Memahami Ajaran Tao


TAO THE CHING

Prinsip Ajaran & Aplikasi Kehidupan


Pengantar :

Tao Teh-Ching ialah nama sebuah kitab kecil yang menurut tradisi adalah peninggalan Lao Tsu, seorang filsuf Cina zaman kuno, yang oleh penganut aliran Taois dianggap sebagai “nabi”nya.

Siapakah Lao Tsu itu, apakah ia benar-benar hidup dan pada zaman apa, merupakan soal yang hingga kini masih belum dapat diselesaikan secara memuaskan. Demikian pula hingga kini para sarjana belum sependapat tentang soal siapakah sebenarnya pengarang Tao Teh Ching dan apakah kitab yang sekarang beredar dengan nama Tao Teh-Ching itu sama dengan kitab aslinya.

Dilihat dari sudut sejarah memang penting untuk mengetahui secara tepat apakah sebuah kitab kuno dapat dipercaya, artinya apakah isinya benar-benar mencerminkan keadaan dari zaman dan masyarakat abad ke-6 atau abad ke-4 SM merupakan soal penting juga. Kita akan melihat bahwa ada alasan untuk berpendapat bahwa Tao Teh-Ching lebih sesuai dengan keadaan masyarakat pada abad ke-4 SM. Pendapat demikian belum berarti bahwa Lao Tsu pasti hidup pada abad ke-4 SM juga.

Sebagaimana telah dikemukakan, bagi mereka yang membaca Tao Teh-Ching untuk menarik pelajaran dari padanya, soal yang menghebohkan para sarjana tidak memiliki arti yang begitu penting. Mereka percaya bahwa Tao Teh-Ching adalah kitab kuno, setidak-tidaknya disusun 1000 tahun yang lalu, mungkin 2000 tahun, atau bahkan 2500 tahun yang lalu. Mereka lebih menganggap penting isi Tao Teh-Ching sebagai pesan seorang pujangga kuno yang sangat bijaksana, yang mengerti soal-soal kehidupan secara lebih sempurna dari orang-orang sekarang, yang agak sulit ditangkap ucapan-ucapannya, tetapi justru karena itu mungkin mengandung arti yang lebih besar dan lebih memuaskan daripada pelajaran-pelajaran lain yang mereka kenal.

Kalau kita membaca teks Tao Teh-Ching mulai dengan bagian 1 sampai 81, yang merupakan penutupnya, kita mendapat kesan bahwa kitab itu tidak memberikan suatu sistematika pandangan yang terumuskan dengan runtut, tetapi terdiri dari ucapan-ucapan terlepas yang tak ada hubungan satu dengan yang lain. Tambahan pula terdapat kalimat-kalimat pada beberapa bagian yang merupakan ulangan atau sebaliknya saling ertentangan.

Pada hematnya Tao Teh-Ching memang bukan uraian sistematis tentang suatu pandangan alam dan pandangan hidup, tetapi lebih suatu kumpulan ucapan-ucapan tentang soal-soal mengenai manusia dan tempatnya di dunia, semuanya dilihat dari pendirian tertentu. Kalau kita membaca ucapan-ucapan itu, dalam urutan yang manapun juga, kita mendapat gambaran tentang pendirian apakah yang merupakan titik pangkalnya. Dengan kata lain, dari ucapan-ucapan yang terlepas dan rupa-rupanya tak bersangkut-paut itu, kita dapat mengupas suatu sistem., suatu pikiran yang teratur. Dalam hal ini dapat kita bandingkan kitab Lun-Yü (yakni kitab yang memuat percakapan confucius dengan murid-muridnya) dari Confucius, yang juga terdiri dari ucapan-ucapan terlepas, tetapi secara keseluruhan menunjukkan suatu sistematis.

♥ ♥ ♥

Marilah sekarang kita coba mengikhtiarkan sistem yang dapat diambil dari ucapan-ucapan dalam Tao Teh-Ching.

Pada asal mulanya ada sesuatu dalam bentuk campuran : sunyi senyap, kekal, tak dapat dilihat, tak dapat didengar, tak dapat diraba, tanpa rasa, tanpa kesadaran, tanpa nama. Hanya karena terpaksa maka kita menyebutnya “Jalan”. “Jalan” itu mengandung segala-galanya, semuanya yang bertentangan sikap dan diselaraskannya: terang dan gelap; ia berwujud tanpa wujud, berupa tanpa rupa.

“Jalan” berjalan sebagai kodrat alam: keluar sampai pada puncaknya, lalu kembali ke permukaannya. Seluruh alam berasal dari “Jalan”, mulai dengan langit dan bumi yang bersama-sama melahirkan segala benda.

“Jalan itu berdaya dengan “saktinya”-nya yang tak habis-habis bagaimanapun dipakainya, yang meluap baik ke kiri maupun ke kanan, tanpa menuntut, tanpa memaksa; dengan “sakti”-nya “Jalan” memupuk, mendidik, memperkembangkan, memaksakan, menyempurnakan, memelihara dan melindungi segala benda, tanpa mengambil tindakan, tapi selalu sesuai dengan wataknya masing-masing.

Bagi “Jalan” pertentangan apapun, perbedaan apapun tak berlaku: baginya putih sama dengan hitam, terang dengan gelap, tinggi dengan rendah, luas dengan sempit, sehat dengan sakit. “Jalan” melebur segala pertentangan dalam pelukannya; baginya tak ada keindahan tetapi tak ada kejelekan juga; ia tak berat sebelah, ia tak memihak, ia kosong tapi justru pada kekosongannya terletak gunanya.

Manusia hidup di dunia selalu tersesat dalam pertentangan. Seharusnya ia itu mengikuti geraknya “Jalan” dan berpedoman pada “Jalan”. Laksana langit dan bumi tidak bekerja untuk dirinya sendiri dan karenanya abadi. Demikian juga manusia sebaiknya jangan bertindak, jangan mendesakkan usahanya, jangan mengejar tujuan, jangan campur tangan dalam urusan orang lain, jangan memuji, jangan mencela. Sebaiknya ia itu melepaskan segala ukuran yang lazim dipakai di dunia, meninggalkan segala macam pengetahuan yang hanya menjauhkannya dari “Jalan”, dan memilih apa yang dibenci umum, yakni kelemahan, kerendahan, keasoran.

Manusia sebaiknya kembali seperti bayi, yang belum sadar akan adanya dunia di luar yang masih minum pada ibunya, yang lemas dan lemah tetapi penuh mengandung benih kehidupan. Manusia sebaiknya mencontoh air, yang selalu memilih tempat rendah, yang terlemah di antara semua benda, tetapi yang dapat menembus batu yang keras. Manusia sebaiknya menjadi seperti lembah, yang sanggup menampung segala-galanya, bersih maupun kotor. Manusia dengan demikian dapat menjadi orang suci, yang tak mempunyai keinginan, yang tak dapat digoda oleh dunia, yang tak mempunyai rasa benci dan rasa takut, yang tak lagi mengajar kehidupan dan karenanya terhindar dari kematian: baginya hidup dan mati adalah sama.

Seperti orang suci itulah seharusnya pemimpin negara dan pemimpin rakyat: ia tak melakukan paksaan, tak membuat larangan, tak mengadakan aturan-aturan, tak menjalankan perikemanusiaan dan keadilan; tanpa bertindak semuanya teratur. Ia tak mempunyai kehendak sendiri, kehendak rakyat adalah sama dengan kehendaknya. Untuk rakyat bukan soal mata yang dipentingkan, melainkan soal perut. Ia merendahkan diri, tinggal di belakang, tetapi karenanya ia tampil ke depan; ia tak mencari kemuliaan tetapi dengan sendirinya rakyat memuliakannya. Bahagialah negara dan rakyat yang diperintahnya: mereka tak mengenal larangan dan aturan, maka tak ada penjahat dan pengacau; mereka tak mengenal permusuhan, maka senjata-senjata tak pernah dipamerkan; mereka tak memerlukan barang aneh dan indah, maka dengan negara tetangga pun tak ada masalah; karena diperintah orang suci yang mengikuti “Jalan”, maka dengan sendirinya mereka hidup selaras dengan “Jalan”; walaupun ada pemerintah mereka tak merasa adanya pemerintah.

♥ ♥ ♥

 

Apakah Tao Teh Ching masih mempunyai arti bagi manusia jaman sekaang?

Pertanyaan ini dapat ditinjau dari beberapa sudut. Sebagai kita kuno Tao Teh Ching memberi gambaran bagaimana soal kehidupan manusia dipikirkan oleh sesuatu aliran filsafat pada zaman dahulu kala, yang kemudian menjadi anasir penting kebudayaan Cina. Hingga sekarang di Cina tao Teh Ching masih mendapat perhatian yang besar, baik dari penganut aliran maupun sarjan-sarjana lain.

Ucapan-ucapan Tao Teh Ching disusun dalam yang indah (menurut sarjana Cu-Chièn bersajak), yang dapat dinikmati pula dalam terjemahan. Maka dilihat dari sudut kesusastraan pun Tao Teh Ching masih berharga. Tao Teh Ching merupakan salah satu kitab kuno yang sering diterjemahkan dalam bahas-bahasa bukan-Tionghua. Dalam bahasa barat saja dari tahun 1921 sampai 1955 diterbitkan 58 terjemahan (Lihat T.L. Yuan, China In Western Literature, New Heaven, 1958, hal 300-303).  Jumlah ini membutikan bahwa perhatian terhadap kitab itu tetap ada, walapun sebab-sebabnya berbeda. Salah satu sebab mungkin ialah bahwa masyarakat Barat pada abad ke-20 mengalami krisis sosial, yang ternyata dengan dua kali meletus Perang Dunia dan mengakibatkan pula krisis mental yang menimbulkan hilangnya kepercayaan pada “pengetahuan” dan “peradaban” Barat dan timbulnya penghargaan terhadap “Kaweruh” dan “kebijakan” Timur. Tao Teh Ching dalam hal ini merupakan salah satu dari kitab-kitab kuno yang menarik perhatian beberapa kalangan di dunia Barat.

Tao Teh Ching menyinggung soal-soal kehidupan manusia yang hingga sekarang sebagian besar masih berlaku. Kalau membaca kitab itu kita merasa bahwa memang ketenangan hati itulah yang kita idam-idamkan dalam penghidupan sekarang ini; bahwa memang kita masih terlalu terlibat dalam persaingan, perebutan, perselisihan, kemarahan, keinginan, kebencian, ketakutan dan sebagainya; bahwa kita selalu mencari kekayaan, kehormatan, kemuliaan dan selalu mau terhindar dari kemiskinan, keasoran, kehinaan; bahwa memang kita selalu berusaha mempertahankan kehidupan dan takut pada kematian. Mungkin kita tidak menyetujui seluruhnya dalam Tao Teh Ching, mungkin kita tidak mengerti apakan sebenarnya yang dimaksud dengan ucapan-ucapannya, namun kita merasa bahwa di sini terdengar suara seorang pujangga besar yang telah merenungkan soal-soal kehidupan dalam masyarakatnya sedalam-dalamnya dan memberikan penyelesaian yang – walaupun sulit diterima – membukitkan keunggulan hatinya. Maka membaca Tao Teh Ching dapat memperingatkan kita pada soal-soal pokok dalam kehidupan kita yang sering kita lupakan dalam pekerjaan sehari-hari dan menyebabkan kita berpindah dari satu kecemasan ke kecemasan yang lain, dari satu penderitaan ke penderitaan yang lain. Membaca Tao Teh Ching dapat memperingatkan kita bahwa segala yang terjadi di dunia ini, mengenai masyarakat dan mengurusnya dilihat “dari sudut keabadian”, yakni sebagai sesuatu yang pasti akan lewat, pasti akan diganti dengan kejadian lain, maka tidak perlu mngguncangkan kita, tidak perlu menghancurkan hati kita.

Karena ucapan-ucapan Tao Teh Ching sering kali agak kabur,maka maksudnya juga ditangkap secara berbeda-beda, tergantung dari siapa yang memberikan artinya dan dari zaman dan masyarakat mana ia berasal. Sudah selayaknya bahwa kitab kuno – terutama bila ia dianggap sebagai “kitab Suci” – sepanjang zaman menyebabkan penafsiran yang berbeda-beda ; karena maksudnya ialah memberi pedoman bagi manusia hidup maka artinya harus disesuaikan dengan keadaan dan keperluan masyarakat yang selalu berubah-ubah.

Ada banyak orang yang berpendapat sekarang bahwa Tao Teh Ching itu menganjurkan supaya manusia jangan berbuat apa-apa, supaya mengundurkan diri dari dunia, supaya menerima nasib saja, supaya hanya “bersamadhi” saja, supaya jangan percaya dengan manusia-manusia lain, pendek kata supaya ia menuju ke kebahagiaan diri sendiri saja dengan melepaskan segala-galanya yang pernah diterimanya, baik dari pendidikannya maupun dari pengalamannya.

Pada hematnya pendapat sedemikian itu tidak selalu tepat. Kalau sesuatu orang sungguh-sungguh tidak mempedulikan nasib manusia, maka ia tak akan membuat suatu kitab terdiri dari 500 kata lebih (seperti diceritakan dalam Riwayat Hidup Lao Tsu), atau mengumpulkan murid-murid untuk mendengar sabda-sabdanya. Orang yang sungguh-sungguh tak mau mempedulikan nasib manusia dan sungguh-sungguh tak mau bertindak mungkin ada, tetapi dapat kita ketahui karena tak meninggalkan jejak apa-apa.

Pada hematnya Tao Teh Ching merupakan suatu celaan dan serangan terhadap masyarakat yang pada waktu itu penuh dengan ketidak adailan, kekejaman, kecongkakan, kemunafikan dan kesengsaraan, walaupun atau justru oleh karena ada demikian banyak aturan, larangan, anjuran dan kecerdikan. Anjuran supaya tidak bertindak, tidak mengadakan aturan dan larangan, tidak berbicara secara muluk-muluk tentang perikemanusiaan dan keadilan, tidak mengejar pengetahuan dan kepandaian – semuanya itu, berdasarkan kenyataan dalam masyaraakat zaman Tao Teh ching, dimaksudkan untuk mencapai keseimbangan dalam suasana dimana suatu pihak sangat berlebih-lebihan sedang pihak lain sangat kekurangan.

♥ ♥ ♥

 

Buku terjemahan Tao Teh Ching dalam bahasa indonesia paling tua yang kami temukan adalah Tao-Te-Tjing: Kitab tentang Djalan dan Saktinya, yang terjemahannya dikerjakan oleh Dr.Tjan Tjoe Som seorang guru besar pada Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Setelah sekian lama, hampir empat puluh tahun kemudian, kami menyempurnakan buku tersebut, dengan menjadikan dua bagian yaitu Kitab Ajaran dan Aplikasi Kehidupan melalui berbagai pengayaan dari berbagai materi lainnya, sebelum menghadirkan ulang ke tengah publik.

Pada mulanya memang hanya terbatas pada kitab Ajaran, namun mengingat kandungan harta ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan hidup yang tidak ternilai yang termaktub dalam buku cukup ringkas tersebut, kami perlu mengembangkannya terutama untuk memberikan pemaparan dan aplikasinya lebih jauh dengan masa kini. Bagian Aplikasi Kehidupan antara lain kami peroleh justru dari buku karangan Barat yang berjudul The Way Of Tao karya John Heider. Untuk itu, kami junjung tinggi dengan rasa hormat dan ucapkan terima kasih bagi para peminat terdahulu yang telah mempelopori upaya tersebut. Upaya ini adalah salah satu wujud semangat menyeberluaskan gagasan-gagasan dan fakta-fakta yang terlalu berharga untuk dipendam begitu saja, di dalam rak-rak buku perpustakaan, terlalu lama dilupakan. Akhirnya buku ini kami hadirkan kembali, dengan berbagai penyempurnaan dengan harapan masyarakat memiliki tambahan berbagai apresiasi. Selamat membaca.

 

 

 

 

 

KITAB AJARAN TAO TEH CHING

 

Terjemahan ini berdasarkan teks yang diterbitkan oleh Cu Chien-c pada tahun 1958 di shanghai dan berjudul Lao-ts ciao-sh. Kitab-kitab lain yang disebut dalam catatan kaki (yang kadang tidak selalu mengikuti pendapat Cu), adalah Lao ts- I-hua oleh yang Liu-ciao (Peking, 1958), Lao ts- cin ini oleh Ren Ci-Yu (Peking, 1956) dan Lao-ts Ceng kau oleh Kao Heng (Peking, 1956), masing-masing saja disebut Yang, Ren dan Kao.

 

“Jalan” yang dapat digunakan sebagai jalan,[1] bukan merupakan jalan yang kekal. “Nama” yang dapat digunakan sebagai nama, bukan merupakan nama yang kekal. “Tanpa Nama” : ialah awal dari Langit dan Bumi; “dengan nama” : ibunda segala benda. Maka dari itu : “tetap tiada”, kalau kita ingin menyatakan[2] rahasianya; “ tetap ada”: kalau kita ingin menyatakan kewujudannya: kedua-duanya asalnya adalah sama walaupun namanya berbeda; bersama-sama disebut gaib, lebih gaib daripada yang gaib, pintu dari semua rahasia.

 

 

begitu semua manusia di kolong langit tahu apa yang merupakan keindahan itu, maka dengan sendirinya kejelekan itu ada. Begitu mereka tahu apa yang merupakan kebaikan itu, maka dengan sendirinya kejahatan itu akan ada. Maka itu: ada dan tiada yang satu melahirkan yang lain, sukar dan mudah yang satu melengkapi yang lain, panjang dan pendek yang satu mewujudkan yang lain, tinggi dan yang rendah yang satu bersandar pada yang lain, bunyi dan suara yang satu selaras dengan yang lain, dahulu dan kemudian yang satu menyusul yang lain. Inilah sebabnya orang suci bekerja tanpa bertindak, mengajar tanpa berkata-kata. Segala benda karenanya berkembang tanpa ia mendorongnya, tumbuh tanpa ia mau memilikinya, berbuat tanpa ia menjadi sandarannya. Walaupun berjasa ia tidak menuntut, justru karena tidak menuntut maka ia pun takkan musnah.

 

3.

Jangan terlalu memuliakan kebijakasanaan, supaya rakyat tidak saling bersaing dan berlawanan. Jangan terlalu menghargai barang yang susah didapat, supaya rakyat tidak menjadi pencuri. Jangan terlalu memperlihatkan apa yang dapat diingini, supaya hatinya tidak terganggu. Inilah sebabnya orang suci memerintahnya; dengan mengosongkan hatiya, mengisi perutnya, memperlemah kehendaknya, memperkuat tulangnya. Ia selalu menganjurkan supaya rakyat tidak tahu dan tidak ingin, supaya mereka yang tahu tidak berani dan tidak bertindak, dan sebagai akibatnya semua justru menjadi teratur.

 

4.

“Jalan” itu, penggunaanya terletak pada (kondisi) hampanya, dan sekali-kali bukan pada (Kondisi) penuhnya, dalam dirinyalah, ia : leluhur segala benda; tumpul ketajamannya, larut segala nafsunya, redup sinarnya, rata debunya, sunyi tetapi selalu ada. Kami tak tahu seperti apakah ia, namun rupa-rupanya bahkan sudah ada sebelum para dewa.

 

5.

Langit itu tidak berprikemanusiaan; segala benda dianggapnya sebagai bahan sembahyang. Orang suci itu tidak berprikemanusiaan; segenap rakyat dianggapnya sebagai bahan sembahyang. Ruang antara Langit dan Bumi kiranya dapat dibandingkan dengan sebuah hembusan angin! Tidak berkurang; makin bergerak makin meniup. Banyak bicara sering membuang tenaga percuma, lebih baik kejujuran dijaga.

 

 

 

6.

Diam dan bergerak tak pernah berhenti[3]: inilah yang dimaksud dengan ”babon segala rahasia”. Pintu “babon segala rahasia” ialah akar Langit dan Bumi. Tak terputus-putus dan seperti selalu ada, bagaimanapun digunakannya takkan ada habisnya.

 

7.

Langit dan Bumi itu abadi. Sebab Langit dan Bumi abadi, adalah karena ia tidak hidup untuk diri sendiri, maka ia akan abadi. Inilah sebabnya orang suci membelakangkan dirinya dan oleh karenanya dirinya tampil ke depan; ia mengesampingkan dirinya dan oleh karenanya dirinya utuh. Karena tak memiliki kehendak pribadi, maka ia dapat menyempurnakan pribadinya.

 

8.

Kecerdikan tertinggi adalah seperti air; air itu cerdik memberikan faedah kepada segala benda tanpa  berebutan dengannya, berdiam pada tempat yang tidak disukai orang, maka dengan demikian mendekati “Jalan”. Cerdik memilih kediaman yang rendah[4] , cerdik menenangkan hatinya, cerdik menjalankan perikemanusiaan, cerdik dengan kejujuran, cerdik memerintah dengan aturan, cerdik menggunakan kemampuan dalam urusannya, cerdik menunggu waktu dalam gerakkannya. Justru karena tidak berebutan, maka tidak membuat kesalahan.

 

9.

Dari pada memegang sampai penuhnya lebih baik berhenti pada saatnya. Menempa untuk mencapai tajamnya tak akan bertahan lama. Ruangan penuh dengan emas dan batu permata tak mungkin dapat dijaga. Angkuh karena mewah dan mulia, dengan sendirinya membawa bencana. Tugas selesai, nama menyusul, diri mundur: demikian jalan ditempuh langit.

 

10.

