulihkan. Dan sekitar rumah-rumah baru tanah telah bersih dan ditanami macam-macam bunga dan semak.

 

Sementara waktu Aristides mencari modal untuk dapat membangun suatu asrama untuk calon kursis, beberapa ruang teori dan untuk segala perlengkapan lain. Kita mengenal cukup Aris untuk mengetahui, bahwa ia tidak akan melepaskan mangsanya, sebelum memperoleh apa yang dibutuhkannya!

 

Di sampaing TC itu juga dapat berjasa besar bagi transmigran di proyek Tegal Arum. Para trainer sudah mengdakan pertemuan-pertemuan kring. Dan tidak usah membataskan diri pada 80 kk. Di sekitar proyek ada daerah transmigrasi, yang jauh lebih luas lagi, yang diurus oleh pemerintah. Hubungan dengan instansi pemerintah sudah ada dan kemungkinan untuk kerja sama lebih erat di masa mendatang memang ada!

 

Bukit-butkit Tegal Arum masih banyak ditutup lang-alang, yang tumbuh subur. Menjadi suatu tantangan besar bagi TC untuk mengubah wajah daerah itu!

 

Bagaimana juga, Tegal Arum mmpunyai daya tarik – juga sekedar daerah berlibur. Memang letaknya jauh dari Jateng! Namun perjalanannya tidak terlalu sukar. Melalui Merak, naik ferrie, melihat kota Tanjungkarang yang ramai, yang terletak di sekitar teluk luas. Naik bus ke Baturaja, suatu perjalanan selama 6 jam, lewat Kotabumi dan Martapura, di tengah-tengah kebun lada, kopi, kapuk, dll. Siapa tidak mau? [KOMUNIKASI, Tahun ke-9, nr 1, Agust-Sept 1977, hlm. 30-32]

 

 

 

 

 

08 MENGAPA DUA ORANG BRUDER FIC BERMUKIM DI HUTAN SUMATRA

 

Dua sarasehan

Waktu: sore hari, bulan Agustus 1963. Tempat: di Malioboro Yogya, di pinggir jalan dengan pedagang kaki lima. Saya [-] sedang omong-omong dengan penjual limun kampungan, hasil industri rakyat kecil. Datanglah seorang wanita gelandangan [+] yang ternyata pelanggan limun itu. Padanya terus dihidangkan segelas es dihias sesenduk sirup. Ia mulai menyendok.

-: Sudahkah ibu makan?

+: Ya, tadi pagi; siang tadi belum makan.

-: Rumah ibu di mana?

+: Di pasar, di situ saya juga punya kerja, membersihkan sayur-sayur pedagang-pedagang. Sisa-sisanya bagi saya, apalagi mendapat uang saya sedikit.’

-: Anak-anakmu di mana?

+: Saya pernah punya dua, seorang di Semarang, seorang lagi dibawa suami saya. Ketika kami pindah dari Ganjuran. Kami menumpang di halaman seorang petani yang baik hati. Dia punya tanah tempat suami saya sebagai buruh tani. Tetapi dihentikan ketika petani itu terpaksa menjual sebagian tanahnya.  Anaknya maunya di-SMP-kan. Suami saya lalu menjual rumah kami dan pergi. Ia tak mau lagi dengan saya. Saya mengambil kuali, sendok, piring, mangkuk, lalu saya bungkus bersama beberapa helai pakaian dengan tikar, lalu ke Yogya.

-: Ibu masih mau makan? – setelah isi gelas habis -.

+: Masih ada Rp 50,- … mungkin, ya.

-: Selamat tidur, Bu!

 

i.  Waktu pagi hari, tahun 1968. Tempat: Jln. Pemuda Muntilan. Saya [-] berjumpa seorang ibu sudah tua yang menggendong balok berat [+]: tiang bekas rumah.

-: Badhe tindak pundi, Bu?

+: Dhateng peken kajeng ngrika, sade punika [baca: menika].

-: Punapa kinten-kinten dereng bibar ta, Bu? … Griya sampeyan pundi?

+: Punika tilaran pungkasan saking griya kula. Sanesipun sampun dipun sade. Rumiyin piyambak gedheg, lajeng gendhengipun. Reng kaliyan usukipin boten saged dipun sade, badhe kangge pawon kemawon. Ingkang pungkasan saka punika, … bibar punika griya kula sampun telas.

-: … Mugi-mugi saged enggal pajeng …

 

Sore hari di Jln. Pemuda lagi, saya keluar dari Triningsih, pas bertemu lagi dengan ibu tadi, dari arah sebaliknya pagi. Ia tinggal berdiri, tonggaknya ditaruh di trotoar, ia mengenal aku kembali. Mungkin dia merasa pandangan mata saya bertanya, sebab ia berkata,

+: Boten pajeng, benjing enjing mawon. Pasaran Kliwon. Mesthi badhe pajeng. Sasampunipun, kula ngge tumbas tedha. Anak kula sampun ngentosi tigang dinten ing dhusun kula. Sasampaunipun telas, dhateng Yogya. …

-: Mangke badhe tilem wonten pundi?

+: Ngrika, wonten lepen Blongkeng. Ing satunggiling griya ingkang kependhem ngantos payonipun, dening siti ladhon Merapi rumiyin. Payonipun taksih wonten …

 

Saya tidak berani bertanya lagi, sebab pertolongan apapun tak dapat saya berikan. Se-sen-pun saya tak bawa uang; obat yang saya bawa bon [utang] saja atas nama bruderan. Saya menghentian sarasehan begitu saja, mengingat konsekuensinya.Saya mungkin ‘mesem bodho’ sambil menyampaikan ucapan ‘selamat tidur’. Malu aku. Wanita itu memanggul tiangnya lagi. Sampai menolong mengangkat tiang itu ‘ora pates’, sebab saya orang pria ….

