Novel
WALLUH YO
&
NEGERI REDUP
Untuk Kang Wo yang punya cerita
Daftar Isi
1. Anak Laki-laki yang Bertahan Sekolah 4
2. Helder 22
3. Gadis Pengadu 50
4. Rahasia Pengakuan 63
5. Lima Kurban Silih 78
6. Hukum Cinta 91
7. Berakhirnya Bujang Lapuk 103
8. Joja Bridge 115
9. Surat Peringatan 125
10. Berita Kota 138
11. Negeri Redup 147
12. Surat Tak Beralamat 158
13. Hamda 174
14. Ge-Ger 193
15. Perguruan Ilmu Sulap 212
16. Antara Percaya dan Tak Percaya 229
17. Buku Petuah Sulap Kuno 245
18. Tunggu Aku Kan Datang 270
POS 1
Anak Laki-laki yang Bertahan Sekolah
ANGIN gunung bertiup kencang, bergulung-gulung laksana ombak dalam samudera, mengangkat dedaunan kering membumbung tinggi. Angin itu berputar-putar hebat seakan ada roh jahat di tengah-tengah pusarannya—yang sedang mengebor bumi. Debu-debu dan dedaunan kering yang diterbangkannya berputar-putar mirip peredaran planet-planet dalam system tata surya, hitam pekat, bergemuruh. Angin itu berjalan, menerjang, menghantam, menghamburkan apapun yang dilaluinya, termasuk rumah di ujung desa bernama Tekluk ini. Beberapa gentingnya terhempas ke udara- kretak!!dan jatuh ke tanah—pecah berantakan—menimbulkan suara yang keras mengagetkan.
Kata orang bijak, orang yang tahu akan makna satu tarikan nafas-satu denyutan nadi, angin ini disebut Lesus. Angin Lesus menampakkan keberadaannya hanya waktu musim kemarau. Angin itu juga sebagai pegangan bagi para petani bahwa musim kemarau masih panjang. Lesus telah pergi¾menyisakan angin sepoi-sepoi menerpa dedaunan jati yang menunggu giliran gugur.
Di antara hamparan ladang-ladang kering, sawah-sawah tak berair, di pinggir-pinggir jalan tanah yang berdebu¾bertebaran rumah¾berdiri sekenanya tak mengenal tata kota. Namun aneh, rumah di ujung desa itu, yang beberapa gentingya bertebaran di tanah karena terhempas angin, ia paling anggun¾berdiri kokoh dan sedikit nyentrik.
Rumah sederhana beratapkan genteng yang mudah pecah seperti daun lapuk itu di bagi menjadi 3 bagian; bagian depan ruang tamu, belakangnya ruang keluarga, dan sampingnya dapur. Jadi jika kita mengintipnya dari celah pintu di langit rumah itu berbentuk huruf L.
Menskipun rumah ini cukup luas namun tidak sebanding dengan isi yang ada di dalamnya. Barang-barang pecah belah, alat-alat dapur yang sudah tua, almari pakaian yang lapuk termakan tikus, dan satu benda yang paling disayang oleh pemiliknya ‘radio trasitor yang hanya menangkap satu gelombang, itu saja suaranya timbul tengelam. itulah segelintir benda yang menghuninya. Maklum, penghasilan sebagai petani tadah hujan di tempat yang berbatu kapur sangat memilukan hati, hanya cukup untuk makan sehari-hari.
Jarak antara rumah yang satu dengan yang lainnya hanya selemparan batu, namun yang melemparkan Kumbo Karno. Kalau memanggil tetangga perlu tenaga ekstra, berteriak sampai otot leher menonjol ke luar sekepalan tangan . Tak heran kalau suara anak kecil yang duduk di bawah pohon depan rumah itu begitu keras dan besar karena sudah terlatih oleh alam.
Hampir seluruh rumah di daerah ini kerangkanya kayu dan berdinding papan. Ini adalah mirip dengan bentuk adaptasi fisiologi hewan, yaitu terhadap tanah yang bergerak atau disebut tanah hidup. Tanah hidup, jadi tanah itu bisa bernafas, berbicara, tersenyum, dan ho ho wes hewes hewes…bukan seperti itu kawan. Maksud dari tanah hidup adalah tanah itu konstruksinya dapat berubah-ubah mengikuti musim. Bingung? Jangan bingung. Baik akan saya jelaskan. Jika musim kemarau tanah akan memadat, keras seperti besi dan pecah-pecah seperti sariawan. Kenapa bisa terjadi? Karena tanah kehilangan air kurang lebih delapanpuluh persen. Sedangkan pada musih hujan tanah menjadi lengket dan mengembang dua kali lipat. Karena peristiwa itulah tanah di sini dijuluki tanah hidup.
Jika rumah dibangun mengunakan dinding beton dan lantai keramik, maka dalam satu musim saja lantai akan pecah berserakan dan dinding akan retak-retak bahkan bisa roboh. Tidak ada yang dapat mencegah gejala alam ini. Namun bisa mensiasatinya. Sebelum membangun rumah, terlebih dahulu membuat pondasi. Setelah pondasi jadi, kita isi lahan yang akan dijadikan tempat berdirinya rumah itu dengan pasir atau koral-koral gratis dari sungai. Ini bertujuan supaya tanah yang bergerak tidak mempengaruhi bangunan yang berdiri di atasnya, karena sebelum rumah berdiri tanah sudah dilapisi pasir sedalam tigapuluh sentimeter. Kalau memang tidak punya dana untuk melakukan teknik yang satu ini, maka yang seharusnya dilakukan adalah mensyukuri karena masih boleh tinggal di tempat ini. Seperti hewan-hewan di kandang, burung-burung di pohon dan hewan-hewan lain yang tak pernah mengeluh.
Sementara itu, seekor anjing jantan berbulu putih berbaring di bawah pohon, sedang menikmati musim kemarau ini. Sesekali mengibaskan ekornya yang lentik dan lucu bah bendera putih diperang Afganistan.
Udara sejuk mengalir pelan menghembuskan ketenangan, menerpa bulu-bulu putih laksana jarum salju yang lentur dan bergerak lunglai. Anjing itu bertiduran di bawah pohon jambu, tidak mau diganggu, ingin menikmati kedamaian itu sendirian.
Anjing bangun lagi beberapa menit. Kepalanya mendongak dan matanya yang jernih kecoklatan mengamati sosok tidak asing, yang selama ini lekat dengannya, yang membuat hewan itu merasa lebih dari sekedar hewan piaraan. Ia telah menjadikan anjing itu salah satu anggota keluarga. Meskipun tinggal di desa, majikannya miskin, makanannya hanya seadanya¾namun hewan itu merasa bebas, beruntung, dan bahagia. Tidak seperti hewan-hewan lainnya, yang maaf; meskipun bulunya lembut, tubuhnya wangi, namun sayang kalungnya rantai yang diikatkan pada tiang rumah, seharian. Atau setiap hari di dalam kandang yang sempit dan bau kotoran sendiri. Hiiih…Geerrr! Kasihan, hidup sekali saja di dalam sel. Ini merupakan pelecehan martabat bagi kaum waung.
Tak disangka-sangka, tak tertulis dalam kitab ramalan Jayabaya, anjing itu berdiri¾berjalan anggun mendekati seorang anak manusia seiring kisah besar ini dimulai.
“Walluh Yo! Walluh Yo! Walluh Yo!” dengarlah kawan suara itu! Sungguh lembut dan merdu. Iramanya mengambil nada dari awalan lagu Friday Im in love milik The Cure. Siapakah dia anak laki-laki itu. Menurut ramalah dan catatan dari Mbah Klutik dukun beranak dari seberang sungai itu, Walluh Yo berumur 14 tahun. Ia berbadan kecil namun gempal. Kulitnya kuning sawo setengah matang dan agak bersisik karena jarang mandi. Ia bermuka bulat dan lihatlah matanya yang hitam jernih itu, selalu menampakkan tatapan yang tajam dan liar. Ini akibat dari hobinya berburu dan mengintai sarang burung di dahan-dahan pohon. Rambut Walluh bergelombang, lebih besar dari gelombang di Samudera Hindia, dan tidak pernah rapi, sulit untuk diatur. Meskipun ibunya sudah membelikan minyak rambut yang paling lengketpun rambut itu tetap saja awul-awulan tak teratur. Rambut itu membuat kepala Walluh Yo tampak tak wajar dari kebanyakan manusia. Kepalanya dua kali lebih besar dari spesies mamalia berotak encer.
Meskipun keadaannya seperti itu Walluh tidak suka rambut pendek. Ia selalu membiarkan rambutnya tumbuh bebas supaya tampak tebal. Ia tidak terlalu memikirkan komentar orang mengenai penampilan kepalanya jika rambutnya tebal. Ada yang menjulukinya “Bodak” atau peti padi, karena kepalanya besar dan diumpamakan seperti peti untuk menyimpan padi. Julukan ini sama sekali tidak mempengaruhi sikap Walluh terhadap penampilannya. Ia sepertinya sudah biasa kalau orang lain memanggil dia dengan nama Bodak.
“Aich! Bodak? Nama yang bagus, mirip nama gitaris¾Bonda…? Atau bodak itu tempat menyimpan harta karun. Jadi kalau kepalaku diumpamakan bodak, aku ini berarti orang pintar karena mampu menyimpan banyak harta karun. Eh…bener ndak ya?” Pikir Walluh setiap kali orang memanggilnya dengan panggilan Bodak.
Pohon jambu depan rumah itu banyak mengelurkan buahnya kemarau tahun ini. Bersenjatakan garam di tangan, Walluh Yo bergelantungan di dahan, memetik setiap buah yang dirasa sudah masak, kemudian mengunyahnya pelan-pelan dan lama-lama habis semua dalam seminggu. Mirip cara makan ulat.
Matahari di timur dalam sudut 90°, cahayanya masih lebut dan hangat membasuh bumi. Biru cerah langit mengisyaratkan kemarau masih panjang, tak peduli tanah-tanah mulai merintih, mulutnya menganga seperti membidikkan mantra pemikat hujan.
Hari ini Walluh Yo tidak masuk sekolah, entah karena malas atau sakit. Sekolah tempat ia menuntut ilmu memang jauh dari tempat tinggalnya, 5 Km, kalau ditempuh dengan bersepeda kira-kira 1 jam. Mungkin karena alasan jarak itu Walluh menjadi enggan untuk ke sekolah. Apalagi saat ini baru musim kering. Jalan-jalan panas dan berdebu. Batu-batu tampak jelas meringis di sepanjang jalan, seperti gigi-gigi raksasa yang ditata untuk menakut-takuti anak. Belum lagi harus menahan panas terik matahari jika hari sudah siang. Ini semua adalah kesulitan yang timbul karena alam. Adakah hal lain yang memberatkan hati Walluh Yo? Yang jelas yang tahu hanya dia sendiri.
Walluh menyudahi permenungannya dan melangkah ke dapur, biasa menengok apakah ibu sudah menyiapkan makan siang di meja. Aroma sayur bening dengan bumbu irisan kecil-kecil bawang merah goreng menusuk hidung. Semerbak wangi khasnya terbawa angin hingga ke rumah-rumah sebelah. Hidung Walluh tidak bisa dibohongi. Penciumannya sangat tajam jika menyangkut makanan. Mungkin ia belajar dari anjing berbulu putih kesayangannya yang diberi nama Tanji itu. Tanji ikut saja berjalan pelan mengikuti gerak arah tuannya.
Udara terasa sumpek. Terik matahari empat kali lipat panasnya. Sudah tujuh bulan tidak ada gerimis, apalagi hujan. Kemarau tahun ini mulai bulan Mei dan sekarang sudah Januari. Saatnya musim penghujan tapi kenapa air setetes pun tak kunjung turun dari langit. Sialnya menjadi petani tadah hujan, terus dipermainkan oleh musim yang sudah setengah waras saat ini. Musim sudah tidak dapat diajak kompromi lagi, datang seenaknya sendiri. Seharusnya deras-derasnya turun hujan seperti pada bulan Desember tapi malah kemarau dan sebaliknya seharusnya kemarau seperti pada bulan Juni, tapi malah hujan setiap hari.
Musim kemarau lebih panjang dari pada penghujan. Kemarau bisa sampai delapan bulan. Tanah-tanah pecah menganga bisa setengah meter lebarnya. Kering kerontang. Rumput teki saja tak mampu menjulurkan daunnya apa lagi jagung, kedelai, pasti mati ngurek. Sungai besar satu-satunya di daerah itu tinggal unggakan batu padas berwarna kuning seperti emas, kering.
Masyarakat yang kebanyakan tidak punya sumur di rumah, kehidupan mereka tergantung dari air sungai. Kalau musim kemarau seperti ini, untuk mendapatkan air mereka membuat galian di sungai sedalam satu meter dan lebar satu meter. Tempat sumber air hasil menggali pasir di sungai itu mereka sebut belik.