Dalam usaha mengerami jiwamu yang halus dan kasar, dapatkah kamu menghindari perpisahannya? Dalam usaha mengatur nafas ke arah kelemasan, dapatkah kamu menjadi seperti seorang bayi? Dalam usaha membersihkan pandangan yang gelap, dapatkah kamu menyisihkan cacat kelemahanmu? Dalam usaha mengasihi rakyat dan mengatur negara, dapatkah kamu berbuat tanpa suatu tindakan? Dalam usaha mengikuti gerak-gerik Langit[5] dapatkah kamu menyerah seperti seorang wanita? Dalam usaha mengerti alam dunia, dapatkah kamu meniadakan ilmu pengetahuan? Dalam melahirkan dan memeliharanya: melahirkan, tapi tidak memilikinya, berbuat, tapi tidak membanggakannya, memupuk, tapi tidak memaksanya. Inilah yang disebut: “kesaktian yang gaib”.

 

11.

Tiga puluh jeruji berpusat pada satu poros; pada tempat yang kosong terletak gunanya. Dari tanah liat terbuat jambangan; pada tempat yang kosong teletak gunanya. Lobang dibobol untuk pintu dan jendela ruangan; pada tempat yang kosong terletak gunanya. Maka itu: diadakannya untuk menjadi pegangan[6] dikosongkannya supaya berguna.

 

12.

Warna dapat membuat mata jadi buta, bunyi dapat membuat telinga jadi tuli, rasa dapat membuat mulut jadi rusak, mendua dan memburu dapat membuat hati jadi buas, barang yang susah didapat membuat kelakuan jadi curang. Inilah sebabnya orang suci mengutamakan soal perut, tidak mengutamakan soal mata. Maka itu: ia membuang itu dan mengambil ini.

 

13.

Kemuliaan dan hinaan merupakan suatu peringatan; hargailah malapetaka sebagaimana engkau menghargai dirimu. Apakah artinya:kemuliaan dan kehinaan merupakan suatu peringatan? Kemuliaan itu adalah sesuatu yang tinggi, kehinaan itu adalah sesuatu yang rendah; menerimanya merupakan suatu peringatan, terluput dari padanya pun merupakan suatu peringatan; inilah yang dimaksud dengan kemuliaan dan, kehinaan pun merupakan suatu peringatan. Apakah artinya: hargailah malapetaka sebagaimana engkau menghargai dirimu? Sebabnya kami mempunyai diri; kalau kami tidak mempunyai diri, malapetaka apakah dapat kami derita? Maka itu: yang menghargai dirinya terhadap dunia, kiranya dunia dapat diserahkan kepadanya; yang menyayangi dirinya terhadap dunia, kiranya dunia dapat dipercaya kepadanya.

 

14.

Dipandang tidak terlihat: disebutnya halus; didengar tidak bersuara: disebutnya lembut; diraba tidak terpegang: disebutnya larut. Ketiga-tiganya tidak dapat diteliti lagi, maka mereka bercampur menjadi satu. Atasnya tidak terang, bawahnya tidak gelap; bersambung-sambung tanpa dapat diberi nama, kembalilah ia kepada yang tidak berbenda. Inilah yang disebut: wujud tanpa wujud, rupa tanpa rupa. Inilah yang disebut: kesuraman; disongsong tak terlihat kepalanya, dikejar tak terlihat punggungnya. Berpangkal pada jalan lama, untuk memperbincangkan keadaan sekarang, untuk mengerti asal-mula jaman dahulu kala; inilah yang disebut: dasar “Jalan”.

 

15.

Orang yang pada jaman dahulu kala pandai mengikuti “Jalan” adalah yang larut, halus, gaib, meresap, begitu dalam hingga tak dapat dikenal. Justru karena tak dapat dikenal, maka hanya secara terpaksa dapat dilambangkan: barhati-hatilah ia, laksana menyebrangi sungai pada musim dingin; waspadalah ia, bagai dikelilingi bahaya dimana-mana; terhormatlah ia, seperti kamu; lancarlah ia, seperti es yang sedang mencair; tuluslah ia, laksana kayu yang belum diukir; keruhlah ia, seperti air yang tidak jernih; sunyilah ia, seperti lembah. Siapakah dapat menenangkan kekeruhan hingga lambat laun menjadi jernih? Menggerakkan ketentraman hingga lamabat laun menjadi hidup? Mereka yang mempertahankan “Jalan” ini tak ingin menjadi penuh; justru karena tak penuh, maka dimungkinkan, setelah habis, dapat menjadi utuh kembali.

 

16.

Setelah mencapai kekosongan sekosong-kosongnya dan menjadi ketenangan setenang-tenangnya, maka segala benda yang berkembang bersama dapat kami lihat sebaliknya. Benda itu setelah bekerja dengan giatnya, masing-masing pulang kepada asalnya. Pulang kepada asalnya berarti: menjadi tenang kembali; menjadi tenang kembali berarti: mengembalikan tugas; mengembalikan tugas berarti: mencapai hukum alam; memahami hukum alam berarti: awas dan waspada. Kalau tidak mengerti hukum alam akan sial karena berbuat sembarangan; sebab siapa yang mengerti akan hukum alam dapat menampung. Kalau menampung dapat menjadi adil dapat menjadi utuh[7], setelah utuh dapat menyerupai Langit, yang menyerupai Langit dapat mengikuti “Jalan”, yang mengikuti “Jalan” dapat menjadi abadi; sekalipun badannya musnah ia takkan lenyap.

 

17.

Di bawah pemerintah terbaik rakyat tak mengetahui adanya; di bawah yang kurang baik mereka mendekati dan memujinya, di bawah yang lebih kurang baik lagi mereka takut kepadanya, dan menghinanya. Siapa yang kurang menaruh kepercayaan, ia takkan mendapat keparcayaan. Waspadalah dalam kata-katamu yang berharga, supaya setelah kamu berjasa dan hasilnya ternyata, seluruh rakyat akan berkata: kami sendiri yang membuatnya.

 

18.

Baru setelah “Jalan Agung” menjadi suram, orang berbicara tentang perikemanusiaan dan keadilan. Dengan munculnya kebijaksanaan dan kemurahan hati, datanglah juga kebohongan besar. Baru setelah antara keluarganya tak ada keselarasan, dianjurkan cinta dan kasih. Baru setelah negara berada dalam kekacauan, dipujilah hamba-hamba yang setia.

 

19.

Hapuskanlah kesucian dan buanglah kebijaksanaan, supaya rakyat mendapat untung seratus kali lebih. Hapuskanlah perikemanusiaan dan buanglah keadilan, supaya rakyat kembali menikmati cinta dan kasih. Hapuskanlah muslihat dan buanglah perhitungan, supaya tak ada lagi pencuri dan perampok. Sebagaimana perhiasan, ketiga-tiganya itu pun tidak mencukupi. Maka itu: anjurkanlah mereka mengambil pegangan lain: dengan memperlihatkan kemurnian dan mengerami ketulusan, memperkecil diri sendiri dan mengurangi keinginan, menghapuskan pelajaran dan meninggalkan kecemasan.

 

20.

Antara menyambut dan menolak apakah ada bedanya? Antara baik dan busuk apakah yang tidak sama? Yang disegani orang lain harus kami segani pula: luaslah aturan ini, tak ada batasnya! Khalayak ramai bersuka-ria, seperti menikmati perayaan besar, seperti naik menara pada musim semi; kami sendiri khawatir dan tidak memberikan tanda, seperti bayi yang belum tersenyum, berlengah-lengah seprti tak ada tempat untuk pulang. Khalayak ramai supaya berkelebihan, kami sendiri seperti kekurangan; kami berhati seorang bodoh, begitu tumpul! Orang banyak semuanya jernih, kami sendiri yang tinggal keruh; bergolaklah kami seperti samudera, terapung-apung, tanpa tempat untuk berhenti. Khalayak ramai semuanya ada gunanya, kami sendiri bebal seperti hina. Kami ingin berbeda dengan orang lain, maka memuliakan kenyutan air susu Ibunda.

 

21.

Wajah kesaktian yang mewah adalah sesuai dangn “Jalan” yang diikuti. “Jalan” adalah sesuatu tanpa rasa, tanpa sadar; tanpa rasa, tanpa sadar: didalamnya terkandung benda; lembut dan kelam: di dalamnya ada daya yang pasti. Sekarang maupun dahulu namanya tidak hilang, dengannya terliput segala yang besar. Bagaimana kami tahu segala yang besar adalah demikian? Karena ini!

 

22.

Karena tunduk menjadi utuh, karena bengkok menjadi lurus, karena lekuk menjadi penuh, karena rusak menjadi baru, karena sedikit menjadi cukup, karena banyak menjadi ragu. Inilah sebabnya orang suci menggenggam kesatuan dan menjadi pegangan bagi dunia. Ia tak memperagakan diri, maka menjadi terang, tak membenarkan diri, maka gemilang, tak menonjolkan diri, maka berhasil, tak menjunjung diri, maka berlangsung. Justru karena tidak merebut, maka diseluruh dunia tak ada yang dapat berebutan dengannya. Pepatah kuno: “karena tunduk menjadi utuh” bagaimana mungkin hanya merupakan kata hampa belaka? Maka perhatikanlah benar-benar kepatuhan dan pulanglah kepadanya.

 

23.

Jarang bicara adalah sesuai dengan kodrat alam. Maka itu: angin keras tak berlangsung sepenuh pagi, hujan lebat tak berlangsung sepenuh hari. Siapakah yang membuat ini selain dari pada Langit dan Bumi? Kalau Langit dan Bumi tak dapat berlangsung, apa lagi seorang manusia! Maka itu: siapa yang dalam usahanya mengikuti “Jalan”, “Jalan” akan menerimanya, siapa yang berteman kesaktian, kesaktian akan menerimanya; siapa yang berteman nafsu, “Jalan” akan menolaknya. Siapa yang kurang menaruh kepercayaan,k ia takkan mendapat kepercayaan.

 

24.

siapa yang berjingkat tak dapat berdiri lama, siapa yang mengangkang tak dapat berjalan cepat. Siapa yang memperagakan diri tak dapat menjadi terang, siapa yang membenarkan diri takkan menajadi gemilang, siapa yang menonjolkan diri takkan berhasil, siapa yang menjunjung diri takkan dapat berlangsung. Terhadap “Jalan” mereka itu dapat disebut: berkelebihan makanan, berkelebihan pakaian[8] , kiranya dibenci semua makhluk. Maka itu: siapa yang barada pada “Jalan tak berdiam di situ.

 

25.

Adalah sesuatu dalam bentuk campuran yang mendahului lahirnya Langit dan Bumi; sunyilah ia, senyaplah ia, ia berdiri sendiri tanpa berubah, ia jalan berputar tanpa menjadi lelah, ia dapat dianggap sebagai ibu alam-dunia[9]. Kami tak tahu akan nama sesungguhnya; kalau erpaksa memberikan gelar ialah: “Jalan”, kalau terpaksa memberikan nama ialah: besa; besar: yakni keluar, keluar: yakni jauh, jauh: yakni kembali. Maka itu: Lngit adalah besar, Bumi adalah besar, “Jalan” adalah besar, manusia[10] adalah besar: di alam semesta terdapat empat besar, diantaranya manusia menduduki satu tempat. Manusia berpedoman pada “Langit” Langit berpedoman pada “Jalan”, “Jalan” berpedoman pada “kodrat alam”.

 

26.

Yang berat merupakan pokok yang ringan, yang tenang merupakan kemudi bagi yang bergegas. Inilah sebabny seorang kesatria, sekalipun berjalan sepanjang hari, tidak meninggalkan kereta barangnya. Maupun memiliki istana mewah, dan gedung-gedung indah, melampaui segala-galanya, bagaimanakah seorang pangeran negara besar dapat meringankan dirinya terhadap dunia? Orang meringankan dirinya akan kehilangan pokok, yang bergegas akan kehilangan kemudinya.

 

27.

Orang yang pandai berjalan tak meninggalkan jejak, orang yang pandai bicara tak menimbulkan luka, orang yang pandai menghitung tak memerlukan alat hitung, orang yang pandai menutup tak menggunakan kunci, tetapi tak ada yang dapat membuka, orang yang pandai mengikat tak menggunakan tali, tetapi tak ada yang dapat melepaskannya. Inilah sebabnya orang suci selamanya pandai menolong orang, sehingga tak ada orang yang ditolak; selamnya pandai menolong barang benda, sehingga tak ada barang benda yang ditolak; inilah yang disebut kewaspadaan yang menyusup. Maka dari pada itu: orang baik merupakan guru bagi orang yang tidak baik, orang yang tidak baik merupakan bahan bagi orang yang baik. Siapa yang tidak menjunjung tinggi gurunya, atau tidak menyayangi bahannya walaupun pintar akan tersesat jauh. Inilah yang disebut: “kegaiban yang kelam”.

 

 

28.

Siapa yang mengetahui kejantanannya, tetapi mempertahankan keperempuannya[11], menjadi budak bagi dunia; yang menjadi budak bagi dunia, kesaktiannya yang kekal takkan hilang; ia akan menjadi lemah seperti seorang bayi lagi. Siapa yang mengetahui keputihannya, tetapi mempertahankan kehitamannya, menjadi pegangan bagi dunia; yang menjadi pegangan bagi dunia, kesaktiannya yang kekal takkan ketinggalan; ia akan pulang ke dunia yang tak mempunyai atas. Siapa yang mengetahui kemuliaannya, menajdi lembah bagi dunia; yang menjadi lembah bagi dunia, kesaktiannya yang kekal akan terus genap; ia akan menjadi lagi seperti batu permata yang belum terukir. Batu permata yang belum terukir baru setelah terpecah-belah menjadi alat beraneka warna; orang suci dalam menggunakannya menjadi pengatur masing-masing tugasnya. Inilah sebabnya cara pemerintah yang sempurna adalah tidak memecah-belah.

 

29.

Siapa yang bermaksud memperoleh dunia dengan tindakan, kami lihat kegagalannya; terhadap alat berjiwa tak dapat digunakan tindakan, tak dapat mencoba memegang; siapa yang bertindak akan gagal, siapa yang memegang akan kehlangan. Maka itu segala sesuatu: ada yang berjalan di depan, ada yang berjalan dibelakang, ada yang perlahan, ada yang cepat, ada yang kuat, ada yang lemah, ada yang utuh, ada yang jatuh. Inilah sebabnya orang suci melepaskan diri dari kerisauan, keborosan dan keangkuhan.

30.

kalau dengan “Jalan” hendak bermaksud menjadi pemimpin rakyat, jangan menggunakan senjata untuk memaksa dunia; hal demikian itu cepat mengakibatkan kebalikannya. Dimana tentara berdiam, di sana tumbuh rumput dan duri; menyusul sebuah perang besar selalu ada masa kelaparan. Orang tidak hanya menggunakan kejujuran, tidak mengambil dengan paksaan. Jujur dan tidak congkak, jujur dan tidak menjunjung diri, jujur dan tidak menonjolkan diri, jujur sekalipun harus bertindak; inilah kejujuran tanpa paksaan. Segala benda setelah dewasa menjadi tua; inilah yang disebut: menyimpang dari “Jalan”; menyimpang dari “Jalan” berarti segala sesuatunya akan cepat berakhir.

31.

Justru karena senjata merupakan alat sial, dibenci oleh siapa pun jua, maka yang berada pada “Jalan” tidak menggunakannya. Bagi seorang kesatria, dalam diamnya kiri adalah tempat yang terhormat, dalam peperangan kanan adalah tempat yang terhormat. Kalau orang yang terbunuh berjumlah banyak, dengan duka didatanginyalah mereka; kemenangan perang dengan upacara kematian dirayakannya.

 

32.

“Jalan” adalah kekal, tanpa nama, seperti batu permata belum terukir yang, walaupun kecil, dikolong Langit tak ada yang berani menjadikan abdinya; kalau raja dan pangeran dapat dengan sendirinya menjadi tamunya. Langit dan Bumi berhubungan untuk menjatuhkan Embun Manis, yang tanpa diperintah manusia dengan sendirinya merata. Baru setelah diadakan aturan maka adalah nama-nama; setelah ada nama-nama, maka harus juga mengetahui jelas batas-batasnya; setelah mengetahui batas-batasnya maka takkan masuk bahaya. “Jalan” terhadap dunia adalah seperti sungai-sungai yang mengalir ke dalam samudera.

 

33.

Mengerti akan orang lain adalah bijaksana, mengerti akan diri sendiri adalah mawas-diri dan waspada. Menakklukkan orang lain adalah berdaya, menakklkkan diri sendiri adalah kuat. Mengetahui batas kecukupan berarti kaya, berbuat dengan paksaan berarti nekat. Siapa yang tidak meninggalkan kedudukannya akan berlangsung mati tanpa tersesat berarti panjang umur.

34.

Melalui “Jalan Agung”, meluaplah ia, ia dapat ke kiri, maupun ke kanan segala benda tumbuh dengan mendasarkan padanya, satu pun tak ditolak; setelah berjasa ia tak mau memilikinya, ia menyayangi dan memelihara segala benda, tetapi tidak menjadikan majikannya; dapatlah ia disebut besar. Inilah sebabnya disebut orang suci, karena tak selama-lamanya tak mau menjadi besar, maka justru ia dapat menyempurnakan kebesarannya.

 

35.

Pegang teguhlah “Bayangan Agung”, maka seluruh dunia akan datang kepadamu; yang datang itu takkan menderita, melainkan mencapai ketenangan dan bahagia. Kalau ada pesta dengan jamuan makan, orang-orang yang lewat semuanya berhenti; tetapi kata-kata yang diucapkan tentang “Jalan” adalah hambar dan tanpa rasa; seperti tak perlu dilihat, seperti tak perlu didengar, seperti tak perlu dikenyam.

 

36.

Siapa yang tidak hendak menyusut, harus sementara mengulur; siapa yang hendak memperlemah, harus sementara memperkuat; siapa yang hendak  merusak, harus sementar membangun; siapa yang hendak mengambil, harus sementara memberi; inilah yang disebut: “kewaspadaan (yang) halus”. Yang lembek mengalahkan yang keras, yang lemah mengalahkan yang kuat; karena ikan tak dapat meninggalkan lubuknya; maka senjata tajam milik negara tak dapat dipinjamkan kepada sembarangan orang.

 

37.

“Jalan” adalah kekal dan tak bertindak, tetapi tak ada sesuatu yang tidak oleh karenanya bergerak. Kalau raja dan pangeran dapat memeliharanya, segala benda akan berkembang dengan sendirinya. Jika perkembangan ini menimbulkan keinginan, kami akan mencegahnya dengan “kemurnian yang tak bernama”, kemurnian yang tak bernama, itulah yang kiranya takkan menimbulkan keinginan. Tanpa keinginan dan dengan ketenangan, seluruh dunia dengan sendirinya akan menjadi beres.

 

 

 

38.

Kesaktian yang unggul tidak memperlihatkan saktinya, oleh karenanya sakti; kesaktian yang rendah tak mau meninggalkan saktinya, oleh karenanya tidak sakti. Kesaktian yang unggul tak bertindak dan tidak mempunyai tujuan untuk bertindak; kesaktian yang rendah tak bertindak, tetapi mempunyai tujuan untuk bertindak. Perikemanusiaan yang unggul bertindak, tetapi tak mempunyai tujuan untuk bertindak; perikeadilan yang unggul bertindak, tetapi tak mempunyai tujuan untuk bertindak; upacara yang unggul bertindak dan kalau tak ada yang menyambutnya, lalu menggulung lengan untuk memaksakannya. Maka dari pada itu: baru setelah kehilangan “Jalan” adalah kesaktian; baru setelah kehilangan kesaktian adalah perikemanusiaan; baru setalah kehilangan perikemanusiaan adalah perikeadialan; baru setelah kehilangan  perikeadilan adalah upacara. Upacara itu adalah selimut tipis bagi kesaktian dan ketulusan, permulaan dari pada kekacauan. Mengetaui sebelumnya adalah perhiasan dari “Jalan”, permulaan dari kejahatan. Inilah sebabnya orang yang benar dewasa, berdiam pada yang tebal, bukan pada yang tipis, tinggal pada isinya, bukan pada perhiasannya. Dan akhirnya: ia membuang itu dan mengambil ini.

 

39.

Inilah yang pada jaman dahulu mencapai kesatuan: Langit mencapai kesatuan dan menajadi terang, Bumi mencapai kesatuan dan menajadi tenang, roh mencapai kesatuan dan menjadi hidup, lembah-lembah mencapai kesatuan dan menjadi penuh, segala benda mencapai kesatuan dan tumbuh, pangeran dan raja mencapai kesatuan dan menjadi patokan bagi negara. Kalau langit tak dapat menjadi terang kiranya akan pecah, kalau Bumi tak dapat menjadi tenang kiranya akan gempa, kalau roh tak dapat menjadi hidup kiranya akan mampus, kalau lembah-lembah tak dapat menjadi penuh kiranya akan kering, kalau segala benda tak dapat tumbuh kiranya akan musnah, kalau pangeran dan raja tak dapat menjadi patokan bagi negara kiranya akan tergelincir. Maka daripada itu: mulai harus menggunakan yang rendah sebagai pokok, tinggi harus menggunakan bawah sebagai dasar. Inilah sebabnya pangeran dan raja menyembut diri: “kami yang terpencil”, “kami yang kekurangan”, “kami yang tak cukup”, bukankah ini menggunakan rendah sebagai pokok? Maka itu: menuntut banyak pujian meniadakan segala pujian; jangan ingin menjadi terukir seperti batu permata, atau tersebar-sebar seperti batu kerikil.

 

40.

Berbalik: itulah geraknya “Jalan” lemah: itulah gunanya “Jalan”. Langit dan Bumi serta segala benda berasal dari “ada”, “ada” berasal dari “tiada”.