 

Renungan

Apa yang dipikirkan wanita itu dalam hatinya? Adakan saya menimbulkan harapan yang tak terpenuhi? Saya pamitan. Nampaknya manusia malah itu tersenyum pula, meskipun kecewa.

Saya teringat akan gambar yang luasnya 4 meter persegi, yang pernah kami susun guna pameran panggilan di aula van Lith Muntilan, yang menampakkan KRISTUS DISALIBKAN LAGI dan SIAPA YANG MENYALIBKAN KRISTUS. Mungkin para bruder ex van Lith ingat.

Ya, teori yang dikonkretkan nampaknya indah, kalau tak ada konsekuensi langsung. Tetapi ternyata saya tidak mampu memraktikkan teori itu. Nyatalah saya bukan Simon dari Kirene abad XX.

Saya kembali ke rumah Jln. Kartini 2, ke rumah aman, ke tugas asrama dan sekolah, yang juga membahagiakan. ‘Tugasku memanggil, hampir waktu studi malam di asrama, harus disiplin.’ Dengan pikiran licik [rasionalisasi] itu saya merasa telah bertanggung jawab. Tetapi ketika saya masuk ke kelambu akan tidur, saya teringat akan ibu tadi di bawah atap genting kotor terbuka, berkasurkan pasir dan debu Merapi … Bangun keesokan hainya … Pasar Kliwon, dan itu mengangkat kayu lagi! Bahan meditasi melulu. Kesimpulannya??

 

Transmigrasi

Kejadian seperti itu masih lebih ngeri lagi terdapat di mana-mana di masyarakat desa yang sebetulnya dekat dengan kita. Masyarakat desa sering tidak mampu sendiri dan terpaksa membiarkan para warganya pergi tanpa bekas. Dan YSS bukan ‘alomtegenwoordig’. Orang yang masih punya kekuatan fisik sedikit dan harga diri cukup, berusaha mencari jalan menjadi transmigran, sebelum segalanya habis dimakan. Bagian terbesar dari para transmigran adalah orang-orang miskin macam itu. Terpaksa menjadi transmigran. Mereka tidak siap secara mental apalagi finansial. Instans-instansi sudah senang kalau target jumlah transmigran dari wilayah mereka telah terpenuhi dengan janji-janji baik, yang sekarang sebagian besar terpenuhi pula. Tetaoi yang tidak disampaikan kepada para transmigran adalah kenyataan daerah baru yang buas/kasar alam dan tanahnya. Mereka tentu diam diri pula akan adanya ketidakberesan yang sering – tidak selalu – dan ada perbaikan terjadi pada persiapan di daerah penerima. Berita-berita tentang hal-hal yang tidak becus tak boleh disiarkan, agar para transmigran jangan menjadi takut sebelumnya. Pokoknya: supaya mereka yang dianggap berkelibihan di suatu daerah [baru], berangkat saja. Lagipula: jumlah transmigran yang banyak, akan membuat uang lepas banyak juga. Instansi-instansi menjanjikan hari depan yang cerah, sehingga bisa bertanya, ‘Mengapa mereka sendiri tidak berangkat.’ Mereka menjanjikan hidup baru – memang baru sama sekali – dan tanah subur – biasanya tidak benar, tidak mungkin. Mereka yang bertahan, yang kuat; yang berhasil, yang rajin dan terampil; sedang yang lemah lari ketika jatah dari pemerintah habis.

 

Pelaksanaan transmigrasi – Situasi mereka

Pada pemberangkatan dari Jawa, mereka mendapat alat-alat yang bagus, diantaranya dari desa asalnya. Pada waktu mereka tiba di daerah terjanji, keadaan tidak selalu baik. Biasanya rumah dari bahan yang tidak tahan lama, lubang galian berisi air hujan kalau musimnya, katanya sumur. Mataair-mataair kecil yang biasanya dikelilingi pepohonan tak dihiraukan oleh pemborong perumahan, yang untuk menghemat biaya demi sakunya sendiri, senanaknya menggunduli lereng-lereng bukit yang menjadi sumber mataair tadi. Mereka tahu tak ada orang yang mencari kerepotan untuk mengontrol perbuatan korup macam itu. Maka para transmigran mendapatkan barang yang sungguh bagus, namun juga kurang bagus materinya, karena kontrol atas pelaksanaannya.

Yang tidak bisa diberikan dalam waktu singkat adalah kekuatan mental dan fisik, yang perlu untuk bisa menggunakan dan memperbaiki barang-barang yang diterima. Misalnya sebuah ‘bendho’ [Parang Jawa?] yang sangat diperlukan di tanah berhutan, dijual begitu saja untuk bisa makan dua-tiga hari. Malah ada yang menjual pakaian yang telah diterima pula untuk bisa makan. Panen dari orang yang berbuat tidak masuk akal demikian, kiranya gagal. Dan yang terakhir mungkin terjadi sebab mereka berbuat bodoh sebelumnya, menjual pupuk dari pemerintah. Itu terjadi tidak begitu jauh dari tempat kami. Sebuah ladang yang bagus hasilnya oleh ilalang di sampingnya yang jelek. Kasihan orang demikian, yang seandainya diberi pembinaan sedikit saja, mungkin sudah dapat ditolong. [KOMUNIKASI, Tahun ke-10, nr 3, Maret 1978, hlm. 22-26]

 

Mengapa Bruder FIC berada di daerah transmigrasi?

Mengapa Br. Assis dan saya tinggal di antara para transmigran? Mengapa 6 orang muda, yang 3 di antaranya sudah berkeluarga, mau dan berani membangun hari depannya di antara mereka? Bukankah bagi mereka dengan kemampuan masing-masing masih ada tepat bekerja di Jawa?