Kemarau tak mengenal ampun di wilayah ini, mematikan rantai kehidupan air tawar. Batu-batu koral bertebaran bah hamparan emas putih. Para penambang pasir setiap hari mengangkut beberapa truk koral gratis ini, modalnya cukup tenaga dan bensin. Mereka tak peduli lagi bagaimana kelanjutan ekosistem sungai kelak, diramalkan duapuluh tahun lagi sungai tinggal batu-batu padas tak berguna. Menyayat hati dan memilukan bila membayangkan ke depan.
Bila hujan mulai tiba, sungai penuh air keruh membawa berbagai macam oleh-oleh yang dikumpulkan selama pergi ke langit berbulan-bulan. Sampah dan kotoran-kotoran yang menjijikkan tersapu bersih oleh alam yang maha dahsyat itu, dan dikirimkannya secara kilat kepada sang guru besar “Waduk Gajah Mungkur” yang maha luas yang selalu setia menanti di hilir. Gajah Mungkur bak tempat pembuangan akhir sisa-sisa metabolisme seluruh makluk hidup yang ada di daerah Pegunungan Seribu. Tak dapat dipungkiri kalau nyalinya semakin dangkal untuk menampung berbagai macam zat yang dikirim dari hulu setiap musim hujan.
Tahu tidak teman, setiap musim penghujan sungai-sungai itu berubah menjadi tempat wisata yang menyenangkan, tidak kalah ramainya dengan Pantai Kuta di Bali atau Pantai Sanur yang terkenal itu. Asal muasalnya begini; air yang mengalir di sungai itu merupakan surga bagi ikan-ikan yang selama musim kemarau bersembunyi di Gajah Mungkur. Ikan berbagai macam jenis, dari yang kecil hingga yang paling besar, berlari-larian, melompat-lompat kegirangan. Mereka bernyanyi kecupak-kecupik melawan arus penuh syukur dan pujian, hilir mudik ke hulu mencari tempat yang aman untuk menempatkan telur-telurnya.
Pada saat seperti inilah seluruh warga kampung dari berbagai tempat berhamburan ke luar rumah. Tua muda, kecil besar berlari ke sungai. Mereka berbondong-bondong dengan suara melengking-lengking membawa alat-alat penangkap ikan yang super cangih seperti; sabit, pecak, tronyok, cikrak, serok, jaring, jala, bahkan ada juga yang membawa tutup nasi. Seketika sungai yang mencekam berubah mejadi keramaian seperti pasar kebakaran, riuh dengan jeritan-jeritan kegirangan karena melihat ikan besar. Biasanya kaum hawa yang suka centil berteriak histeris dan manja kalau melihat ikan.
“Auuww…auuww! Itu ikannya! Aduhhhh…bessaaaarr sekali!” Suaranya melengking-lengking seperti tikus terjepit pintu.
Aksi mereka itu merupakan jampi-jampi pelet penakluk cinta. Kemungkinan besar berharap ada sang arjuna yang menghampirinya dan bertanya “Aih! Mana ikannya? Ikannya cantik tidak ya? Kalau tidak cantik aku tidak mau ah! Lebih baik menangkap kamu, gadisku yang jelas cuantik tik tik tik tik! He he he!”
Kalau kau punya awan sakti bisa saja kau minta kepadanya membawamu ke langit dan sampai di sana lihatlah ke bawah! Kau akan melihat sungai di tempat ini seakan mengalirkan manusia. Dari hulu sampai hilir penuh warna-warni plangton berbaju seksi. Inilah kebiasaan yang membudaya, saat-saat yang paling indah untuk dikenang lagi.
Tak tanggung-tanggung rata-rata setiap orang mendapat setengah karung ikan segar, cukup untuk lauk sebulan. Pada saat-saat seperti inilah masyarakat menjadi beringas tak terkendali, termasuk Walluh Yo.
Siang yang panas itu Walluh ke luar rumah, di tangannya menenteng tronyok dan sebuah botol kecil di dalam plastik hitam. Mau apa Walluh? Langkahnya seperti mudah ditebak, yaitu ke sungai. Beberapa jam yang lalu ia sudah servei ke sungai dan menemukan banyak ikan yang baru naik ke hulu. Biasa ikan-ikan pada awal musim hujan mereka mencari tempat bertelur yang nyaman dan aman. Sampai di pinggir sungai Walluh membuka botol dalam plastik itu. Plastik diisi air dan pasir, kemudian botol dibuka dan dituangkan isinya ke dalam plastik. Cairan berwarna putih mengalir dari botol, baunya menyengat tak terhingga. Walluh menggoncang-goncang plastik yang berisi air, pasir dan cairan putih menyengat itu, kemudian sekuat tenaga melemparkannya ke tengah sungai. Benda itu langsung tenggelam. Kontan saja Walluh dengan gerak reflek mengambil langkah seribu sambil menenteng tronyoknya menuju ke hilir. Di hilir ia berdiri di bantaran air yang dangkal mengalir tenang. Tatapannya tajam mengawasi setiap gerak-gerik mencurigakan di dalam air. Setiap ada ombak yang tak wajar ia menghampirinya, dan tronyoknya mulai beraksi menggunakan jurus-jurus mematikan. Walluh meraba-raba tronyoknya yang ia benamkan ke dasar air. Tangannya bergerilya mencari sesuatau dengan ketajaman intuisi. Meskipun air keruh dan tidak dapat melihat apa yang ada di bawah tronyoknya, sepertinya Walluh sudah hafal dengan tabiat benda-benda sungai. Ia meyakini primbon ini: kalau di tangan rasanya kasar dan keras itu pasti batu, kayu atau benda-benda sejenisnya; kalau terasa lembut, licin, bergerak-gerak dan meronta-ronta itu pasti ikan; dan kalau lebut, empuk, licin dan membisu itu pasti kotorannya sendiri.
Seharian Walluh betah berendam di air sungai, kadang sampai lupa makan kalau sudah bergelut dengan ikan. Duapuluh empat jam full Walluh betah saja berendam di air, bisa jadi Walluh menggantikan tugas Sultan Kali Jaga, tapi bedanya Walluh bukannya menjaga, tapi merusak. Mencari ikan merupakan hobi Walluh. Kemungkinan hobinya inilah yang membuat ia beberapa kali cuti dari bangku sekolah yang baginya membosankan. Takut tak kebagian ikan.
“Dak…Bodak! Kenapa kamu tidak sekolah? Cari ilmu itu memang sulit. Kamu itu masih untung bisa sekolah, dulu anak-anak sebayaku jarang yang bisa sekolah. Sekarang bisa sekolah kamu malah seperti itu,” sapa ibu sambil menghidangkan sayur bening tambah asam jawa di meja makan. “Cepat makan keburu dingin,” tambahnya heran melihat anaknya yang lain dari pada yang lain itu. Anak siapa ini, begitu mungkin pikirnya.
Ibu rumah tangga yang sudah berkepala lima ini masih tampak kuat untuk bekerja di ladang. Sebagai orang desa berbeda sekali dengan kota. Ia berpenampilan ala kadarnya. Rambutnya tampak selalu tergulung ke belakang menunjukkan khas seorang ibu desa di negeri Terang. Ia berkulit sawo matang, tapi lebih gelap sedikit karena sering tersengat matahari. Kakinya tampak kotor pecah-pecah dan jari-jarinya berkuku panjang akibat jarang memakai alas kaki. Wajahnya memancarkan keseriusan akibat dari selalu bekerja dan bekerja tanpa banyak bicara. Matanya cekung ke dalam dan sepertinya sudah kurang jelas untuk melihat. Sinar matahari yang terlalu panas ikut andil merusak cendela dunia ibu itu. Saat bekerja di ladang, ia terpaksa menahan panas matahari dan sinarnya yang sangat silau membuat ia selalu menyipitkan mata.
Ibu itu beranak 6. Nasib memang bengis. Sebagai anggota keluarga besar, sejak berumur 12 tahun anak pertamanya Muny dan kedua Aty sudah pergi ke kota untuk bekerja. Mereka hanya lulus SD dan tampak lugu. Anak ketiganya bernama Ipu. Lumayan, ia seorang laki-laki yang tidak mudah menyerah jika menyangkut pendidikan. Ipu belajar Tehnik mesin di Joja Bridge. Ia sekolah sambil bekerja. Tidak ada biaya sepeserpun dari desa. Ia mencari sendiri dengan bekerja keras. Anak ke empat Walluh Yo. Kedua adik Walluh bernama Hamda dan Neiwa masih SD.
“Itu lho..Babam itu! Haahh…dia sering memalak aku. Ya kalau punya uang, kalau tidak aku yang kena pukul. Saya sudah lapor guru, tapi mereka diam saja. Jadi males aku ke sekolah. Jauh-jauh ke sekolah, naik ontel, capek, berkeringat, habis tenaga karena sedikit sarapan, ehhh sampai di sekolah cuma mau dinakali. Siapa yang mau?” bantah Walluh Yo malas dan ndongkol. Walluh Yo ambil piring dan memenuhinya dengan nasi dan sayur dan melahapnya. Ibu ada di samping meja dan terus memandang heran.
“Ehhh kamu itu sudah kelas tiga, sebentar lagi lulus dan tidak akan ketemu lagi dengan Babam. Apa kamu tidak sayang dengan perjuanganmu selama dua tahun itu. Ngontel setiap hari, belum kalau pulang panas, jalan banyak debu? Sadarlah kamu itu, sadar…!” Ibu terus mendesak berharap Walluh Yo berpikir jernih.
Babam sebenarnya hanya anak ingusan yang dibuang dari lingkungannya. Badannya gendut besar, kulitnya putih karena sebenarnya ia anak dari kota. Babam anak super nakal mungkin kalau sekarang bisa disebut memiliki sindrom autis, siapapun tak digubris. Kemungkinan karena masalah inilah ia disekolahkan di desa. Orang tuanya sudah kehabisan akal mengarahkan anak yang tumbuh terpengaruh lingkungan yang kumuh dan tidak sehat di kota. Seakan sebagai tindakan melepas tanggung jawab kedua orang tuanya, Babam dititipkan di rumah neneknya. Seorang tua yang sudah capek dengan urusan duniawi, seharusnya tinggal semeleh, duduk-duduk di sofa menerima kunjungan anak dan cucu yang membawa hadiah menyenangkan sebagai hiburan. Namun keadaannya lain, manusia tua itu malah masih diberi beban yang tak tanggung-tanggung, yaitu seorang anak yang tak tahu diri, bertabiat Malin Kundang. Ia yang berbuat, menikmati dengan bersenang-senang, tapi dampaknya ditanggungkan di pundak tua renta hidup di desa penuh kesulitan. Diberi hati minta jantung memang baru ngetren saat ini. Walluh Yo hanya sekedar orang luar yang terkena lumpur karena lewat di samping kerbau gupak.
Tak terasa isi piring Walluh Yo sudah disikat habis seperti menguap saja. Nafsu makannya baru mengebu-gebu, berkat resep obat yang terpercaya turun temurun; makan dengan lalapan omelan. Ini sebuah resep terbaru sumbangan dari seorang psikolog amatiran khusus untuk mereka yang memiliki masalah sulit makan.
Seperti tak mendengar dan mengetahui keberadaan ibunya, Walluh melangkah ke luar, mengambil karung dan sabit kemudian pergi ke ladang untuk merumput. Walluh melangkah cepat bak polisi memburu maling. Entah ladang mana yang ia tuju. Ia pergi dengan hati yang gundah, bukan pikirannya yang menuntun, tapi naluri pemberontak dan pengembaranya. Setelah kira-kira beberapa kilometer dari rumah, Walluh berhenti di bawah pohon. Hari masih siang. Matahari bersinar panas. Udara mengalir pelan sepoi-sepoi memberi kesejukan, lebih-lebih di bawah pohon yang rindang. Riuh burung kutilang di pohon bambu berjarak hanya beberapa meter menjadi musik alami, menghantar Walluh Yo kepada permenungannya.
“Yah… benar. Memang benar aku harus sekolah lagi. Tinggal beberapa bulan lagi aku kan sudah lulus. Sekarang sudah Januari. Hemm… tinggal lima bulan aktif di sekolah,” pikir Walluh, sepertinya di bawah pohon itu ia mendapat pencerahan dan wahyu.
Saat itu burung cendet mengintip dari balik sarangnya. Sang cendet betina jelas sedang resah karena ada makluk paling berbahaya di dunia sedang singgah di bawah pohon kekuasaannya. Burung itu badannya dirampingkan sekecil mungkin, dan nafasnya diatur sedemikian rupa. Ia mendekam di atas sarang bersama tiga anaknya yang masih merah, sebisa mungkin tak menimbulkan suara yang membuat predator kelas kakap di bawahnya merampok anaknya tanpa ampun.
Burung cendet paling cepat berkembang biak di daerah ini. Ladang-ladang dengan pepohonan yang luas memungkinkan burung ini leluasa hidup tanpa ancaman berarti.