 

41.

seorang pendekar tinggi kalau mendengar tentang “Jalan” dengan bersemangat akan menempuhnya; seorang pendekar menengah kalau mendengar tentang “Jalan” sebentar akan mengikutinya, sebentar melepaskannya; seorang pendekar rendah kalau mendengar tentang “Jalan”, dengan sombong akan menertawakannya; kalau tidak menertawakannya, memang tidak perlu dianggap sebagai “Jalan”. Maka dari itu ada pepatah: “Jalan” yang terang seperti gelap, “Jalan yang maju seperti mundur, “Jalan” yang rata seperti curam; sakti yang tinggi seperti rendah, putih yang terang seperti hitam, sakti yang luas seperti sempit, sakti yang sehat seperti sakit, sakti yang wajar seperti lengah; persegi yang sempurna tak mempunyai siku, jambangan yang bagus lambat selesai, suara yang keras bunyinya kecil, bentuk yang besar tak mempunyai rupa. “Jalan” itu tersembunyi, tanpa nama; justru karena itu ia adalah “Jalan”, maka pandai dalam persiapan, maupun dalam penyelesaian.

 

42.

“Jalan” melahirkan “satu”, “satu” melahirkan “dua”,  “dua” melahirkan “tiga”, “tiga” melahirkan segala benda. Segala benda itu mendukung gelap dan memeluk terang, yang setelah bercampuran hawanya mencapai keselarasan. Apa yang yang dibenci manusia adalah: “terpencil”, “kekurangan”, “tak cukup”, tetapi kata-kata ini digunakan oleh raja dan pangeran sebagai sebutan diri. Maka itu: segala sesuatu bertambah dengan dikuranginya, berkurang dengan ditambahnya. Apa yang diajarkan oleh orang lain kamipun mengajarkannya: “siapa yang menggunakan kekerasan takkan menemukan ajal yang baik”, kami menganggapnya sebagai guru kami.

 

43.

Yang terlembut di kolong Langit dapat menembus yang terkeras di kolong Langit; berasal dari[12] yang tak berwujud ia dapat memasuki barang yang tak bersela-sela; inilah sebabnya diketahui: tidak bertindak ada gunanya. Mengajar tanpa berkata, berguna tanpa bertindak, di kolong Langit jarang yang mencapainya.

 

44.

Nama dan badan, mana yang lebih dekat? Badan dan barang, manakah yang lebih berharga? Mendapat dan kehilangan, manakah yang lebih merugikan? Maka dari itu: terlalu pelit pasti mengakibatkan pemborosan besar, banyak menimbun pasti mengakibatkan kehilangan besar. Maka yang tahu akan cukup takkan sampai pada bahaya; ia akan lebih dapat tahan lama.

 

45.

Guci yang berisi padat adalah seperti retak, tetapi gunanya tak berkurang-kurang. Jambangan yang penuh sesak adalah seperti kosong, tetapi gunanya tak habis-habis. Yang paling lurus adalah seperti bengkok, yang paling cerdas seperti bodoh, yang paling fasih seperti bisu. Api panas dapat mengatasi dingin, air sejuk dapat mengatasi panas, kemurnian dan ketenangan dapat menjadi pembina seluruh alam.

 

46.

Kalau negara berada pada “Jalan”, kuda pacuanpun menganggur dan hanya memberika rabuk/pupuk; kalau negara tidak berada pada “Jalan”, kuda buntingpun melahirkan di medan peperangan. Tak ada kesalahan yang lebih besar daripada banyak[13] keinginan, tak ada bahaya yang lebih besar daripada tak kenal cukup, tak ada bencana lebih besar daripada ingin mendapat. Maka itu: kalau tahu cukup itu sudah cukup, akan selama-lamanya cukup.

 

47.

Tanpa keluar dari pintu mengerti semuanya di kolong Langit; tanpa mengintip dari jendela mengetahui jalannya Langit. Makin jauh kamu pergi, makin sedikit kamu mengerti. Inilah sebabnya orang suci tanpa bergerak, tahu, tanpa melihat, mengerti, tanpa bertindak, berhasil.

 

48.

Untuk belajar: tiap hari harus bertambah, untuk mengikuti “Jalan”: tiap hari harus berkurang; berkurang dan terus berkurang, sehingga sampai pada “tidak bertindak”; tidak bertindak, tetapi tak ada sesuatu yang tidak dikerjakan.

Maka itu: memperoleh dunia selamanya[14] tanpa usaha; siapa yang berusaha takkan dapat memperoleh dunia.

 

49.

Orang suci tidak mempunyai kehendak, kehendak rakyat dianggapnya sebagai kehendak sendiri. Siapa yang baik kami perlakukan secara baik, yang tidak baik kami perlakukan secara baik juga; demikianlah semua mencapai kebaikan. Siapa yang jujur kami perlakukan secara jujur; yang tidak jujur kami perlakukan secara jujur juga; demikianlah semua mencapai kejujuran. Orang berada di dunia seperti orang yang khawatir; bekerja di dunia seperti orang yang bodoh; padahal rakyat semua menggunakan telinga dan matanya semau-maunya, orang suci selalu menutupnya.

 

50.

Antara lahir dan mati jalan kehidupan merupakan sepertiga bagian, jalan kematian merupakan sepertiga bagian; dalam kehidupan manusia gerakan yang dapat membawa kematian merupakan sepertiga bagian juga. Apakah sebabnya ini? oleh karena mereka terlalu memandang hidup sebagai hidup. Memang kami mendengar: siapa yang pandai memelihara kehidupan, kalau masuk ke medan peperangan tak usah membawa perisai dan senjata; bagi badak tak ada tempat untuk memasukkan tanduknya, bagi harimau tak ada tempat untuk mencengkeramkan kukunya, bagi senjata tak ada tempat untuk memasukkan tajamnya. Apakah sebabnya ini? oleh karena pada badannya tak ada tempat yang mengakibatkan kematian.

 

51.

Ditumbuhkan oleh “Jalan”, dipupuk oleh sakti, mendapat wujud oleh benda, diselesaikan oleh suasana. Inlah sebabnya segala benda semuanya menghormati “Jalan” dan menghargai sakti. Dihormatinya “Jalan”, dihargainya sakti, ialah karena tidak pernah menguasainya dan selalu menuruti wataknya. Maka itu: “Jalan” menumbuhkannya, sakti memupuknya, memperkembangkannya, mendidiknya, menyempurnakannya, memasakkannya, memeliharanya dan melindunginya. Menumbuhkan tanpa mau memilikinya, berbuat tanpa menjadi sandarannya, memperkembangkan tanpa menjadi pengawasannya; inilah yang disebut: “sakti (yang ) gaib”.

 

52.

seluruh alam mempunyai asalnya yang dapat dianggap sebagai ibunya; siapa yang mengenal ibunya akan mengenal anaknya juga; siapa yang mengenal anaknya dan terus menjaga ibunya, sampai pada ajalnya takkan masuk dalam bahaya. Sumbatlah lubangmu, tutuplah pintumu, sampai pada wafat kamu takkan menderita. Bukalah lobangmu, desaklah usahamu, sampai pada wafat kamu takkan berhasil. Dapat melihat barang lembut disebut waspada, dapat menjaga kelemahan disebut kuat. Siapa yang menggunakan sinarnya, tetapi menyembunyikan apinya, takkan menarik bahaya pada dirinya; inilah yang disebut: “menutupi rahasianya”.

 

53.

Kalau kami dengan pengetahuan yang sempit, maka penyesalanlah yang akan dikhawatirkan. Menginjak pada “Jalan” yang besar, “Jalan” besar sangat rata, tetapi manusia suka akan jalan simpangan. Di istana amat banyak hal yang kotor, ladang-ladang penuh rumput, lumbung-lumbung yang sama sekali kosong, tetapi orang-orang berpakaian mentereng, membawa pedang tajam di sabuknya, makan dan minum sekenyang-kenyangnya, memiliki harta benda berlebih-lebihan; mereka itulah yang dapat disebut: pencuri ulung, penentang “Jalan”.

 

54.

Yang pandai menanam tak dapat dicabut tanamannya, yang pandai memeluk tak dapat dirampas pelukannya; sajian anak-cucunya takkan berhenti-henti. Siapa yang memeliharanya untuk dirinya sendiri, saktinya akan menjadi benar; siapa yang memeliharanya untuk keluarganya, saktinya akan berlebih-lebihan; siapa yang memeliharanya untuk dusunnya, saktinya akan terus berlangsung; siapa yang memeliharanya untuk daerahnya, saktinya akan menjadi subur; siapa yang memeliharanya untuk seluruh negara, saktinya akan menjalar kemana-mana. Maka itu: pandanglah dari orang sebagai dirimu, keluarga orang sebagai keluargamu, dusun orang sebagai dusunmu, negara orang sebagai negaramu. Bagaimanakah kami tahu terhadap negara adalah sedemikian? Karena ini!

 

 

55.

Siapa yang penuh mengandung kesaktian dapat dibandingkan dengan seorang bayi; serangga berbisa tak dapat menyengatnya, binatang buas tak dapat menerkamnya; tulangnya lemah, uratnya lemas, tetapi pegangannya teguh; ia belum mengetahui hubungan antar pria dan wanita, tetapi zakarnya hidup; ini karena sarinya mencapai puncaknya; sepanjang hari ia berteriak, tetapi tidak menjadi parau; ini karena keselarasannya mencapai puncak. Mengetahui keselarasan berarti: kekal, mengetahui kekekalan berarti: waspada, menambah kehidupan berarti: sial, menyuruh hati menggerakkan nafsu berarti: nekat. Segala benda setelah dewasa menjadi tua; inilah yang disebut: menyimpang dari “Jalan”; menyimpang dari “Jalan”, maka cepat berakhirl.

 

56.

Yang mengerti tidak banyak bicara, yang banyak bicara tidak mengerti. Sumbatlah lubangnya, tutuplah pintunya, tumpulkanlah ketajamannya, larutkanlah nafsunya, redupkanlah sinarnya, ratakanlah debunya; inilah yang disebut: “pelaburan gaib”. Maka itu: tak dapat didekati, tak dapat dijauhi, tak dapat diuntungkan, tak dapat dirugikan, tak dapat dimuliakan, tak dapat dihina, dan oleh karenanya menjadi mulia di kolong langit.

 

57.

Dengan kejujuran negara dapat diatur, dngan musihat peperangan dapat dilakukan, tetapi hanya dengan “tanpa mengurus” dapat diperoleh hati dunia. Bagaimakah kami tahu sedemikian itu? Karena ini: makin banyak larangan di dunia, makin tambah orang menderita; makin banyak orang menggunakan alat-alat tajam, makin kacau jadinya negara; makin banyak orang pintar dan cerdas, makin menjalar jadinya hal-hal yang aneh; makin banyak undang-undang diumumkan, makin banyak pencuri dan perampok. Maka itu orang suci berkata: kami tak bertindak, maka dengan sendirinya rakyat berubah; kami mengindahkan ketenangan, maka dengan sendirinya rakyat bersahaja.

 

58.

Dimana ada pemerintah yang keruh, disana rakyatnya tulus dan jujur; di sana ada pemerinah yang jernih, di sana rakyatnya curang. Malapetaka adalah penyangga bagi kebahagiaan, kebahagiaan adalah tempat sembunyi bagi malapetaka; siapa yang mengetahui batasnya? Apakah tak ada pembenarannya? Tetapi kalau pembenaran dicari pada muslihat, kecakapan akan membalikkan penipuan; rakyat memang sudah lama menjadi tersesat. Inilah sebabnya orang suci menjadikan persegi tanpa memotong, membuat siku tanpa membengkokkan, menjadikan lurus tanpa mengulur, mengeluarkan sinar tanpa berkilau.

 

59.

Untuk memerintah rakyat dan mengabdi Langit, tak ada cara lain dari pada mempunyai pegangan; judtru mempunyai pegangan ini, inilah yang disebut: terlebih dahulu sesuai dengan “Jalan”. Terlebih dahulu sesuai dengan “Jalan” berarti: mengumpulkan sakti bertumpuk-tumpuk; kalau sakti berkumpul bertumpuk-tumpuk, maka tak ada yang tertundukkan, maka tak ada yang mengetahui batasnya, yang tidak mengetahui batasnya dapat menguasai negara; siap yang memiliki induk penguasaan negara, dapatlah ia berlangsung lama. Inilah yang dimaksud dengan: berakar dalam dan berdasar kokoh adalah jalan untuk usia panjang dan hidup lebih lama.

 

60.

Memerintah negara besar adalah seperti mengalirkan air yang sudah dangkal. Kalau dunia diatur dengan “Jalan”, maka setan-setan takkan berjiwa; bukan saja setan-setannya tak berjiwa, jiwa-jiwa itupun takkan mengganggu manusia; bukan saja jiwa-jiwa itu tak mengganggu manusia, orang sucipun takkan mengganggu rakyat. Justru kedua-duanya tak ganggu-mengganggu, maka saktinya bergandengan menuju ke arah yang sama.

 

61.

Negara besar ialah seperti lembah sungai, penghubung semuanya di kolong Langit, berwatak betina terhadap semuanya di kolong Langit; betina selalu dengan ketenangannya mengalahkan jantan, dengan ketenangannya menduduki tempat rendah. Maka itu: kalau negara besar membawah[15] kepada negara kecil, akan dapat menarik negara kecil; kalau negara kecil membawah kepada negara bear, akan dapat menarik negara besar. Maka itu: yang satu membawah untuk menarik, yang lain membawah supaya menarik; negara besar hanya ingin melindungi negara lain, negara kecil hanya ingin melayani negara lain, negara kecil hanya ingin melayani negara lain. Justru kedua-duanya masing-masing mencapai keinginannya, maka yang besar harus membawah.

 

62.

“Jalan” adalah tempat penetasan bagi segala benda, bagi orang baik merupakan pusaka, oleh orang tidak baik untuk tidak dipelihara[16]. Kata-kata bagus dapat membeli kehormatan, kalakuan bagus dapat menambah kedudukan; kalau ada orang yang tidak baik, adakah alasan untuk menolaknya? Maka itu: pada waktu raja naik tahta, atau seorang perdana menteri diangkat, walaupun berupacara dengan membawa tongkat kebesaran di depan, disusul dengan empat pasang kuda, daripadanya lebih baik duduk di tempat dan menganjurkan “Jalan” ini. mengapa jaman dahulu kala memuliakan “Jalan” ini? tidakkah karena berarti: yang mencari akan memperolehnya, yang berdosa akan terampun olehnya? Maka itu merupakan tempat pemulihan bagi seluruh dunia.

 

63.

Berbuatlah tanpa bertindak, bekerjalah seperti tak ada urusan, rasailah seperti tak ada rasanya; dalam hal besar maupun kecil, banyak maupun sedikit, balaslah dendam dengan kesaktian. Untuk mengatasi yang sukar mulailah dengan yang mudah, untuk membuat yang besar mulailah dengan yang kecil. Kesukaran di kolong Langit semuanya mulai dari mudahnya; kebesaran di kolong Langit semuanya mulai dari kecilnya. Inilah sebabnya orang suci tak pernah membuat yang besar, karenanya berhasil besar. Orang yang mudah berjanji pasti jarang dapat dipercaya; yang sering menggampangkan pasti sering menemukan kesukaran. Inilah sebabnya orang suci memandang segala-galanya sebagai sukar, karenanya selama-lamanya tak menemui kesukaran.

 

64.

Yang diam mudah di pegang, yang belum nyatu mudah disediakan rencana, yang rapuh mudah dipatahkan, yang halus mudah ditebarkan. Berbuatlah sebelum ada apa-apa, aturlah sebalum menjadi kacau. Pohon sepemeluk tumbuh dari akar yang lembut, menara sembilan tingkat tegak atas segumpal tanah, perjalanan sejauh seribu li mulai dengan selangkah kaki. Siapa yang bertindak akan gagal, siapa yang memegang akan kehilangan; inilah sebabnya orang suci tidak bertindak, maka tidak gagal, tidak memegang, maka tidak kehilangan. Orang-orang mengurus pekerjaannya sering gagal kalau hampir selesai; perhatikanlah akhir bagaimana awal, supaya tidak gagal dalam usahamu. Inilah sebabnya orang suci ingin yang ditangani orang lain, maka tidak menghargai barang yang sudah didapat; mempelajari yang tidak dipelajari orang lain, maka mengumpulkan yang dilewati khalayak ramai; demi membantu kodrat segala benda ia tidak berani bertindak.

 

65.

Mereka yang pada jaman dahulu kala pandai mengikuti “Jalan”, tidak menggunakannya untuk membuat rakyat pintar, melainkan menggunakannya untuk menjadikannya tulus; sebabnya rakyat susah diatur ialah karena mereka banyak kecerdikan. Maka itu: yang mengatur negara dengan kecerdikan, bagi negara menjadi bahaya; yang mengatur negara tanpa kecerdikan, bagi negara menjadi bahagia. Mengerti akan kedua-duanya ini kiranya merupakan suatu pedoman; selalu mengingat akan pedoman ini, ialah yang disebut: “sakti gaib”. Sakti gaib adalah dalam dan luas; sehingga dengan segala benda ia berbalik. Sehingga mencapai penyesuaian yang sempurna.

 

66.

Semua orang di kolong Langit mengatakan “Jalan” kami adalah besar, tak ada bandingnya. Justru karena besar, maka tak ada bandingnya; andaikata ada bandingnya sudah lama ia merosot! Kami mempunyai tiga pusaka yang kami pegang dan jaga; kesatu: kasih; kedua: hemat; ketiga: tak mau berada di depan di kolong Langit. Kasih, maka bisa gagah berani; hemat, maka bisa bermurah hati; tak mau berada di depan di kolong Langit,maka bisa menjadi kepala para menteri. Sekarang ada yang menyampingkan kasih supaya menjadi gagah berani; yang menyampingkan hemat supaya menjadi murah hati; yang menyampingkan kedudukan di belakang supaya berada di depan; itulah yang mengakibatkan kematian! Kasih itu dalam peperangan: menang; dalam pertahanan: teguh; siapa yang akan dibantu Langit, dengan kasih akan dikawal.

 

67.

Semua orang di kolong Langit mengatakan “Jalan” kami adalah besar, tak ada bandingannya.; andaikata ada bandingannya, sudah lama ia merosot! Kami mempunyai tida pusaka yang kami pegang dan jaga; kesatu : kasih;  kedua : hemat; ketiga : tak mau berada di depan di kolong Langit.

Kasih , maka bisa bermurah hati; tak mau berada di depan kolong Langit, maka bisa menjadi kepala para menteri. Sekarang ada yang menyampingkan kasih supaya menjadi gagah-berani; yang menyampingkan hemat supaya menjadi bermurah hati; yang menyampingkan kedudukan di belakang supaya berada di depan; itulah yang mengakibatkan kematian! Kasih itu dalam peperangan menang; dalam pertahanan : teguh; siapa yang akan dibantu Langit, dengan kasih akan dikawal.

 

68.

Orang yang dahulu pandai menjadi pendekar tidak memperlihatkan kegagahannya, yang pandai berperang tidak menunjukkan kemarahannya, yang pandai mengalahkan musuh tidak bertengkar dengannya, yang pandai menggunakan orang membawahkan diri kepadanya. Inilah yang disebut: sakti yang tidak merebut; inilah yang disebut: daya untuk menggunakan orang; inilah yang disebut: Puncak penyesuaian dengan Langit.

 

69.

Untuk berperang ada pepatah kuno: kalau kami tak berani menyerang kami tunggu serangan, kalau kami tak berani maju selangkah kami mundur sepuluh langkah. Inilah yang disebut: bergerak, tapi seperti tidak bergerak, mengangkat tangan, tapi seperti tak ada tangan, berhadapan dengan musuh, tapi seperti tak mempunyai senjata. Tak ada malapetaka yang lebih besar daripada meremehkan musuh; meremehkan musuh adalah hampir sama dengan kehilangan pusaka. Maka itu: kalau dua tentara berhadap-hadapan dengan kekuatan yang sama, yang mengalah[17] pasti akan menang.

 

70.

kata-kataku sangat mudah dipahami, sangat mudah dijalankan; tetapi di kolong Langit tak ada yang dapat dimengerti, tak ada yang dapat menjalankan. Kata-kataku mempunyai patokan, perbuatanku mempunyai pedoman; tetapi justru karena tak ada yang mengerti, maka tak ada yang memahami kami. Makin sedikit yang memahami kami, makin mulia kami jadinya; inilah sebabnya orang suci seperti orang berpakaian rombengan yang menyimpan batu permata di dalam hati.

 

71.

Tahu, tetapi seperti tidak tahu adalah mulia, tidak tahu, tetapi mengira tahu adalah cacat. Inilah sebabnya orng suci tidak bercacat, karena ia melihat cacat sebagai cacat, maka itu ia tidak memiliki cacat.

 

 

 

72.

Begitu rakyat tak lagi takut akan perbawamu, maka datanglah perbawa yang lebih besar[18]. Jangan mempersempit kedamaiannya, jangan menindas kehidupannya; justru karena tertindas, maka mereka akan merasa jemu. Inilah sebabnya orang suci tahu diri, tapi tak memperlihatkan diri, sayang diri, tapi tidak bersikap memuliakan diri. Maka itu: “buanglah itu dan ambillah ini!

 

73.

Yang berani gagah, terbunuh, yang berani tak gagah, hidup; dari kedudukannya ini yang satu menguntungkan, yang lain merugikan; yang lain dibenci Langit siapakah mengerti akan sebabnya? Jalan Langit adalah: tidak merebut, tetapi selalu menang, tak berkata, tetapi selalu mendapat sambutan, tidak memanggil, tetapi semuanya datang dengan sendirinya, diam-diam, tetapi selalu berencana; jala yang dipsang Langit adalah luas, dan jarang, tetapi tidak pernah bocor.