 

Jawaban sementara yang nyata: Untuk mengajak transmigran melepaskan anak muda, harapan orang tua dan tenaga kerja di ladang, agar mereka menjadi pembina dan petani maju di tempatnya sendiri. Ajakan nyata diberikan dalam bentuk training dengan trainerees diambil dari daerah transmigrasi. Sebagai contoh: Tenaga muda dari desa blok A, unit I, setelah menyelesaikan masa training selama setengah tahun, mereka kembali ke desa A, unit I. Selama satu tahun berikutnya, mereka masih mendapat pembinaan dari tenaga-tenaga TC di tempat mereka sendiri, dalam hal bertani berencana, di samping hal yang tak kalah penting yaitu pembinaan sebagai tenaga pemersatu blok-blok itu menjadi masyarakat desa, dalam bentuk kerja kemasyarakatan menutu UB-UB [UB = Usaha Bersama], agar masyarakat belajar menolong diri bersama-sama [self-help].

 

Adakah kesatuan antara orang-orang di blok-blok itu dalam satu unit? Tidak ada! … Tiap keluarga bekerja demi kepentingan sendiri, karena mereka tidak tahu bagaimana mereka harus bekerja sama, dan dalam hal mana mereka dapat bekerja sama. Mereka belum saling mengenal sungguh-sungguh, sebab mereka berasal dari desa-desa yang berjauhan di Jawa. Mereka dikumpulkan oleh ‘kekuasaan’ yang lebih tinggi yang tidak dikenal. Mereka hanya disatukan secara administrasi resmi. Segalanya direncanakan dalam kertas saja oleh orang kantor menjadi blok sekian, unit sekian. Bagi administrasi, hal itu telah memenuhi target tercapai dan terlaksanakan, bisa dilaporkan ke atas. Beres. Tetapi manusia-manusia ini tidak saling mengenal, tidak bisa saling percaya, tidak saling memberi, namun semua menerima sama banyak. Di mana gotong-royong yang mendarah-daging? Hanyalah di desa-desa yang sudah jadi, yang telah bermasyarakat: di Jawa. Tetapi mereka ini merasa paling aman, bila bisa bekerja untuk diri sendiri. Individualisme memang kuatuntuk menjadikan kesatuan mereka harus bekrja sama, padahal kerja sama belum dapat diciptakan, maka kita masuk ke dalam lingkaran setan. Paling banter sesudah satu atau dua tahun bimas-bimas yang dimulai oleh pemerintah. Bimas adalah urusan dari atas. Kerja sama sama yang sungguh tidak diciptakan olehnya. Kerja sama sunguh-sungguh, terjadi dari bawah, di basis.hanya kader-kader yang di basislah yang bisa mendobrak lingkaran setan tadi dengan menciptakan kerja sama di bawah bersama mereka.

 

Mengapa TC yang dibuat sebagai alat penolong?

Kader yang bisa dipercayai. Kader yang punya pengertian dan kesadaran tentang situasi konkret. Kader yang punya daya pimpin yang cukup dewasa. Kader yang ber-skill tani, bukan yang tradisional, agar kader itu berwibawa di antara petani-petani yang lain.

 

Program TC

Calon kader diambil dari para transmigran sendiri; setelah ada penyadaran langsung dari pihak TC kemudian kembali ke masyarakat mereka semula. Para calon diteliti dulu. Maka kader-kader tidak asing bagi para transmigran.

Tugan kami di TC: menjadikan mereka orang yang dapat dipercayai, namun masih muda, yang cukup berwibawa, karena mereka ber-skill tani. Bahan dan metode penggemblengan mereka untuk menjadi orang utuh, yakni orang yang pikiran, perkataan dan tindakannya merupakan kesatuan, jujur dan terbuka akan perubahan itulah program TC.

Memang banyak bergantung kepada kemapuan para calon untuk menggarap diri menurut metode dan dengan fasilitias yang ada di TC, seperti rumah sederhana dan tanah garapan yang tidak mudah, serta hama maksi dan mini yang disediakan oleh alam. Hama maksi: kera, babi hutan, tikus, tupai, yang seolah-olah punya pikiran dan menertawai manusia penanam makanan mereka. Dan hama mini: seperti macam-macam jamur, bakteri, virus, semut, dan banyak lagi yang belum ada namanya.

Seluruh trainging konkret dan berdasarkan prinsip ‘learning by doing’, serta saling percaya sebagai daya pemersatu. Demikianlah garis besarnya. Semar alias Badranaya sebetulnya sudah lama menunggu di ‘serambi’ kami, maka uraian serius tadi saya cukupkan begitu saja.

 

Komunikasi antar bruder di Jawa dan yang di Sumatra

Jika pembaca KOMUNIKASI memandang berguna, kalau kami memberikan penjelasan lebih mengenai metode penggemblengan kader-kader, maka kami bersedia memberikannya dalam terbitan KOMUNIKASI yang akan datang. Kami minta agar Redaksi KOMUNIKASI yang baru mengumpulkan pendapat para pembaca KOMUNIKASI yang berminat, kemudian meneruskan pendapat itu kepada kami. Saya sangat berterima kasih jika sebelumnya saya dikirimi beberapa pertanyaan atau lain-lain oleh para pembaca/peminat tersebut.

[KOMUNIKASI, Tahun ke-10, nr 4, April 1978, hlm. 15-18]

Pertanyaan:

1.  Bagaimana dinamika/perkembangan percakapan Br. Assis dan Br. Aris dengan Semar?

2.  Apa yang berharga/bernilai dari percakapan itu?

 

 

09 Br. Andreo: TRAINING CENTRE [PUSAT LATIHAN] DI TEGAL ARUM

APA MAKSUD DAN TUJUAN PROYEK TEGAL ARUM? BAGAIMANA REALISASINYA?