Cendet terkenal karnivor yang bengis dan sadis. Musuh bebuyutannya adalah katak. Katak sering berbunyi ramai-ramai minta hujan, sedangkan cendet hujan merupakan mala petaka baginya. Bulu cendet akan basah total kalau terkena hujan, dan itu mempermudah manusia untuk menangkapnya karena burung itu tak bisa terbang lagi. Tak ada cadangan minyak yang mencukupi di pantat cendet yang mampu melicinkan bulunya seperti kebanyakan unggas, sehingga air cepat meresap ke seluruh tubuhnya. Kalau mendengar ada suara katak yang bernyanyi-nyanyi cendet langsung terbang rendah mencari sumber suara itu sampai ketemu dan kemudian menukik menghabisi teroris yang telah terendus persembunyiannya itu dengan paruhnya yang ujungnya seperti mata kail. Tak berhenti disitu, amfibi tak berdaya itu dicengkeram, dibawanya terbang ke sebuah pohon dan disalibkan di sana. Katak itu dijepitkan di batang kering yang terbelah. Mati mengenaskan sampai kering dipanggang matahari.
Cendet seperti menggantikan kedudukan singa kalau dalam keadaan seperti itu. Namun di balik kelakuannya yang sangar, cendet termasuk makluk yang mudah ditipu. Inilah salah satu buktinya.
Di dalam sarangnya yang dibuat seenaknya sendiri asal jadi, kemungkinan termasuk pemalas. Telur-telurnya berwarna putih polos dengan jumlah maksimal empat butir. Setelah diengram dan menetas bayi-bayi yang keluar kadang suara tangisnya tak harmonis. Sebagian terdengar cit-cit-cit sebagian lagi kret-kret-kret. Namun si induk tak menyadari keganjilan itu, yang ia tahu memberi makan anak-anaknya sampai besar. Setelah anak-anaknya mulai tumbuh bulunya induk mulai sadar bahwa anak yang ia rawat sebagian bukan buah cintanya dengan sang pejantan sejati. Ada satu anak yang suaranya dan bulunya lain dengan ketiga anak lainnya. Namun cendet tetap saja begok, ia tetap merawat anak itu sampai dewasa, dan akhirnya anak yang aneh itu memisahkan diri karena dirinya pun merasa lain dari ketiga sudaranya. Si induk mlongo baru benar-benar siuman sekarang, ternyata yang selama ini ia rawat bukan anaknya namun anak burung Pritgantil.
Burung pritgantil sering menukar telur cendet dengan telurnya karena telur kedua unggas ini mirip. Beginilah kira-kira sekenario kisah kelicikan itu. Pritgantil mengintai dari balik dedaunan mencari kesempatan untuk menghampiri sarang cendet yang di situ bergelimpung telur-telur cendet. Siang hari induk cendet meninggalkan sarangnya mencari makan. Pritgantil tak membuang kesempatan. Burung berbulu lurik-lurik itu langsung terbang pelan dan hinggap di sarang itu. Satu telur cendet dijatuhkannya. Burung licik itu mengegram di atas sarang cendet untuk bertelur menggantikan telur cendet yang ia buang, kemudian pergi. Cendet datang, tak begitu meneliti sarangnya, ia langsung mengengram begitu saja, bahkan sampai anak pritgantil besarpun cendet tak menyadarinya kalau ia telah ditipu pritgantil. Ehh..usut demi usut ternyata masalahnya pritgantil itu makhluk yang tak punya keterampilan. Ia tidak bisa membuat sarangnya sendiri. Lebih begok dari pada cendet. Belajar dari kisah ini, jadilah orang yang punya keterampilan agar tidak menjadi benalu bagi orang lain.
Di balik kebegokannya cendet tenyata termasuk makhluk cerdas. Unggas berbulu dada coklat dan punggung kelabu itu pandai menirukan suara musuh dan mangsanya, entah itu jangkrik, cicak, tupai, katak, burung Pritgantil, burung Kutilang, dan banyak lagi. Keahliannya itu ia gunakan untuk mengelabui musuh dan mangsanya. Kalau lapar cendet akan bernyanyi menirukan suara jangkrik, sehingga jangkrik yang ada di balik tanah akan ngengrik karena mengira yang bersuara itu sebangsanya. Cendet menghampiri jangkrik yang menantang adu suara itu, kemudian mematuk dan memakannya. Demikian juga dengan katak musuh bebuyutannya, cendet akan bersuara menirukan suara katak. Katak-katak di balik persembunyiannya akan saling bersahutan menanggapi suara Cendet. Cendet menghampirinya untuk mengadakan pembantaian.
Itulah kira-kira kisah ganasnya suatu rantai kehidupan. Kemungkinan cendet si moncong maut itu yang mengerikan dan ganas, namun pasti tak seganas mamalia yang satu ini yaitu Walluh Yo. Cendet merinding dan gugup dibuatnya. Kemungkinan Walluh akan mengambil anak-anak cendet yang di atas kepalanya itu seandainya ia tahu, kemudian memenjarakannya dalam sel terbuat dari bambu, dan memberi makan sesuka hati. Kali ini cendet masih mujur. Dewa keberuntungan dipihaknya.
Walluh bergegas mengambil karungnya kemudian meninggalkan pohon sejuta misteri itu untuk memburu rumput yang sulit dicari kemarau ini.
Sudah menjadi tekat bulat, hari berikutnya Walluh mulai mengayuh sepedanya lagi ke sekolah. Tak tanggung-tanggung ia tidak ada rasa takut lagi dengan si Babam itu. Babam tidak lagi pernah mengganggu Walluh, kemungkinan heran ada apa dengan Walluh Yo kok sekarang berani. Kadang orang yang tidak baik malah senang kalau kita takut padannya. Ia malah akan menjadi-jadi menekan orang yang takut padanya. Kalau dihadapi dengan keberanian, mereka akan takut. Akan berpikir lima kali untuk menggangu kita.
“Memangnya dia saja yang bisa menggertak,” pikir Walluh Yo.
POS 2
HELDER
GEDUNG sekolah tampak megah terlihat dari luar. Depan ada papan putih dengan tulisan berwarna hitam:
SMP ADILUHUNG
Terakreditasi A+
Menurut ukuran sekolah di desa, gedung itu cukup mewah dan berkelas. Gentingnya berkwalitas tinggi yang tebal tidak seperti di rumah Walluh. Halamannya luas dan pohon-pohon tinggi tumbuh di pinggir-pinggir membuat tiap ruangan kelas udaranya sejuk. Di tepi barat gedung mengalir sungai dengan airnya yang jernih dan terkenal banyak kura-kura ajaibnya. Siapapun dilarang mengambil kura-kura yang kebanyakan jinak. Kadang kalau ada orang melihat dari pinggir sungai, beberapa anak kura-kura akan muncul, berenang meliuk-liuk berharap dilempar dengan roti atau nasi.
Sekolah ternama di pedesaan ini dikelola oleh orang-orang aneh. Orang-orang takut kena tulah jika mendengar sebutan mereka apalagi menyebutkan namanya membuat seluruh tubuh merinding. Memang orang-orang ini jarang berkunjung ke sekolah ini jadi Walluh sendiri tidak terlalu memikirkan siapa orang di balik gedung ini. Namun samar-samar pernah terdengar tentang mereka dari beberapa guru di sekolah itu. Selain mereka tidak ada orang yang berani membicarakan.
Di kantor ada beberapa guru yang kebetulan sedang istirahat. Mereka duduk berdekatan sepertinya sedang membicarakan gosip yang baru hangat di sekolah ini. “Bagaimana kamu sudah siap?” tanya Pak Samon kepada Pak Slam dengan nada setengah berbisik.
“Jauh hari ilmu bahasa tumbuhan sudah siap,” jawab Pak Slam. “Bagaimana dengan Ilmu cahaya?” matanya melirik ke kanan dan ke kiri seakan setiap benda ikut dicurigainya kalau-kalau mencuri dengar apa yang mereka sedang bicarakan.
“Sudah,” jawab Pak Samon. Bapak kepala lima ini orangnya serius dan senang mendongeng. Dahinya berkerut-kerut dan matanya berwarna keruh karena terlalu sering berpikir keras jika menjelaskan mengenai cahaya. “Sepertinya penyambutan tamu kita besar-besaran. Pembesar kita sudah lama tidak datang menengok sekolah ini,” jelasnya.
“O ya?” sahut Slam kaget. “Apakah Bapak pernah bertemu mereka. Saya sendiri tidak punya gambaran apapun tentang mereka. Tahu sendiri bapak, saya baru tiga tahun di sini.”
Pak Samon tertawa kecil, kemudian menceritakan pengalamannya dengan Helder.
“Pernah. Lima belas tahun yang lalu,” pak Samon seakan mengingat peristiwa yang dulu pernah ia lihat. “Mereka aneh,” tambahnya lirih. Slam mendongakkan kepala. Dahinya mengkerut, seakan telinganya dipindah ke depan agar dapat mendegar sekali lagi lebih jelas.
“Ada apa dengan mereka?” tanya Slam dengan berbisik. Laki-laki bertubuh kurus dan jangkung itu penasaran berat. Maklum ia guru baru, belum tahu mengenai seluk-beluk sekolah ini.
“Mereka aneh. Hidup mereka aneh,” samon menghela nafas. “Rumah mereka di puncak gunung. Tak punya anak. Tak punya istri. Mereka kumpul kebo mungkin.” Samon mengidik dua kali, begitu juga Slam malah mengidik tiga kali ditambah buang ludah di asbak.
Slam melambaikan tangan mencoba menghentikan cerita Samon. “Sudah sudah. Aku sudah tahu kesimpulannya apa cerita bapak itu.”
“Baik, baik. Aku hanya menambah sekali. Mereka menyebut diri Helder,” kata Samon kemudian berdiri dan melangkah ke luar ruangan untuk mengajar di kelas.
☯
Matahari mengintip di balik bukit timur sana. Sekolah sudah terdengar riuh. Beberapa anak-anak sudah datang di kelas. Dari jalan depan sekolah itu suara mereka ramai sekali seakan pasar kota telah pindah. Walluh Yo sudah sampai di depan gerbang menuju garasi sepeda. Erion dan Anto temannya sudah duluan berangkat. Mereka adalah teman Walluh sekampung. Walluh agak mengerem sepedanya. Dengan pelan ia mengayuh sepeda. Sepeda jengki berwarna biru yang sudah tua, suaranya klotak-klotak menabrak bebatuan. Kepala Walluh terlihat besar karena rambutnya mengembang diceraiberaikan angin. Matanya terus mengawasi ruangan di sisi timur jalan itu. Sepeda dibuat tak bersuara. Pelan-pelan ia terus mengayuh. Setelah dilihatnya tak ada orang di ruangan itu, ia tancap sepeda dengan kencang. Sepeda meluncur dengan cepat menuju garasi yang tinggal sepuluh meter lagi. Tidak lama setelah sampai di garasi terdengar di belakang suara memanggil-manggil.
“Hoii…hoii….hoiii!!” suara itu keras hingga Walluh kaget. Ia segera menoleh ke belakang. Dilihatnya seorang bapak berumur kira-kira limapuluh tahunan berdiri di depan ruangan kantor. Ia melambai-lambaikan tangan ke Walluh.
“Sepedanya bawa ke sini!!” hardik laki-laki itu agak keras.
Walluh agak gemetar. Ia tahu masalah besar membentang di depannya. Bapak itu Pak Artsman wakil kepala sekolah. Ruangan itu adalah kantornya. Setiap pagi ia selalu menjaga gerbang garasi dari balik cendelanya, kemungkinan jabatannya merangkap menjadi satpam sekolah. Wakil kepala sekolah itu mengawasi kalau-kalau ada anak yang tidak menuntun sepedanya saat menuju garasi. Entah alasannya apa, bapak itu melarang setiap anak menaiki sepedanya saat menuju garasi. Walluh termasuk anak yang mbandel. Sebenarnya sudah hati-hati tadi ketika ia menaiki sepeda sedapat mungkin tidak ribut. Ternyata kesigapan bapak ini tidak dapat dipandang sebelah. Sepertinya sebelum melakukan tugas jaga gerbang itu, ia sudah dilatih untuk selalu siap menyelidik, mengamati dan mendengarkan suara sehalus angin berhembus.
Walluh dengan enggan memutar sepedanya dan menuntun dengan pelan ke hadapan wakil kepala sekolah. Laki-laki tua itu kalau sekilas aneh dan bermuka ancur, tapi kenapa ia dijadikan wakil kepala sekolah? Bibirnya sebelah kanan turun sehingga kelihatan mulutnya tidak simetris, tapi bagus seperti tersenyum terus padahal tidak. Matanya sebelah kanan tidak sepenuhnya dapat dibuka. Dari kelopak mata kanan hingga bagian pipi turun semua, sehingga benar-benar tidak simertis kalau dibandingkan dengan wajah sebelah kiri. Kekurangan itu tidak terlalu mencolok karena ia menggunakan kaca mata besar bulat seakan menutupi seluruh mukanya.