74.

Kalau rakyat tak takut mati, mengapa harus mengancamnya dengan hukuman mati? Andaikata mereka terus ditakut-takuti mati, dan orang yang membuat kekacauan kami dapat menangkap dan membunuhnya, siapakah berani? Bukankah selalu ada Algojo yang membunuh mati! Menghukum mati sebagai Algojo, adalah seperti menebang pohon sebagai pengganti tukang kayu; yang menebang pohon sebagai pengganti tukang kayu. Jarang tidak melukai dirinya sendiri.

 

75.

Kalau rakyat kelaparan, itu karena atasannya memungut pajak terlalu banyak; inilah sebabnya mereka kelaparan. Kalau rakyat susah diperintah, itu karena atasannya melakukan tindakan terlalu banyak; inilah sebabnya mereka susah diperintah. Kalau rakyat tak segan mati, itu karena atasannya terlalu memandang hidup sebagai hidup; inilah sebabnya mereka tak segan mati. Justru karena mereka tak dapat menuntut kehidupan, maka mereka lebih bijaksana daripada yang mengindahkan kehidupan.

 

76.

Manusia pada waktu hidup lemah dan lemas, kalau mati menjadi kaku dan keras. Segala benda dan tanaman pada waktu tumbu lemah dan lemas, kalau mati menjadi kering dan getas. Maka itu: kaku dan keras adalah teman kematian, lemah dan lemas adalah teman kehidupan. Inilah sebabnya: senjata keras mudah menjadi rusak, Maka itu: kaku dan keras menduduki tempat yang di bawah, lemah dan lemas menduduki tempat yang di atas.

 

 

 

77.

Jalan Langit kiranya dapat dibandingkan dengan busur yang direnggangkan; kalau tinggi diturunkan, kala rendah, dinaikkan, kalau lebih, dikurangi, kalau kurang, ditambah. Jalan Langit mengurangi yang berlebih-lebihan, mengurangi yang kekurangan. Bukan demikianlah jalan manusia: menambah yang kekurangan. Untuk dihadiahkan kepada yang berkelebihan! Siapakah yang dapat menghadiahkan kelebihannya kepada seluruh dunia? Hanya ia yang menempuh “Jalan”. Inilah sebabnya orang suci berbuat tanpamenjadi sandaran, berjasa tanpa menuntut, seperti pelayan yang tak memperlihatkan dayanya.

 

78.

Di kolong Langit tak ada kelemasan dan kelemahan yang melampaui air, tetapi kalau menyerang sesuatu yang keras, tak ada kekuatan yang dapat melebihinya; kiranya tak ada yang menggantikannya. Maka itu: lemah mengalahkan kuat, lemas mengalahkan keras; tetapi di kolong Langit tak ada yang dapat mengetahuinya, tak ada yang dapat menjalankannya. Maka itu orang suci berkata: yang dapat menerima kekotoran negara, itulah penjaga pusaka; yang dapat menerima kesialan negara, itulah raja seluruh dunia. Kata-kata benar yang terbaik rupanya![19]

 

79.

Penyelesaian kebencian yang dalam pasti masih meningglakan sisa dendam; bagaimanakah dapat dipandang memuaskan? Inilah sebabnya orang suci memegang surat perjanjian, tetapi tidak menagih dari orang yang berutang. Maka itu: yang sakti percaya kepada perjanjian, yang tidak sakti menuntut dengan paksaan. Jalan Langit tak memandang bulu, tetapi orang baik selalu dibantu.

 

80.

Dalam negara kecil dengan rakyat sedikit, biarlah ada alat beraneka warna, tetapi jangan sampai digunakannya; biarlah rakyat segan mati, jangan sampai mengungsi ke tempat jauh. Walaupun ada kereta dan perahu, tak ada tempat yang perlu dituju; walaupun ada senjata berupa-rupa, tak ada tempat untuk memamerkannya. Biarlah rakyat meninggalkan tulisan dan kitab, menikmati makanannya, memperindah pakaiannya, mencintai adat-istiadatnya. Negara tetangga dapat melihatnya, suara ayam dan anjing saling didengarnya, tetapi rakyatnya hingga pada saat terakhir tidak saling berkunjung.

 

81.

Kata yang jujur tidak bagus, kata yang bagus tidak jujur. Orang yang cerdik tidak banyak bicara, orang yang banyak bicara tidak cerdik. Orang yang banyak tahu tidak sombong, orang yang sombong tidak banyak tahu. Orang suci tidak menyimpang; ia menyumbang sehabis-habisnya, tapi makin menjadi kaya; ia memberi sehabis-habisnya, tapi makin berkelebihan. Jalan yang ditempuh Langit menguntungkan, tidak merugikan. Jalan yang ditempuh orang suci memberi, tidak merebut.@

 

 

 

 

 

 

APLIKASI

TAO TEH CHING (dalam) KEHIDUPAN

Penekanan Tao Kehidupan adalah pada menyeimbangkan, dan bukanlah pada keseimbangan. Implikasinya adalah pada bahwa prosesnya bersifat ritmis, bukan linier, siklis dan bukannya progresif. Kita tidak dimanapun ketimbang dimana kita berada. Penekanan pada Tao Kehidupan adalah pada pemeliharaan dari penyeimbangan yang dianamis dan harmoni di masa sekarang.

 

1.

Pertama Kali, Belajarlah Untuk Mengetahui

Proses mengetahui untuk pertama kalinya, seperti mengetahui yang paling dalam, sesuatu yang tak dapat dipikirkan. Suara dan lambang kata hanyalah menunjukkan. Segala pemikiran tak dapat mengikuti awal dari permulaan. Itulah kekacauan yang gelap, yang tak bernama, yang tak terbagi-bagi. Mengetahui untuk pertama kalinya berarti hilang dalam kegelapan dari permulaan untuk pertama kalinya. Itu adalah sebelum berpikir, sebelum dilakukan pembedaan. Permulaan disebut “Jalan” yang pertama kali diberikan nama dan yang pertama kali dibentuk. “Jalan” adalah segalanya dan segalanya adalah “Jalan”. Sifatnya disebut Tao tetapi nama lainpun boleh. Tao itu melampaui kata-kata dan tak dapat dipikirkan. Mulailah belajar, dan berpikirlah. Isilah dengan semuanya, lalu lepaskanlah lagi segalanya. Belajalah lalu tanggalkanlah pembelajaran itu untuk membedakan Tao. Carilah walaupun itu selamanya tersembunyi. Ketahuilah bentuk-bentuk sebelah luarnya walaupun mereka selamnya berwujud. Mereka diberikan nama-nama yang berbeda-beda baik yang dapat diketahui maupun yang tak dapat diketahui, tetapi mereka berasal dari satu sumber yang sama dan selalu memang sama. Pahamilah, bahwa pada mulanya semuanya adalah kegelapan. Temukanlah, dan pikirkanlah dalam terang, permulaan pemikiran dalam gelap. Mulailah dengan terang, lalu bergeraklah menuju kegelapan. Percayalah, segala pengetahuan dimulai dalam misteri kegelapan.

 

 

 

2.

Hindarilah Bersikap Yang Berlebihan

Selalu setiap kali ada keindahan, dibutuhkan keburukan untuk mendefinisikan keindahan. Setiap kali ada kebaikan, ada kejahatan untuk mendefinisikan kebaikan. Begitu pemenangnya dinyatakan, terciptalah yang kalah. Yang di bawah muncul dari atas, kerja dari main-main, sulit dari mudah, ketidak-pastian dari keyakinan, tidak cukup dari berlebihan. Terperangkap oleh kemunculan yang sama, menyebabkan semua pemikiran dan perbuatan kita terperangkap dalam satu sama lain. Di mana ada kebutuhan pasti ada pengabaian. Sukses pasti berujung pada kegagalan. Ketidak tahuan pasti mengikuti pengetahuan. Terdapat “Jalan” di antara yang satu dengan yang lain, yang ditemukan dengan bergerak bersama-sama Tao. Bergeraklah dengan lembut dan sabar. Di mana ada perlawanan pasti di sana ada paksaan, dan itu bukanlah “Jalan”. Digerakkanlah ke arah misteri. Mengalahlah dan belajarlah hingga ada kedamaian di antaranya. Bertindak yang terlalu banyak maka akan terjadi masalah; berpikir terlalu banyak maka akan muncul kebingungan. Biarlah tatanan alaminya ber”Jalan” sendiri. Oleh karenanya, orang bijak itu seimbang dalam berbuat dengan tidak berbuat, berpikir dengan tidak berpikir. Kalau ada pengisian dan pengosongan, segalnya muncul dan tenggelam dengan caranya yang harmonis dan keterungkapannya secara alamiah tidak terganggu. Walaupun tak ada yang diberikan, tak ada pula yang disangkal. Ada pemupukan tetapi bukan pemecah-belahan. Pekerjaan baik dilaksanakan tanpa pamrih. Begitu selesai dilaksanakan, tugas itu dilupakan. Sekalipun tidak berbuat, menerima sama banyaknya dengan berbuat. “Kekosongan” penuh dengan pemikiran.

 

 

3.

Kedamaian Jiwa dan Keharmonisan Jasmani

Di mana yang berbakat ditinggikan, timbullah persaiangan. Di mana ada godaan, hati menjadi tidak tenang. Bila semua orang di isi dengan hasrat, maka akan timbul masalah. Demikianlah orang bijak memberi inspirasi, sehingga semua orang tenang. Pemikiran serta ambisi diarahkan ke dalam untuk pertumbuhan; bukan keluar untuk konflik. Pikiran-pikiran terbuka. Karakter dikuatkan. Ketergantungan kepada diri sendiri ditemukan. Dengan cara ini, pengetahuan serta hasrat tidak mencampuri yang lain. Kekuatan jiwa menggantikan pamer jasmani. Persaingan dan kerjasama adalah berlawanan, masing-masing diciptakan oleh yang lain. Dari persaingan timbul pertikaian, dari kerja sama timbul ketergantungan. Orang bijak tidak mendorong kedua-duanya. Di antara segalanya yang berlawanan ada sesuatu kekuasaan jiwa yang penuh kebijakan. Ini terjadi kalau tak ada sesuatu yang luar biasa terjadi; kalau orang tidak licik, kalau yang intelijen tidak licik, kalau yang kurang beruntung tidak ditelentarkan. Ada kedamaian jiwa dan keharmonisan kehidupan. Kalau kedamaian jiwa , yang biasa menjadi mendalam. Kalau ada keharmonisan lahiriah, segalanya tampak biasa dan menjadi suatu kewajaran.

 

4.

Eksistensi Tao Itu, Selamanya Ada

Eksistensi Tao sedari dulu sudah ada, jadi tak ada yang dapat mengatakan kapan Tao itu dimulai. Tao selalu tersembunyi karenanya selalu ada. Siapa dapat mengatakan Tao itu tidak ada kalau ia tidak mungkin hilang? Tao itu menguraikan yang kusut, meninggikan yang rendah, merendahkan yang tinggi. Mereka yang brillian direndahkan di hadapan apa yang tidak mereka ketahui dan yang tumpul bangga dengan apa yang mereka ketahui; maka yang penuh dikosongkan dan yang kosong berusaha diisi. Tao adalah kekosongan yang terus menerus digunakan, tetapi tidak pernah habis. Tao selamanya ada tetapi tak seorangpun mengetahui bagaimana menggunakannya. Sama atau berbeda, bersama-sama atau sendirian, Tao ada di sini untuk semua orang. Lalu, apakah bedanya antara satu orang dengan yang lain kalau keduanya sama-sama tidak menggunakan Tao? Yang belajar bergumul untuk belajar; yang mengajar bergumul untuk mengajar. Apakah bedanya antara guru dengan murid kalau keduanya sama-sama bergumul antara kelahiran dengan kematian, berusaha untuk menemukan “Jalan”? tidakkah ada yang melihat bahwa semua orang bergumul bersama-sama dalam upaya pencarian yang sama? Mengajar dan belajar, belajar dan mengajar. Tak seorangpun penuh dan tak seorangpun kosong. Sebagai guru, mengajar seolah-olah mengosongkan; sebagai pelajar, belajar seolah-olah mengisi. Penuh sekaligus kosong, selalu memperhitungkan kerumitan dan kesederhanaan dari semua itu.

 

5.

Kontemplasi Yang Mendalam

Kuasa-kuasa alam semesta tak mengenal ampun. Mereka memperlakukan segalanya tanpa pandang bulu. Orang bijak tidak mengenal ampun, memperlakukan semua orang tanpa pandang bulu. Menginginkan dan mengimpikan akan mengaburkan keberadaan segalanya. Putuskanlah untuk melawan alam semesta, atau, bergerak bersamanya. Di antara segalanya ada ruang yang berubah bentuk tetapi tidak terbentuk. Itu adalah kekosongan yang menghidupkan segalanya dengan nafas tiada habis-habis. Semakin ia menghembuskan, semakin banyak yang terjadi. Cobalah engkau menjelaskannya maka akan semakin membingungkan. Tetapi dengan telah melampaui kata-kata, berada jauh di dalam, ada sesuatu yang memahami kekosongan yang bernafas ini. sebagaimana halnya kala menarik nafas dalam-dalam yang tidak susah… berkontemplasilah secara khusyuk, secara mendalam.

6.

Hikmat Jalan Ibunda

Misteri dalam lembah itu tak kentara, tak berakhir. Itulah “Jalan” Ibunda. Belajar artinya memasuki gerbang lembah dan dikuasai oleh misteri segalanya. Gerbang ini dapat ditunjukkan, tetapi “Jalan” nya harus dicari sendiri. Carilah hingga dikuasai oleh “hikmat ibunda” tentang segalanya. Yang teguh serta memupuk. Percayalah dia. Ia tak pernah gagal. Belajar berarti mencari dan dikuasai. Hikmat berarti mengalah dan ditemukan. Tak seorangpun dapat menjelaskan bagaimana ditemukan itu terjadi.

 

7.

Menguraikan Satu Persatu Jawaban

Karena tidak pernah dilahirkan, ia tidak pernah mati. Tanpa bentuk, ia tidak berlalu. Milikilah awalan maka akan timbul akhiran. Bentuklah suatu ide maka disanalah letaknya penguraian. Janganlah mengikat pemikiran dengan bentuk atau pemahaman dengan diri. Janganlah mengikat diri dengan pemikiran. Janganlah membatasi pertanyaan dengan jawaban. Dengan tetap di belakang, teaplah di depan. Dalam ketidak pastian, milikilah ketentraman. Tanpa diri, dinyatakanlah. Inilah dilematisnya. Semua perbuatan adalah proses penguraian. Setiap pemikiran tidak lengkap, setiap kebenaran tidak tepat. Ucapkanlah itu, maka akan keliru. Keheningan tidaklah cukup. Namanya bukanlah bendanya. Pemikiran bukanlah pemahaman sebenarnya.

 

 

8.

Pilihlah Dulu “Jalan” ke Bawah

Kebaikan tertinggi ibarat air, tanpa upaya memupuk segalanya. Seperti Tao, ia mengalir ke tempat-tempat yang paling bawah. Hiduplah dekat dengan daratan, dekatlah dengan tanah. Dalam berpikir, telaahlah kedalamnya. Terhadap orang lain, bersikaplah murah hati dan lembut. Berhati-hatilah dengan kata-kata. Dalam berusaha bersikpalah dengan efisien. Kalau harus ada pemerintahan, bersikaplah yang teratur dan adil. Dalam tindakan, waktu adalah penting. Bergumullah dengan orang lain maka akan ada kesalahan. Milikilah konsepsi awal maka akan muncul kebingungan. Pahamilah filosofi air, jika engkau mencoba menghentikan aliran sungai, tak urung akan menuai kegagalan. Bergeraklah dengan aliran ke bawah menuju kerendahan hati. Dari lahir hingga mati, arahnya sudah jelas. Mengalahlah dan berubahlah seperti air. Segalanya mengikuti “Jalan” ke bawah hingga tak ada bedanya antara yang satu dengan yang lain.

 

9.

Berupayalah Hidup Dengan Damai

Lebih baik berhenti lebih awal daripada mengisi terlalu penuh. Pertajamlah terlalu banyak maka ujungnya takkan tahan. Timbunlah kekayaan maka takkan dapat kau lindungi. Berbicaralah terlalu banyak maka akan terjadi kebingungan. Pura-pura tahu adalah sikap provokasi. Kepastian akan diserang. Reputasi adalah sumber fitnah. Lebih baik tidak meluruskan yang bengkok, memperbaiki yang rusak, mengisi yang kosong. Bentuklah kebingungan menjadi jawaban-jawaban, maka akan ada pertanyaan lebih banyak lagi. Masalah muncul dari campur tangan. Solusi menciptakan masalah. Cobalah memperbaiki dunia maka yang terjadi justru akan memburuk. Hiduplah dengan damai. Bersikaplah yang tulus dan peduli. Memberikan arah hanya akan menghalangi “Jalan”. Mengajarlah tanpa berupaya mengubah. Pilihlah beristirahat setelah pekerjaan hari ini selesai.

 

 

 

 

10.

Kebajikan Paling Dalam

Satukanlah keterpisahan pikiran dengan tubuh menjadi satu keutuhan. Dengan kesadaran penuh, bersikaplah luwes seperti bayi yang baru lahir. Mawas dirilah. Kasihilah tetapi jangan menginginkan pamrih. Pengaruhilah tanpa mengendalikan. Waspadailah tetapi jangan sok pintar. Bersikaplah mengalah sekaligus tegas. Sambil memperhatikan dan memahami. Tahanlah diri dari tindakan. Berikanlah inspirasi dan pupuklah tanpa memiliki. Ajarilah tetapi janganlah untuk mencari nama baik. Memimpinlah seolah-olah mengikuti. Didalamnya kebajikan terbaik itu tersembunyi.

 

11.

Menggunakan Sesuatu Yang Tidak Ada

Sebuah wadah dibentuk dari tanah liat tetapi kegunaannya berasal dari ruang kosong di dalamnya. Ruang kosong dalam pusat roda memungkinkan rodanya berputar. Jendela serta pintu adalah ruang-ruang kosong di dinding. Sebuah ruang dapat digunakan hanya karena kekosongannya. Yang berharga berasal dari yang ada; yang berguna berasal dari yang tidak ada. Karenanya, perhatikanlah yang tidak diketahui maupun yang diketahui. Walaupun mengetahui itu berharga, tidak mengetahui itu juga berguna. Tidak mengetahui adalah awal sementara mengetahui adalah akhir. Tidak mengetahui adalah ketidak-pastian yang memungkinan gerakan. Kalau hanya ada yang diketahui, tak seorangpun dapat bergerak dalam kepastian. Majulah dari yang tak diketahui  ke yang tak diketahui. Kepastian itu mengikat, sementara ketidak pastian itu membebaskan. Perhatikanlah yang tidak pasti maupun yang pasti. Bergeraklah dalam pertanyaan-pertanyaan dan hati-hatilah terhadap jawaban-jawaban. Peganglah kepastian sekaligus bersikap pasti. Temukanlah jawabannya sekaligus keliru. Jawaban-jawaban menutup, pertanyaan-pertanyaan membuka. Carilah ruang di antara pemikiran-pemikiran, ketidak pastian di antara kepastian. Carilah yang ada tetapi carilah juga yang tidak ada. Isilah sekaligus mengosongkan. Permulaan hanya terjadi dalam kekosongan. Kembangkanlah kekosongan yang menerima, ketidak pastian yang memahami. Carilah yang kosong; rangkullah perubahan. Tanpa kekosongan, takkan ada lagi yang dapat diterima sehingga takkan ada lagi yang dapat dipelajari. Demikian orang bijak mengisi semua orang tetapi kekosongan mereka tetap.

 

12.

Makna Kedalaman Batin

Melihat artinya dibutakan oleh warna-warni; mendengar artinya ditulikan oleh suara; mengecap artinya dihambarkan oleh perasa. Hal-hal yang berharga itu mengganggu konsentrasi. Berpikir itu dikacaukan oleh perbuatan mencari-cari; berbuat itu diuraikan oleh ketegasan. Oleh karenanya dengan tenang perhatikanlah yang di dalam dan bukan yang di luar, apa yang tidak kentara dan bukan yang mencolok. Dituntunlah yang di dalam dan bukan yang di luar, oleh pengenalan batiniah dan bukannya bentuk lahiriah. Jangan memperhatikan hanya dari bentuknya, karena kedalaman batin takkan ditemukan. Mengajarlah tanpa berharap dipuji, dan tanpa takut dikritik. Jangan berharap dituntun melalui dukungan ataupun penolakan. Belajarlah tanpa mengharapkan keuntungan, lalu kendalikanlah hasratmu. Berusahalah mencari yang sederhana di dalam yang rumit, yang biasa di dalam yang luar biasa, yang damai di dalam yang kacau, yang kosong di dalam yang penuh, yang terbesar di dalam yang kecil.

 

 

3,

Mengolah Ketidakpastian

Terimalah ketidak tahuan sebagai kondisi alamiah manusia. Terimalah ketidak pastian  dengan suka-rela. Bingunglah. Pilihlah benar atau keliru, ya atau tidak, betul atau salah, maka timbullah masalah. Yang bodoh tersamar dalam kepastian. Bersikaplah pasti, percaya dirilah, maka seluruh dunia akan mengajarkan sebaliknya. Tanpa kepastian, seluruh dunia melunak serta mengakomodasikan. Ketidak pastian adalah proses pelunakan dengan mana satu cara ditemukan dalam perubahan segalanya. Tinggalkanlah kepastian maka pemelajaran pun dapat dimulai. Perlunaklah dan bukalah hati dan diajarkan Tao. Untuk memahami dunia, relakanlah dunia. Kejarlah ia, maka ia akan lari; nantikanlah dalam kekosongan yang penuh damai, maka ia akan menyatakan dirinya. Camkan: janganlah merasa pasti tentang ketidak pastian.