 

Tujuan

Sering sauatu proyek transmigrasi yang diusahakan pemerintah atau swasta mengalami kegagalan sebagian atau bahkan seluruhnya. Sebabnya bermacam-macam. Instansi-instansi yang harus menolong dan membina mengecewakan. Penduduk asli di daerah transmigrasi bersikap memusuhi. Para transmigran kurang siap secara mental untuk hidup dan berkerja dalam situasi yang berbeda sekali dengan daerah asalnya. Perlu sekali di antara transmigran ada yang memiliki keterampilan yang berguna, apalagi yang dididik dan dibentuk secara mental bersama dengan rekan transmigran mengatasi kesulitan dan perlawanan yang mereka alami. Justru pembentukan kader demikian itu menjadi tujuan proyek transmigrasi ti Tegalarum.

 

Persiapan

Br. Aristides ketika masih memimpin SPG van Lith, sudah mempelajari maslah transmigrasi. Ia mengerti bahwa yang perlu adalah pionir transmigran. Pionir demikian hanya dapat dibentuk dalam suatu kursus yang cukup lama. Untuk itu Aris mulai membentuk suatu team pelatih, kebanyakan bekas muridnya. Para pelatih ini dibentuk di KPTT, dengan stase di beberapa tempat, antara lain di Ungaran dan Rawaseneng.

Ketika Aris berhenti sebagai Kepala SPG karena telah mencapai umur pensiun, maka DP mengizinkan dia mulai proyek pembentukan pionir transmigran, tetapi bukan sebagai proyek FIC. DP tidak berani bertanggung jawab atas kelanjutan proyek demikian, baik dari segi tenaga maupun segi keuangan. Apalagi ketika ternyata bahwa lokasi proyek itu sebaiknya di tengah daerah transmigrasi.

 

Di bawah asuhan PANSOS Palembang

Kebetulan dekat kota Baturaja di Sumatra Selatan, oleh Pansos Palembang diselenggarakan suatu proyek pertanian dengan nama BINA TANI PANCASILA. Letaknya 16 km sebelah selatan Baturaja, di daerah transmigrasi Pemerintah Tegalarum. Entah apa sebabnya, proyek itu gagal. Dengan rela hati Pansos Palembang menyediakan tanah seluas 20 ha dedngan bangunan-bangunan dan segala fasilitas lain menjadi pusat latihan bagi pioneir transmigran.

Peranan Br. Assisius

Br. Assisius sanggup ikut ke Tegal Arum dengan tugas membantu pembangunan perumahan yang layak bagi para pelatih dan bruder. Dalam hal ini FIC memberikan sumbangan, yang kemudian diserahkan kepada bagian ‘logistik’, melengkapi kebutuhan sehari-hari para bruder dan kursis.

 

Realisasi Pusat Latihan

Dalam tahun 1977 para pelatih harus bekerja giat merehabilitasi segala apa yang masih tinggal dari Proyek Bina Tani itu. Serentak mereka mulai berkenalan dengan para transmigran di sekitar proyek itu. Sewaktu-waktu Pansos mengirim mereka sebagai flying team ke beberapa daerah di Sumatra Selatan. Baru pada akhir tahun 1977 mulai diadakan suatu kursus selama dua bulan bagi para siswa SPSA [Sekolah Pekerja Sosial Atas] dari Yogayakta. Demikian juga selama tahun 1978. baru dalam tahun 1979 ini diadakan kursus enam bulan untuk membentuk pioner transmigran, sesuai cita-cita Aristides. Mereka berasal dari Sumatra Selatandan Bangka. Semua ini memerlukan biaya yang cukup banyak. Apa lagi umumnya para kursis kurang mampu.  Syukurlah ada sponsor dari luar negeri, yaitu CEBEMO [Nederland] yang sangat menghargai tujuan proyek ini dan sanggup membantu. Demikian juga MIVA sudah memberikan sumbangan untuk membeli jeep.

Sejak Januari 1979, Br. Pius Slamet di Tumbangtiti dapat berguna besar di Tegalarum.

[KOMUNIKASI, Tahun ke-11, nr 3, Maret 1979, hlm. 7-9]

Pertanyaan yang kiranya layak dibicarakan:

1.  Bagaimana dinamika/perkembangan percakapan Br. Assis dan Br. Aris dengan Semar?

2.  Apa yang berharga/bernilai dari percakapan itu?

 

 

10 ASRAMA KETINGGALAN ZAMAN?

[Br. Aristides, Bina Tani Pancasila]

 

Menurut Br. Heribertus, di Tumbangtiti tidak. Bacalah saja karangannya dalam nomor kembar KOMUNIKASI kita bulan Nopember-Desember 1978:

{{ASRAMA BERSISTEM UNIT … Asrama-asrama yang kita miliki di Jawa mempunyai bangunan yang besar dengan aula dan halaman yang luas serta dengan penghuni yng cukup banyak. Bentuk pelayanannya secara masal, dengan aturan-aturan yang tepat dan ketat. Kegiatan dan tugas-tugas, studi, makan, berekreasi selalu bersama-sama. Di sini peranan seorang pemimpin sangat menonjol demi tercapainya suasana tertib dan teratur. Lain halnya dengan asrama SMP Farming di Tumbangtiti, yang menggunakan sistem unit.

 

Sistem ini beroirentasi pada keluarga, jadi tidak memerlukan bangunan yang besar, aula, halaman luas, dsb cukup bangunan kecil atau rumah biasa seperti rumah-rumah keluarga di sekitarnya. Tiap unit didiami oleh 7 atau 8 anak dan dipimpin oleh seorang pengasuh. Bentuk pelayanan dan pelaksanaan tugas-tugas harian dibuat seperti suasana dalam keluarga. Mereka seperti kakak beradik, dan pengasuh berperanan sebagai ayah/bapak mereka. Segala urusan harian seperti berbelanja, memasak, mencuci, berkebun, belajar, beternak diurus oleh mereka sendiri. Dengan begitu mereka dilatih memiliki gaya hidup yang dijiwai rasa tanggung jawab sendiri, buka semata-mata karena terpaksa atau karena peraturan.