“Standartkan di sini sepedamu,” perintah bapak itu dengan suara sengau karena lubang hidungnya tertutup kulit pipi yang turun. Sesekali tangannya mengusap bibirnya dengan sapu tangan. Waluh menurut saja karena ia merasa tertangkap basah. Ia menambatkan sepedanya sesuai yang ditunjukkan Pak Artsman yaitu tepat di depannya. Di teras bapak itu beberapa botol air berjejer rapi dan di sebelahnya ada tujuh dus berisi roti kering yang beberapa sudah pecah-pecah. Hampir ketujuh dus itu penuh dengan roti. Memang sudah terkenal akan kebaikannya bapak ini. Setiap hari ia rela menyediakan minuman untuk murid-murid yang kebanyakan dari pedesaan yang jauh. Bagi Walluh sendiri kebaikan bapak ini sangat membantu, karena sekian jauh ia mengayuh sepeda ke sekolah pasti merasa haus. Walluh selalu lewat di depan kantor Pak Artsman untuk minum. Hari ini sepertinya lain karena biasanya hanya botol-botol berisi air saja yang tersedia namun sekarang beberapa dus berisi roti kering juga ikut berjejer di teras. Tiba-tiba Walluh menelan ludah setelah melihat roti dalam dus itu. Pagi ini ia hanya sarapan singkong rebus, untuk mengayuh sepeda jarak dua kilometer saja sudah habis.
“Ayo masuk ke kantor!” perintah Pak Artsman membuyarkan selera Walluh. Walluh menjinjing tasnya dan melangkah masuk ke kantor.
“Duduk!” kata Pak Arstman dengan tangan menunjuk ke kursi yang ada di depan meja kerjanya. Kursi ini disediakan untuk para tamu, juga murid-murid yang menghadapnya terutama yang disidang.
“Kau sudah makan belum?” tanya Pak Artsman tiba-tiba penuh belaskasihan
“Sudah,” jawab Walluh singkat.
“Makan apa?” tanya Pak Artsman suara sengaunya sekarang bercampur dengan suara hembusan nafas yang kesulitan ke luar dari hidungnya.
“Singkong rebus,” jawab Walluh polos meskipun sebenarnya malu tapi apa boleh buat dalam keadaan terjepit seperti ini hanya jujur yang dapat ia lakukan.
Walluh tidak terlalu memperhatikan Pak Artsman lagi, matanya malah berkeliaran ke sudut-sudut ruangan itu. Ruangan ini lain keadaannya dari hari yang sudah-sudah. Selain piano yang tergeletak di pojok ruangan, rak yang penuh dengan buku-buku besar, dan meja lengkap dengan kursinya, di tepi ruangan itu beberapa dus tertumpuk rapi, diselimuti dengan plastik bening lebar. Sepertinya baru kemarin barang-barang ini datang. Walluh ingin bertanya barang apa dalam dus itu namun sepertinya waktunya kurang tepat karena ia baru saja melakukan pelanggaran yang membuat Pak Artsman tidak ramah. Hidung Walluh tiba-tiba menangkap radar dari sesuatu yang aromanya sedap. Matanya langsung dapat mendeteksi dari mana datangnya aroma itu. Di samping meja yang ada di depannya ada kardus yang terbuka, berisi penuh roti kering yang masih utuh-utuh terbungkus dalam beberapa plastik bening. Dapat dihitung ada delapan bungkus roti dalam kardus itu. Warnanya coklat kekuningan menarik sekali, apa lagi baunya sedap.
“Coba ambilkan satu bungkus roti di kardus bawah itu!” kata Pak Artsman sambil menunjuk kardus terbuka itu. Walluh turun dari kursi mengambil satu bungkus roti itu dan menyerahkannya ke Pak Artsman.
“Tidak untuk saya,” kata Pak Artsman. “Kamu makan di meja sebelah itu. Airnya ambil sendiri dalam botol di teras.”
Walluh mengernyit, ia tidak mengerti apa maksudnya. Sejak tadi yang ada dibenaknya bukan seperti kejadian sekaran ini. Dalam pikirannya hanya ada prasangka Pak Artsman akan marah kepadanya dan ia dihukum dengan menuntun sepedanya limapuluh kali bolak-balik dari pintu gerbang sampai garasi. Mimpi apa semalam. Ia melakukan pelanggaran tapi malah dapat hadiah roti gratis. Apa Pak Artsman menetapkan peraturan lain mulai hari ini. Siapa yang masuk ke garasi tanpa turun dari sepeda ia dapat hadian roti. Semakin cepat laju sepedanya makin baik, akan dapat roti lebih banyak lagi. Apa begitu peraturan baru itu?
“Wahh…kalau peraturannya seperti ini, besok aku akan mengayuh sepedaku dengan kencang tanpa saya rem dan langsung masuk ke pintu gerbang menuju garasi. Pasti aku dapat roti lebih banyak lagi, mungkin malah satu kardus.” Pikir Walluh sambil tersenyum kecil memakan roti di meja yang ditunjukkan Pak Artsman. Sementara itu Pak Artsman melanjutkan pekerjaannya menulis di atas amplop berwarna merah jambu.
Tiba-tiba terdengar ketukan tiga kali dari pintu.
“Masuk!” kata Pak Artsman memperhatikan yang datang.
Seorang gadis berambut lurus wajahnya berseri-seri dengan kartu berwarna merah jambu di tangannya berdiri di depan pintu kemudian melangkah masuk. Gadis itu bernama Amala teman sekelas Walluh. Mata jernih berwarna coklat milik gadis itu sebentar melirik ke Walluh yang mulutnya penuh roti. Walluh hanya menyengir seakan bangga ia dapat roti hari ini. Amala duduk di kursi yang tadi di duduki Walluh.
“Berapa bulan?” tanya Pak Artsman tanpa basa basi.
“Tiga,” jawab Amala.
Pak Artsman membuka amplop itu dan mengambil berapa lembar uang dari dalamnya. Bolpoin berwarna merah tua diambilnya dari saku jas dan membuat suatu tanda di kartu itu.
Walluh berpikir, “Apanya yang sudah tiga bulan? Jangan-jangan? Oo..ya.. pasti Amala sedang bayar uang sekolah.” Amala anak orang kaya. Ayahnya dokter spesialis kulit, makannya kulit Amala tampak putih dan halus karena terawat.
“Terima kasih Pak,” kata Amala kemudian ia ke luar ruangan sambil mengibaskan kartunya ke muka Walluh. Walluh diam saja. Pikirannya sudah terhipnotis oleh sedapnya roti kering.
“Sudah Yo?” tanya Pak Artsman tangannya memasukkan bolpoin ke saku.
“Belum,” Jawab Walluh polos. Pak Artsman tersenyum kepada Walluh terlihat gigi depannya mengintip keluar. Itulah tandanya kalau Pak Artsman tersenyum.
“Kalau belum lanjutkan di kelas saja ya. Masukkan sisa roti itu ke tasmu!” kata Pak Artsman sambil berdiri mendekati Walluh.
“Ikut aku!” ajak Pak Artsman kemudian melangkah ke luar ruangan menuju samping sepeda Walluh. Walluh mengikuti Pak Artsman dan berdiri di sampingnya.
“Lain kali sepedanya dituntun saja kalau mau masuk ke garasi!” kata Pak Artsman pelan. “Tahu tidak peristiwa ini. Lima tahun yang lalu ada anak yang karena sepedanya terlalu kencang ketika masuk ke gerbang ia lepas kendali. Sepedanya menabrak kawat berduri di pintu gerbang itu. Seluruh tubuhnya luka. Mukanya sobek dan matanya hampir lepas. Aksinya ya seperti kamu tadi, mencuri-curi. Kalau ramai-ramai dan kebut-kebutan itu sudah hebatkah? Makanya sekarang saya melarang keras supaya kalian tidak menaiki sepeda kalau sudah sampai di depan gerbang itu. Kamu jauh-jauh dari rumah apa mau bernasib seperti itu?” Pak Artsman mengeram pelan dengan sengau. “Sudah sana. Masuk kelas. Sudah jam belajar.”
Walluh dalam hati malah tertawa cekikikan. Jangan-jangan anak yang matanya mau keluar gara-gara menabrak gerbang itu Pak Arstman sendiri. Buktinya mata Pak Arstman ada goresan bekas luka yang mengakibatkan cacat sampai sekarang. Namun Walluh hatinya seakan mencair juga. Baru terbongkar sekarang teka-teki kenapa Pak Artsman melarang menaiki sepeda ketika menuju garasi. Pikirannya mengidik saat sepintas teringat apa yang barusan Pak Artsman ceritakan. Walluh mengangguk dengan muka kaku kepada Pak Artsman, kemudian menuntun sepedanya ke garasi.
☯
Desas-desus mengenai kedatangan para Helder mulai sering terdengar di sekolah. Persiapan-persiapan sudah nampak, mulai lingkungan sekolah yang dibersihkan, tulisan selamat datang terpasang di pintu gerbang, pangung berdiri di tengah halaman sekolah. Hari ini para guru mulai sibuk menyiapkan diri untuk penyambutan. Walluh tidak tahu sebenarnya kapan tamu-tamu itu akan datang. Kalau melihat persiapan-persiapan yang telah ada sepertinya tinggal menghitung hari saja. Sebelum semuanya terus berlanjut, untung wali kelas Walluh, Ibu Heline mengumumkan sesuatu ketika pelajaran terakhir kali ini.
“Anak-anak tolong perhatikan sebentar!” kata Ibu Heline berdiri di depan kelas. Guru bahasa tubuh yang masih muda dengan rambut lurus, panjang sebahu. Sikapnya selalu menampakkan kedewasaan dan ketegasan ala militer karena didikan ayahnya yang seorang jendral angkatan darat. Tangan kanannya membawa buku-buku bahan pelajaran. Anak-anak yang tadinya ribut karena ingin cepat pulang menjadi tenang sedingin es. Mereka memperhatikan Bu Heline dengan penantian, apa sebenarnya yang akan disampaikan wali kelas mereka itu.
“Seperti kalian lihat di sekolah kita ada berbagai macam persiapan. Tenda di tengah halaman itu, papan yang tertulis selamat datang di pintu gerbang, kita juga telah kerja bakti untuk membersihkan lingkungan sekolah. Sebenarnya ada apa gerangan? Tentu kalian juga telah mendengar desas-desus mengenai tamu yang akan kita sambut. Kepastian dan kejelasannya akan saya sampaikan saat ini.” Ibu Heline meletakkan buku-bukunya di atas meja guru dan tangannya memegang sebuah amplop putih berbentuk persegi panjang. Ia merobek bagian tepi amplop itu, mengambil isinya dan kembali ke tempatnya semula. Sebuah kertas berwarna putih dibukanya dan diangkatnya untuk ditunjukkan kepada siswa. Tulisan surat itu berwarna kuning sepertinya menggunakan tinta emas.
“Surat ini dari pemimpin besar kita yang akan datang besok pagi!” serunya dengan keras. “Baik akan saya bacakan surat ini untuk kalian semua.” Ibu Heline mulai membaca surat itu dengan lantang dan semua murid mendengarkan seakan laparnya hilang.
Ytc. Para Guru, Karyawan
dan Murid SMP ADILUHUNG
di tempat.
Dengan hormat,
Salam damai, salam bersua kembali, salam bahagia. Saya selaku pimpinan para Helder mengucapkan selamat berbahagia atas perayaan 200 tahun berdirinya SMP ADILUHUNG. Perjuangan-perjuangan dan kerja keras kita telah berbuah. Sekolah kita telah maju dan berhasil dalam membantu mengentaskan kemiskinan. Semoga dengan perayaan syukur 200 tahun berdirinya sekolah ini kita semakin menyukuri apa yang telah kita dapatkan.
Untuk resminya besok pagi kami akan datang ikut merayakan pesta kita bersama dengan kalian semua.
Sekali lagi selamat berbahagia dan sampai jumpa besok pagi.
Salam,
Sir Andro Digger
Selesai membaca surat Bu Heline memasukkannya lagi ke dalam amplop. Matanya yang tajam di balik kacamatanya mencoba menyapa anak didiknya.
“Baik. Sekarang boleh pulang dan jangan lupa besok pagi datang ke sekolah untuk merayakan pesta 200 tahun berdirinya sekolah kita.” Semua murid bersorak gembira. Ibu Heline mengambil buku-bukunya dari atas meja dan melangkah ke luar kelas diikut murid-murid dengan wajah cerah.
Walluh ke luar belakangan disusul Anto, Erion, dan Babam anak laki-laki gendut yang dulu musuh bebuyutannya namun sekarang malah menjadi teman yang akrab. Babam yang besar dan garang seperti badak ternyata hanya luarnya saja. Suaranya memang boleh saja keras kalau membentak, namun nyalinya tak sebanding dengan kuku hitam. Inilah rahasianya bagaimana cara Walluh dapat menundukkan badak ideot itu.
Di balik badan yang besar dan suara yang garang itu ternyata ada kelemahan yang kalau orang sudah tahu pasti akan tertawa. Begini, Babam itu takut dengan apa pun yang berbau mistik. Tentu tidak semua orang tahu hal ini. Ini malah kebalikan dengan Walluh. Walluh hobi dan amat tertarik semua yang berbau mistik dan agak kuno, sakral. Mendengar cerita hantu, kuntilanak, Babam akan terkencing-kencing, mau ke WC tidak berani terpaksa kencing di celana.
