Ngerumpi Perusak Kehidupan
Di masyarakat dan di Jawa pada khususnya, ngerumpi tidak asing lagi bahkan dapat dikatakan telah membudaya. Budaya ngerumpi tidak lepas dari irama kehidupan keseharian bagi beberapa orang yang memang gemar melakukannya. Sebagian orang berpendapat, ngerumpi adalah obat untuk mengendorkan syaraf otak yang seharian bekerja keras, atau juga untuk mengurangi beban pikiran yang selama ini dipendam dalam hati. Dari pada disimpan terus, diampet-ampet dan akhirnya busuk, menjadi penyakit bagi diri sendiri, lebih baik dikeluarkan saja. Bagi yang sudah biasa ngerumpi, kebiasaan ini tidak lagi dipandang dari sebab dan akibatnya namun budaya ini begitu mudahnya dan mungkin malah tidak sadar lagi dilakukan.
Ngerumpi memang ashik dan menyenangkan lebih-lebih yang dijadikan bahan pembicaraan adalah orang-orang yang dibenci, berseberangan pendapat, sembarang orang yang dikenal atau sekilas dikenal, dan tentu yang dibicarakan adalah kejelekan orang-orang itu. Seketika itu merasa puas ya, merasa menang, merasa diatas. Dan sebenarnya saat itulah awal pembunuhan. Pembunuhan yang tidak memberi kesempatan sedikitpun bagi orang yang kita bunuh secara tidak langsung untuk memberi perlawanan apalagi menghindar. Memang pembunuhan yang paling mudah, menyenangkan, dan sekaligus sadis. Lebih kejam dari pada pembunuhan fisik.
Ngerumpi pembunuh juga dapat menjadi semacam kecanduan jika dilakukan terus menerus. Jika tidak membicarakan orang lain barang sejam saja rasanya pikiran gelap dan buntu. Tidak punya bahan untuk bicara selain itu, karena perbendaharaan kata dalam otak dan situasi yang mendominasi pikiran hanya kekurangan orang lain, tak pernah dapat bercermin balik. Rasanya cermin itu telah pudar, tertutupi pikiran-pikiran kotor terhadap orang lain yang terus dioleskan tanpa ada pembersihan.
Ngerumpi juga cerminan secara tidak langsung bahwa dia yang gemar ngerumpi adalah orang yang lemah, selalu kalah disegala hal. Ada pepatah kearifan: “Orang kuat membicarakan ide. Orang lemah membicarakan orang lain.”
Selain pembunuhan yang paling sadis, ngerumpi juga api perusak kehidupan. Jika ngerumpi dilakukan sama saja menyulut api di samping drum terbuka berisi bensin. Semakin lama dan hangat ngerumpi dilakukan, api pun semakin dekat dengan bensin dan akhirnya kebakaranlah yang terjadi. Jika kehidupan telah terbakar maka hubungan-hubungan yang selama ini terjalin rasanya telah hilang, atau malah dianggap tak pernah ada. Inilah awal dari rusaknya kehidupan (berbangsa, bermasyarakat, keluarga/komunitas).
Ngerumpi tidak seluruhnya jelek jika dilakukan sejauh perlu. Maksud dari dilakukan sejauh perlu adalah ngerumpi hal-hal yang positif, ngerumpi yang membangun, memberi dorongan, ngerumpi karena bangga, ngerumpi untuk mengeluarkan ide dan gagasan yang cerdas yang bermanfaat secara positif bagi semua orang.
Di dunia ini tidak ada orang yang senang menjadi bahan ngerumpi. Setiap orang memiliki batas-batas tertentu tentang kehidupannya yang tidak perlu diketahui oleh orang lain. Ngerumpi sama saja mencuri/merampas batas-batas kehidupan orang lain yang seharusnya dirahasiakan untuk dipublikasikan. Hal yang sungguh hina namun dunia ini sepertinya terlanjur cinta. Dimana ada dua orang atau lebih sedang ngerumpi di situlah iblis berkuasa.


Komentar Terakhir