Tugas pengasuh yaitu mengikuti dan memperhatikan kesibukan mereka. Ia makan dan tinggal bersama-sama mereka seperti di dalam keluarga.

 

Dalam perkembangan lebih lanjut jika sistem ini sudah mempunyai 3 atau 4 unit atau lebih, maka perlu juga adanya seorang koordinator yang bertugas sebagai penghubung dan pemersatu antarunit, yang memperhatikan semua unit, agar mereka dapat berkembang dengan baik.

 

Saya berpendapat bahwa sistem unit ini sungguh-sungguh banyak segi positipnya, mesti banyak dibutuhkan tenaga pengasuh daripada dengan sistem masal. Kiranya masalah tenaga bukan nomor satu. Yang terutama adalah demi perkembangan pribadi yang masak dan baik. Dengan asrama sistem unit itu kebutuhan dasar hidup anak tersebut kiranya dapat tercapai dan terpenuhi.

 

Semoga sistem unit ini dapat juga dikembangkan di asrama-asrama kita yang ada di Jawa ini, tentu saja dengan lebih banyak sarana yang diperlukan.}}

 

Saya tertarik, maka saya membacanya. Sayang bahwa saya hanya bisa membayangkan Br. Heri dari cerita-cerita Br. Pius. KOMUNIKASI belum bisa menyajikan foto pengarang-pengarang.

Bila saya mendengar kata asrama, terus juga saya tertarik lagi dan muncullah rasa gandrung akan asrama di hati saya, sebab kebijakan personalia pimpinan FIC mengikat saya pada asrama. Mulai tahun 1949 di Kidul Loji, Yogya, disambung Salatiga dan akhiernya dengan 16 tahun di Muntilan. Tang terakhir ini yang membuat saya gandrung benar.

 

Karangan Heri menarik terutama karena sistem unit keluarga yang digambarkan di dalamnya. Teringan akan kunjungan saya ke Kalimantan Barat. Pda waktu itu sambil lalu saya berkunjung pada sebuah asrama SMP Farming – di Pahauman atau Sanggau – saya lupa. Di situ ada asrama mirip dengan rumah panjang orang Daya. Penghuni dibagi atas ‘sungai-sungai’ aslinya. Tiap sungai [suku/desa] ada tangga, pintu dan ruang sendiri. Kata Bruder – satun-satunya pengasuh asrama itu – sistem asrama untuk menhindari percekcokan antar suku. Hanya pada waktu makan mereka bersama. Dalam waktu studi, siswa-siswa ada di kelas mereka masing-masing. Hampir seluruh segi hidup berasrama ada dalam tanggung jawab siswa-siswa sendiri, yang tidak langsung dicampuri oleh Bruder pengasuh.

 

Pesantrean-pesantren juga mengikuti sistem unit seperti di Tumbangtini, namun jumlah siswa sering ratusan.

Sebelum perang, di Muntilan ada 5 buah konvik. Tiap konvik untuk satu kelas SD Latihan bagi Kweekschool di Jln. Kartini. Masing-masing konvik ada pengasuh suatu keluarga yang mempunyai anak-anak sendiri. Pastilah bersuasana keluarga.

 

Br. Heri menyarankan agar FIC akan memakai sitem unit untuk asrama-asramanya. Tetapi asrama Ambarawa yang masih tinggal, yang lain untuk SLA. Bagi para siswa SLA, yang sudah menjelang masa dewasa, lebih cocok dengan sistem yang lain. Dan itulah tidak untuk menghindari apa yang dikatakan oleh Br. Heri – dan itu benar-benar tidak menguntungkan – ‘pelayanan secara masal dengan aturan-aturan tepat dan ketat’ dan  dan ‘Di satu peranan seorang pemimpinsangat menonjol demi tercapainya suasana teratur dan tertib.’

Siswa-siswa SLA bisa mengurusi snediri dengan peraturan ciptaan mereka sendiri. Yang memegang peranan pemimpin: siswa-siswa. Mereka sendiri bertanggung jawab sambil berpartisipasi sepenuhnya dalam pengembangan pribadinya.

Dalam sitem sefl-government itu ‘kenakalan’ mereka sangat berkurang, dan jenisnya lain daripada di asrama tradisional. Kenakalan yang masih ada berlawanan dengan mereka sendiri dan tidak berbau melawan pengasuh. Kenakalan mengacau usaha diri mereka, maka harus dan dapat mereka atasi sendiri, sehingga tidak dapat tidak mereka belajar memimpin. Dalam sistem self government, suasana keterlibatan polisional lenyap diganti alam kebebasan yang bertanggung jawab.

 

Agar konkret saya sajikan cwrita dari arama SPG van Lith. Pernah ada perpisahan tahunan antara kelas III [tertinggi] dengan adik-adiknya, staf guru dan undangan-undangan. Saya mencium bahwa perpisahan itu tak akan mengesan bagi lulusan-lulusan yang akan berangkat ke tempat tugas. Perencanaan sepenuhnya ditangani badan pengurus serta seksi-seksi yang bersangkutan. [Sistem self government dimulai pada tahun 1963 dan berkembang ke arah demokrasi terbatas dan sampai 1979 ini tetap berlaku]. Saya menghubungi ketua badan pengurus umum untuk meninjau acara-cara. Ia dengan sopan dan tegas minta untuk tidak dicampuri tanggung jawabnya. Dalam hati saya berpikir-pikir: ‘Baiklah mereka belajar dari kegagalan.’

Malam perpisahan menjemukan, memalukan. Secara teknis tidak lancar, mengenai isi tidak bermutu, seluruhnya tidak mengesan, mirip perpisahan SD Susteran.

 

§  Sesudah liburan kenaikan, ketua saya panggil. ‘Bagaimana perpisahan tahun lalu?’ ‘Kurang memuaskan’sahut ketua. ‘Kalau begitu coba menilainya bersama kawan-kawan dan carilah sebab-sebabnya.’