 

14.

Dayagunakan Dengan Segenap Pikiran Kosong

 

Lihatlah, maka Tao tak dapat dilihat… ia tak berbentuk. Dengarkanlah, maka ia tak dapat didengar… ia tak bersuara. Peganglah kekosongan… ia tak dapat dipegang. Ketiganya tak dapat didefinisikan. Tao adalah benang yang tidak putus, yang terentang dari tiada hingga tiada kembali. Cobalah menemukan di mana ujungnya, maka tak ada awal maupun akhir. Cobalah menemukan di mana ia berada, maka ia tak berbentuk, tak dapat didefinisikan, tak dapat dibayangkan. Pikiran yang berusaha menemukannya akan merasa kelelahan sendiri. Apapun yang dipelajari akan makin memperdalam misteri Tao. Keseluruhannya dalam bagian-bagiannya? Entah bagaimana caranya, setiap pemahamana membuat Tao semakin dalam dan semakin sulit ditangkap. Dengan segenap pikiran kosong dan sadar, tetaplah dekat dengan yang biasa. Tanpa awal atau akhir, isilah kekosongan itu hingga penuh.

 

 

15.

Belajarlah Menjadi Sumber Yang Tersembunyi

Cobalah perikasa yang sudah jelas, lalu carilah yang tidak kentara. Tembuslah kedalaman dari segalanya, jadilah misteri yang disebut diri. Bahkan kalau kedalaman diri saja tak dapat dipahami, mana mungkin hal lainnya bisa dipahami? Waspada seperti berada dalam bahaya. Sopan seperti seorang tamu. Lumer seperti es. Kokoh seperti batu karang. Mudah menerima seperti lembah. Dengan ketenangan batin, nantikanlah hingga lumpur pikiran menetap. Dengan penuh damai berubahlah dari diam menjadi bergerak. Dengan tenang carilah tanpa berhasrat menemukan. Nantikanlah hingga saatnya tepat. Cukupkanlah diri dengan kekosongan. Luangkanlah waktu untuk menjadi waktu bagi segalanya dan matanglah pada waktunya. Jadilah sungai yang mengalir, gerakkan segalanya baik yang cepat maupun lambat. Merasa penuhlah, maka segalanya tidak termasuk. Pastilah, maka segalanya akan berhenti. Belajarlah menjadi sumber yang tersembunyi, bahkan tersembunyi dari diri sendiri.

 

16.

Yang Tidak Berubah Di Dalam Yang Berubah

Di dalam jatuh bangunnya segalanya ada sesuatu yang ajeg, yang tidak berubah dengan yang berubah. Itu adalah keajegan dalam ketidak ajegan, bukannya perubahan, melainkan “Jalan” perubahan. Dunia luar tampakanya jatuh bangun dalam kekacauan tetapi di dalam diri semua orang ada sesuatu yang kosong dari segalanya, yang diam, tenang, dan damai. Di dalam segalanya ada sesuatu yang kosong dan penuh, sesuatu yang tenang dan diam. Siapakah yang tahu apa itu? Ia adalah kepemilikan sekaligus bukan kepemilikan. Bagaimanakah pikiran begitu kosong dan diam, padahal begitu sibuk dan penuh dengan segalanya? Kekosongan pikiran yang tenang adalah seperti kekosongan Tao yang tenang. Temukanlah yang tidak berubah di dalam yang berubah, ketenangan di dalam yang bergerak, kekosongan di dalam yang penuh. Temukanlah sumber dari mana segalanya berasal. Tanpa ketenangan batin, akan terjadi bencana. Dengan ketenangan batin, ada kelembutan yang mewarnai segalanya. Kepemilikan dengan segalanya, keharmonisan yang terungkap, yang membiarkan kekacauan memahami dirinya sendiri.

 

17.

Bila Tak Ada Yang Dikerjakan

Coba perhatikan: kepemimpinan dengan pemaksaan, maka akan ada perlawanan serta pemberontakan. Bersikaplah murah hati dan adil, maka akan ada kehormatan lalu kepercayaan. Dan yang lebih tinggi lagi adalah kebijakan yang tidak kelihatan, tak dapat didefinisikan dan tak dapat dikenali. Kalau dipraktekkan, segalanya tetap utuh. Tak ada keterpisahan dari satu sama lain, upaya dari kemudahan, memimpin dan tak seorangpun mengikuti. Tak ada yang dipelihara tetapi ada kesibukan dan keharmonisan. Orang bijak, yang tidak menonjolkan diri dan tidak banyak bicara, tidak diperhatikan orang. Tetapi entah bagaimana, semua orang memetik manfaat. Ada pertumbuhan serta keberbuahan, kebanggaan serta kecukupan diri. Daripada mengatakan, “ini dikerjakan oleh kami”, semua orang mengatakan “kami yang mengerjakan ini.” daripada mengatakan “kami di ajarkan begini,” semua orang mengatakan,”Kami belajar begini.” Kalau dianggap sebagai orang sendiri, tak mungkin ada penolakan. Tanpa pemberontakan akan ada kedamaian serta pemupukan yang mendalam. Sedari awal bahkan tak pernah ada saat ketika segalanya tidak sibuk memenuhi dirinya sendiri. Orang bijak tidak menghalangi apa yang sudah ada sedari dulu. Demikianlah tak ada yang dikerjakan dan semua orang dipenuhi.

18.

Bentuk Kebajikan Yang Utama

Tinggalkanlah Tao, maka timbullah moralitas serta kepantasan. Kepura-puraan serta kemunafikan berasal dari pembelajaran serta kecanggihan. Di mana ada ketidak harmonisan, kebenaran serta kebajikan diungkapkan. Moralitas, kepantasan, pembelajaran, kecanggihan, kebenaran – semua melahirkan masalah-masalah dunia. Dakwahkanlah kebajikan, tuntutlah kebaikan, maka hanya keburukanlah yang akan timbul. Tradisi nenek moyang mengatakan bahwa pemikiran lahir dari kegagalan, bahwa pembelajaran adalah senjata dalam pergumulan. Di balik pemikiran dan pemahaman, di balik pergumulan antara yang benar dengan yang salah, ada kebajikan utama dari mana timbul keharmonisan sederhana. Ada sesuatu yang mudah dan tak diketahui yang menjadi denyut nadi segala vitalitas. Menyimpanglah dari Tao maka timbullah kesemuan. Menyimpanglah dari yang sederhana maka Tao akan hilang. Tanpa mencari, temukanlah kebajikan utama.

 

19.

Inti Segalanya Di antara Yang Berlawanan

Cobalah berhenti mencari kesempurnaan. Berhentilah berusaha memperbaiki orang, maka semua orang akan memetik manfaatnya seratus kali lipat. Relakanlah membuang idealisme. Lupakanlah segala moralitas. Melanggar apapun hanya akan menjadikannya lebih menarik. Berhentilah mengajarkan kepantasan dan biarkanlah kasih sayang alami timbul dengan sendirinya. Aksi menciptakan reaksi. Seolah-olah alam semesta ini berlawanan. Temukanlah permulaan maka akhirnya akan dinyatakan. Ungkapkanlah suatu pendapat maka seseorang justru akan tidak sependapat. Perbuatlah apapun maka tiba-tiba, seolah-olah secara ajaib, ada saja penentangnya. Ada “Jalan” di antara segalanya yang berlawanan. Ikutilah prinsip-prinsip ini: kembalilah kepada kesederhanaan; janganlah mengumbar nafsu; janganlah menganggap diri penting; lihatlah inti dari segalanya. “Jalan” di tengah-tengah adalah penyeimbangan yang pelik antara berbuat dengan tidak berbuat, belajar dengan menanggalkan pembelajaran, menemukan dan kehilangan, mengisi dan mengosongkan.

 

 

 

 

 

20.

Janganlah Berpura-pura terhadap Kepastian

Bagi orang bijak tak ada yang diketahui secara pasti. Kalau kepura-puraan tentang kepastian ditinggalkan, dunia tak terpecah belah dan kesepian, tempat untuk mengagumi keajaiban. Mana bisa orang bijak mempercayai apa yang dipercayai orang lain, manghormati yang sudah jelas, dengan buta mengejar apa yang dikejar orang lain? Tetapi manusia berkembang dalam dunia khayalnya. Dunia mengerumuni orang bijak yang, pada intinya, tidak tahu. Yang lainnya tampak tahu tetapi orang bijak tidak tahu apa-apa. Yang lain jelas dan pasti serta percaya diri sementara orang bijak bingung dan tak terarah, orang bodoh sesat dalam pemikirannya serta dunianya. Yang lain dengan penuh semangat melaksanakan tugas-tugas kehidupan, memenuhi kebutuhan bersama. Tetapi orang bijak berbeda, justru seolah gelap jauh, terlepas dan mandiri. Yang lain makan yang sudah jelas sementara orang bijak dipupuk oleh Tao. Tanpa kepura-puraan tentang kepastian, sungguh mudah berbelas kasih. Maka orang bijak mengajar dengan mata dua. Mereka yang belajar menyangka mereka belajar yang biasa yang dapat dipahami, sementara jauh di dalam hati mereka belajar yang luar biasa yang melampaui pemahaman.

 

 

 

21.

Sebutlah Sesuatu Itu Sebagai Tao

Tao itu sulit ditangkap dan tak berwujud, redup dan kabur. Mereka yang mencari kata-kata untuk menamainya menyebutkan kuasa, inti, vitalitas. Siapakah yang dapat mempercayai kata-kata yang hanya merupakan ungkapan pemikiran? Tetapi sedari mula sesuatu yang tidak jelas telah timbul, suatu pemikiran yang tak bernama dan tak dapat dibayangkan. Sebut saja itu Tao. Tao adalah ketika permulaan timbul dari kekacauan yang delap. Tao adalah sesuatu yang ada di dalam inti segalanya, yang menggerakkan apalagi semuanya. Sulit ditangkap dan tak terbayangkan, Tao adalah pemikiran yang lolos dari setiap pemikiran, sumber kepercayaan serta pemahaman terdalam. Tao berada di mana-mana tetapi tak dapat ditemukan di mana-mana. Carilah dia maka selamanya dia hilang. Bukan yang dijelaskan, melainkan yang menjelaskan bukan yang menjawab, melainkan yang bertanya. Tao itu tak perlu diupayakan dan berada di mana-mana karena berada di dalam segalanya, tersembunyi karena tak dapat dihindari. Temukanlah Tao sebagai ciri batu dalam batu, sifat pohon dalam pohon, makna pemikiran dalam pemikiran. Dalam pemikiran para pemikir, Tao mengenal dirinya sendiri hanya dengan berpikir.

 

22.

Melunak Untuk Mengetahui, Melentur Untuk Memahami

Melunakkan untuk mengetahui. Bersikaplah lentur untuk memahami. Kosongkanlah untuk mengisi. Idealisme hanya menciptakan kebingungan. Semakin besar kepastiannya, semakin kurang pemahamannya. Kalau mereka menyangka tahu dikuasai oleh desakan untuk mengajar, mereka pecahkan kepenuhan dengan keheningan, membatasi yang tak berbentuk dengan bentuk; dan memulai pengerasan yang membutuhkan waktu lama untuk melunakkannya. Tersesat dalam benar dan salah, ya dan tidak, ideal pragmatis, maka Tao akan terlewatkan. Pikiran yang terbagi melawan dirinya sendiri; mereka yang pikirannya terbagi akan bertengkar satu sama lain. Dengan melunak, orang bijak menjadi satu dengan semuanya; dengan mengalir keluar ada yang masuk, dengan mengosongkan ada pengisian, dengan kehilangan ada penemuan. Tanpa kesombongan, kehormatan datang dengan bebas. Tanpa pamer, kehormatan diberikan. Tanpa sesumbar, kemampuan diakui. Tanpa pergumulan, “Jalan” terasa mudah. Janganlah bertengkar agar tak ada yang balas bertengkar. Janganlah bersaing agar tak ada persaingan. Milikilah kelunakkan di dunia ini agar segalanya menjadi diri sendiri. Bersikap lembutlah terhadap semua orang agar tidak menghambat gerak pertumbuhan mereka untuk menjadi diri sendiri. Kalau orang bijak bersikap luwes terhadap segalanya, segalanya bersikap luwes terhadapnya. Demikianlah, ada kecocokan serta keutuhan yang lebih mendalam.

 

23.

“Jalan” Menuju Ketenangan Batin

Angin badai tidaklah berlangsung selamanya; yang luar biasa hanya mengganggu yang biasa, yang berlebihan hanya mengganggu yang lumrah dari segalanya. Sesuatu yang dapat habis bukanlah sumber pertumbuhan yang utama. Pemupukan yang mendalam serta keberbuahan terjadi pada yang biasa dan harmonis. Yang mendalam serta tahan datang tanpa sikap pamer. Oleh karenanya, bersikaplah lumrah, lembut dan memupuk. Masukilah inti dari segalanya. Ketenangan lebih besar daripada kuasa lahiriah. Bergantunglah pada keutuhan batiniah, bukan penampilan lahiriah. Bicaralah perlahan dan sederhana. Percayalah dan dipercaya. Mereka yang menemukan kesederhanaan utama, sambil menyangkal diri memenuhi seluruh dunia. Datanglah kepada diri lalu kosongkanlah. Begitu terjadi kekosongan tanpa keinginan, tanpa harapan, tanpa hasrat, tanpa keterlekatan kepenuhan akan datang dengan sendirinya. Percayalah pengisiannya. Itu tidak mungkin salah. Itu sangat biasa. Sejak semula segalanya bergantung padanya. Bergeraklah bersama Tao dan jadilah satu dengan Tao. Milikilah kebajikan dengan menjadi satu dengan kebajikan yang utama.

 

 

24.

Belajar Berdiri Dengan Keseimbangan Yang Sempurna

Belajar adalah seperti berdiri; melampaui berjinjit takkan ada keseimbangan, melampaui jangkauan takkan ada pegangan. Waspadalah, dengan kedua kaki menjejak tanah dan tubuh siap, kendalikanlah dengan kedua belah otak dan terbukalah terhadap pusat batin. Tergesa-gesalah maka akan terjadi kebingungan. Mereka yang mengaku paham, tidak memilikinya. Mereka yang tidak pasti akan bersikap sesumbar. Mereka yang tidak tentram akan menyombongkan diri. Kalau ada pemikiran yang memberatkan, berpikirlah untuk meringankannya. Untuk bergerak yang berat, kikislah hingga timbul yang inti-inti saja. Percayalah kepada temuan tetapi bukan yang ditemukan. Rendah hatilah di hadapan segala yang diketahui. Untuk belajar dan mengajar, bersikaplah ringan dan terbuka serta seimbang. Tak ada yang perlu diketahui selain yang sudah diketahui. Segala yang dapat diketahui ada di sini. Yang akan diketahui selanjutnya, akan datang sendiri. Bersabarlah dengan apa yang diketahui; janganlah mengharapkan apa yang akan diketahui selanjutnya. Carilah tanpa berharap; terimalah apa yang datang. Peliharalah tanpa campur tangan. Siap siagalah selalu pada apa yang diketahui, mendaratlah dengan keseimbangan ke dalam keheningan dari yang diketahui selanjutnya.

 

25.

“Jalan” Adalah Segalanya

permulaannya disebut “Jalan”. Kemudian mencari awal dari permulaan itu hingga berhadapan dengan keheningan dan kekosongan. Karena bingung, ia berhenti. Pemikiran tak dapat mengetahui apa yang bukan dirinya sendiri. Keheningan dan kekosongan menghantui semua pemikiran dengan ketenangan yang menghibur. Setiap pemikiran yang dipikirkan bergantung dalam keheningan yang kosong. Awal dari permulaan melegakan pencarian. Mereka mengatakan, mereka tidak tahu lebih dekat kepada awal dari permulaan daripada mereka yang mengatakan mereka tahu. Siapakah yang mengetahui sebelum pemikiran kecuali mereka yang penuh dengan kekosongan serta pikiran-pikiran kosong? Setiap nama itu ada; setiap pemikiran itu bersalah karena memikirkan apa yang sudah ada sebelum pemikiran itu ada. Di luar segala nama dan pemikiran, ada keheningan yang menggema dan kekosongan yang tak berbentuk, yang tidak butuh dinamai atau pemikiran atau perbuatan. Ia tidak berbuat apa-apa, tampaknya bukan apa-apa, tetapi, karena dia, segalanya menjadi demikian. Ia disebut Tao. Segalanya yang berjalan sendiri adalah “Jalan” segalanya.

 

26.

Kekosongan Akan Menimbulkan Kewaspadaan

Sebagaimana gelap selalu menjadi sumber terang, ketenangan adalah asal mula dari gerakan, demikian pula kedamaian adalah awal dari kegelisahan. Oleh karenanya, terlepas dari yang diketahui, fokuskanlah kepada yang tidak diketahui; terlepas dari yang pasti, waspada serta perhatikanlah, kosongkanlah diri dan siaplah menerima. Carilah hanya dalam terang maka sumber gelapnya terlupakan. Bergeraklah saja maka sumber ketenangannya terlewatkan. Penuhlah saja maka pusat kekosongannya hilang. Ketahuilah maka terpisahlah dari misteri yang mendalam. Kalau pemikiran terlalu penuh dengan pemahaman, berpikirlah dengan kekosongan. Pertama-tama, kosongkanlah pikiran. Kembalilah kepada kekosongan serta kewaspadaan. Pada mulanya, segalanya bangkit dari kekosongan yang menunggu. Siaplah di sana, pada mulanya. Sama seperti segalanya bangkit bersama-sama dengan caranya masing-masing, demikian pulalah yang mengetahui serta yang diketahui bangkit bersama-sama sebagai pemahaman.

 

27.

Suatu Cara Hidup Yang Tak Menarik Perhatian

Ada suatu cara hidup tak menarik perhatian di dunia ini: tak ada jejak dan tak ada kesalahan, segalanya cocok dan segalanya dimiliki. Kalau bergerak bersama Tao, tak ada yang dikerjakan dan segalanya memenuhi dirinya sendiri. Demikianlah orang bijak tidak melakukan upaya, tidak meninggalkan siapapun. Ada pemikiran serta perbuatan istimewa yang bergerak dengan keberadaan segalanya terjadi sendiri. Yang mendalam, yang tidak kentara, dan yang batiniah, dari segalanya, mengenal Tao. Tao batiniah adalah Tao lahiriah. Temukanlah keserasian batin maka keserasian lahiriah akan timbul dengan sendirinya. Mulailah dengan diri sendiri. Disiplinkan diri sendiri sebelum berupaya mendisiplinkan yang lain; kuasailah diri sebelum berupaya menguasai yang lain. Kenalilah pusat batin. Daripada mengubah yang lahiriah, terlebih dahulu ubahlah yang batiniah, maka sgalanya akan berubah. Demikianlah orang bijak mengajar tanpa mengajar dan orang belajar tanpa belajar. Segalanya berubah tanpa upaya. Kepedulian memupuk dirinya sendiri, demikian pula intelijensi dan kebijakan pun memupuk dirinya sendiri. Tanpa menarik perhatian dan kehormatan dipraktekkan, maka keharmonisan akan timbul dengan sendirinya.

 

28.

Kenaliah “Jalan” Ke Bawah Yang Lebih Mudah

Kenalilah kekuatan yang maskulin tetapi fokuskanlah pada sikap peduli dengan rendah. Jadilah aliran yang bebas dari lembah, yang setia kepada “Jalan” ke bawah yang mudah menuju ke sumber utamanya. Kembangkanlah terang dari yang diketahui tetapi fokuskanlah pada kegelapan dari yang tidak diketahui. Tanpa satu kesalahan pun, sambil tetap tersembunyi, jadilah teladan bagi seluruh dunia. Hormatilah yang tinggi tatapi fokuskanlah pada kerendahan hati yang rendah. Hormatilah pemikiran tetapi fokuskanlah pada awal yang tak berpikir. Peganglah erat-erat sekaligus melepaskannya. Isilah sekaligus kosongkan. Banggalah sekaligus rendah hati. Bertekadlah sekaligus mengalah. Pastilah sekaligus tetap tidak pasti. Mengalirlah dari yang diketahui menuju yang tidak diketahui. Dengan pikiran mengisi dan mengosongkan, jadilah misteri yang gelap. Dengan pikiran kosong, rangkullah kepenuhan. Tetaplah penuh kekosongan, kosong dari penuh.

 

29.

Inti Dari Berbuat Adalah Memasuki Inti Dari Segalanya

Pemikiran tidaklah dapat mengatur alam semesta. Setiap pemikiran adalah kepemilikan tetapi mengetahui tidaklah sesuai dengan pemikiran. Yang utuh tak dapat disederhanakan. Tao tak dapat dijelaskan. Cobalah memahaminya dengan membagi-baginya, maka ia akan hilang. Jawaban-jawaban selalu salah karena inti dari apapun adalah segalanya. Inti dari mengetahui adalah mengetahui inti dari segalanya. Inti dari berbuat adalah mematuhi inti dari segalanya. Inti dari segalanya memiliki hikmatnya sendiri. Demikianlah orang bijak menghormati dengan menghindari yang ekstrim serta sikap puas diri. Apakah inti dari segalanya? Terkadang ia cepat dan terkadang ia lambat. Terkadang ia memimpin dan terkadang ia mengikuti. Terkadang ia tegas dan terkadang ia mengalah. Terkadang ia naik dan terkadang ia turun. Terkadang ia tumbuh dan terkadang ia layu. Inti dari berbuat adalah perbuatan segalanya. Kalau diri yang menyangkal diri, memasuki inti dari segalanya, berarti ia telah menemukan inti dari berbuat.

