LIVE IN di Sendangguwo Semarang
By Br. Widy
25 April 2010 jatuh pada hari Minggu merupakan hari Minggu Panggilan. Dalam rangka Minggu Panggilan ini, IKHRAR Semarang bekerja sama dengan paroki St. Paulus Sendangguwo Semarang mengadakan “live in”. Kegiatan “live in” ini guna memperkenalkan kepada umat akan indahnya panggilan, terutama panggilan khusus sebagai Imam, Bruder, dan Suster. Tema yang dipilih dalam acara “live in” ini adalah “Panggilan Itu Indah”.
Peserta “live in” antara lain perwakilan dari kongregasi Bruder FIC dan CSA, para Suster OSF, OSA, PIJ, PI, HK, AK, BKK, PMY, CM; untuk imam diwakili oleh para Frater dari Kentungan. Setelah sampai di lokasi Gereja St. Paulus Sendangguwo Semarang, mereka dibagi dalam satu kelompok yang terdiri dari 2 orang berbeda tarekat untuk diutus ke lingkungan-lingkungan dan tinggal semalam di rumah umat yang sudah ditentukan. Malam itu, sesuai dengan jadwal acara, para religius memperkenalkan indahnya panggilan sebagai bruder, suster, iman sesuai dengan pengalaman dan hasil refleksi pribadi mereka. Perkenalan yang dilakukan di lingkungan-lingkungan ini bermacam-macam kemasan, antara lain: berupa sarasehan bersama umat lingkungan atau OMK, perayaan Ekaristi, dan sharing iman.
Pada hari Minggu, saat perayaan Ekaristi ke-2 atau dengan kata lain saat perayaan Ekaristi anak-anak, para frater, bruder, dan suster duduk di bangku di antara anak-anak. Saat homili, frater dan suster diundang tampil di mimbar untuk menyampaikan kesaksian mereka dipandu dengan pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan oleh pastor pemimpin misa. Suka duka dan tantangan pun terlontar dalam kesaksian mereka, terutama suka duka dan tantangan dalam menghayati kaul, hidup bersama, dan dalam karya. Dari pengalaman suka duka dan tantangan tersebut terungkap pula rasa syukur yang mendalam, inilah indahnya panggilan.
Faktor pendukung lain yang menyebabkan tumbuhnya panggilan adalah “peristiwa perjumpaan”. Pengalaman perjumpaan dengan imam, bruder, dan suster di masa lalu inilah yang terungkap sebagian besar peserta “live in”. Maka hal ini juga menjadi suatu himbauan agar para religius untuk mampu memberi kesaksian kasih Tuhan di tengah-tengah umat dalam setiap peristiwa perjumpaan sehingga rahmat panggilan khusus akan selalu tumbuh subur dalam Gereja.
Setelah perayaan Ekaristi, dilanjutkan dengan temu akrab yang meriah bersama PIR dan misdinar. Dalam kesempatan ini pun para religius peserta “live in” memperkenalkan terekat mereka masing-masing dengan ciri khas mereka sesuai dengan talenta yang mereka miliki. Gerak dan lagu mewarnai kemariahan temu kenal ini. Kadang ungkapan-ungkapan spontan anak-anak muncul sehingga kemariahan menjadi luar biasa meriah.
Kongregasi FIC diwakili oleh Bruder Koko, Bruder Blasius, Bruder Ari, Bruder Aji, Bruder Selas, Bruder Parno, dan Bruder Widy. Setelah memperkenalkan nama diri mereka masing-masing, mereka mulai memperkenalkan ke-FIC-an dimulai dari arti sebutan “Bruder” kemudian sejarah singkat berdirinya kongregasi dan latar belakang Konggregasi FIC didirikan. Selain itu mereka juga memperkenalkan karya para bruder. Para bruder FIC juga membagikan bingkisan kepada PIR dan misdinar yang mampu menjawab dengan benar pertanyaan yang disampaikan oleh para bruder FIC.
“Panggilan itu Indah”. Tulisan ini bukan sekedar tema panghias dinding yang ditutupi kain merah, melainkan suatu harapan dan keyakinan terhadap kasih Allah untuk diwujudkan dalam hidup sehari-hari. Dari keyakinan ini pula, para religius diharapkan mampu menampilkan keindahan panggilan yang sedang mereka hayati kepada setiap orang disetiap peristiwa perjumpaan sehingga setiap orang yang kita jumpai mendapatkan inspirasi yang indah. Dari inspirasi yang indah tersebut, maka ketertarikan untuk memilih secara sadar masuk menjadi bruder, suster, dan imam dapat semakin subur.


Komentar Terakhir