§  Sesudah rapat, pengurus menghadap: “Bruder, bolehkah kami mengadakan malam kesenian?’ ‘Putuskan sendiri saja; ketua bukan saya, tapi Mitra sendiri.’ ….

§  Malam kesenian lagi. Beres, lancar, menarik. Setelah selesai Sumitra menghadap: ‘Bruder, terima kasih, bahwa Bruder dahulu tidak mencampuri urusan kami.’ ‘Dan apa yang menyebabkan kegagalan perpisahan?’ ‘Ketua-ketua seksi yang berwenang kurang kami beri kesempatan mengurusi bagiannya. Terlalu banyak saya urusi sendiri,’ sambung Mitra. Saya, sebagai penutup: ‘Memang kegagalan bisa jadi pangkal kemajuan. Dan saling percaya adalah minyak roda kemajuan bersama.’

 

Sisten self goverment yang disentuh bukan bergantung pada seseorang tertentu saja. Sesudah saya pindah, Br. Alfons melanjutkannya, diganti Br. Martinus Tukit, diganti Br. Alfons lagi.

Saya yakin Br. Martinus tidak berkeberatan, bahwa saya mengutip dari sepucuk suratnya setelah Martinus memimpin SPG selama tiga bulan. Ia menulis, bahwa selama 3 bulan ia tidak memberikan pengumuman apa pun, tetapi asrama berjalan semestinya.

 

Tidak mencampuri tanggung jawab siswa selama tiga bulan memeang merupakan tindakan paling tepat, agar Martinus mendapat bukti bahwa self goverment itu suatu kenyataan dan bukan khayalan. Tindakan Martinus yang cukup berani itu membuktikan pula, bahwa Br. Alfons sebelumnya ‘menangani’ self goverment dengan tepat.

 

Intinya: Keberanian pemimpin untuk memercayakan tanggung jawab kepada ‘bawahan’-nya. Pertimbangan, keputusan, perencanaan dan pelaksananaan ditangani oleh siswa. Pelaksanaan yang diintruksikan oleh pemimpin bukan self goverment.

 

Sampai sekarang self goverment SPG van Lith sungguh-sungguh hidup, bukan lambang kosong saja. Sebab self government wajar, sesuai perkembangan pribadi dan aspirasi pemuda untuk bisa menentukan sendiri.

 

Seflf goverment bukan sekedar untuk mempermudah tugas Bruder pengasuh asrama. Memang sangat mengurangi jumlah jenis kesibukan. Macam-macam kesibukan itu diganti dengan perhatian terus-menerus terhadap apa yang dilaksanakan siswa. Lambat-laun tumbuhlah suatu kepekaan bruder pengasuh mengenai gerak-gerik siswa dan sikap nya sendiri yang tepat, agar tetap saling percaya. Kepercayaan antara siswa sendiri, serta saling percaya dan terbuka antara siswa dan bruder adalah syarat mutlak bagi kelangsungan self government.

 

Rapat-rapat pengurus, seksi-seksi yang menangani segala segi kehidupan dan aktivitas siswa, Resimen Pengawal Kristus [RPK] sebagai bengkel penempaan kepribadian, Legio maria, Survey pedesaan, tugas-tugas liburan pedesaan, karya stasi, diskusi-diskusi mingguan, segala aktivitas itu bersama-sama membangun pribadi siswa.

 

Memang Br. Alfons, kemudian Br. Martinus, disusul lagi oleh Br. Alfons baru-baru ini, tidak membina sendiri segala usaha itu. Tim guru berpartisipasi menurut kemampuan mereka dan sejauh mereka tidak mengurangi tanggung jawab siswa.

Br. Martinus secara lincah mengaktipkan orang tua murid, juga yang berjauhan tempatnya.

Dalam bulan-bulan menjelang dan sesudah pemilihan pengurus baru dan timbang terima yang bertahap antara yang lama dengan yang baru, bruder pengasuh asrama harus hadir dengan lebih langsung untuk menjamin kontinyuitas yang baik.

 

Dalam asrama self government siswa tidak diurusi, tidak di-ayahi oleh bruder pengasuh, melainkan dibina ke arah self-control dan social-control seperti yang harus ada di masyarakat orang dewasa yang dmokratis. Dengan self goverment sebuah asrama tidak saja menjadi tempat hidup murah bagi siswa yang bisa belajar, melainkan juga menjadi pusat kaderisasi, sesuai kebutuhan masyarakat.

 

Sekali lagi Heri, saya sarankan: Hubungi Pahauman atau Sanggau. SLA bukan SMP dan SMP bukan SD, tetapi murid-murid SD di Kalimantan jauh lebih besar dan masak daripada murid-murid SD di Jawa. Mungkin sekali Br. Heri bisa belajar dari SMP Farming Pahuman atau Sanggau itu. Heri, sukses dalam membangun asrama yang cocok bagi perkembangan anak muda Daya.

 

Jika Br. Alfons atau Br. Martinus menemukan dalam karangan di atas ketidakbenaran, maka saya harapkan agar Bruder memuatnya dalam ‘KOMUNIKASI’ yang berikut, agar KOMUNIKASI kita sungguh-sungguh menjadi alat KOMUNIKASI. [KOMUNIKASI, Tahun ke-11, nr 6, Januari 1979, hlm. 15-20]

 

 

 

Desember????????????

 

[KOMUNIKASI, Tahun ke-12, nr, Januari 198, hlm. -]

 

 

 

 

 

 

FIC    FIC    FIC  FIC     FIC      FIC      FIC     FIC
SIAPA YANG DIPANGGIL,   DAHULU ……….   SEKARANG?