 

30.

Pemahaman Bergerak Bebas Dalan Kepenuhan Yang Kosong

Dalam dunia pemikiran, tak ada yang dapat diperoleh dengan paksaan. Paksalah, maka pemikiran akan tersandung sendiri. Cobalah, maka akan ada kebingungan. Carilah dan pergumulkanlah, maka segala yang ditemukan itu mencari-cari dan bergumul. Seperti bergerak bersama Tao, pemahaman datang sendiri. Persiapan untuk apa yang akan datang sendiri disebut belajar. Berkonsentrasilah pada belajar, maka akan ada kesuksesan. Upayakanlah untuk memahami, maka akan ada kegagalan. Semua pembelajaran adalah belajar dengan mengikuti. Belajarlah dengan lembut dan hati-hati agar mengikutinya tidak terganggu. Belajarlah dengan marah, maka mengikutnya membawa kepada ketakutan; belajarlah dengan ketakutan, maka mengikutinya membawa kepada amarah. Untuk memahami, belajarlah lalu lupakanlah pembelajaran. Relakanlah dan percayalah. Pemahaman akan datang dengan mudah. Bukannya diperoleh melainkan terjadi sendiri. Bertanya-tanyalah, melunaklah, dan terbukalah. Biarkanlah pembelajaran yang memimpin. Percayalah merelakan dan ikutilah pimpinannya. Inilah yang disebut memahami dengan mengikuti. Relakanlah dengan lembut dan hati-hati maka mengikutinya tidak terganggu. Pemahaman tak dapat dikendalikan oleh diri. Belajarlah untuk memahami dengan belajar menyangkal diri. Pemahaman adalah berpikir bebas dari diri sendiri, bergerak bebas dalam kepenuhan yang kosong dari Tao.

 

 

31.

Pikiran Tajam Adalah Instrumen Keheranan dan Ketakutan

 

Laksana pedang yang baik, pikiran yang tajam adalah instrumen keheranan dan ketakutan. Janganlah menggunakannya sebagai senjata. Keharmonisan serta kedamaian adalah lebih penting daripada kelicikan dan kemenangan. Kemenangan menuntut kekalahan. Kekalahan bukanlah alasan untuk bersukacita. Sebuah pedang tak mungkin melukai dirinya sendiri, jadi apakah gunanya – bahkan pikiran yang paling tajampun – kalau tidak dapat mengenali dirinya sendiri? Apakah kemenangan pikiran yang tajam kalau semua irisannya hanya mengungkapkan pikiran yang tipis? Pikiran tak dapat ditundukkan kepada pikiran, karena berpikir tak dapat ditundukkan kepada berpikir. Dalam upaya melukai dirinya sendiri, berpikir menyebut dirinya berpikir. Tetapi kata-kata hanya mengecoh dirinya sendiri. Pemikiran yang mencari awal pikiran hanya menemukan pemikiran mencari pemikiran. Dalam kandungan, pembentukan seorang bayi menyerahkannya kepada maut. Dalam pikiran, munculnya sebuah pemikiran yang menjamin berlalunya dia; pembentukan sebuah ide menyatakan bahwa dia keliru. Inilah pikiran yang tajam mengalahkan pikiran yang tajam. Peganlah pikiran yang tajam secara kaku, maka selamanya dia akan sesat dalam pertempuran dengan dirinya sendiri. Lenturkanlah pikiran, bebaskanlah dia dari dirinya sendiri dan tanpa berpikir ia akan mengenal dirinya sendiri.

 

32.

Tao Adalah “Jalan” ke Bawah Dari Segalanya

Walaupun disebut Tao, ia selalu tak bernama. Pikiran menamai hanya dengan kata-kata, otak berpikir hanya dengan pemikiran. Tetapi Tao adalah sesuatu yang lain, sesuatu yang utama, yang bukan kata-kata ataupun pemikiran. Siapakah yang tahu, apa itu? Ia berada dalam bagian terkecil dari segalanya. Kalau yang utuh telah dibagi-bagi dan hilang, nama diberikan kepada bagian-bagiannya. Kalau nama dan bagiannya hilang, yang utuh kembali lagi. Seolah-olah seluruh bagian dari yang utuh adalah sungai yang mengalir ke laut. Berpikirlah ke bawah. Bergeraklah bersama sungai melampaui kata-kata dan pemikiran menuju sumber yang berbaur. Bukan pada bagian-bagiannya dan juga bukan pada keseluruhannya, Tao adalah “Jalan” ke bawah dari segalanya. Jadilah “Jalan” merupakan segalanya, maka bergeraklah.

 

33.

Bila Engkau Berpikir, Berpikirlah Untuk Segalanya

Mengenal orang lain disebut pemahaman. Mengenal diri sendiri disebut hikmat. Mungkin orang lain dapat dikuasai dengan paksa tetapi hanya kekuatanlah yang dapat menguasai diri. Dengan menyangkal diri carilah diri sendiri, maka segala rahasia orang lain akan ditemukan. Yang terdalam dari diri sendiri adalah yang terdalam dari orang lain. Mengenal diri sendiri adalah mengenal orang lain. “Jalan” batiniah adalah “Jalan” lahiriah. Kalau “Jalan” batiniah menjadi “Jalan” segalanya, inilah “Jalan” Tao. Berpikirlah secara utuh, mengenallah secara utuh, bergeraklah secara utuh. Kalau berpikir, berpikirlah untuk segalanya; kalau berbuat, berbuatlah untuk segalanya. Kalau bersatu dengan segalanya, segalanya bergerak menuju keharmonisan dan keselarasan. Terlebih dahulu milikilah kekuatan untuk menemukan diri sendiri; lalu milikilah kekuatan untuk merelakan diri sendiri.

 

34.

Perbuatan Besar: Tidak Bertujuan, Kecil, dan Tak Berkuasa

Tao ada di mana-mana. Segalanya tergantung kepadanya. Ia tidak menyangkal apapun tetapi juga tidak mengklaim apapun. Ia tidak bertujuan kecil, dan tak berkuasa. Ia tidak menuntut apa-apa tetapi begitu besarnya sehingga segalanya dipupuk olehnya. Ia bahkan lebih besar karena tidak besar. Karena dia, segalanya berubah dan tak ada yang berubah. Pikiran kecil bergumul untuk mengubah dunia dengan perbuatan kecil, maka duniapun balas bergumul. Pikiran kecil berusaha dan merencanakan, bersikeras dan menyangkal. Untuk segala upayanya, tak ada yang menjadi lebih baik; untuk segala maksud baiknya, segalanya malah semakin parah. Perbuatan besar tidak menarik perhatian. Ia rendah hati dan tanpa maksud sehingga apapun mematuhinya. Ia tidak berusaha menjadi bijaksana sehingga segalanya dibimbing olehnya, tidak campur tangan sehingga segalanya mengikutinya.

 

35.

Janganlah Menyimpan Apa-apa tetapi Simpanlah Segalanya

 

Makanlah, dengarkanlah, nikmatilah. Kasihilah dan rayakanlah di tengah-tengah segala yang berlalu. Di tengah segala-galanya yang berlalu, mengapa tampaknya ada sesuatu yang tidak berlalu? Karena segalanya berlalu. Mengapa tampaknya ada sesuatu yang tidak berubah? Karena segalanya berubah. Di tengah-tengah segalanya yang berlalu dan berubah, sesuatu tampaknya tetap tak berubah. Di tengah-tengah segalanya yang berubah, bagaimanakah yang tak berubah ini ditemukan? Karena ada banyak, tampaknya hanya ada satu. Karena da segalanya, tamapaknya tidak ada apa-apa. Dari banyak dan satu, bagaimana mungkin tidak ditemukan apa-apa? Siapakah yang tahu apakah Tao itu ada atau tidak ada? Siapakah yang tahu apakah ia adalah sesuatu atau bukan apa-apa?bahkan tanpa bobot tampaknya ia adalah sesuatu yang disebut sesuatu. Siapakah yang tahu apa itu atau bahkan apakah ia ada? Sekalipun manusia berprilaku seolah-olah ia adalah sesuatu, siapakah yang tahu pasti? Sebagai sesuatu, ia tak dapat ditangkap; kalau bukan apa-apa, ia tidak habis-habis. Di tengah-tengah perubahan segalanya, manusia bergantung padanya untuk kedamaian dan ketenangan. Apakah hanya kebingungan yang mendalam yang menciptakan kepastian mendalam? Dihormatilah orang yang menemukan yang tak berubah di dalam yang berubah, yang satu di dalam yang banyak, yang bukan apa-apa di dalam segalanya. Beradalah di dalam yang berlalu. Tinggallah di dalam yang berubah. Pastikanlah untuk bertanya. Rangkullah segalanya dan janganlah menyimpan apapun, tetapi simpanlah segalanya.

 

36.

Prinsipnya Sederhana: Dari Satu Muncullah Yang Lain

Prinsipnya sederhana: dari yang satu muncullah yang lain. Demikianlah sebelum ada penguasaan, harus ada kesalahan; sebalum ada pengetahuan, harus ada kebingungan; sebelum ada hikmat, harus ada kebodohan. Oleh karenanya ,orang bijak menggunakan kesalahan untuk meraih penguasaan, merangkul ketidak tahuan untuk mendapatkan pengetahuan, mengembangkan kebingungan untuk meraih pemahaman, mendekati kebodohan untuk menemukan hikmat. Bagi orang bijak, kehilangan dipandang mendapatkan, mengosongkan dipandang mengisi. Kebingungan dan kebodohan disambut. Ketidak tahuan dan kesalahan merupakan permulaan yang menjanjikan.

 

37.

Pemahaman Hendaknya Tidak Menghalangi “Jalan” Masing-masing Hal

Masalah disebabkan oleh orang yang berpikir mereka cukup cerdas untuk memperbaiki segalanya. Pertama mereka mencoba. Kalau ada perlawanan, mereka akan memaksa. Lalu mereka memaksa lebih keras hingga niat mereka hilang dalam pergumulannya dan ketidak harmonisannya. Kelicikan serta kejeniusan menjadikan segalanya lebih parah. Bersikaplah lunak terhadap dunia. Tempatkanlah kekecilan dari apa yang diketahui di sebelah kebesaran dari yang tidak diketahui. Pahamilah dengan rendah hati. Hormatilah yang diketahui. Terlebih lagi, hormatilah yang tidak diketahui. Percayalah keberadaan alamiah dari segalanya. Kesederhanaan yang biasa itu tidak mungkin salah. Biarlah setiap orang mencari “Jalan”nya sendiri. Ajarilah dengan enggan. Rahasia yang sama itu berbeda bagi setiap orang. Janganlah memberitahu siapapun tetapi jangan pula menyimpan rahasia. Umur itu ada batasnya, tetapi misteri tak ada batasnya. Oleh karenanya, sungguh bodoh berusaha menangkap yang tak terbatas di dalam yang terbatas. Alangkah sombongnya merasa diri paham! Oleh karenanya, pemahaman hendaknya tidak menghalangi “Jalan” masing-masing hal.

 

38.

Permulaan Sebelum Adanya Perbedaan-perbedaan

Kalau ada pembelajaran yang mendalam, takkan ada kesadaran dalam berpikir dan berbuat. Cobalah belajar maka pembelajaran yang mendalam akan hilang. Pembelajaran yang terbaik tidak perlu diupayakan tetapi segalanya perlu dipelajari. Guru dan murid serta topik adalah satu. Dalam pembelajar yang paling buruk, guru maupun murid bergumul tetapi tak ada yang diajarkan, tak ada yang dipelajari. Kalau seorang guru besar berbicara, semua orang diubah oleh kesatuan yang hening. Kalau seorang guru yang bodoh berbicara, kata-katanya terasa sangat jauh. Pemaksaan dan pendisiplinan digunakan untuk mendekatkan kata-kata. Pemikiran timbul karena kegagalan. Pembelajaran lahir karena pergumulan . kalau Tao hilang, para guru dan murid muncul, pengetahuan dan ketidak tahuan timbul, benar dan salah diajarkan, moralitas dikhotbahkan, kebaikan dibedakan dari keburukan dan dunia dipisahkan ke dalam perbedaan-perbadaan. Orang bijak kembali ke muasal yang utama, permulaan sebelum adanya perbedaan-perbedaan. Tanpa perbedaan, Tao dipraktekkan tanpa menarik perhatian.

 

 

 

39.

Penghalang Kembali Kepada Keheranan

Karena kesatuan, udara bersih, bumi kokoh, lembah menerima, sungai mengalir dan segalanya utuh serta hidup. Bersih dan kokoh, menerima dan mengalir, hidup dan utuh… semua ini adalah kebajikan dari kesatuan. Segalanya berasal dari yang utama; yang tertinggi berasal dari yang terendah. Oleh karenanya, mulailah dengan misteri dari yang sudah jelas, dengan yang biasa yang mendalam serta yang sederhana yang tak dapat dijelaskan. Pemahaman tidaklah menjadi keheranan hingga yang paling sederhana serta paling rendah menjadi menakjubkan. Tanpa keheranan, pemahaman tidak hidup. Hingga ia hidup, ia tidak akan menjangkau ke pusat yang terdalam; ia dipikirkan tetapi tidak dipahami. Memahami artinya tersesat, bingung serta dikuasai. Pemahaman adalah kerendahan hati dari keheranan. Demikianlah yang sederhana, yang biasa, yang sudah jelas, dihormati. Dan kesombongan, kesia-siaan manusia dipandang sebagai kebodohan yang mengaburkan Tao dan menghalangi kembalinya kepada keheranan.

 

40.

Dengan Menyangkal Diri Memikirkan Dunia

Di manakah Tao? Ia telah ada sebelum adanya pemikiran, sebelum adanya kebijakan, sebelum adanya pembedaan, sebelum adanya kelahiran dan kematian. Ia tak dapat diraih tetapi selalu ada.  Semua pemahaman secara bertahap takluk kepada Tao. Pertanyaan dan jawaban adalah takluk yang pertama-tama. Jawabannya adalah tak ada jawaban. Semua pertanyaan keliru. Bergumul dengan jawaban yang keliru takkan pernah memberikan jawaban yang benar. Menemukan jawaban yang benar melewatkan Tao. Dengan kesadaran penuh, berpikirlah tanpa pemikiran, berharaplah tanpa harapan. Takjublah tetapi janganlah heran. Jadilah bentuk segalanya. Inilah caranya menyangkal diri memikirkan dunia. Tetapi, kalau dipilih pergumulan diri yang berat, jagalah keseimbangan antara kaki yang maju dengan kaki yang mundur. Pahamilah bahwa mundur bukanlah berjalan mundur, dan maju bukanlah berjalan maju. “Jalan” akan semakin dekat kalau diri serta pergumulan melunak.

 

41.

Tao Ibarat Menyelami Tawa Orang Bodoh

Kalau yang bijaksana mendengar Tao, mereka mengenalinya. Kalau yang biasa mendengar Tao, mereka merenungkannya. Kalau yang bodoh mengenal Tao, mereka mentertawakannya. Tanpa tawa, Tao bukanalh Tao. Seperti Tao, mengetahui tampaknya merupakan suatu kontradiksi; terangnya tinggal di dalam kegelapan, kemudahannya diperoleh dengan kesulitan, kemurniannya tanpa idealisme, kejelasannya tak kelihatan. Ia tak dapat mengenali diri sendiri. Bahkan kalau ditemukan ia tak berbentuk, tersembunyi dan tidak bernama. Mendapatkanya tampaknya seperti kehilangannya. Tetapi tetap saja ia memupuk dan memenuhi. Mengetahui tidaklah pernah cukup mengetahui. Ia terus saja lolos dari dirinya sendiri. Mengetahui tampaknya seprti ketidak tahuan. Menemukannya seperti kehilangannya, seperti menyelami tawa orang bodoh.

 

42.

Pemikiran Telah Menciptakan Pembedaan

Pada awal permulaan tak ada apa-apa. Pada mulanya, yang tak ada menjadi satu. Lalu satu menjadi dua, dan dua menjadi tiga, dan tiga menjadi segalanya. Tao telah ada semenjak semula. Semenjak awal pemikiran, pemikiran telah menciptakan pembedaan. Pemikiran siapakah yang dapat menanggalkan pemikiran mereka? Harus diapakan bagian-bagiannya dan lawan dari segalanya: benar salah, naik turun, sekarang nanti, baik buruk, di sini di sana? Uraikanlah dilema yang tercipta. Kembalilah Tao. Isilah dengan kehilangan, raihlah dengan mengosongkan. Cobalah memahami dari akhir ke semula, apa yang telah terjadi dari semula hingga akhir, maka akan ada kebingungan. Hanya Tao lah awal serta akhir. Kosongkanlah diri, lalu kembalilah kepada Tao. Mulailah dengan kenihilan. Lalu jadilah satu dan dua, dan tiga. Kembalilah kepermulaan dan bergeraklah bersama Tao. Di dalamnyalah pemikiran segalanya berbeda.

 

43.

Dari Pemikiran Lunak Menuju Perbuatan Lunak

Pemikiran lunak mengatasi pertanyaan yang paling sulit. Hanya yang mengambil bentuk semuanyalah yang dapat merangkul segalanya. Hanya yang tak berbentuklah yang dapat memuat segala bentuk. Bicaralah, maka akan ada pergumulan. Kalau pemikiran dibatasi dengan kata-kata, berpikirlah tanpa kata-kata. Bicaralah dengan kata-kata tetapi berpikirlah dalam hati; lakukanlah tanpa berusaha, bertindaklah tanpa maksud. Hadapilah perubahan segalanya dengan perubahan. Ini disebut menghadapi secara lunak. Demikianlah waktunya mudah; batiniah dan lahiriah timbul dari satu sama lain, yang mengherankan sudah dikenal. Dalam menghadapi secara lunak tak ada bedanya antara ini dengan itu, di sini dengan di sana, diri sendiri dengan orang lain, upaya dengan kemudahan. Tak ada upaya sehingga tak ada kegagalan. Tak ada masalah sehingga tak ada pergumulan. Inilah yang disebut perbuatan lunak.

 

44.

Kemudahan Dan Permainan Menunjukkan “Jalan”

Yang manakah yang lebih dihargai, reputasi atau hikmat? Yang manakah yang lebih dapat diandalkan, penampilan atau bobot? Pilihlah di antara kepastian atau ketidak-pastian, antara konsistensi atau pemahaman. Bergantunglah pada kepastian, reputasi dan konsistensi, maka harganya pasti mahal. Peganglah kebenaran maka akan ada perpecahan. Tanamkanlah dalam idealisme, temukanlah yang tinggi dan sakral, maka masalah akan tidak akan ada habis-habisnya. Tao itu cukup lebar untuk kontradiksi, cukup memuaskan untuk menggelisahkan, cukup mendalam untuk terendah. Terbukalah terhadap segalanya, janganlah berpegang pada apapun. Tanpa persiapan, bersiaplah untuk segalanya. Relakanlah dan berubahlah di tengah-tengah perubahan apapun. Keselarasan mendalam timbul dengan melepaskan. Dalam segala perubahan ada sesuatu yang tak berubah. Bagaimanakah perubahan serta ketidak-berubahan tinggal bersam-sama? Kemudahan serta permainan menunjukkan “Jalan”

 

45.

Mengetahui, Diketahui, dan Tidak Diketahui adalah Sama

Dalam kesempurnaan ada ketidak-sempurnaan yang menjadikannya berguna tidak habis-habisnya. Pemikiran yang paling luruspun akan menyimpang. Intelijensi yang paling tajampun tampaknya bodoh. Kata-kata yang paling sempurnapun tidak masuk akal. Mengetahui dalam kekosongan yang tiada habis-habisnya. Yang tidak diketahui menjadi diketahui. Kesederhanaan mengatasi kebingungan. Keheningan dan ketenangan mengatur segalanya yang gelisah. Percayalah perubahan di dalam perubahan. Percayalah yang tidak sempurna untuk menghidupkan yang sempurna. Percayalah kepenuhan dalam kekosongan, penyimpangan dalam keterarahan, hikmat dalam kebodohan, masuk akal dalam ketidak-masuk akalan. Percayalah yang tidak diketahui. Tanpa mempercayai yang tidak diketahui, yang diketahui serta yang mengetahui tak dapat dipercaya. Yang mengetahui dan yang diketahui serta tidak diketahui adalah sama. Masing-masing orang adalah kehidupan yang diketahui, yang tak dapat menemukan dirinya sendiri karena keterpisahannya dari yang tidak diketahui. Yang mengetahui dan yang tidak diketahui adalah misteri yang sama. Jadi santailah dengan segala yang diketahui dan segala yang tidak diketahui.

 

 

46.

Kalau Tao Dipraktekkan dan Tidak Dipraktekkan

Kalau Tao diprakttekkan, manusia dipupuk dan pemikiran menjadi tidak menarik perhatian. Yang biasa dihormati, yang umum diperkaya dan yang sederhan menjadi mendalam. Kalau Tao tidak dipraktekkan, para pemikir dihormati dan orang-orang menjadi curiga. Kesederhanaan hilang dan pemikiran digunakan untuk menindas serta memanipulasi. Maka yang luar biasa dihormati, yang ekstrim disambut dan yang berlebihan diharapkan.  Menyimpanglah dari Tao maka para pemikir menjadi alat dan korban orang lain. Ketegangan berkembang. Dunia menjadi serius dan  parah. Yang dipikirkan orang menjadi penting daripada perubahan musim. Ketidak tahuan adalah suatu kemalangan. Kebodohan adalah suatu kutukan. Tetapi bencana tebesar adalah pemikiran yang digunakan sebagai kekuasaan. Belajarlah sedikit dan dipengaruhilah. Belajarlah sedikit lagi dan jadilah berpengaruh. Lalu belajarlah cukup banyak untuk membiarkan segalanya berjalan menurut “Jalan” alamiah mereka sendiri.