Walluh tidak repot-repot lagi persiapan ini itu untuk berhadapan Babam kalau mau berangkat sekolah. Ia cukup berkhayal sedikit saja mengenai tuyul, hantu beranak, hantu kepala, atau kuburan. Karena sudah hobi dan memang suka berkhayal Walluh tidak sampai lima menit dapat merangkai cerita yang seram dan menarik. Jadi nanti yang mendengar tidak langsung takut tapi malah menikmati dan setelah selesai ceritanya baru merasa merinding. Inilah rahasianya. Babam tidak langsung pergi kalau Walluh bercerita. Ia malah mendengarkan dengan penasaran dan setelah selesai baru merasa merinding. Cerita mistik dari Walluh ternyata mengandung daya mejik yang membuat Babam ketagihan untuk mendengarkan lagi, seperti orang ketagihan sabu-sabu.
“Bam! Kamu mendegar sesuatu ganjil tidak dengan apa yang disampaikan Bu Heline tadi?” kata Walluh seraya membalikan badan mengarah ke Babam, Erion dan Anto yang ada di belakangnya.
“Ganjil apa?” jawab Babam dengan suaranya yang besar namun terdengar malas. Erin mlongo mendengar pertanyaan tak terduga itu. Anak laki-laki bertubuh jangkung dan berkulit hitam, matanya besar dari kebanyakan orang dan ia dijuluki Plolo itu makin terbelalak lebar dan bulat.
“Helder… Helder. Apa itu Helder, makanan sejenis apa itu?” Walluh berjalan pelan mengucapkan kata-kata itu dengan penekanan yang seakan aneh. Anto hanya menyengir. Anak bertubuh kecil, kulit agak terang dan berambut acak itu tahu maksud pertanyaan Walluh, hanya mengoda Babam.
“Kalau Herder anjing galak itu saya tahu,” jawab Babam bingung dan tampak polos. “Seingat saya ndak ada makanan yang bernama Helder. Atau mungkin itu makanan roh gentayangan?” Babam mengidik. Matanya mendelik menatap Walluh, Anto, dan Erion bergantian. Tubuh Babam yang bulat bergoyang-goyang, lemaknya bergelayutan seakan mau runtuh ke tanah.
“Kalau kau saja mengatakan Helder itu bukan sejenis makanan masa saya mau membantah. Kalau masalah makanan kau kan paling tahu, Bam!” Walluh terkekeh-kekeh diikuti Erion dan Anto, kemudian tangannya mendorong Babam membuat lemak di bagian perutnya bergetar. “Benar kamu tidak penasaran dengan kata Helder itu?” desak Walluh.
“Dari mana kau dapat kata aneh itu?” Babam balik tanya. Mereka berempat sampai di garasi sepeda yang terletak di belakang kelas.
“Hah…Ke mana kamu waktu Bu Heline membacakan pengumumnan di kelas tadi?” Walluh kaget. Matanya sambil mengamati di mana sepedanya ditambatkan. Sedetik kemudian ia menemukan dan menghampiri sepeda jengki tua kesayangannya.
“Aduh…saya tidur tadi!” jawab Babam tak kalah kagetnya. Tangannya menepuk dahi dan mimik mukanya seakan menyesal. “Ada pengumuman apa?” tanya Babam merengek mendekati Erion yang sudah menarik sepedanya dari deretan sepeda yang ditambatkan.
“Lain kali puaskan dulu tidurmu di rumah, jangan di sekolah ya?” jawab Erion sambil tersenyum menang.
“Besok ada pesta. Helder mau datang. Hiii…” Walluh berekting takut dengan mengetarkan kepala. Ia berhenti sebentar melihat reaksinya pada Babam. Muka Babam yang awalnya sudah mendung berubah cepat menjadi kelabu, pucat seperti mayat hidup. Setelah puas melihat muka Babam Walluh meloncat ke atas sepeda dan kakinya mengayuh dengan kuat. “Jangan lupa besok berangkat. Kita lihat Helder itu makanan atau bukan!” teriaknya kepada Babam sambil tertawa, merasa berhasil mengobok-obok Babam hingga nyalinya tinggal setipis kabut. Mereka segera meninggalkan sekolah.
Esok hari, pagi yang cerah menyapa bumi. Matahari tepat di atas puncak bukit di sebelah timur. Warnanya merah kebiruan, dan cahayanya semburat menerobos sela-sela bukit batu, memancar membentuk garis-garis lurus warna-warni menghiasi langit yang bersih kebiruan. Sungguh lukisan Tuhan yang maha sempurna menudungi negeri ini dengan kelokannya yang dahsyat. Udara masih terasa dingin. Biasanya malah lebih dingin dibanding malam hari. Beberapa embun masih bergelantungan di ujung daun jati yang mulai bersemi di awal musim hujan ini. Wujudnya yang jernih dan transparan memantulkan cahaya matahari yang indah itu menjadi lebih sempurna lagi. Permata ilahi yang tercipta di pagi hari dan menghilang dikala sang surya angkuh meninggi. Meski hidupnya singkat dan senderhana namun ia bak jelaga yang menampung sejuta kearifan hidup. Lihatlah ujudnya bulat seakan kosong namun berisi, seakan keras namun lembut, seakan transparan namun memendarkan sejuta cahaya terpadu dalam wadah yang kecil itu.
Walluh terus terjaga. Inginnya cepat di sekolah, bertemu teman-temannya dan memecahkan teka-teki mengenai Helder. Tidak tahu kenapa kata itu semalam terus menguasai pikirannya. Apakah kata itu mengeluarkan daya mistis sehinga jiwa Walluh otomatis terpanggil untuk bergabung?
Setelah makan pagi selesai Walluh tidak sabar lagi untuk mengayuh sepedanya ke sekolah. Erion dan Anto sudah menunggu di perempatan. Di perjalanan beberapa anak sekolah ramai bergerombol naik sepeda ke sekolah. Mereka rata-rata sekolah di tempat sama dengan Walluh. Anak-anak remaja berjuang mencari ilmu dengan setiap hari harus naik sepeda sejauh duabelas kilometer. Jika siang udara panas tak terkira, debu-debu jalanan berterbangan membuat suasana makin ribut dan sumpek. Semua itu tidak meruntuhkan semangat dan keceriaan mereka. Sementara kaki terus mengayuh sepeda mereka saling bergurau, bercerita kisah yang menyenangkan.
Ada beberapa teman Walluh yang dari seberang sungai. Rata-rata mereka senang bercerita tentang penunggu pohon, dedemit, senjata pusaka, semua yang berbau mistik. Walluh, Erion dan Anto biasanya bergabung dengan mereka. Kalau sudah bercerita dengan tertawa terbahak-bahak mereka seakan tidak merasa capek, tiba-tiba sudah sampai di sekolah begitu saja.
“Kemarin ada kejadian aneh di rumahku,” kata Winar. Si hitam ini tubuhnya terjangkung di antara teman-temannya, termasuk Walluh. “Ketika saya dan adik bermain di bawah pohon asam samping rumahku tiba-tiba ada keris yang muncul dari tanah tepat di samping tempat adik duduk. Ngeri. Keris itu terus melayang ke atas hingga tak kelihatan seakan tak berbeban.” Yang lain mendengarkan Winar sambil membelok-belokkan sepedanya. Mereka ada tujuh anak remaja. Sukris si gigi gingsul perawakannya agak tinggi. Putrus saudara sepupu Sukris tubuhnya gempal dan agak pendek namun ia anak yang pintar. Setiap semester ia selalu mendapat juara umum. Winar si jangkung atau kadang dipanggil Mr. Black karena kulitnya gelap. Witar sepupu Winar tubuhnya jangkung juga namun kulitnya agak terang. Walluh dengan julukan Bodak, karena kepalanya besar dan rambutnya awut-awutan. Erion si Plolo. Anto si Sambel karena maniak sambel.
“Wah…jangan-jangan yang mbau rekso pohon itu,” sahut Walluh antusias.
“Ya benar, di tempatku juga ada,” sahut Sukris.
“Kok ndak kamu tangkap Win. Senjata ampuh itu,” sahut Witar bibirnya maju memberi penekanan bahwa ia lebih tahu masalah keris.
“Huu..bapakku malah punya keris sekarang,” kata Putrus serius. “Laki-laki,” tambahnya tersenyum kecil.
“Dasar sok tahu,” protes Witar. “Mana ada keris punya kelamin,” tambahnya.
“Ada saja.” Jawab Putrus. “Keristo adikku.” Putrus tertawa sambil mengayuh sepedanya kuat mendahului yang lain.
“Huuuu…Sontoloyo!!” teriak mereka serentak dan segera mengejar Putrus. Mereka kebut-kebutan tak peduli jalan berbatu membuat suara sepedanya bergletakan. Orang-orang yang mereka temui di jalan menatap heran sambil mengumpat-umpat ke arah mereka pergi,
“Haii..haii! Dasar anak Brandal! Baru SMP sudah seperti itu, SMA mau jadi apa kalian!” .
Mereka tak peduli, terus mengayuh sepeda sambil tertawa. Sampai di depan gerbang Putrus terpaksa berhenti dan turun dari sepeda disusul yang lain. Putrus tertangkap di sana. Rambutnya diacak-acak mereka hingga wajah Putrus memerah dan rambutnya seperti Warok Bali.
“Hai..Hai! Ada apa?” tiba-tiba terdengar suara mengagetkan mereka. Pak Artsman dengan tampang bukan galak tapi menyeramkan kerena mukanya ancur mendekati mereka. Tangan Winar masih memegang rambut Putrus dengan muka merah padam.
“Tidak apa-apa Pak, hanya main-main,” jawab Walluh sambil menyuruh Winar melepaskan tangannya dari rambut Putrus.
“Kejar-kejaran Pak,” sahut Erion singkat. Nafasnya masih terenggah-enggah.
“Dasar anak tak tahu diri,” bentak Pak Artsman. Matanya sebelah kiri melotot namun bagian kanannya malah menolak seakan terpejam. Sepertinya kedua mata itu tak kompak. Mata sebelah kanan baik dan sebelah kiri yang suka marah. “Tidak ada waktu untuk main-main sekarang. Cepat ke kelas para Helder akan datang!” perintah Pak Artsman. Mereka menuntun sepeda sambil tertawa geli. Pak Arstman masih menatap mereka hingga sampai garasi dan akhirnya berlari menuju kelas masing-masing.
“Hahh..gawat!” kata Walluh saat berpapasan dengan Babam di depan pintu kelasnya. Suaranya tersengal-sengal sulit mengatur nafas.
“Ada apa Luh?” tanya Babam mendekati Walluh yang duduk di tempat duduknya. “Di Kejar Nyi Roro Kidul?” tambah Babam serius. Selain Pak Artsman, Babamlah yang memanggil Walluh Yo dengan nama asli, namun kata yang dipilihnya sepertinya kurang tepat, “Luh”. Tidak apa, ini sebuah penghargaan besar bagi Walluh Yo. Orang yang dulu bermusuhan dengannya sekarang menjadi teman yang baik.
“Ya. Nyi Roro Kidul bermata satu alias Pak Artsman,” jawab Walluh sambil tersenyum, diam-diam tersenyum dalam hati, ternyata ceritanya kemarin tentang Nyi Roro Kidul masih diingat Babam. Pasti semalaman dia tidak bisa tidur.
“Kenapa?” tanya Babam lagi penasaran.
“Biasa. Dia kan sejak dulu memang seperti itu,” sahut Erion dari belakang dan kemudian bergabung duduk di samping Walluh. “Katanya para Helder datang, mana?” Erion menoleh ke Babam. Tidak lama Anto datang bergabung.
“Belum,” Jawab Babam singkat. “Kamu tahu seperti apa Helder itu?” tanya Babam kepada Erion yang masih bersandar lemas di kursi.
“Hiihhh..merinding aku. Kata orang Helder itu serem,” sahut Anto. “Pokoknya lihat saja nanti!”
“Teng.teng.tengg!” bel sekolah berbunyi.
Selang beberapa menit suara keras terdengar, “Semua siswa berkumpul di halaman tengah. Cepat..cepat!”
Walluh, Babam, Erion dan Anto berlari ke luar kelas menuju lapangan tengah. Di teras depan kantor guru berdiri pak Artsman sedangkan corong pengeras suara di depan mulutnya. Ia berteriak supaya semua siswa cepat bergerak berkumpul di halaman tengah.
“Sekali lagi semua guru, karyawan, dan siswa harap berkumpul di halaman tengah! Laksanakan secepatnya dengan tertib dan rapi dalam barisan!”
Semua siswa riuh berlarian ke lapangan tengah. Mereka berkumpul membentuk barisan yang dipimpin salah satu siswa tertua. Seragam atas merah bergari-garis hitam dan bawah putih, berbaris rapi seakan bendera merah putih terbentang. Pak Arsman dan beberapa guru turun ke lapangan. Semua siswa diam tak bersuara.