1.  Yesus dahulu sama dengan Yesus

Kita dapat belajar dari Yesus cara Dia mernperoleh murid di Galilea. Yesus dahulu sama dengan Yesus sekarang. Wujud manusia dahulu sama juga dengan sekarang. Maka kita tidak perlu ragu-ragu belajar dari Guru kita,

2.  Panggilan Natanael.

Dari beberapa tempat dalam Injil Yohanes, kita dapat mengenal Filipus sebagai orang yang ramah dan spontan, Filipus begitu saja dipanggil Yesus tanpa prosedur. Tanpa komentar, dia langsung menjadi murid Yesus, Natanael, temannya sekampung diajaknya menemui Yesus, tetapi Natanael berkeberatan. “Nasaret!?” Namun akhirnya Natanael mau. Sikap kritis dan skeptis Natanael, dalam sekejap lenyap oleh pernyataan Yesus,   “Inilah orang Israel sejati.” (polos, benar).

Praduga Natanael lenyap. Natanael tahu, dirinya sudah dikenal, maka ia tidak perlu memperkenalkan diri lagi.  Natanael takjub, Yesus langsung digelari Raja Orang lsrael.  Sebetulnya ia tidak dipanggil, namun pribadi  dan cara penampilan Yesus mengundangnya. la merasa Yesus mempercayai dia. Maka jadilah!

3.  Panggilan Simon Petrus

Panggilan Simon Petrus mirip dengan itu. Andreas memperkenalkan Simon dengan Yesus. Simon yang berani, spontan, dan percaya diri secara berlebihan,berhadapan dengan Yesus. Mereka saling menilai. Juga di sini Yesus mendahului Simon, dengan kontan mengubah namanya menjadi Petrus. Nama baru itu sesuai dengan perangai Simon, sejauh ia mengenal dirinya. Simon merasa tergugah, tertantang. Yesus mengambil hak mengubah namanya. Simon pemberani itu menerima tantangan Yesus. Perkenalan lebih lanjut mulai Postulat. Lama sesudah itu “’yang dua belas” dipanggil dengan nama mereka, novisiat mulai. Bahan latihan: iman akan Yesus dan cinta kasih, tentu kepada sesama kawan pula.

4.  Ujian di Sinagoga Kaparnaum

Bahan ujian yang sama di Kaparnaum: Yesus menjanjikan Ekaristi. Di situ Yesus mengajar, berulang-ulang dan semakin gencar Yesus diganggu oleh orang-orang yang “menggerutu” sambil bergerombol pergi. Situasi makin sepi, diliputi kegagalan besar. Gawat! Akhirnya yang tinggal, yang dua belas “Ingin pergi jugakah kamu?” Suasana tak terlukiskan, sedih, kecewa, mendapat tantangan berat.

5.  Ujian akhir di Yerusalem

Ujian terakhir pada malam penuh haru dan emosi menjelang sengsara. Yesus sampai dengan Minggu Paska. Bahannya lagi: iman dan cinta kasih. Petrus dan Tomas mendapat ujian susulan. Bagi Tomas yang kritis, sesudah mengalami kegagalan dan musibah besar di kayu salib, yang tak masuk akal, tidak mungkin ada kelanjutan. Yesus yang dicintai dan dikaguminya,   membiarkan diri-Nya dilikwidasi sangat hina, la tidak mampu mengatasi kekecewaannya. Ke mana aku harus pergi?”

6.  Ujian susulan bagi Petrus dan Tomas

Pada hari ketujuh sesudah kebangkitan, Tomas ditolong secara khusus oleh Cinta Yesus, Petrus yang sampai berani masuk ke kompleks Mahkamah Agung karena cintanya akan Yesus, diuji lagi dalam kehadiran semua kawannya Intim,  namun tidak eksklusif. Tempatnya di tepi danau Genesaret setelah penangkapan ikan yang di luar perhitungan kemungkinan nelayan profesional.

Setelah selesai makan hasil tangkapan tadi, Petrus disapa Yesus, “Simon anak Yona, adakah cintamu kepadaku melebihi kawan-kawanmu ini?” Tak terduga, Yesus bertanya begitu. Dua kali lagi pertanyaan itu diulang. Petrus mengerti, jumlah tiga itu, ia mengerti pula sapaan Yesus terhadap dirinya dengan “Simon” bukan “Petrus” Hatinya menangis. Yesus begitulah, Yang lain bingung, hatinya sepi. Yesus berdiri, mengajak Petrus meninggalkan tempat sarapan itu, untuk berpesan khusus secara pribadi, sesudah itu benar-benar mereka menjadi murid Yesus, apa pun konsekuensinya terserah kepada Yesus. Panggilan Yesus memang sangat serius. Panggilan memang bukan hal coba-coba atau bahan permainan, ataupun senda gurauan. Bila Yesus memanggil orang pilihan-Nya, la yakin bahwa orang itu mampu mengikuti-Nya, dalam hari-hari, bulan bulan gelap, maupun hari-hari cerah.

7.  Orang yang dipanggil dahulu sama wujudnya dengan orang  sekarang

Orang-orang macam apa yang sekarang ini dipanggil Yesus untuk FIC? Rata-rata anak desa yang polos tanpa banyak tuntutan, tanpa perhitungan. Anak yang di rumahnya dituntut oleh orang tuanya. Yang sudah telanjur manja tidak mungkin dipanggil, paling tidak berat sekali. Ukuran dan pola apa yang harus kita pakai, untuk mengetahui  (menurut intuisi) siapa yang merasa terpanggil?

 

Ø  Anak yang nampak seperti “bocah altar” dalam waktu dinasnya,  tidak perlu disingkirkan dari perhitungan.

Ø  Anak brandal dalam arti aslinya, boleh saja; mungkin macam itu malah anak kreatif. Bukankah cinta kasih itu juga kreatif tak tahu aturan.

Ø  Anak yang sifatnya penurut tanpa reserve, boleh disangsikan, tetapi jangan diafkir, dan harus ditantang sebagai bentuk binaan, untuk mengenal pribadinya.