 

47.

Intinya adalah Mencari Di Dalam Yang Mencari

Carilah tempat-tempat yang jauh untuk Tao tetapi sedari semula ia sudah berada di dalam. Intinya adalah mencari di dalam yang mencari. Bepikirlah dengan segala pemikiran, rasakanlah dengan segala perasaan. Terbukalah dengan mendalam; dengan lembut temukanlah yang menyangkal diri. Kosongkanlah diri ke dalam diri Tao. Demikianlah, maka akan dapat melihat tanpa memandang, memahami tanpa berpikir, berbuat tanpa berupaya. Untuk memahami, sambil menyangkal diri jadilah yang biasa. Ia memiliki cukup banyak untuk diajarkan. Belajarlah dengan lunak dari yang sederhana. Pembelajaran  yang canggih hanya akan membingungkan. Janganlah melampaui yang umum. Belajarlah dari tanah dan rumput, pohon dan udara, aliran air. Hiduplah secara umum, yang sederhana, yang biasa. Kuasailah semuanya dengan membiarkan mereka menjadi guru. Serahkanlah pembelajaran yang tinggi-tinggi kepada mereka yang berniat kehilangan jalannya. Paling tidak mereka sesat. Kalau sesat, kembalilah pada permulaan. Tersesat adalah salah satu cara untuk menemukan permulaan di dalam.

 

48.

Untuk Memahami Segalanya, Kosongkanlah dari Segalanya

Pembelajaran terdiri dari pengisian. Menemukan Tao terdiri dari pengosongan. Setiap harinya sesuatu ditemukan, Tao semakin jauh;  setiap harinya sesuatu hilang, Tao semakin dekat. Dari pada mengisi dengan jawaban-jawaban, kosongkanlah dari pertanyaan-pertanyaan. Teruslah mengosongkan. Pertanyaan membatasi jawaban. Kalau tak ada pertanyaan lagi, jawaban tidak lagi terikat oleh mereka. Untuk mengendalikan segalanya, biarlah segalanya mengambil jalannya sendiri; segalanya tak dapat dikendalikan dengan campur tangan. Satu saja desakan yang egois, maka akan terjadi kebingungan; satu saja pikiran pribadi maka akan ada ketidak-tahuan. Untuk memahami segalanya, kosongkanlah diri dari segalanya.

 

49.

Cara Orang Bijak Menjalani Hidup

Orang bijak berbuat tanpa mengetahui, memimpin tanpa mengendalikan, membimbing tanpa kepastian, bertanya tanpa jawaban, mengajar tanpa kebenaran, tanpa berpikir menyesuaikan diri dengan pemikiran orang lain. Tanpa menghakimi, yang tidak tahu diisi, yang belajar diajar, yang mencari didorong, yang tersesat diarahkan, yang bodoh ditolong. Orang bijak percaya kepada kebajikan batiniah dari segalanya, percaya kepada aliran hikmat dari penuh hingga kosong. Bagi mereka yang mengisi, orang bijak mengisi mereka penuh agar pengosongan dipersiapkan; bagi mereka yang penuh, orang bijak membuka mereka lebar-lebar sehingga pengosongan dimulai. Terhadap dunia, orang bijak itu rendah hati dan pemalu, membingungkan dan tidak menarik perhatian. Walaupun orang tidak mendapatkan jawabannya, mereka dipenuhi.

 

50.

Kematian Mengajarkan Keseimbangan Awal dan Akhir

Di zaman dulu, katanya orang bijak berjalan tanpa takut diseruduk badak atau diterkam harimau karena tak ada jalan masuk bagi maut. Bahkan orang bijak di jaman dulu pun tidak kekal hidupnya. Kematian selalu mengikuti kehidupan. Tetapi antara kelahiran dengan kematian terdapat “Jalan” bergerak yang mudah yang dibimbing oleh Tao. Kalau Tao dapat digambarkan dengan kata-kata, ia hanya akan dipahami oleh mereka yang mendengarkan kata-kata. Karena Tao tak dapat diucapkan, ia ditemukan oleh yang mendengarkan keheningan. Keheningan terdengar dengan menanggalkan segala pembelajaran. Tak mungkin dapat meninggalkan pembelajaran kalau ada rasa takut salah; tak mungkin ada pengosongan kalau ada rasa takut mati. Kalau bebas dari kesalahan, kehilangan, dan kematian, pemahaman istimewa akan datang sendiri. Kelahiran mengajarkan bahwa hanya tubuh yang dibiarkan masuk ke dunia; kematian mengajarkan bahwa tubuh pun tidak dibiarkan ke luar dari dunia. Mati sebelum kematian adalah penyimpangan khusus antara awal dan akhir. Demikian dikatakan: kosongkanlah untuk mengisi, kehilangan untuk meraih, matilah untuk hidup.

 

51.

Kepemilikan Yang Pertam-tama

Semenjak awal yang pertama-tama dari permulaan, semenjak kebangkitan yang pertama-tama dari segalanya, segalanya penuh dengan kepemilikan. Masing-masing hal bangkit sebagai dirinya dari semua hal lainnya sehingga ada kepemilikan dalam segalanya. Tetapi manusia, dengan kehendaknya, lupa bahwa ada tempat yang disediakan bagi mereka sedari semula. Kepemilikan artinya mengingat. Mengingat kepemilikan. Mengetahui kepemilikan yang pertama-tama adalah kenangan terdalam akan “Jalan”. Segalanya mengingat “Jalan”. Setiap hal bangkit dari tubuhnya, dibentuk dan dipupuk olehnya, lalu dibentuk menjadi dirinya oleh setiap hal lainnya. Di dalam permulaan dari setiap hal ada sikap menghormat pemupukan yang pertama dan sikap mengenang kepemilikan yang pertama.

 

52.

Hiduplah dalam Keharmonisan Sejati

Segalanya memiliki permulaan yang sama. Permulaan ini disebut “Jalan”. Ingatlah dia untuk memahami anak-anaknya. Lalu kembalilah kepada “Jalan”. Mengembara selamanya takkan ke luar dari tubuhnya; berpikir selamanya takkan keluar dari pikirannya. Tak perlu bergumul. Dengan tubuh, percayalah tubuhnya; dengan pikiran, percayalah pikirannya. Tak perlu takut mati. Daripada bergumul, percayalah; daripada berbicara, dengarkanlah. Biarlah kepenuhan timbul dengan sendirinya. Biarlah berpikir dan berbuat tepat waktunya. Kemalangan mudah dikembangkan. Yang paling besar dikenal oleh yang terkecil, yang paling akhir oleh yang paling awal. Percayalah dan ingatlah. Hiduplah dalam keharmonisan sejati di dalam “Jalan”.

 

 

53.

Sumber Yang Sederhana Bagi Pemikir dan Pemikiran

Tao itu begitu jelas sehingga mudah terlewatkan, begitu biasa sehingga sulit ditemukan. Ia adalah sumber sederhana dari mana para pemikir menciptakan pemikiran yang rumit. Kebanyakan orang begitu terpesona dengan pemikiran yang rumit, begitu silau oleh hal-hal sulit, sehingga tak dapat menemukan kesederhanaan dari segalanya. Kebanyakan orang terlalu banyak berpikir dan terlalu banyak bergumul. Siapa tahu apakah berpikir atau bergumul yang timbul terlebih dahulu, tetapi hasilnya selalu sama. Orang menjadi licik dan jenius. Para pemikir begitu dihormati sehingga semua orang berpikir bahwa siapapun yang mengetahui apapun tentang apapun mengetahui sesuatu tentang sesuatu. Masalah demi masalah ditemukan. Solusi demi solusi ditimbun hingga semua orang tertimpa solusi dan sesat dalam kerumitannya. Semua yang diingat orang adalah kelicikan argumentasi, kejeniusan peralatan, kemegahan dari semuanya itu. Semua orang mengikuti para ahli yang telah kehilangan jalannya. Kotak barang berharganya kosong, tuduhan umumnya dilupakan, langit, air, dan bumi disalahgunakan. Ada ruangan yang cukup besar dalam Tao bagi para pemikir dan pelaku. Tetapi “Jalan” itu lebar dan sempit, jelas dan tersembunyi, mengalah dan tidak kenal ampun. “Jalan” Tao bukanlah jalan yang manapun. Ingatlah dan hormatilah “Jalan”. Kenalilah segala pikiran dengan kerendahan hati

 

 

54.

Kuasailah Inti dari Segalanya

Yang berakar dalam akan berumur panjang. Pemahaman batiniah akan lama dikenang. Yang lama dikenang akan mempengaruhi dunia. Kuasailah inti dari segalanya. Peganglah kedalaman batiniah hingga dipahami secara mendalam. Bukalah dan terimalah batin dan pusat yang kosong. Bergeraklah dalam kedalaman bersama kedalaman. Dituntunlah oleh jalan “Jalan”. Dimilikilah untuk memiliki. Ajarkanlah hanya yang dipahami dalam hati. Lalu ajarilah dari hati ke hati maka dunia akan berubah. Terpisahlah dari dunia maka dunia akan terpisah menjadi bagian-bagian. Masuklah ke dalam dunia, beradalah di dalam dunia, jadilah dunia yang mengikat dunia. Jadilah kepemilikan hati “Jalan”

 

55.

Keajegan dalam Berpikir Memberi Keajegan Pemikiran

Temukanlah keajegan dalam berpikir yang memberikan keajegan pada pemikiran. Temukanlah keajegan dalam berpikir yang memberikan Tao kepada pemikiran. Dalam keharmonisan, perbedaan-perbedaan adalah kepemilikan; dalam keajegan, kontradiksi-kontradiksi adalah kepemilikan. Demikianlah orang bijak menemukan kemudahan dalam upaya, ketegasan dalam mengalah, hikmat dalam kebodohan, keutuhan dalam bagian-bagian, peluang dalam kesusahan. Pengembara percaya kepada tujuan, pencari percaya kepada yang dicari, yang menyimpang percaya kepada penyimpangan. Bahkan tanpa tujuanpun, orang yang ber”Jalan” percaya kepada langkahnya. Demikianlah orang bijak percaya kepada “Jalan” dan Tao yang adalah jalannya. Kita tak mungkin lolos dari “Jalan” Tao tidak mungkin kita hindari.

 

56.

Melunaklah Terhadap Keberadaan Segalanya

Yang bukan kata-kata tak dapat diucapkan. Bicaralah maka ia akan hilang tetapi diamlah maka akan ada kebingungan. Mana mungkin yang tak terucapkan diajarkan? Dengan menciptakan kekosongan ke dalam mana yang tak berkata mengisi. Tak ada jawaban yang benar; tak ada pertanyaan yang salah. Semua pengajaran adalah bertanya. Hanya pertanyaan yang dibenarkan. Bahkan kepastianpun tidak pasti. Kepastian menjamin kekeliruan. Kepandaian mengundang keteruraian. Mengetahui adalah suatu ketidak tulusan. Kesombongan adalah merendahkan yang lain, kebodohan yang memecahakan kesatuan semua orang dalam misteri umum. Kepastian itu tidak ada. Oleh karenanya, kosongkanlah dari kepastian dan diisilah dengan kerendahan hati. Kendalikanlah kejeniusan. Kendalikanlah kebrilianan. Sederhanakanlah yang rumit. Satukanlah yang terendah dengan yang tertinggi. Kembangkanlah kesatuan agar pemahaman timbul sendiri. Katakanlah tanpa mengucapkannya. Ungkapkanlah tanpa memperlihatkannya. Pahamilah hal-hal ini maka takkan ada perbedaan guru dengan murid, antara pemahaman dengan ketidak-tahuan, yang serius dengan yang tidak serius, antara upaya dengan kemudahan, antara hikmat dengan kebodohan. Melunaklah terhadap keberadaan segalanya dan ditemukanlah oleh misteri.

57.

Pembelajaran yang Hebat

Kekuatan akan meredakan, kekuasaan akan membungkam, paksaan akan menaklukkan, tetapi manusia hanya dapat dikuasai dengan membiarkan mereka menemukan dirinya sendiri. Semakin banyak aturan, semakin besar perlawanannya. Semakin ketat aturannya, semakin cerdik peyimpangannya. Semakin banyak kendalinya, semakin aneh-aneh segalanya yang terjadi. Kalau yang tidak perlu diberlakukan, manusia mengetahui yang bodoh; yang penting hilang dalam pergumulannya. “Jalan” orang bijak tidaklah hilang dalam hal yang tidak perlu. Yang sudah ada sedari dulu dipupuk. Ada kedamaian karena manusia dipenuhi dengan memelihara diri sendiri. Apa yang mereka pelajari, mereka sebut penting. Ada keharmonisan karena mereka tidak dialihkan dari tugas-tugas mereka. Tanpa pergumulan, akan ada pembelajaran yang hebat.

 

 

58.

Hidup Dalam Keseimbangan Menciptakan Kebesaran yang Sederhana

Hormatilah Tao maka manusia akan tetap biasa. Hikmat berakar pada yang biasa. Tao dipraktekkan dalam yang biasa. Yang tidak biasa menciptakan masalah. Jadilah jenius maka manusia menjadi licik. Semula penguasaan diri hilang, lalu kepantasan dan keseimbangan. Lalu kebijaksanaan hilang lalu pengendalian itu sendiri. Akhirnya tipu muslihat dihormati dan kemalangan pasti datang. Karena yang murah hati tak dapat dikenal tanpa yang kejam, yang baik tanpa jahat, yang jujur tanpa yang menipu, orang bijak mengembangkan awal yang utama dan kembali kepada yang semula sebelum ada lawan. Orang bijak itu tegas tetapi lembut, mengalah tetapi kuat, tajam tetapi terkendali. Teapi orang bijak adalah sesuatu yang lain, sesuatu yang sangat luar biasa. Dengan berpikir yang tajam dan jernih, sambil menyangkal diri lihatlah keberadaan segalanya. Kembalilah kepada yang biasa. Hiduplah dalam keseimbangan maka manusia akan mengikuti dalam keseimbangan. Maka terciptalah kebesaran yang sederhana.

 

59.

Kepedulian Yang Utuh, Pengabaian Yang Utuh

Dapatkan karya-karya rumit Langit dan Bumi diketahui? Bagaimanakah segalanya timbul dan tenggelam? Untuk mengetahui yang tidak terbatas, terbebaslah dari yang terbatas. Kerendahan hati adalah awal yang bijaksana. Agar dapat memahami, terbebaslah dari kepastian. Mulailah dengan merelakan idealisme. Dalam mempedulikan orang lain, gunakanlah penguasaan diri. Pura-pura tahu apa yang benar dan tidak benar, baik dan buruk, adil dan tidak adil, hanyalah mementingkan diri sendiri. Kebajikan bukanlah kebajikan hingga ia terbebas dari kebajikan. Dari penguasaan diri datanglah penyangkalan diri. Dari penyangkalan diri datanglah keseimbangan. Dari keseimbangan datanglah keutuhan. Dari keutuhan datanglah kepedulian yang mendalam. Jadilah “Jalan”, yang memegang serta menghormati segalanya. Rangkullah yang terbesar maupun yang terkecil, satu sama lain. Lalu dirangkullah oleh keutuhan dan ditemukan oleh kepedulian yang utuh, pengabaian yang utuh.

 

60.

Mendalam dalam Kepenuhan serta Kekosongan

Manusia yang melukai manusia adalah bahaya terbesar di dunia. Kalau setan dianggap tidak tahu, semua orang mengisi semua orang lainnya dengan ide-ide.  Semua orang berpikir. Kebodohan dikutuk dan semua orang percaya bahwa akan ada hikmat. Mengisi orang dengan ide-ide tidaklah menjadikan pemahaman; mendorong pemikiran tidaklah menjadikan hikmat. Berpikir adalah sumber dari tidak berpikir. Adalah suatu kekeliruan mengharapkan bahwa pembelajaran akan selalu menguntungkan. Ada orang yang belajar lebih banyak dan hanya menciptakan masalah lebih banyak; semakin banyak tahu, kebodohan mereka semakin parah. Demikianlah orang bijak mengajar dengan bijaksana. Karena suatu hal mendefinisikan yang lainnya, orang bijak mengajar dengan hikmat dan kebodohan. Pengetahuan dan ketidak tahuan sama-sama mendidik. Ketidak tahuan mendorong pembelajaran; kebodohan mendorong hikmat. Demikianlah orang bijak menjadi teladan tentang harus menjadi apa dan jangan menjadi apa. Lalu, bagaimana orang bijak dikenali dari yang bodoh? Sungguh sulit untuk memahami dengan berpikir tetapi mana mungkin ada pemahaman tanpa berpikir? Pemahaman tanpa berpikir datang dari kekosongan Tao; datang dari kekosongan, ia tidak mungkin keliru. Hikmat tanpa temuan berasal dari kepenuhan Tao; datang dari kepenuhan, ia tidak mungkin keliru. Entah dimana, mendalam di dalam kekosongan serta kepenuhan, adalah pemahaman serta hikmat yang tidak mungkin keliru.

 

61.

Isilah dengan Pemikiran Kosongkan dalam Pemahaman.

Pemahaman tidaklah naik ke pegunungan yang tinggi-tinggi melainkan tenggelam ke laut yang luas serta menerima. Kebawahlah “Jalan” yang diikuti semua sungai pemahaman. Itulah hikmat “Jalan”. Dengan ketenangannya, yang rendah hati mengatasi keangkuhan. Mencari itu sia-sia tanpa menerima ketenangan dari pembelajaran; berpikir itu sia-sia tanpa menerima ketenangan dari pemahaman. Cari dan berpikirlah sebagai laki-laki tetapi belajar dan memahamilah seperti perempuan. Sama seperti halnya pencarian mengosongkan diri untuk menjadi pembelajaran, berpikir juga mengosongkan diri untuk menjadi pemahaman. Mencari dan berpikir adalah upaya lelaki; belajar dan memahami adalah penerimaan perempuan. Isilah dengan pemikiran tetapi kosongkanlah ke dalam pemahaman. Kembangkan yang lelaki tetapi hormati yang perempuan. Carilah di pegunungan tetapi belajarlah di lembah; berpikirlah di sungai tetapi pahamilah di laut.

62.

Kebebasan Dalam Kurungan Tao Yang Tak Terbatas

Tao adalah “Jalan” dari segalanya. Tao adalah harta orang bijaksana dan perlindungan orang bodoh. Kalau ada perayaan dan pemberian hadiah, janganlah menawarkan kekayaan melainkan ketenangan Tao. Mengapa Tao dihargai lebih dari yang lain? Karena berpikir membawa kepada pengosongan, pengosongan membawa kepada pengisian, pengisian membawa kepada penemuan. Karena merupakan belas kasih terhadap yang bodoh, kepedulian bagi yang tidak tahu, bimbingan bagi yang mencari, kehormatan bagi yang bijaksana. Karena ada kebebasan dalam kurungan Tao yang tak terbatas.

 

 

63.

Dari Wawasan Sederhana, Raihlah Hikmat yang Besar

 

Berpikirlah tanpa berpikir. Pahamilah tanpa upaya. Carilah tanpa awal. Hormatilah yang sederhan. Temukanlah kebiasaan dari segalanya. Tanggapilah kekerasan dunia dengan kepedulian, kemurahan hati, dan belas kasih. Temukanlah yang sederhana dalam yang rumit. Dari wawasan-wawasan sederhana, raihlah hikmat yang besar. Pahamilah yang sulit dengan memulai dari yang mudah. Pecahkanlah masalah-masalah besar ketika masih kecil. Demikianlah orang bijak menguasai yang besar sambil memelihara yang kecil, mamahami yang rumit sambil menghadapi yang sederhana. Tetapi yang sederhana tidaklah mudah dan yang mudah tidaklah sederhana. Bayangkanlah segalanya mudah maka segalanya akan sulit; bayangkanlah segalanya sulit maka segalanya akan mudah.

 

64.

Menurut Tao: Orang Bijak Tak Mengumpulkan Kebenaran, Tak Ingin Memahami.

Persis ketika suatu akhiran di capai, suatu awal dimulai. Kebingungan akan mengikuti kepastian. Jawaban akan membawa kepada pertanyaan. Pertanyaan pertama tidak mungkin memiliki jawaban terakhir. Berilah jawaban maka pasti akan keliru. Suatu akhiran selalu merupakan suatu permulaan. Temukanlah jawaban sebelum pertanyaan yang pertama; temukanlah pemahaman sebelum pemikiran yang pertama. Pemikiran hanyalah tentang berpikir. Berpikir akan membawa kepada kebingungan. Pemahaman sebelum berpikir membingungkan pemahaman. Gunakanlah pemikiran untuk mengenali pemahaman. Berpikirlah hati-hati sebelum berpikir, lalu berpikirlah tanpa mengganggu pemikiran. Pahamilah sebalum berpikir, lalu berpikirlah tanpa mengganggu pemahaman. Kosongkanlah pikiran dan kembalilah ke awal sebelum pemikiran pertama. Karena kosong datang sebelum penuh dan penuh sebelum kosong, mengisi dengan mengosongkan. Orang bijak tidak mengumpulkan kebenaran, tidak menyimpan ide-ide, tidak ingin memahami. Orang bijak tidak memikirkan apa-apa tetapi selalu berpikir, tidak tahu apa-apa tetapi selalu paham, tidak menilai apa-apa tetapi selalu paham, tidak menilai apa-apa tetapi selalu dapat membedakan.