“Setelah ini kita harap berkumpul di depan sekolah,” kata Pak Artsman membuka pidatonya tanpa pengeras. Suaranya sengau kemungkinan tidak jelas terdengar oleh siswa yang di belakang. “Kita akan menyambut tamu agung kita, para petinggi kita yaitu para Helder. Mungkin ada yang belum pernah melihat Helder itu seperti apa, sekarang inilah kesempatannya. Sekarang bubar dan menuju ke depan sekolah dekat gerbang.”
Pak Artsman menutup pidatonya dan membalik badan melangkah menuju depan sekolah diikuti guru-guru dan setelah itu para murid. Para murid mulai gaduh lagi, namun Pak Artsman membiarkan saja, sepertinya konsentrasinya sudah tertuju pada tamu yang dinanti sejak kemarin.
Selang lima menit dari sebelah timur di kejauhan terlihat mobil berwarna silver bergerak pelan dan terus mendekat. Beberapa guru ada yang turun ke jalan, menunggu di sana. Semua yang ada di depan sekolah mulai menjulur-julurkan kepala sambil kaki jinjit ingin melihat. Tiba-tiba mobil menghilang karena jalan menurun. Tidak lama kepala mobil muncul kembali diikuti badannya dan terus bergerak dengan kecepatan pasti. Mobil itu sepertinya mobil mewah, makanya mengemudinya sangat hati-hati.
Mobil sampai di depan sekolah, berjalan nyaris tak terdengar pelan dan pasti, namun aneh malah terus bergerak, melaju netral, seakan tidak terjadi apa-apa. Semua mata mengikuti arah gerak mobil itu hingga menghilang karena jalan turun lagi. Semua murid bergumam kecewa. Para guru yang ada di jalan masih memandang ke arah perginya mobil tadi, kemudian kembali ke halaman sekolah dengan kecewa. Di wajah mereka terlukis semburat kebingungan. Semua kepala kembali lagi menoleh ke timur.
Udara menjadi panas meski masih pagi. Kemungkinan karena manusia yang begitu banyak berkumpul, apa lagi bau apek keringat mulai menyebar tertiup angin. Tiba-tiba deru mobil terdengar dari barat. Hanya beberapa yang memperhatikan. Mobil bak lewat dengan muatan dua ekor sapi jantan dihimpit dengan palang bambu.
“Tett..tettt!” suara klakson mobil berbunyi.
Seorang laki-laki gendut dengan topi bundar berwarna hitam menempel di kepalanya melambaikan tangan ke arah semua yang ada di depan sekolah. Bapak itu adalah Pak Sulen pedangan sapi. Sepertinya ia akan menjual sapi-sapinya ke luar daerah.
Anak-anak sebagian mulai ribut setelah lewatnya mobil tadi. Mereka saling meledek menyamakan dengan sapi, terutama yang gendut.
“Saudaramu tadi mau piknik ke mana?” tanya Mirla kepada Angle yang tubuhnya tambun sambil tertawa. Angle mencibirkan bibir menatap Mirla.
“Tanya saja kepada pacarmu. Tadi kan pacarmu yang membawa!” jawab Angle sambil mendorong Mirla.
Walluh, Erion, Anto, dan Babam berdiri tenang di pojok sambil berdiskusi kemungkinan Helder itu seperti apa. Sementara anak-anak dan guru-guru menunggu sambil berbincang-bincang Pak Artsman berjalan ke arah jalan. Langkahnya pasti seakan mau bertemu dengan presiden. Di belakangnya diikuti beberapa guru yang respek. Ia menghampiri sebuah mobil bak berwarna hitam yang berhenti di bagian agak barat dari gerbang. Sepertinya mobil itu muncul dari arah barat.
Dua penumpang turun dari mobil dan dengan hangat Pak Artsman menyambut mereka demikian juga para guru yang mengikutinya. Mereka berjalan bersama dengan dua orang tadi menuju ke sekolah lewat pintu gerbang. Sementara mereka berjalan para guru dan murid memperhatikan mereka, terutama dua orang asing.
“Plolo! Siapa dua orang itu?” tanya Walluh kepada Erion yang dijuluki Plolo, karena matanya yang besar dua kali lipat manusia normal.
“Sepertinya tamu kita yang disebut Helder itu,” jawab Erion tanpa melihat muka Walluh karena masih mengamati tamu.
“Lihat tubuhnya besar sekali,” sahut Babam keheranan.
“Ya mirip kamu. Tapi kamu kalah tinggi. Makanya jangan tidur terus,” kata Anto. “Wah pakaiannya aneh ya. Jubah panjang putih dan lihat itu sepertinya di dibagian samping jubah ada rentetan bulat-bulat panjang sekali.” Mereka berempat langsung mengamati apa yang di katakan Anto.
“Saya yakin mereka berdua bukan asli orang sini. Lihat kulitnya warna kemerahan. Matanya kebiruan. Berbeda dengan kita,” Walluh melihat seakan tak berkedip, matanya mengamati jeli.
Dua orang tamu sudah sampai di gerbang sekolah. Mereka menyalami setiap siswa dan guru-guru. Rombongan terus mendesak masuk ke sekolah dan menuju ke panggung yang telah disediakan di lapangan tengah. Anak-anak dan para guru mengikuti dan berkumpul di lapangan tengah. Dua orang tamu berdiri di mimbar di dampingi Pak Artsman. Walluh, Babam, Anto dan Erion menerobos dari sisi pinggir sehingga mereka sampai di lapangan paling awal. Mereka duduk di pinggir lapangan dekat panggung di bawah pohon mangga sambil menanti para tamu naik ke panggung.
Tidak lama lapangan dipenuhi siswa-siswa dan guru sedangkan para tamu naik ke panggung didampingi Pak Artsman. Seluruh mata memandang ke atas panggung dan di sana para tamu sepertinya akan memberi sambutan. Segeralah suara menggema dari pengeras suara menerobos ke segala penjuru sekolah.
“Selamat pagi saudara-saudara. Salam damai. Selamat berpesta!” kata salah satu tamu yang memakai kaca mata bulat besar. “Saya Helder Nolas dan..”
“Saya Helder Vito,” sahut tamu satunya sambil membuka topinya. Kepalanya botak, hanya bagian pinggir belakang saja rambut masih tersisa.
“Kami para Helder ingin bersama-sama kalian untuk bergembira di hari pesta ini,” kata Helder Nolas.
“Kami harap hari ini adalah hari yang menyenangkan bagi kita terutama kami berdua. Kami sudah lama tidak datang ke sekolah ini. Terakhir kami datang lima belas tahun yang silam. Waktu yang lama tentunya. Di kesempatan ini lebih jauh kami juga ingin mengenal kalian, mendengarkan apa yang akan anda ceritakan kepada kami. Dengan senang hati kami akan mendengarkan demi mempererat persaudaraan di antara kita. Baik. Sekali lagi selamat berpesta dan berbahagia.” Helder Nolas menutup sambutan kemudian turun dari panggung diikuti Helder Vito dan Pak Artsman.
Tidak lama para penari ke luar naik ke pangung. Lima gadis dan dua anak laki-laki menari dengan anggun diiringi musik khas negeri Terang. Di teras beberapa menu makanan dan minuman dihidangkan dengan cepat oleh para petugas. Para tamu duduk di teras sambil menikmati minuman melihat pentas tari. Anak-anak tidak mau ketinggalan dengan cepat mengambil minuman dan makanan kemudian menikmatinya sambil melihat pementasan.
“Mana tidak ada yang aneh dari para Helder itu,” kata Walluh setengah berbisik kepada Erion. Di tangannya segelas jus buah berwarna hijau.
“Yang aneh itu bukan penampilan mereka,” sahut Erion. “Cara hidup mereka,” tambahnya mantap.
“Seperti apa?” tanya Babam tampang beguk. Mulutnya masih penuh makanan, seakan tidak membiarkan ruang kosong di mulutnya. Belum selesai mengunyah sudah ada benda yang masuk ke mulutnya lagi.
“Mereka hidup di puncak bukit. Sediri tanpa anak istri. Tidur sendiri. Segalanya sendiri. Hiii… apa itu tidak menyalahi kodrat hidup manusia,” jelas Erion. Bibirnya menyengir seperti kambing mencium kencing.
Mereka segera menghabiskan makanan dan minuman. Tak ada lagi yang dibuat selain menyaksikan beberapa atraksi yang disajikan panitia pesta. Waktu sudah siang dan beberapa anak sudah tiduran di kelas karena kecapekan. Mereka berempat diam-diam menyelinap dari keramaian dan dengan mengendap-endap ke tempat garasi. Babam berlari dengan tubuhnya yang kelewat berat menuju pintu gerbang dan secepat kilat lenyap lari pulang. Walluh, Erion dan Anto mengambil sepeda cepat-cepat, mengawasi di sudut-sudut ruangan yang biasanya untuk nongkrong. Tidak terlihat ada orang. Mereka bertiga menuntun sepeda sampai di luar lingkungan sekolah kemudian menaikinya dengan kayuhan yang kuat dan cepat. Mereka menoleh ke belakang memastikan tak ada orang yang melihat bahwa mereka bolos sekolah.
“Aman,” kata Walluh setelah sampai di jalan menurun kira-kira satu kilo dari sekolah.
“Ya. Acaranya tidak menarik,” sahut Anto. “Mending diisi kemping dari pada menatap Helder yang tak jelas,” tambahnya kecewa.
“Lain kali kita usul saja,” Walluh memperlambat laju sepedanya. “Kalau ada acara pesta lagi kita usul untuk kemping saja atau naik gunung, bagaimana Mbel?” tanyanya kepada Anto yang mendapat julukan Sambel karena memang suka sambel, bahkan kalau ada cabe sepiring pun bisa disikat habis.
“Setuju. Ide yang cemerlang,” sahut Anto dengan puas. Mereka mengayuh sepeda sesantainya, menikmati detik-detik kebebasan yang didapat dengan melanggar peraturan sekolah.
POS 3
Gadis Pengadu
WAKTU sudah sore ketika Walluh sampai di depan rumah. Tidak terkira senangnya akhirnya waktu makan sebentar lagi. Perut sudah sejak tadi ditahan-tahan.
“Sabar perut, sabar ya. Sebentar lagi akan aku isi kau dengan makanan lezat khas masakan ibuku yang cocok buat lidah tapi sebenarnya tidak cocok untukmu yaitu sayur cabe.” Kata Walluh dalam hati setelah menambatkan sepedanya di teras rumah. Ia cepat ke kamar dan berganti baju kemudian menuju ruangan dekat dapur yang disulap menjadi tempat makan keluarga.
Walluh Yo membuka penutup makanan dan dilihatnya sayur cabe kesukaannya, ikan goreng, sambal terasi senjata ampuh untuk menghabiskan nasi sebakul, tempe goreng sepertinya beli dari warung karena ibu paling tidak suka mengoreng tempe, dan nasi di bakul tinggal setengahnya karena dia sendiri yang terakhir belum makan. Rumah terlihat sepi sepertinya ibu dan bapak ke ladang sedangkan Naiwa dan Hamda baru main ke tetangga. Walluh mulai menyiapkan ritual yang paling ia sukai. Ia mengambil piring dan memenuhinya dengan nasi, lauk dan sayur, tidak lupa sambalnya. Ia duduk di kursi kayu dan mulai memakan dengan rakus apa yang ada di piringnya. Ibunya kadang malah merasa senang dan memaklumi jika melihat cara makan Walluh yang seperti kerbau. Walluh baru menginjak remaja jadi tubuhnya memerlukan suplai zat-zat makanan yang banyak untuk perkembangan tubuhnya.
Bicara soal sambal dan makan, orang-orang desa negeri Terang mengibaratkan sebagai sepeda dengan pengayuhnya. Tanpa sambal nasi dan sayur terasa hambar, saat ditelan makanan seakan mogok didepan tenggorokan. Sayur tanpa rasa pedas itu lebih baik dimakan mentah. Demikian juga dengan Walluh Yo anak negeri Terang asli, mulutnya tak henti-hentinya mendengus karena kepedasan, namun hal ini ada sensasinya tersendiri makanya ia tidak akan pernah kapok meski sampai mencret-mencret sekalipun.
“Heee…ternyata Helder cuma seperti itu. Kenapa orang-orang takut,” pikir Walluh mulutnya mengunyah makanan dan menelannya dengan agak seret. Ia mengigat kembali sosok Helder yang dilihatnya di sekolah. Tidak habis pikir kenapa orang-orang tidak terlalu simpati pada mereka pada hal mereka sangat membantu meningkatkan kemajuan bangsa. Walluh tidak percaya jika itu terjadi di daerahnya. Nasi di masukkan lagi ke mulut, dan pikiran Walluh berganti haluan. Ia berangan-angan mau menjadi apa setelah selesai sekolah nanti.