8.  Syarat-syarat pokok yang perlu bagi calon

Ø  Bisa bergaul dengan kawan, bertangan ringan terhadap kawan

Ø  Cukup terbuka, misalnya dalam arti: bila minta nasihat dalam kesulitan, sungguh meminta nasihat, dan bukan sekedar mencari pembenaran keputusannya sendiri yang sudah dibuatnya sebelum meminta nasiha. Dengan kata lain; jujur dan tidak berpolitik.

Ø  Terbuka baik ke luar maupun ke dalam, Tradisi kesopanan Jawa perlu diperhitungkan.

Ø  Punya perhatian sesuai dengan umurnya terhadap hal-hal spiritual dan mampu berdoa.

Ø  Spontanitas menguntungkan.

Ø  Meski mudah tersinggung tidak apa-apa, itu dapat dibina, mereka belurn dewasa.

Ø  Punya kegemaran rnembaca. Ini merupakan sumber perkembangan pribadi.

9.  Sikap Kita

Di asrama, mereka jauh dari keluarga. Mereka rnenginginkan perhatian bagi dirinya, bagi desa mereka, bagi orang tua dan adik kakak, bagi situasi ekonominya. Perhatian bruder terhadap mereka mutlak perlu, agar mereka sempat membuka diri. Kesempatan berhubungan dengan mereka harus diciptakan.  Sikap kebapakan bruder sebaiknya beralih ke sikap persaudaraan dengan siswa, walaupun sikap ini menyimpang dari tradisi Jawa pedesaan. Agar hubungan itu tidak kaku dan formal, sebaiknya mereka dihubungi, disapa,   dalam waktu bebas, misalnya sambil menonton sport kawan-kawan, mencuci pakaian, di kamar dandan, di rekreasi,  dll. Bentuknya “sambil lalu” saja. Suatu contoh dari masa ketika saya di SPG di Maastricht. Di asrama situ ada sistem surveillance bergilir, seperti di SGB Muntilan dulu Bruder Stefano punya corak tersendiri. la selalu seolah-olah ‘dolan’,  menghabiskan waktunya. Tidak pernah membaca, sambil menunggui siswa. Pernah saya sedang menggambar sebuah rumah desa di pinggiran kota. Rumah kolot, miskin. Lukisan di alam dibawa pulang sebagai contoh membuat lukisan cat yang sesungguhnya, Bruder Stefano berhenti, mengamati kerja saya cukup lama. la hanya berkata, “Pasti, rumah ini di sebelah dalam tidak sebagus di luar” la tidak menunggu tanggapan saya,  langsung meneruskan berjalan ke siswa lain. la meninggalkan bahan pikiran bagi saya. Pada kesempatan lain, ketika saya sedang membuat kap lampu dari tripleks, ia berkata,”Saya yakin kamu tak dapat menyelesaikan kap lampu ini dengan baik” Lalu ia terus pergi la meninggalkan suatu tantangan,   dengah menghindari protes saya. Terpaksa protes itu tersimpan di hati. Ini seni mendidik. Dengan dua contoh itu, mungkin yang berikut ini jelas maksudnya.

Omongan bruder asrama yang berbentuk komentar atas obrolan dan perbuatan siswa, bisa berfungsi sebagai binaan. Tetapi komentar bruder harus bersungguh-sungguh, bukan berbentuk sindiran, biarpun dimaksud sebagai humor. Sebab, belum tentu siswa mengenal humor, apa lagi bila bruder belum mereka kenal sungguh-sungguh. Bagi siswa Jawa, sebaiknya mereka diberi kesempatan mengeluarkan tanggapannya, perasaan hatinya, yang mungkin ditimbulkan oleh komentar bruder.  Sekaligus bruder belajar mengenal siswa, dan mungkin terjadi suatu relasi yang mengembangkan pribadi siswa. Binaan seperti itu membekas sungguh. Tetapi syaratnya: Cara berkata dan logat bruder harus membuat mereka yakin bahwa bruder menghargainya, seolah-olah mereka itu sudah dewasa. Kalau begitu, komentar bruder yang kritis atau tajam sekali pun, mereka terima pula, dan mereka simpan sebagai bahan pemikiran kemudian. Ingatlah,  pemuda menjelang dewasa senang dengan tantangan.

10.  Konsekwensinya bagi bruder asrama

Binaan seperti itu membutuhkan perhatian bruder secara terus menerus. Itu berarti bahwa bruder tidak boleh hitung “waktu dinas”. Kehadiran bruder di asrama jangan bersifat menunggui, apa lagi mengawasi anak, asrama, yang sebenarnya sudah bukan anak. Mereka sudah menjelang dewasa, maka panggilah mereka sebagai saudara saja, jangan disapa dengan anda. Sebab ‘anda’  merupakan bahasa iklan belaka. Dalam kehadiran itu, bruder harus aktif, bersifat kreatif dan peka terhadap apa saja yang terjadi di asrama,dan seolah-olah bruder tidak punya urusan.

Acara waktu bebas di asrama tidak bisa dipandang bruder sebagai waktu bebas bagi dirinya. Janganlah waktu itu dihabiskan di bruderan dengan obrolan hiburatic. Meman tugas bruder asrama bukanlah tugas ringan, jika asrama akan dijadikan Pusat Latihan kerasulan.

Dalam pelajaran agama di sekolah: arahkanlah perhatian siswa kepada Kristus, kepada Yesus dari Nasaret pribadi, seperti dilukiskan dalarn peristiwa anak sakit ayan itu. Bila mereka tertarik oleh pribadi Kristus, maka bereslah. Lalu Kristus,  membantu pada saat-saat yang tepat. Maka kita harus peka yang bersumber pada cinta kasih

BERSAMBuNG  2

 

Br=  Aristides

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.