 

65.

Kebajikan Ada Ketika Yang Terendah Maupun Yang Tertinggi Dihormati

Pada mulanya ketika manusia masih sederhana dan dekat dengan “Jalan”, mereka tidak tahu tentang Tao karena tidak satu dengan Tao. Tanpa kepandaian mereka memiliki kebijakan, tanpa pengetahuan mereka bijaksana. Tetapi kesederhanaan dan kebajikan tidak mudah disimpan. Pengetahuan lebih mudah ditemukan dari pada hikmat; kepandaian lebih mudah ditemukan dari pada kebajikan. Pengetahuan tanpa hikmat dan kepandaian tanpa kebajikan adalah awal dari kemalangan. Mencari yang telah hilang itu berbahaya; kepandaian mengajar kepandaian, pengetahuan melahirkan pengetahuan. Tanpa kerendahan hati “Jalan” Tao, kepandaian dan pengetahuan mengacaukan keseimbangan yang sederhana. Manusia tidak menganggap kebijakan batiniah dari segalanya, mereka bertengkar dengan diri sendiri dan berperang dengan hikmat “Jalan”. Keseimbangan itu kebajikan, kembali kepada keharmonisan yang utama. Bagaimana bisa diketahui? Ketika para petani mengolah tanah yang sehat dan bumi bermurah hati; ketika udara dan air bersih bagi burung serta ikan, ketika penebang kayu merencanakan regenerasi dan tukang kayu memiliki kayu yang lurus, ketika manusia lahir dan menjadi tua sebelum mati; ketika tak ada yang luar biasa manusia mencakupkan diri. Ada kebajikan ketika yang terendah maupun  yang tertinggi dihormati; ketika “Jalan” alamiah dari segalanya dihormati dan segalanya biasa; ketika tampaknya seolah-olah “Jalan” bernafas dengan mudah.

 

66.

Laut adalah Di Atas Ratusan sungai

Laut adalah di atas ratusan sungai karena ia berada di bawah mereka. Oleh karenanya, orang bijak melayani dari bawah, membimbing dari bawah, memimpin dari belakang. Karena orang bijak itu rendah hati, manusia tidak tertindas. Karena mereka tidak tertindas, mereka percaya. Karena mereka tidak dipimpin, mereka mengikuti. Kalau orang bijak tidak bergumul dengan siapapun, siapapun takkan dapat balas bergumul dengannya.

 

67.

Tiga Harta yang Harus Disimpan: Belas Kasih, Kecukupan, Kerendahan Hati

Tao itu beda. Seandainya ia tidak beda, ia tidak mungkin ada sedari mulanya. Ia tak dapat dibayangkan, demikianlah ia besar dan bertahan. Ada tiga harta yang harus disimpan: belas kasih, kecukupan, kerendahan hati, dari kerendahan hati timbullah kepemimpinan. Agar kuat, pertama-tama kenalilah sikap mengalah; tanpa mengalah, kekuatan takkan dapat di raih. Untuk memberi, pertama-tama temukanlah kelimpahan; tanpa sumber-sumber daya batiniah takkan ada yang dapat diberikan. Untuk memimpin, pertama-tama pahamilah bagaimana rasanya dipimpin; tanpa pengalaman dipimpin tidak mungkin mengerti memimpin. Tanpa ketiga harta ini, tidak mungkin ada harta lainnya. Kembalilah kepada awalnya, rangkullah ketiganya dan terimalah yang lain.

 

68.

Agar dalam Pencarian Semua Orang Tidak Terganggu

Bersikap keraslah maka keseimbangannya akan hilang. Marahlah maka intelijensi terlupakan. Paksalah maka kesatuan akan terpecah. Jadilah bersama-sama orang seperti menjadi satu dengan “Jalan”. Jangan berusaha keras atau sombong. Cara terbaik untuk memimpin adalah dipimpin; cara terbaik untuk mengajar adalah melayani. Inilah kebajikan dari tidak berusaha keras, cara untuk bersikap lunak terhadap orang lain, cara membimbing dari dalam. Orang tak mungkin dibawa kepada pemikiran maka pemikiran dibawa kepada orang. Janganlah memaksa dengan pemikiran tetapi bawakanlah dan tawarkanalah mereka agar pencarian semua orang tidak terganggu.

 

69.

Bagaimana Tao Bekerja adalah Misteri Di Dalam Misteri

Setiap langkah tidak menuju ke mana-mana. Maju tidaklah maju. Mundur tidak mungkin. Segalanya yang telah dipelajari tampaknya tidak berguna. Pemikiran tergantung, menanti dalam kekosongan. Segalanya adalah kejutan yang timbul entah dari mana. Tiada gunanya berharap. Bahkan dengan segenap kesungguhan pun, tetap muncul kejadian yang tidak disangka-sangka. Bahkan dengan pikiran yang tajam serta jernih pun “Jalan” tak dapat ditemukan. Entah bagaimana setiap pemikiran adalah persiapan; suatu pemahaman tanpa kepastian, gerakan tanpa perubahan. Siapa dapat mengatakan bagaimana Tao itu bekerja? Ia adalah misteri di dalam misteri.

 

 

70.

Cara Hidup manusia Yang Tidak Dibantu Oleh Kepastian

Ada prinsip dalam kata-kata ini: ada sistem di dalam urusan manusia. Tetapi tak seorangpun tampaknya tak memahaminya. Siapakah yang dapat mengetahui “Jalan”nya Tao? Mungkin permulaannya terlalu kuno, “Jalan”nya terlalu didisiplinkan. Siapakah yang dapat menjelaskan apakah itu atau bagaimana bekerjanya? Mengapa ia begitu sulit padahal Tao hanyalah keberadaan segalanya? Mungkin yang sudah jelas itu terlalu sulit. Karena Tao ada keselarasan di antara yang satu dengan yang banyak, yang sama dengan yang berbeda. Setiap keselarasan adalah tanda dan guru dari “Jalan” ini. Tetapi juga diajarlah oleh setiap keselarasan. Yang buta, dengan mata gelap tetapi pikiran terang, dibimbing pertama-tama oleh hambatan. Ada cara hidup di dunia ini yang tidak dibantu oleh kepastian. Kehilangan sedikit menemukan sedikit. Dengan pikiran terbuka lebar dan tertutup terhadap jawaban-jawaban, resapilah “Jalan” itu.

 

71.

Bijaksana Berpikir Bahwa Pengetahuan = Ketidak tahuan

Orang-orang bijak zaman dahulu mengatakan adalah bijaksana untuk berpikir bahwa pengetahuan adalah ketidak tahuan tetapi bodohlah untuk berpikir bahwa ketidak tahuan adalah pengetahuan. Bagi mereka yang bosan dengan kebodohan, “Jalan”nya terbuka menuju hikmat. Hikmat dimulai dengan memperlakukan pengetahuan secara tak acuh. Demikianlah tampaknya bahwa pemikiran bengkok orang bijak adalah seperti pemikiran bingung orang bodoh. Pikiran lurus memang berguna tetapi Tao sendiri tidaklah lurus dan tak dapat diluruskan. Ada kontradiksi, ada paradoks. Jadi kata-kata dibengkokkan dan orang bijak tidak memberikan jawaban-jawaban yang lurus. Manusia suka pura-pura bahwa segalanya lurus agar mereka dapat berpikir lurus. Mereka suka meluruskan segalanya, bersikap langsung, meluruskan urusan-urusannya. Berjalan lurus hanyalah suatu ilusi. Sama seperti jalan panjang dan tongkat pengukurannya pasti akhirnya bengkok, demikianlah segalanya pasti bengkok. Bahkan kata-kata bengkok inipun dibengkokkan untuk menampung bentuk kebengkokan itu. Orang bijak mengembara dengan “Jalan” yang bengkok. Manusia yang berpikir segalanya itu lurus, berpikir orang bijak itu tak bertujuan atau  bingung. Orang bijak hanya tertawa dan membiarkan mereka berpikir lurus.

 

72.

Menguraikan Pikiran Dengan Pemikiran

Dari rasa takjub datanglah rasa hormat, lalu datanglah penguasaan diri. tanpa pengusaan diri akan terjadi kemalangan. Rasa takjub adalah pengakuan akan kerendahan hati. Siapa yang memahami pemikiran pohon, hikmat rumput, kesabaran batu? Pemikiran manakah yang memahami pemikiran mereka sendiri? Bagaimanakah pikiran memikirkan pemikiran kalau setiap pikiran dapat diuraikan oleh pemikiran dari memikirkan pemikiran sendiri? Takjub memikirkan perbuatan dan tidak berbuat sendiri. Lalu dengan pikiran terurai… berpikirlah.

 

 

73.

Sebab Mengapa Tao Begitu Sulit Ditangkap

Janganlah takut dan bersemangatlah, maka akan ada kenbingungan lalu bencana. Janganlah takut dan tenanglah, maka akan ada kejelasan lalu keselarasan. “Jalan” yang satu dikenan, yang lain tidak. Tetapi tak seorangpun mengetahui mengapa. Karena Tao tidak bergumul, mereka yang bergerak bersama Tao tidak bergumul. Bagi mereka, ada kejadian tetapi segalanya tidak dibuat untuk terjadi; ada kepemilikan tetapi segalanya tidak dimiliki; ada temuan teapi segalanya tidak ditemukan. Bergumullah, maka ia akan hilang; ingatlah maka ia akan hilang. Inilah sebabnya mengapa Tao begitu sulit ditangkap. Ia mengajar tanpa berbuat apa-apa. Ia lolos dari pertanyaan dan lolos dari jawaban. Ia tidak mengendalikan apa-apa tetapi tak ada yang bebas darinya. Tanpa berpikir … ia berprilaku sempurna.

 

74.

Tanpa Sadar Orang Bodoh Menjadi Orang Bijak

kalau manusia senang berpikir, mereka akan memahami bahaya ketidak tahuan. Kalau mereka tidak berpikir, tiada gunanya mewanti-wanti mereka. Kalau mereka bodoh, mereka tak dapat diperingati akan kebodohan. Tetapi dunia butuh mereka yang berpikir dan mereka yang tidak berpikir; dunia butuh yang prihatin dan yang tidak perihatin, yang bijaksana dan yang bodoh. Kalau hanya ada orang-orang yang tidak berpikir dan tidak prihatin, mereka akan tersandung ke dalam bencana. Seperti apa adanya, yang berpikir disibukkan dengan mengajar yang tidak berpikir, dan yang tidak berpikir disibukkan belajar dari yang berpikir. Dan hanya orang bijaklah yang sesat. Siapa tahu akan menjadi apakah siapapun? Dan siapa tahu siapakah dia siapapun itu? Maka orang bijak mengajar semua orang dan belajar dari dari semua orang. Kecuali yang bodoh, semua orang tahu bahwa mereka tidak tahu. Tetapi siapakah yang tahu kalau mereka tahu? Jadi yang bodohlah yang tanpa sadar mengajari orang bijak.

 

75.

Orang Bijak membimbing dengan Membuka

Mengapakah manusia tidak tahu? Karena pertanyaan mereka tak terjawab. Karena mereka yang tahu menimbun pengetahuannya seperti kekayaan dan menggunakannya seperti kekuasaan. Kalau mereka yang tahu begitu mementingkan pengetahuan, mereka yang tidak tahu mementingkan ketidak tahuan. Mana bisa ketidak tahuan dianggap enteng kalau pengetahuan dianggap serius? Mengapakah manusia gelisah? Karena seseorang memiliki sesuatu yang mereka tahu tidak mereka miliki. Karena mereka tahu mereka tidak tahu. Orang-orang bodoh mudah dikendalikan tetapi yang tidak tahu bukanlah bodoh. Kalau mereka memiliki satu pertanyaan saja, timbullah masalah. Maka mereka yang tahu menghabiskan waktu mereka yang ingin tahu dan semua orang berbuat aneh-aneh. Sama seperti halnya aliran harus mengalir ke bawah, pertanyaan harus dijawab. Orang yang mencari jawaban mengikuti apa yang tidak mereka ketahui sehingga mereka sesat dan gelisah. Orang yang menemukan jawaban mengikuti apa yang mereka ketahui sehingga mereka penuh dan cukup. Demikianlah orang bijak membimbing dengan membuka, bukan dengan menutup, dan mempercayakan kepada “Jalan” ke bawah dari segalanya.

 

 

76.

Kembalilah Kepada keheranan Semula

Manusia dilahirkan lunak dan lentur tetapi setelah tua mereka menjadi keras dan kaku. Tanaman yang hidup itu luwes dan lentur tetapi tanaman yang mati layu dan patah-patah. Yang muda dan yang hidup  belajar karena mereka selalu lentur, selalu mulai. Sarjana-sarjana tua yang hebat, penuh dengan informasi dan dibebani dengan pengetahuan, adalah ibarat pohon tua dan kering yang siap ditebang. Yang tidak mau lentur akan patah; yang berat dan kaku akan mati. Ringankanlah yang berat dan lunakkanlah yang keras; lenturkanlah  yang kaku. Kembalilah kepada keheranan semula.

 

 

77.

Orang Bijak brkarya Tanpa Menarik Perhatian

Kalau sebuah busur ditarik, bagian atasnya turun dan bagian bawahnya naik. “Jalan” Tao adalah meninggikan yang rendah dan merendahkan yang tinggi; mengambil yang terlalu banyak dan memberi kalau ada kekurangan. Seorang guru yang bodoh merendahkan yang tidak tahu hingga mereka terdiam dan kalah, dan memuji yang tahu hingga mereka sia-sia dan berpuas diri. Kalau orang bijak mengajar, mereka yang tidak tahu banyak bangga dengan apa yang mereka ketahui dan mereka yang tahu banyak rendah hati karena apa yang tidak mereka ketahui. Yang tidak tahu tumbuh oleh apa yang mereka miliki dan yang tahu banyak tumbuh dengan apa yang tidak mereka miliki. Demikianlah orang bijak memupuk dengan mengisi yang kosong dan mengosongkan yang penuh, dengan memberikan kepastian utnuk yang tidak pasti dan ketidak pastian untuk yang pasti. Karena apa yang diketahui oleh yang tidak tahu, mereka hormat kepada yang banyak tahu; karena apa yang tidak diketahui mereka yang tahu banyak, mereka hormat kepada yang tidak tahu. Tanpa kesombongan atau kerendahan hati, orang bijak berkarya tanpa menarik perhatian. Manusia tumbuh dan memenuhi dirinya sendiri. Mereka katakan bahwa segalanya baik-baik saja dan bahkan tidak memperhatikan bahwa mereka bergerak bersama Tao.

 

78.

Orang Bijak Mengajarkan Yang Perlu Diajarkan, Bukan Yang Seharusnya

Kelunakkan serta kelenturan air mengatasi kekerasan serta kekuatan batu. Perubahan mengatasi ketidak berubahan. Air yang tak berbentuk mengambil bentuk segalanya. Pikiran yang tidak berubah tak dapat memahami perubahan segalanya; pikiran yang bergumul tak dapat memahami kelenturan segalanya. Orang bijak mengetahui lebih sedikit daripada siapapun maka paling memenuhi syarat untuk mengajar semua orang; tidak mengetahui apa-apa sehingga paling cocok untuk mengajar segalanya. Bingung oleh segalanya, orang bijak adalah yang paling dekat dengan segalanya; tak dapat berpegang pada satu pemikiran, orang bijak paling dekat dengan semua pemikiran. Pada mulanya, yang benar tampaknya benar. Setelah dipikirkan dengan seksama, yang benar menjadi salah. Akhirnya, segalanya tampaknya benar sekaligus salah, baik sekaligus buruk, betul sekaligus salah, ya sekaligus tidak. Persis di tengah-tengahnya, orang bijak mengajarkan apa yang perlu diajarkan, bukan apa yang seharusnya diajarkan.

 

 

79.

Majikan-majikan Terbaik adalah Para Hamba

Atasilah perbedaan-perbedaan agar perbedaan-perbedaan menjadi tuntas. Atasilah kemendasaran dan tenggelamlah di bawah ketinggian. Pangkaslah yang berlebihan. Dalam konflik, janganlah memancing yang berduka. Tao itu tidak pandang bulu. Oleh karenanya, orang bijak tidak mengambil hati. Dalam segala hal berikanlah perhatian tetapi janganlah pandang bulu. Tidak pandang bulu mencegah yang keterlaluan, mencegah yang berlebihan, mencegah perubahan dari memberi menjadi mengambil. Mereka yang menyombongkan diri akan tertantang dan terlibat; yang pertama menjadi yang terakhir. Paksaan menimbulkan perlawanan. Terlalu banyak akan disusul dengan terlalu sedikit. Yang menang akan kalah. Lakukanlah hanya yang perlu lalu biarkanlah segalanya mengatur dirinya sendiri. Kendalikanlah tanpa mengendalikan. Kebajikan terdalam tidak menarik perhatian karena sesuai dengan Tao. Agar paling berguna, janganlah berbuat apa-apa dan janganlah menarik perhatian. Cobalah mengendalikan maka akan ada masalah. Pemaksaan pada akhirnya akan gagal. Konfrontasi hanya menciptakan pemenang serta yang kalah; biarkanlah maka konsesi takkan. Demikianlah orang bijak memelihara. Tao dan melayani kebijakan batiniah dari segalanya. Majikan-majikan terbaik adalah para hamba.

 

80.

Menyimpang dari Kesederhanaan Utama adalah Awal dari Masalah

Bahkan manusiapun berakar dalam kesederhanaan yang utama. Hormatilah kesederhanaan itu maka semua orang akan memetik manfaatnya. Lupakanlah itu maka semua orang akan sesat. Orang bijak dibimbing oleh kesederhanaan yang utama. Masing-masing orang yang berbeda adalah Tao yang berpikir dan Tao yang berbuat. Kalau orang dipenuhi oleh orang bijak, mereka tetap berakar dalam perbedaan mereka dan mengatakan bahwa mereka memenuhi diri sendiri. Kalau diubah oleh orang bijak, mereka kembali ke kesederhanaan utama dan mengatakan bahwa mereka menemukan diri sendiri. Kesederhanaan utama yang mendalam di dalam diri manusia itu cukup rumit. Kalau manusia menjadi rumit, mereka semakin kurang dapat menemukan dirinya sendiri. Semakin mereka kurang dapat menemukan dirinya sendiri, semakin kecil kekuasaan yang mereka miliki. Semakin kecil kekuasaan yang mereka miliki, semakin terancam mereka merasa dan semakin mereka bergumul dengan orang lain. Menyimpang dari kesederhanaan utama adalah awal dari masalah.

 

 

 

81.

Dalam tao : Tak Ada Yang Istimewa Dipikirkan

Kata-kata canggih tidak berbobot; yang berbobot tidak canggih. Mereka yang membela diri tidak paham; mereka yang paham tidak perlu membela diri. Orang bijak, dengan mengosongkan keyakinan, bergerak selaras dengan keberadaan segalanya. Daripada mengisi dengan kerumitan, orang bijak mengosongkannya; daripada mengingat, orang bijak melupakan; daripada menemukan, orang bijak kehilangan. Ada cara untuk mengisi kekosongan. Semua bagian dari segalanya menjadi nihil. Orang bijak yang mengajar hanya tampaknya saja memberi: murid yang paham hanya tampaknya saja mengisi. Demikianlah orang yang akhirnya merasa dirinya penuh, menemukan dirinya kosong. Kalau kosong, mereka temukan dirinya dalam kepenuhan dan kesederhanaan dari yang biasa. Walaupun Tao ditemukan dalam yang biasa, ia lebar dan pasti; walaupun lunak dan lentur, ia teguh dan tenteram. Yang biasalah yang luar biasa. Untuk bergerak bersama dengan Tao, tak ada yang istimewa dikerjakan. Untuk memahami Tao, tak ada yang istimewa dipikirkan.

 

@@@

 

 


[1] hampir semua penafsir, termasuk Cu, membaca :”Jalan” yang dapat dibicarakan.

[2] Menurut bacaan Yang.

[3] Bacaan menurut huruf: “Dewa lembah tak mati-mati” tidak berarti.

[4] Menurut bacaan Yang.

[5] Menurut huruf “Buka dan tutup Pintu Langit”.

[6] Menurut bacaan Yang.

[7] Huruf wang “raja” oleh Cu dibaca Chüan, “utuh”

[8] Sing dalam teks yang berarti “kelakuan”, oleh Cu sing dibaca sebagai “rupa”.

[9] Dalam teks thien-sia, harus dibaca thien-ti “Langit dan Bumi”.

[10] Dalam teks Wang “raja”, harus dibaca Ren “manusia”.

[11] Dalam teks si yang (dengan radikal air atau lembah) berarti “air gunung” atau (dengan radikal kaki) berarti “jalan ecil”, harus dibaca si (tanpa radikal) dan berarti “panggilan untuk budak wanita”.

[12] “Berasal dari” harus ditambah, lihat Kao.

[13] Menurut Kao, hal.102.

[14] Atau “harus”, suatu bacaan yang disebut CU.

[15] Bersikap rendah hati dan sebaliknya tidak bersikap merendahkan.

[16] Cu mengusulkan untuk dibaca sebagai: kalau baik, merupakan pusaka bagi manusia, kalau tak baik, tak didekati oleh manusia.

[17] Atau “menunjukkan kasih”, menurut bacaan Cu.

[18] Menurut Kao, : maka lenyaplah perbawamu yang besar.

[19] Menurut Cu, kalimat terakhir ini mungkin dapat dipindah sebagai permulaan bagian 79.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.