“Menjadi petani? bosan. Tak ada kemajuan hidup kalau bertani di daerah sini. Paling banter pasti hanya seperti Pak Lurah, punya sapi dua, kerbo dua, kuda satu, motor dua, itu saja uangnya tak sepenuhnya dari hasil bertani, dari sumber-sumber yang tak dapat dipercaya. Eemm…pedagang mungkin lebih baik?¾Halah pasti modalnya habis dipinjam, orang-orang sini hobinya ngutang, tapi licin seperti belut kalau ditagih. Tapi masuk akal juga, bagaimana mereka mau membayar utang kalau untuk makan sehari-hari saja terus ngutang. Yang jelas utangnya akan tambah terus. Bagaimana kalau yang satu ini, menjadi guru? Ini cita-cita mulia, menjadi pahlawan tanpa tanda jasa. Bisa saja, tapi apakah tak ada alternatif lain, yang lebih hehh!? Pengelana? Tepat. Pergi ke negeri lain. Bertemu banyak orang asing, dan kejadian-kejadian yang tak terduga. Belajar budaya asing. Yeah…ini sepertinya yang pas untuk jiwaku. Tapi bagaimana dengan musisi?”
Satu sendok nasi masuk ke mulut lagi, dan angan Walluh segera berubah. Namun baru akan memulai berkhayal ada yang mengganggu.
“Dak! Bodak!!” terdengar teriakan di luar. Dengan brisik pintu di ketok-ketok seakan baru saja ada perampokan meskipun di daerah seperti ini tidak mungkin terjadi. Perampok mau mengambil apa, masyarakatnya makan saja kesulitan.
Walluh menghentikan makannya, berjalan menuju ruang depan dan membuka pintu. Dilihatnya dua orang anak berdiri di depan rumah yang satu memegang bola kaki.
“Lho ada apa Lo?” tanyanya kepada anak yang memegang bola. Anak itu Erion. Erion memantul-mantulkan bolanya ke tanah dan dengan girang ia berkata;
“Sore ini kita ditantang anak-anak Tondan, Dak. Kau bisa kan?” Erion menyebut nama Walluh dengan kata Bodak.
“Bisa saja,” jawab Walluh sambil mengibas-ngibaskan tangannya karena berkeringat. “Sambel bisa tidak?” tanya Walluh kepada Anto.
“Hari ini saya sudah makan sambal. Saya bisa,” jawab Anto yang kedengarannya aneh.
Bagi kebanyakan orang sambal sering membuat sakit perut lebih-lebih kalau berolah raga, tetapi bagi anak bertubuh kecil kurus ini sepertinya jadi lain. Sambal seakan menjadi doping untuk meningkatkan kekuatan. Bahkan pernah Anto bercerita jika ia tidak makan sambal dua kali sehari, badan rasanya lemas dan kantuk terus. Makanya kalau di rumah ibunya tidak membuat sambal, sedangkan cabe-cabe di sembunyikan di almari yang terkunci, Anto terpaksa ke kebun untuk memetik cabe sendiri dan kalau cabe belum berbuah, daunnya pun jadi.
“Eh..ngomong-ngomong aku baru saja makan. Kalian mau makan tidak?” Walluh menawari.
“Ada sambal?” sahut Anto Sambel polos dan sedikit menoleh ke Erion Plolo dengan agak malu.
“Ada. Sambal terasi josss plus sayur cabe pedass!” jawab Walluh dengan penekanan yang panjang di kata terakhir. Erion dan Anto masuk ke rumah mengikuti Walluh dan duduk makan bersama. Sudah hal biasa bagi anak kampung untuk makan di tetangga. Kalau di rumah dirasa lauknya tidak enak lari saja ke teman sebelah, pasti lauknya lebih lezat.
Selesai makan, Walluh, Erion Plolo dan Anto Sambel ke luar rumah menuju lapangan tempat pertandingan. Sementara mereka berjalan, di jalan melihat kerumunan orang sedang menarik-narik mobil. Mobil itu bannya ambles ke tanah. Meskipun hujan turun baru sekali, namun hujan tadi malam cukup deras. Walluh, Erion dan Anto menghampiri kerumunan itu.
Orang-orang berblepotan lumpur mencoba menarik dan mengangkat mobil dari jalan yang becek. Namun aneh ada satu bapak bertubuh besar yang malah terlihat nyecis. Ia memakai seragam polisi lengkap dengan pistol tergantung di pinggang. Gayanya ngebos tunjuk sana-tunjuk sini menyuruh orang supaya bekerja cepat pada hal dirinya sendiri malah berkacak pinggang. Dia adalah Pak Muslum.
“Coba dari sini! Ya dorong yang kuat! Depan tarik! He he he sopir! Mesin dimatikan saja, bantu dorong dari belakang! Huuu…kalian memang goblok! Orang sebanyak ini mendorong satu mobil saja hampir mau kiamat belum bergeser sesentipun!”
Orang-orang saling bergumam mendengar ocehan bapak sok ngebos itu. Mereka berusaha keras untuk memindahkan mobil dari jebakan lumbur dengan mengerutu. Mereka beranggapan Pak Muslum sekarang berstatus sosial tinggi. Melihat dari seragam yang ia pakai Pak Muslum sudah berpangkat. Sejak lima tahun lalu ia pergi entah ke mana. Ia meninggalkan anak dan istri di kampung dengan membekali mereka rumah kecil, reot yang hampir roboh di ujung desa. Sekarang ia pulang dengan seragam berpangkat, diantar mobil mewah, dan gayanya mantap dan berwibawa dengan pakaian yang ia kenakan. Orang-orang kampung menaruh hormat kepadanya. Di samping orang aneh itu ada anak kecil yang selalu menggandengnya. Dia bernama Coer. Gadis kecil itu bertubuh mungil dan rambutnya keriting berwarna merah. Tatapannya selalu mengamat-amati ke sekeliling dengan angkuh.
Sementara Walluh, Anto dan Erion berdiskusi tentang taktik apa yang digunakan dalam pertandingan nanti sambil melihat orang-orang dewasa yang menarik mobil, tiba-tiba suara keras tangis mengalahkan teriakan orang-orang yang menarik mobil.
Coer terjelembab ke dalam lumpur. Pakaian baru yang ia kenakan kotor tak berwujud lagi. Ia menangis keras dengan mengumpatkan kata-kata tidak jelas dari mulutnya. Melihat itu Walluh, Erion dan Anto bergumam dalam hati dengan puas, “Syukur nah lo. Makanya jadi anak jangan sok.”
Pak Muslum segera mengulurkan tangan dan mengangkat putri semata wayangnya bak dewa menolong pengemis di jalan. Sementar orang-orang dewasa yang mendorong mobil saling bergumam tak menghiraukan. “Anak kayak babi saja di pelihara. Lempar saja ke lumpur sini biar saya injak-injak.”
“Tidak apa-apa putriku sayang. Sudah-sudah nanti bapak belikan baju baru yang lebih baik lagi ya!” Pak Muslum menghibur putrinya. Coer malah makin menjadi-jadi, suara tangisnya melengking seperti sirene mobil patroli. “Kenapa kenapa hus hus. Siapa yang nakal, siapa yang berani nakal dengan kamu haa..? Biar bapak rantai tangannya, dan kita ikat di tiang rumah!” Pak Muslum mencoba menghentikan tangisan Coer. Coer sedikit mengurangi raungannya. Tangannya menunjuk ke Walluh dan berkata dalam isak tangisnya, “Dia mendorongku.”
Buset. Gila. Kuntilanak. Babi ngepet. Sundel bolong. Walluh melihat Coer dengan geram kemudian melempar pandangan ke Erion dan Anto. Darahnya terasa mendidih, mengalir dengan lebih deras dari biasanya. Detak jantungnya keras, terdengar cepat seperti suara bedug di masjid.
“Hai kamu! Anak brandal!” hardik Pak Muslum matanya melotot hampir keluar. Mulutnya yang ditimbuni kumis tebal menyeringai seperti anjing kena rabies. “Berani-beraninya kau mengganggu putriku ya! Apa otakmu tidak tahu siapa bapaknya ha? Kurang ajar! Rasakan ini!” teriak Pak Muslum garang seperti halilintar menyambar-nyambar.
Pak Muslum meraba-raba pinggangnya mencabut sepucuk benda hitam yang sejak tadi tergelantung dalam sarung kulit. Benda hitam itu moncongnya diarahkan ke Walluh, Erion dan Anto. Walluh, Erion dan Anto gugup, mereka tahu yang dihadapi benda apa. Pistol polisi itu bergetar di tangan Pak Muslum yang matanya melotot, dan kumisnya naik turun seakan itu senjata yang ampuh melebihi pistolnya. Sementara Walluh, Erion dan Anto diam saja karena laripun percuma, pasti peluru panas dari pistol itu dapat menyusulnya. Orang-orang dewasa berhenti mendorong mobil. Mereka berkerumun melihat adegan berdarah dengan tegang. Seumur-umur baru kali ini mereka melihat pistol yang berkeliaran bebas bahkan akan digunakan untuk mencabut nyawa anak gembel.
“Pak sabar Pak! Mereka masih kecil!” teriak Gandik dari jarak jauh karena ia pun takut dengan senjata itu, apa lagi yang memegang masih berseragam lengkap.
“Jangan main-main makanya kalau tidak mau mati konyol oleh peluru!” teriak Pak Muslum memperlihatkan kegarangannya kepada orang dewasa yang ada di sekitarnya. Matanya melirik berputar ke sekeliling. Kalau ada kata yang keluar mungkin yang terdengar adalah “Lihat! Aku ini orang hebat, tidak seperti kalian. Gembel. Makanya jangan sembarangan dengan saya dan keluarga saya. Sekarang kalian pantas untuk menghormati saya, menyanjung saya sebagai orang hebat. Saya sekarang sukses tidak seperti kalian. Saya sekarang berpangkat tidak seperti kalian.”
Sementara ia menengok ke samping memamerkan kewibawaannya ada benda keras menghantam pergelangan tangannya. Ia berteriak histeris, meraung-raung sambil mengibas-kibaskan tangannya. Pistol terlepas dan jatuh di tanah. Seorang laki-laki tua berdiri di samping pistol itu. Ia membungkuk pelan dan mengambilnya. Semua perasaan tegang, seakan mengeras dan membatu.
“Aku pernah berlatih militer tahun 1940,” katanya pelan. “Selama hidupku aku belum pernah melihat sejata api yang digunakan seenaknya seperti saat ini.”
Laki-laki tua itu Mbah Merto. Ia pejuang kemerdekaan pada masa penjajah Jepang dan Belanda. Meski bertubuh kecil dan tua namun otot-ototnya masih bermunculan di sekujur tubuhnya.
“Pak Muslum, sepertinya anda baru saja selesai pendidikan militer ya, sehingga kurang dapat mengontrol emosi untuk mencabut senjata. Maaf pelurunya harus saya keluarkan semua biar tidak memakan korban nyawa.” Mbah Merto menjauh dari kerumunan orang.
Mbah Merto berjalan menuju ke sebuah pohon kelapa dan berhenti di bawahnya. Pistol di tangannya diarahkan ke tanah dan jari-jarinya seperti meremas-remas benda itu. Ia mengeleng-gelengkan kepala dan memandangi pistul itu dengan heran, kemungkinan tangannya yang tua tidak kuat lagi untuk menekan pengaitnya, atau sudah lupa bagaimana cara memakai senjata itu. Ia menyelipkan pistol itu ke pinggangnya dan berjalan menuju kerumunan orang lagi. Langkahnya benar-benar tegap dan berwibawa, kemungkinan menunjukkan bahwa ia dulu benar-benar seorang tentara kemerdekaan melawan penjajah yang sudah biasa berhubungan dengan pistol dan senjata api lainnya. Celana canggung berwarna hitam yang dikenakannya dan baju berkerah yang beberapa kancingnya dibiarkan di luar memberi kesan benar-benar pahlawan dan lebih pantas menyandang senjata itu dari pada Pak Muslum.
“Pelurunya sudah saya keluarkan semua,” kata Mbah Merto seraya mendekati Pak Muslum yang berdiri kaku tak berani menatapnya. Coer telah berhenti menangis. Ia memegang tangan ayahnya kuat dan tubuhnya dirapatkan ke kaki ayahnya mirip hewan peliharaan penjaga rumah.
“Nanti malam jam tujuh Bapak harus ke rumah saya!” kata Mbah Merto kepada Pak Muslum. Ia menatap kerumunan orang di sekelilingnya sambil tersenyum kemudian tanpa banyak kata ia melangkah pergi. Orang-orang pun mulai riuh berbicara sendiri-sendiri, sementara orang-orang dewasa mulai mendorong mobil lagi.
Walluh, Erion dan Anto berjalan meninggalkan tempat itu dan berlari sekuat tenaga menuju lapangan bola yang berada di pingir sungai kira-kira jaraknya masih satu kilo meter.
“Gila! Edan! Sinting! Kuntilanak!” teriak mereka setelah jauh berlari.
“Dasar anak kurang waras!” teriak Erion jengkel sambil memperlambat larinya. Anto berlari agak jauh di belakangnya sementara Walluh Yo sudah jauh di depan berhenti memandang mereka berdua dengan tersenyum jenaka.
“Haa ha ha Huuu…hu hu Edan Edan! Anak dan bapak sama edannya!” teriak Walluh keras. “Huuuu…huh! Dasar anak manja!” tambahnya. Sementara itu Erion Plolo dan Anto Sambel sudah bergabung.
“Kenapa anak itu kok seperti kerasukan roh babi?” celetus Walluh. Mereka berjalan pelan menuju lapangan yang sudah terlihat.
“Bapaknya saja babi, anak juga babi. Baru menemukan sekali ini saya.,” sahut Erion. ”Mbah Merto hebat ya, seperti Kabuto pembela kebenaran!”
“Ya tidak nyangka sudah tua tapi bisa segesit itu,” Anto mendukung. “Eh..ngomong-ngomong ibuku dulu nyidam sambal lho, makanya saya sekarang suka sambal.”
Walluh dan Erion tertawa mendengar pengakuan Anto itu, sementara Anto ikut-ikutan tertawa.
Di lapangan telah berkumpul banyak orang. Walluh, Erion dan Anto harus menyebrangi sungai kering untuk sampai di lapangan karena lapangan itu terletak di desa sebelah. Meski sudah beberapa kali hujan sungai masih kering tak ada air mengalir. Yang ada hanya hamparan koral yang mulai menipis.
“Mudah-mudahan si Uggle kakinya kesleo dan tidak bisa ikut main.” celoteh Erion tergesa-gesa menuju lapangan.
“Ya benar. Aku juga berharap begitu. Kapten tim Tondan itu memang lincah dan yang paling menjengkelkan tendangannya sulit diprediksi.” sahut Walluh geram.
“Masih ada yang lebih lagi.” serobot Anto.
“Siapa?” tanya Erion kaget.
“Kolel,” Anto mengepal tangan. “Anak itu kaya badak kalau main. Yang diincar bukan bola, tapi kaki.”
Sampailah Walluh, Anto dan Erion di lapangan. Dilihatnya Kolel bergaya di tengah-tengah lapangan sudah siap membabat kaki. Anak itu tidak berbaju, sesumbar menunjukkan tubuhnya yang kekar.
“Sepertinya Uggle tak kelihatan,’ bisik Walluh.
“Iya,” sahut Erion. “Doamu terkabul coi.” Erion meringis lega tandingannya tidak main bola.
Walluh Yo pun berpikir sekehendak hati: Uggle baru sunat jadi jalan saja kakinya ekah-ekeh apalagi mau lari menggiring bola, bisa-bisa pelirnya bengkak sebesar buah kelapa. Ada lagi sekilas pikiran: Uggle dimarahi bapaknya yang gualak itu dan disekap dalam rumah lantaran tidak mau membantu mencari makan ternak. Uggle pasti sedih dan kecewa, menangis tersedu-sedu membayangkan tim sebak bolanya kalah lantaran ia tidak main. Ada lagi satu pikiran yang biasanya muncul belakangan: Uggle mat…mattek, wesdet, thong, almarhum-lantaran kemarin makan buah asam sebiji-bijinya dan kemudian biji asam itu tumbuh diperutnya sampai besar, meninggi melewati mulut dan akhirnya Uggle mati.
Walluh terasa melangkah ringan mengetahui Uggle tak ada di lapangan.
“Sama saja Lo meski Uggle tak main,” celetus Anto kepada Erion. “Lihat tuh! Masa sudah bujang-bujang begitu maju mau melawan kita,” tambahnya sambil melotot ke tengah lapangan.
Walluh dan Erion kaget bukan kepalang mengetahui pihak Tondan dengan kuli-kuli tambang pasirnya sudah siap dalam posisi masing-masing, untuk melawan bocah-bocah tengik yang kekurangan gizi.
“Wah ini namanya c-u cu, r-ang rang…pisang,” celoteh Erion sekenanya.
Sementara itu ditengah lapangan, dalam posisi streiker, Kolel mencak-mencak, menari-nari, berputar-putar mirip ikan kena racun.
Erion tak mengulur-ulur waktu lagi, ia mulai menggumpulkan teman-temannya untuk menyusun strategi. Erion adalah kapten tim Tekluk. Satu dua tiga empat-sebelas…Erion menghitung jumlah timnya. Ia mengangguk berarti pas jumlahnya.
“Kita tidak boleh lawan fisik, kalau adu fisik kita pasti kalah,” kata Erion kepada teman-temannya. “Bukannya kita takut, tidak, kita tak takut apapun. Kita gunakan otak kita, kita gunakan kemampuan ketrampilan kita, skill kita. Ok!” seru Erion menyemangati dan disambut dengan yel-yel dari teman-temannya “Utek-utekluk Tekluk! Utek-utekluk Tekluk!”
Pertandingan pun segera di mulai. Anak-anak desa Tondan ada di sebelah barat sedangkan Walluh dan kawan-kawannya di sebelah timur. Penonton mulai bersorak-sorai di kedua belah kubu. Di pihak Tondan beberapa orang tua ikut melihat pertandingan ini. Mereka menyemangati anak-anaknya supaya tidak mempermalukan diri di depan orang tuanya.
Perwakilan dari masing-masing kubu maju di tengah lapangan untuk mentukan siapa yang memegang bola duluan. Erion maju kedepan sedang pihak Tondan diwakili Kolel. Mereka berdua suit, Kolel menang, Tondan berhak memulai permainan.
Suara peluit melengking terdengar dari wasit. Pertandingan dimulai. Pihak Tondan mengambil bola. Merekapun segera menggiring bola dengan gesit dan kuat. Sepertinya pemain Tondan tidak dapat dianggap enteng. Meski mereka kebanyakan bujang-bujang kuli angkut pasir, kemampuannya memainkan bola sangat lincah. Dan satu lagi mereka menerapkan sistem yang hebat seperti yang terkenal di negeri ini yaitu sistem gotong royong. Bola ke depan semua ke depan, bola ke tengah semua ketengah, bola ke belakang semua kebelang, bola keluar lapangan dibiarkan saja kalau mereka yang menendang. Kalau sudah main mana streiker, mana sayap, mana gelandang sepertinya tak berlaku lagi, semuanya ingin menjadi striker.
Pertandingan sudah berjalan lima menit, tim Tekluk dibuat kalang kabut oleh serbuan tim Tondan bak kawanan lebah yang mengamuk, sasarannya bola dan gawang, dan dan apa yang terjadi saudara-saudara? Terjadi gemuruh di depan gawang Ooo ternyata kiper Tondan terpelanting dan bola masuk ke gawang. Walluh berhasil mencuri bola yang menjadi bulan-bulanan di depan gawangnya sendiri, kemudian menendangnya sekuat tenaga ke daerah lawan. Disana Erion dengan sigap menyongsong bola itu. Dengan leluasa ia menggiring bola karena bagian belakang daerah Tondan kosong mlompong, semuannya ada di depan. Kiper Tondan dikelapuhi Erion dengan tendangan cabe kritingnya. Bola seakan melakukan atraksi meliuk-liuk di udara seperti lalat menari-nari sebelum akhirnya bersarang di gawang Tondan. Kiper Tondan melompat menangkap angin dan akhirnya jatuh ke kubangan air. Sproter dan tim Tekluk melakukan selebrasi aneh-aneh untuk merayakan gol. Sepertinya hal ini awal dari apa yang terjadi nanti.
Tahu tidak teman teknik apa yang telah digunakan tim Tekluk tadi? Yaitu teknik anak gundik mencuri mangga. Secepatnya bola dioperkan ke daerah lawan mumpung kosong dan di sana teman kita yang namanya streiker sudah menunggu. Dialah yang bertugas menyelesaikan bola curian itu dan pasti gol. Teknik ini pernah digunakan Tim Jerman ketika berhadapat dengan tim Tango dipiala dunia, hasilnya Jerman menang telak atas Argentina dengan skor 5-0.
Sporter yang kebanyakan anak Tondan mulai berteriak histeris mendukung klubnya. Mereka geram dengan kebobolan yang pertama ini. Pertandingan dimulai lagi. Anak Tondan membawa bola. Usaha mereka mulai menuju anarkis. Tangan maju dahulu sebelum kaki menyentuh bola, atau menggunakan taktik memangsa kaki. Banyak anak Tekluk yang sudah terjatuh dahulu sebelum mendekati bola, namun aneh wasit tak berkutik sama sekali, seakan peluitnya tersumbat tanah. Dan tidak lama Anto terplanting di depan gawang yang dijaganya lantaran tertabrak Kolel. Bola melesat dengan ringan menembus sarang Anto.
Permainan makin memanas dan berlangsung cepat seperti ritme lagu GNR “welcome to the jungle”. Bola digiring Walluh terjadi kemelut, bola berhasil direbut lawan. Bola melesat cepat ke arah gawang Tekluk di sana Kolel meraja, ia berhasil menjengkang Anto dan gol terjadi. Kembali Tekluk membawa bola namun tak ada semenit bola dapat dipatahkan, bola balik menyerang Tekluk dan lagi-lagi Kolel berhasil menduprak Anto dan gol. Erion membawa bola, kini berusaha bekerja sama dengan Walluh. Erion mengiring bola melewati lima pemain Tondan, bola dioperkan melambung ke depan gawang. Di sana Walluh menunggu tak sabar ingin menyambarnya dengan lompatan harimau. Bola melambung mendekati gawang, Walluh memiliki ruang gerak yang cukup. Ia melompat menyongsong bola dengan tandukan kerbaunya dan apa yang terjadi saudara, apa yang terjadi??! “Prit…prit…priiiiiiiit!!”
“Opset!” teriak sang hakim mengetok palu.
Walluh dan Erion mlongos, lemas terkulai, seperti tanaman dalam pot yang sebulan tak disiram.
“Mana ada opset-opsetan. Sejak awal terjadi opset dan pelanggaran tapi peluit diam saja. Jangan-jangan wasitnya tak tahu aturan sepak bola?” gerutu Erion sambil berlari. Dan tak lama peluit panjang pertanda setengah mainan terdengar.
“Perasaan baru saja mulai kok sudah setengah main?” gumam Walluh tak percaya. Erion yang tahu hanya mengangkat bahu, tak mau ambil pusing.
Babak kedu dimulai dan permainan anak Tondan makin menjadi-jadi. Singkat cerita sekor akhir 16-1 untuk Tondan. Tekluk dipukul telak pulang dengan membawa memar-memar dikaki.
Sporter Tondan mulai beraksi aneh-aneh ada yang memukul-mukul kentongan, ada yang membunyikan terompet dan ada yang hanya modal mulut teriak-teriak sambil melempar-lemparkan bajunya ke atas.
Para sporter Tekluk sudah kabur entah kemana meninggalkan lapangan sambil meneriak-neriakkan kekecewaan. Walluh berlari mengambil bola dan menendangnya sekuat tenaga untuk melepaskan kegetirannya. Bola melesat dengan kencang bersama teriakan-teriakan kemenangan dengan nada mengejek dari Anak Tondan.
Dari kejauhan anak anak Tekluk membalas ejekan dengan menyerukan yel-yel “Jago Kandang! Jago kandang! Jago kandang!”
Anak-anak Tondan terpancing emosinya sehingga mereka marah dan mengejar anak-anak Tekluk. Melihat itu Walluh diikuti teman-temannya berlari menghindari bentrokan.Walluh berlari sekuat tenaga, namun baru melangkah beberapa meter ia menabrak sesuatu yang besar, yang tiba-tiba menghadangnya. Walluh terpelanting jatuh ke tanah. Dilihatnya sepasang kaki kokoh berdiri tegak, dan dipuncak tubuh itu wajah Pak Muslum menyeringai, dengan mata terbelalak terlihat hampir putih semua. Sedang di pelukannya anak gadis kecil menangis melengking, bibirnya menjadi peot. Coer menangis sejadi-jadinya.
“Ternyata kau bocah tengik, yang menendang bola tadi!?” bentak Pak Muslum kepada Walluh. Ia menunduk mencoba meraih kerah baju Walluh tapi dengan cepat Walluh menghindar dan berlari menyusul teman-temannya.
“Kurang ajar! Dasar gembel! Sontoloyo! Bocah tengik! Awas kau kalau ketemu lagi!” omel Pak Muslum merasa dipermainkan dan gagal menjadi pahlawan bagi anak semata wayangnya.
“Sudah sudah, cup cup cuuuup! Biar bapak tangkap di rumah saja nanti, kita rantai tangannya, kita gantung biar kapok!” hibur Pak Muslum memelas memohon si Coer agar tidak menangis.
Sementara itu Erion dan Anto berlari sambil berteriak-teriak mengejek anak-anak Tondan. Mereka melempar-lemparkan baju ke atas.
“Enam belas dan gejik! Aih…sudah biasa ma tuuu! dikandang sendiri, maklum. Jago kandang!” teriaknya.
Dengan ulahnya masing-masing anak Tekluk terus meneriakkan ejekan malah makin menjadi.
Ada anak yang kelewatan aksinya. Ia mengendari sepeda. Kakinya diangkat keatas dan tangannya lepas setang. Ia berteriak-teriak mengejek anak-anak Tondan. Menari-nari di atas sepeda sambil memamerkan pantatnya yang digoyang-goyangkan. Melihat itu anak-anak Tondan semakin marah dan beringas. Mereka mengejar sampai di perbatasan desa. <bersambung…>


Komentar Terakhir